Sabtu, 13 Juni 2026

UTUSAN SURGA

 Kami ini adalah utusan-utusan Kristus (2Korintus 5:20)


Teman sekelas saya di kelas empat memberi kesan yang mendalam pada diri saya. Cita-citanya adalah menjadi utusan atau duta besar negara bila ia sudah dewasa. Meskipun cita-cita mulia di masa kecil itu tak pernah tercapai, tetapi sebagai orang yang percaya akan Kristus, ia tetaplah seorang utusan di dunia yang sebenarnya bukan tempat asalnya.

Saya pun demikian. Juga semua orang Kristen.

Menurut Rasul Paulus, kewarganegaraan kita adalah di dalam surga (Filipi 3:20). Melalui Kristus, Allah telah menjadikan kita ciptaan baru dan mendamaikan kita dengan diri-Nya (2Korintus 5:17-18). Sementara itu, kita juga bekerja sebagai utusan-utusan Kristus (ayat 20) bagi dunia yang akan binasa di bawah kekuasaan penguasa yang jahat.

Namun apa maksudnya menjadi utusan Kristus? Artinya kita harus mendorong orang lain untuk didamaikan dengan Allah (ayat 18-20). Tugas kita adalah menuntun orang kepada sang Juruselamat sehingga mereka menjadi warga negara dari kerajaan kekal yang mengutus kita. Bersama dengan mereka kita mengharapkan kedatangan-Nya kembali untuk menjemput kita dan menantikan saat "pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya" (Wahyu 11:15).

Hingga saat itu tiba, kita harus menunaikan tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita dengan serius. Kita telah memiliki hak istimewa untuk memiliki kewarganegaraan di surga. Kita juga memiliki kewajiban yang sama istimewanya dengan menjadi utusan Kerajaan Surga [HVL]


KEWARGAAN KITA DI SURGA
MENEGASKAN TUGAS-TUGAS KITA DI BUMI INI

* Take from Renungan Harian

Jumat, 12 Juni 2026

GURU YANG BAIK

Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik (Titus 2:7)


Semasa kuliah di Bryan College saya mengenal seorang guru Alkitab yang bernama Irving Jensen. Ia dikenal sebagai pakar yang menguasai berbagai metode Pendalaman Alkitab dan ia pun telah menerbitkan banyak buku dan menulis banyak artikel dalam majalah yang mengangkat pokok bahasan tersebut. Ia sangat meyakini apa yang diajarkannya dan juga merupakan seorang guru yang sangat efektif dan berpengaruh besar di antara para mahasiswa.

Jensen berhasil karena ia menjalankan dalam apa yang diajarkannya. Walau terkadang ia tidak lancar berbicara dan tidak menerapkan teknik penguasaan kelas yang baik, namun ia mencintai para mahasiswanya dan mengajar kami untuk mencintai firman Allah sebagaimana ia sendiri mempraktekkan dan mengajarkannya. Ia mempraktekkan firman yang tertulis dalam Titus 2:7,8, “Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.”

Kita sendiri harus menjaga kesaksian kita tentang Kristus dengan gaya hidup yang sehat sehingga tidak dapat dicela oleh lawan-lawan kita. Hidup kita harus menjadi teladan supaya orang-orang disekitar kita dapat tertarik untuk mengetahui kebenaran tentang Kristus (ayat 10).

Perkataan dan gaya hidup kita hendaknya membawa pesan Kristus. Mengajar lewat perkataan dan perbuatan--itulah caranya menjadi guru yang baik--DCE


GURU YANG BAIK TIDAK HANYA TAHU CARA MELAKUKAN SESUATU TETAPI JUGA MEMPRAKTEKKAN SESUATU ITU

* Take from Renungan Harian