Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh (1Petrus 2:15)
Kita tak perlu mengadakan penelitian untuk mencari hal-hal yang tidak kita sukai di masyarakat. Norma-norma Allah tentang yang baik dan yang buruk begitu jelas dan menjadi lebih kontras dengan banyaknya kejahatan, penyimpangan-penyimpangan seksual dan peyelewengan-penyelewengan lain yang dapat ditemukan di mana-mana.
Memang lebih mudah untuk tidak berbuat apa-apa selain hanya menuding segala kebobrokan yang ada dan menghabiskan banyak waktu untuk mencela ini dan itu. Namun, jika kita melakukan hal ini, orang akan bosan mendengarkan kita dan akhirnya kita hanya akan dijuluki si tukang ngoceh saja.
Sebuah warta bernama Communication Briefings menyarankan pendekatan yang lebih positif untuk hal ini: Daripada melawan keburukan dalam masyarakat, lebih baik bersahabat dengan penawarnya. Sebagai contoh, "Daripada hanya mengritik kemampuan membaca seseorang yang buruk, lebih baik tunjukkanlah yang benar, dengan demikian Anda memperbaiki yang buruk itu."
Apa yang dapat kita terapkan untuk diri kita? Rasul Petrus berkata, dengan berbuat baik kita akan membungkam kepicikan orang-orang bodoh (1Petrus 2:25). Sebagai contohnya, daripada hanya menggunjingkan program-program televisi yang tak bermoral, mengapa tidak melakukan perubahan yang positif, bekerjasama dengan stasiun yang ada, misalnya, untuk memperbaikinya? Daripada cuma mengecam orang-orang kaya, mengapa kita tidak membentuk yayasan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita?
Biarlah orang mengenal kita sebagai orang yang bersahabat dengan kebajikan, bukan hanya sebagai orang yang bermusuhan dengan kejahatan -- JDB
* Take from Rnungan Harian