Jumat, 27 Maret 2026

HATI UNTUK SESAMA

Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya (Yoh. 15:13)


Ketika anak-anak muda mengadakan konser di alun-alun kota Montego Bay, Jamaika, kami mengira masalah terburuk yang akan kami hadapi adalah sinar matahari yang terik.

Paduan suara dari Grand Rapids, Michigan, sedang di Jamaika untuk memberi semangat kepada orang-orang kristiani di sana dan mewartakan Injil lewat musik. Selama ini mereka sudah sangat menantikan acara penjangkauan jiwa-jiwa ini.

Di pertengahan konser, seorang wanita yang tak menyukai pesan dalam musik itu mulai berteriak marah pada paduan suara. Rupanya ia tidak tahan terhadap lagu-lagu penghormatan terhadap Allah. Setelah beberapa menit terjadi ketegangan, seorang penonton berusaha menenangkannya. Pertengkaran terjadi, dan kami mulai mengkhawatirkan keamanan anak-anak muda yang ada. Akhirnya, wanita itu lari, dan paduan suara tersebut dapat menyelesaikan konser.

Kemudian, saya berkata kepada seorang gadis, "Kami tak ingin mengadakan acara seperti itu lagi."Maksudnya, kami lebih mengutamakan keamanan dia dan teman-temannya. Namun, ia menjawab, "Jika ada satu orang yang datang untuk mengenal Yesus, itu jauh lebih berharga, sekalipun kami berada dalam bahaya."

Tanggapan yang sungguh luar biasa! Itu seperti perkataan Paulus yang rela menderita agar orang datang untuk mengenal Yesus (2Kor. 11:22-30). Gadis ini memiliki perhatian terhadap orang-orang yang bahkan belum dikenalnya. Itulah kasih sejati bagi Yesus, yaitu lebih mementingkan orang lain daripada kebutuhan pribadi --JDB

Tuhan, izinkan aku hidup hari demi hari
Melupakan kepentingan diri sendiri
Agar bila aku berlutut dalam doa
Doaku tertuju bagi sesama. --Meigs


KASIH ALLAH DI DALAM HATI KITA
MEMBERI KITA HATI UNTUK MEREKA YANG TERHILANG

* Take from Renungan Harian

Kamis, 26 Maret 2026

PERCAYA DULU, BARU MELIHAT

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29)


Adakah Anda melihat bukti yang dramatis bahwa Allah bekerja secara luar biasa dalam kehidupan Anda, ataukah kehidupan Anda tenang-tenang saja dan merupakan suatu rutinitas belaka? Catherine Booth, yang mengelola Bala Keselamatan bersama suaminya William, menekankan perlunya kita merasa puas berjalan dengan iman. Ketika ia jatuh sakit di akhir hidupnya, ia berbicara dengan seorang temannya tentang perbedaan antara iman dan penglihatan.

"Salah satu pelajaran tersulit yang harus saya pelajari," ujarnya, "adalah membedakan antara iman dan kenyataan.... Jika di sepanjang kehidupan ini saya sudah menaklukkan segalanya dengan iman yang benar dan saya mendapati kenyataan yang sangat memuaskan, maka saat ini saya hanya bisa mengharapkan hal yang sama.

Catherine telah siap berjalan melalui bayang-bayang lembah kematian bersama "iman yang benar" tanpa perlu melihat wajah Juruselamatnya. Ia mengutip keyakinan yang dituturkan Paulus dalam 2Korintus. "Hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (5:8). Catherine menyimpulkan, "Semua musuh kita harus ditaklukkan dengan iman, bukan dengan kenyataan." Kemudian ia berkata, "Begitu juga dengan musuh terakhir kita, yaitu kematian, bukan?"

Saat ini, banyak orang mencari pengalaman-pengalaman luar biasa untuk memantapkan iman mereka. Namun, seperti pelajaran yang telah diterima Catherine, berbahagialah mereka yang tidak melihat, tetapi percaya (Yohanes 20:29). Berbahagialah mereka yang merasa bahwa Firman Allah telah cukup sebagai jaminan --VCG


ALANGKAH BAIKNYA BERTEGUH DALAM IMAN
SEBELUM SEGALA HAL DIGOYAHKAN OLEH PERASAAN

* Take from Renungan Harian