Kamis, 13 Agustus 2026

MENGHADAPI PENUDUH

Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku mendoakan mereka (Mazmur 109:4)

Ketika masih kuliah, teman sekamar saya pernah menuduh saya mencuri uangnya sebanyak duaratus ribu rupiah lebih. Ia tidak bertanya secara langsung kepada saya, tetapi menyebarkan berita palsu ini di antara teman-temannya dan melaporkannya kepada dekan. Peristiwa ini kemudian diselidiki dengan seksama sebagaimana yang seharusnya terjadi.

Pada saat itu saya merasa tidak berdaya. Yang dapat saya lakukan hanyalah berkata, "Saya tidak melakukannya." Namun kata-kata itu terdengar seperti gema sia-sia bila diperhadapkan dengan tuduhan dan desas-desus tersebut.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Sebagian dari diri saya ingin menyangkal cerita palsu teman saya itu. Sebagian lainnya ingin berusaha menghubungi semua orang yang telah mendengar cerita tersebut dan mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak bersalah. Di kemudian hari barulah ia mengakui bahwa memang ia sengaja mencari kambing hitam agar ia dapat memperoleh tambahan uang dari orangtuanya untuk membeli tape recorder.

Raja Daud memiliki pengalaman yang sama. Seseorang telah melancarkan tuduhan yang tidak benar terhadapnya, mengancam posisinya dan membuatnya menderita (Mazmur 109:2-4).

Lalu, apa yang diperbuat oleh Daud? Apakah ia menggunakan kekuasaannya untuk menghukum mati orang yang menuduhnya? Tidak, ia berdoa dan meminta Tuhan untuk campur tangan, menghukum pemfitnah, dan meluruskan perkaranya (Mazmur 109:4-29).

Ketika seseorang menyebarkan desas-desus yang tidak benar mengenai diri kita, mungkin kita ingin membalasnya. Alangkah baiknya bila kita menjawab orang-orang yang menuduh kita dengan kuasa doa -- DCE


UNTUK MENGHENTIKAN DESAS-DESUS NEGATIF TENTANG DIRI KITA MULAILAH BERDOA

* Take from Renungan Harian

Rabu, 12 Agustus 2026

DALAM NAMANYA

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40)


Menurut sebuah kisah, suatu hari Fransiskus dari Assisi (1182-1226) sedang menunggang kuda tatkala ia berjumpa dengan seorang penderita kusta yang sedang mengemis di tepi jalan yang akan dilewatinya. Ia kemudian turun dari kudanya, memberikan sejumlah uang dan mencium pipi orang tersebut. Ketika Franciskus melanjutkan perjalanan, ia menoleh ke belakang dan berpikir sesaat bahwa ia telah melihat Kristus sendiri berdiri di tempat pengemis itu.

Cerita ini merupakan ilustrasi yang sangat mengena mengenai kebenaran Alkitab: Kita melayani Tuhan bila kita melayani orang yang kekurangan. Yesus menyatakan hal ini dengan jelas tatkala Dia berkata bahwa setiap kebaikan yang dilakukan kepada mereka yang lapar, haus, tidak memiliki tempat tinggal, sakit, miskin, dan dipenjara, akan dinilai sebagai tindakan yang dilakukan langsung kepadaNya (Matius 25:40,45). Dia mengidentifikasikan diri dengan sangat dekat pada orang-orang yang terhimpit dalam hidup sehingga bila kita melayani mereka dalam namaNya, berarti kita telah melayani Dia.

Kita cenderung membatasi pelayanan kita kepada Kristus dengan berpikir bahwa hamba Tuhan dan utusan Injil adalah orang yang paling tepat untuk melakukan hal itu. Namun ketika kita mengulurkan pertolongan dalam nama Yesus Kristus melalui tindakan kita, Yesus sendiri hadir di sana sekalipun kita tidak dapat melihatNya. Dan suatu saat, ketika kita berdiri di hadapanNya kelak, Dia akan mengingat kembali perbuatan kasih kita yang dilakukan dalam namaNya dan Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu!"

Marilah kita terus melayani Dia dengan cara melayani orang lain yang membutuhkan -- DJD

KITA MELAYANI KRISTUS TATKALA KITA MELAYANI ORANG-ORANG YANG MEMBUTUHKAN

* Take from Renungan Harian