Rabu, 30 September 2026

PENYAMPAI PESAN

Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah (2Petrus 1:21)


Sumbangan dari para penyampai pesan terhadap kemenangan dalam Perang Dunia II sangatlah besar, tetapi hanya sedikit orang yang mengenal mereka. Pada tahun 1942, Angkatan Bersenjata AS merekrut dan melatih 29 pemuda Indian Navajo dan mengirim mereka ke pangkalan yang amat dijaga kerahasiaannya. Orang-orang ini disebut "penyampai pesan". Mereka diminta untuk memikirkan sebuah sandi khusus dalam bahasa asli mereka yang tidak dapat dipecahkan musuh. Mereka berhasil, sandi itu tak pernah dapat dipecahkan. Sandi itu menjaga keamanan pesan dan sangat mempermudah komunikasi di medan perang. Dua puluh tiga tahun setelah perang berakhir, sandi rahasia itu tetap tersimpan aman, untuk berjaga-jaga seandainya dibutuhkan lagi.

Namun tidak demikian dengan Alkitab. Alkitab tidak diberikan dalam bentuk sandi yang mustahil untuk dimengerti. Meskipun terdiri dari banyak perumpamaan, kata kiasan yang detail, dan juga catatan mengenai penglihatan yang luar biasa, Injil ditulis oleh manusia untuk diberikan kepada manusia.

Pesan tentang kasih dan penyelamatan Allah sangatlah jelas dan tidak mungkin salah. Para penulis Alkitab digerakkan Roh Allah untuk mencatat dengan tepat semua yang Dia ingin kita ketahui. Selama berabad-abad manusia telah dibebaskan dari dosa dan rasa bersalah mereka karena mempercayai pesan-Nya. Kita semua berutang besar kepada para penyampai pesan ini.

Kita bahkan berutang lebih besar lagi kepada para penulis Kitab Suci, yang menerima firman Allah dan menuliskannya. Oleh sebab itu, marilah kita sering-sering membacanya --Dave Egner


BANYAK ORANG YANG BUTA AKAN KEBENARAN
TERBUKA MATANYA SAAT MEMBACA ALKITAB


* Take from Renungan Harian

Selasa, 29 September 2026

SELAMAT TAHUN BARU!

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang (Yoel 2:13)


Rosh Hashanah adalah Tahun Baru Yahudi yang dipahami sebagai peringatan akan hari penciptaan dunia oleh Allah. Perayaan tersebut diawali dengan peniupan serunai (yang terbuat dari tanduk domba jantan) untuk mengumumkan bahwa Allah pencipta dunia ini masih merupakan Pribadi yang memerintah hingga saat ini. Peniupan serunai ini juga menandakan dimulainya masa introspeksi diri dan pertobatan selama sepuluh hari untuk memasuki hari Yom Kippur atau hari Pendamaian (Imamat 23:23-32, Bilangan 29:1-6).

Nabi Yoel mendorong agar manusia tidak hanya menunjukkan pertobatan secara lahiriah, tetapi juga harus berbalik dari dosanya dan datang kepada Allah (Yoel 2:13). Pada masa itu, tindakan mengoyak pakaian merupakan lambang penyesalan terhadap dosa. Sungguh pertunjukan yang menarik, tetapi hal ini tidak berkesan bagi Allah. Allah lebih memperhatikan hati mereka.

Yang sangat menarik adalah dasar dari ajakan Yoel ini. Ajakannya bukan hanya untuk menghindari murka Allah, melainkan juga untuk menikmati anugerah, belas kasih, dan kasih Allah. Kadang-kadang kita berpikir bahwa Allah itu kejam dalam menghukum dan menghitung-hitung dalam berbelas kasih. Perkataan Yoel ini mengingatkan kita bahwa Allah tidaklah demikian. Tuhan itu lambat dalam menghukum dan selalu bersedia untuk mengampuni.

Tidak ada cara yang lebih baik untuk memuji ciptaan Allah selain membiarkan Dia memperbarui hati Anda melalui iman dalam Yesus Sang Mesias, dan menyerahkan semua keinginan Anda kepada-Nya --Julie Link


PENGAKUAN DOSA MERUPAKAN KUNCI YANG MEMBUKA PINTU PENGAMPUNAN 

* Take from Renungan Harian