Jumat, 14 Agustus 2026

BILA KASIH DIBALAS BENCI

[Yesus berkata], Jikalau dunia membenci kamu, ingatkah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu (Yohanes 15:18)


Jika ada satu hal yang menjadi ciri khas orang-orang yang percaya kepada Yesus, maka hal itu adalah kasih. Kata kasih muncul di dalam Kitab Suci lebih dari 500 kali. Inti dari Injil adalah kasih, sebagaimana yang kita lihat di dalam Yohanes 3:16. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini .... Surat 1 Yohanes 3:16 menjelaskan lebih lanjut: Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.

Orang kristiani harus melayani satu sama lain di dalam kasih (Galatia 5:13), mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri (Galatia 5:14), hidup di dalam kasih (Efesus 5:2), dan mengasihi dengan perbuatan serta di dalam kebenaran (1Yohanes 3:18).

Jadi, jika Yesus dan para pengikut-Nya adalah kasih, mengapa sebagian orang senang membenci kita? Dan berdasarkan sebuah perkiraan, mengapa ada 200 juta orang percaya yang dianiaya di dunia saat ini?

Yesus memberitahukan alasannya kepada kita. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, Barang siapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak (Yohanes 3:20). Yesuslah Terang itu. Saat Dia berjalan di muka bumi ini, orang-orang membenci-Nya karena Dia menyingkapkan kegelapan dosa mereka. Dan kita sekarang adalah terang-Nya di dunia ini (Matius 5:14); sehingga, dunia juga akan membenci kita (Yohanes 15:19).

Tugas kita adalah menjadi saluran kasih dan terang Allah, sekalipun kita dibenci sebagai balasannya JDB


KASIH DIBALAS DENGAN KASIH ADALAH HAL YANG BIASA
NAMUN BENCI DIBALAS DENGAN KASIH ADALAH HAL YANG LUAR BIASA

* Take from Rsnungan Harian

Kamis, 13 Agustus 2026

MENGHADAPI PENUDUH

Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku mendoakan mereka (Mazmur 109:4)

Ketika masih kuliah, teman sekamar saya pernah menuduh saya mencuri uangnya sebanyak duaratus ribu rupiah lebih. Ia tidak bertanya secara langsung kepada saya, tetapi menyebarkan berita palsu ini di antara teman-temannya dan melaporkannya kepada dekan. Peristiwa ini kemudian diselidiki dengan seksama sebagaimana yang seharusnya terjadi.

Pada saat itu saya merasa tidak berdaya. Yang dapat saya lakukan hanyalah berkata, "Saya tidak melakukannya." Namun kata-kata itu terdengar seperti gema sia-sia bila diperhadapkan dengan tuduhan dan desas-desus tersebut.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Sebagian dari diri saya ingin menyangkal cerita palsu teman saya itu. Sebagian lainnya ingin berusaha menghubungi semua orang yang telah mendengar cerita tersebut dan mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak bersalah. Di kemudian hari barulah ia mengakui bahwa memang ia sengaja mencari kambing hitam agar ia dapat memperoleh tambahan uang dari orangtuanya untuk membeli tape recorder.

Raja Daud memiliki pengalaman yang sama. Seseorang telah melancarkan tuduhan yang tidak benar terhadapnya, mengancam posisinya dan membuatnya menderita (Mazmur 109:2-4).

Lalu, apa yang diperbuat oleh Daud? Apakah ia menggunakan kekuasaannya untuk menghukum mati orang yang menuduhnya? Tidak, ia berdoa dan meminta Tuhan untuk campur tangan, menghukum pemfitnah, dan meluruskan perkaranya (Mazmur 109:4-29).

Ketika seseorang menyebarkan desas-desus yang tidak benar mengenai diri kita, mungkin kita ingin membalasnya. Alangkah baiknya bila kita menjawab orang-orang yang menuduh kita dengan kuasa doa -- DCE


UNTUK MENGHENTIKAN DESAS-DESUS NEGATIF TENTANG DIRI KITA MULAILAH BERDOA

* Take from Renungan Harian