Minggu, 14 Juni 2026

PEMAZMUR YANG SINIS

Tuhan adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang (Mazmur 116:5)


Theodore Roosevelt memahami betul bahayanya bersikap sinis ketika ia mengungkapkan kata-kata, "Cara terburuk untuk mengarungi kehidupan ini adalah menghadapinya dengan sikap sinis."

Pemazmur hampir saja tergelincir dalam bahaya ini. Ia memiliki musuh yang licik dan jahat. Serangan yang dialaminya tidak beralasan dan keputusasaannya menjadi begitu dalam sampai ia mengira ia akan mati. Dalam kesepian dan sakit hati, ia lalu mengambil kesimpulan sendiri bahwa tak seorang pun yang dapat dipercayainya. Ia berkata dalam kebingungannya, "Semua manusia pembohong" (Mazmur 116:11).

Sikap sinis bagaikan virus yang menyerang roh dan menghancurkan hubungan kita, baik dengan sesama maupun dengan Allah. Sikap sinis mencurigai hal-hal yang buruk, bahkan pada orang-orang yang terbaik sekalipun. Ia dapat melihat lebih banyak keburukan pada sebuah lubang kunci daripada kebaikan pada sebuah pintu yang terbuka lebar.

Pemazmur hampir saja dikalahkan oleh musuh-musuhnya, bukan dengan pedang melainkan dengan kata-kata. Dan bahaya terbesar terjadi bukan karena fitnah yang dituduhkan kepadanya, melainkan karena pengaruh kejahatan itu di dalam jiwanyayang menghalangi hubungannya dengan Tuhan.

Hati-hatilah terhadap bahaya kesinisan. Hindarilah melakukan penghakiman terhadap orang lain dalam keputusasaan Anda. Pemazmur telah melakukan hal ini, tetapi dengan segera ia menyadari bahwa pandangannya keliru. Allah telah memimpinnya dan menggantikan sikap sinisnya dengan pujian yang mengharukan. Allah juga dapat melakukan hal yang sama kepada Anda -- HWR


SIKAP SINIS HANYA MELIHAT HAL-HAL YANG BURUK TETAPI IMAN MELIHAT HAL-HAL YANG BAIK

* Take from Renungan Harian 

Sabtu, 13 Juni 2026

UTUSAN SURGA

 Kami ini adalah utusan-utusan Kristus (2Korintus 5:20)


Teman sekelas saya di kelas empat memberi kesan yang mendalam pada diri saya. Cita-citanya adalah menjadi utusan atau duta besar negara bila ia sudah dewasa. Meskipun cita-cita mulia di masa kecil itu tak pernah tercapai, tetapi sebagai orang yang percaya akan Kristus, ia tetaplah seorang utusan di dunia yang sebenarnya bukan tempat asalnya.

Saya pun demikian. Juga semua orang Kristen.

Menurut Rasul Paulus, kewarganegaraan kita adalah di dalam surga (Filipi 3:20). Melalui Kristus, Allah telah menjadikan kita ciptaan baru dan mendamaikan kita dengan diri-Nya (2Korintus 5:17-18). Sementara itu, kita juga bekerja sebagai utusan-utusan Kristus (ayat 20) bagi dunia yang akan binasa di bawah kekuasaan penguasa yang jahat.

Namun apa maksudnya menjadi utusan Kristus? Artinya kita harus mendorong orang lain untuk didamaikan dengan Allah (ayat 18-20). Tugas kita adalah menuntun orang kepada sang Juruselamat sehingga mereka menjadi warga negara dari kerajaan kekal yang mengutus kita. Bersama dengan mereka kita mengharapkan kedatangan-Nya kembali untuk menjemput kita dan menantikan saat "pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya" (Wahyu 11:15).

Hingga saat itu tiba, kita harus menunaikan tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita dengan serius. Kita telah memiliki hak istimewa untuk memiliki kewarganegaraan di surga. Kita juga memiliki kewajiban yang sama istimewanya dengan menjadi utusan Kerajaan Surga [HVL]


KEWARGAAN KITA DI SURGA
MENEGASKAN TUGAS-TUGAS KITA DI BUMI INI

* Take from Renungan Harian