Jumat, 19 Juni 2026

KASIH TAK PERNAH GAGAL

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1Korintus 13:13)


Penyair Archibald MacLeish berkata bahwa "seperti halnya sinar, kasih menjadi lebih baik di kegelapan". Ia menyebut hal ini sebagai "hikmat terakhir di sore hari". Hal yang sama berlaku atas kasih kita kepada satu sama lain; kasih dapat menjadi lebih baik saat kita menua. Saya telah melihatnya sendiri pada dua teman saya yang sudah lanjut usia.

Mereka sudah menikah selama lebih dari 50 tahun, namun masih sangat saling mencintai. Yang satu hampir meninggal karena mengidap kanker pankreas; sedang yang lainnya hampir meninggal karena Parkinson. Minggu lalu saya melihat Barbara membungkuk ke ranjang Claude, menciumnya, dan berbisik, "Aku mencintaimu." Claude menjawab, "Engkau cantik."

Saya merenungkan pasangan-pasangan yang telah mengabaikan pernikahan mereka, yang tidak mau bertahan dalam situasi baik atau buruk, sakit atau sehat, miskin atau kaya, dan saya sedih melihat mereka. Mereka akan kehilangan kasih seperti yang dinikmati oleh kedua teman saya di tahun-tahun terakhir mereka.

Saya telah menyaksikan Claude dan Barbara selama bertahun-tahun, dan saya tahu bahwa iman yang dalam kepada Allah, komitmen seumur hidup, kesetiaan, dan kasih yang menyangkal diri adalah tema utama dari pernikahan mereka. Mereka mengajarkan kepada saya bahwa kasih yang sejati tidak pernah menyerah, "tidak pernah gagal". Kasih mereka adalah "hikmat terakhir di sore hari", dan akan berlanjut sampai akhir. Kiranya kita menyatakan kasih yang tak berkesudahan serupa itu kepada mereka yang mengasihi kita --DHR


JANGAN MENUNDA UNTUK MENGUCAPKAN KATA-KATA KASIH YANG DAPAT ANDA UCAPKAN HARI INI

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 18 Juni 2026

KAUM “APATEIS”

Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Wahyu 3:16)


Banyak orang mengaku bahwa mereka percaya akan Allah. Itu berarti mereka adalah orang-orang teis. Orang yang benar-benar ateis, sangatlah jarang ditemukan.

Saat ini, tampaknya kita perlu menambahkan istilah baru untuk sejumlah besar orang yang mengaku percaya kepada Allah, tetapi tidak peduli akan Allah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sepatutnya mereka disebut orang-orang apateis. Kata ini terbentuk dari kata benda apati yang berarti “kemasabodohan”, yaitu suatu bentuk ketidakpedulian. Dan sayangnya, kepercayaan apa pun yang dianut seseorang, ia tetap hidup sebagai orang “apateis”. Imannya hanya menghasilkan perbedaan kecil dalam perilakunya.

Rasul Yohanes mencatat bahwa Yesus menggambarkan gereja di Laodikia sebagai gereja yang tidak dingin atau tidak panas (Wahyu 3:16). Mereka suam-suam kuku, atau dapat kita sebut sebagai orang-orang “apateis”.

Bagaimana dengan kita yang mengaku percaya kepada Yesus? Apakah kita suam-suam kuku? Kita berdoa, tetapi doa kita hanyalah sebagai kewajiban? Kita ke gereja dan mungkin terlibat dalam berbagai pelayanan kristiani, tetapi semua itu hanyalah suatu rutinitas, seperti menyikat gigi atau membersihkan rumah? Apakah kita telah kehilangan kasih yang mula-mula, suatu semangat yang kita miliki pada awal perjalanan rohani kita?

Hari ini, marilah kita jadikan doa pemazmur sebagai doa kita: “Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?” (Mazmur 85:7) --Vernon Grounds



TANPA HATI YANG BERKOBAR UNTUK ALLAH
KITA TIDAK DAPAT BERSINAR BAGI YESUS

* Take from Renungan Harian