Selasa, 07 Juli 2026

KASIH YANG SEJATI

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu (Efesus 4:29)


Tak seorang pun suka dikritik. Apalagi jika kritikan itu berasal dari seseorang yang membicarakan kita secara diam-diam. Dalam Roma 1:29-30, Paulus menyebut pengkritik seperti itu sebagai "pengumpat" dan "pemfitnah." Sebutan itu diungkapkan sederet dengan orang yang congkak, pembunuh, orang yang pandai dalam kejahatan, pembenci Allah, dan sejenisnya.

Pengumpat yang dimaksud di sini adalah orang yang suka menyebarkan gosip secara diam-diam, sedangkan pemfitnah adalah orang yang membicarakan orang lain dengan penuh kedengkian. Tragisnya, sebagian orang Kristen jatuh dalam dosa tersebut. Mereka memang tidak menyakiti orang lain dengan kekerasan, melainkan dengan perkataan yang meremehkan apa yang dikerjakan atau diucapkan oleh orang lain.

Orang-orang yang melakukan perbuatan yang merusak tersebut tidak menyadari bahwa tingkah laku mereka itu tidak konsisten dan bahwa mereka belum menghayati nasihat Rasul Paulus: "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura" (Roma 12:9) yang bisa juga diterjemahkan menjadi "Jangan menunjukkan kasih yang palsu."

Mari kita bertobat dan menggantikan segala gosip yang buruk dengan apa yang disebut John Stott sebagai "gosip suci," yaitu secara antusias membicarakan karya Allah dalam mengubahkan kehidupan manusia. Sebagai contoh kita dapat berkata," Sudahkah Anda memperhatikan bahwa Joe telah berubah total sejak menyerahkan hidupnya kepada Kristus?" atau, "Saya benar-benar melihat Tuhan bekerja dalam diri Susan!"

Seberapa sejatikah kasih Anda? --JEY


PERKATAAN KITA MEMILIKI KUASA UNTUK MEMBANGUN
ATAU MENJATUHKAN

* Take from Renungan Harian

Senin, 06 Juli 2026

PILIHLAH!

Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah (Yosua 24:15)



Kita semua sering merindukan saat-saat untuk dapat melakukan apa pun yang kita inginkan. Kita sering ingin melepaskan diri dari keadaan-keadaan yang membatasi diri kita. Namun sesungguhnya kita tidak dapat memiliki kebebasan yang penuh. Alkitab menyatakan bahwa pada dasarnya kita adalah hamba, meski mungkin kita tidak menyadarinya.

Saya membaca artikel tentang semut-semut "penindas" dari Amazon yang dapat menjadi gambaran dari keadaan sulit yang dialami manusia. Ratusan semut ini secara berkala keluar dari sarang untuk menangkap semut-semut lain yang lebih lemah di dekat mereka. Setelah melumpuhkan semut-semut penjaga, mereka membawa lari telur-telur dari semut-semut pekerja. Ketika telur-telur tersebut menetas, anak-anak semut ini mengira bahwa mereka merupakan bagian dari keluarga semut-semut yang jahat itu, sehingga mereka segera melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka sejak lahir. Mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka adalah korban kerja paksa musuh.

Seperti halnya semut-semut kecil tersebut, yang telah menjadi tawanan sejak lahir, kita pun sejak lahir telah diperbudak oleh dosa dan Setan. Namun ada sebuah jalan keluar. Dengan mempercayai Kristus, kita dilepaskan dari hukuman dosa. Dan, oleh kuasa Roh Kudus kita dapat melayani Tuhan.

Memang kita semua adalah hamba. Namun seperti yang ditekankan oleh Yosua, yang harus kita pilih sekarang bukan apakah kita akan beribadah atau tidak, melainkan kepada siapa kita akan beribadah --MRDII

KEBEBASAN SEJATI HANYA DAPAT DITEMUKAN DALAM PENYERAHAN DIRI KEPADA KRISTUS 

* Take from Renungan Harian