Senin, 20 April 2026

DI AWAN-AWAN

Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah namaNya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! (Mazmur 68:5a)


Sejak zaman dahulu, manusia telah memimpikan untuk dapat terbang. Dengan berhasil ditemukannya balon udara-panas pada tahun 1783, manusia dapat terbang tinggi untuk pertama kalinya.

Penemuan mesin dengan menggunakan energi gas dan perkembangan teori aerodinamika telah memungkinkan orang untuk membuat pesawat terbang. Dan penerbangan perdana pada saat itu berhasil dilakukan walaupun masih berupa pesawat terbang yang sangat sederhana yang terbuat dari kayu dan kain terpal. Berdasarkan titik tolak ini, kemudian makin berkembanglah pesawat-pesawat terbang yang lebih canggih. Sekarang kita mengenal SST dan 777. Dan pesawat ruang angkasa dapat meluncur pada lintasan rotasi dengan kekuatan dorongan maju sebesar 7 juta pounds.

Orang-orang Ibrani pada zaman dahulu sama sekali tidak memahami akan mekanisme penerbangan, tetapi mereka memiliki kesadaran penuh akan kekuatan Allah yang luar biasa. Mereka telah menyaksikan bagaimana Dia membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, melalui pimpinan dan pemeliharaan Allah selama berada di padang gurun, dan perlindunganNya hingga mereka tiba di Tanah Perjanjian.

Ketika Daud mencoba menggambarkan kuasa Allah, ia mengungkapkan bahwa Tuhan "berkendaraan melintasi langit purbakala" (Mazmur 68:34). Dan ia mengerti bahwa adalah Allah yang "mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umatNya" (Mazmur 68:35).

Suara gemuruh mesin pesawat yang akan tinggal landas mengingatkan saya akan kuasa Allah yang sangat dahsyat. Jika suatu kali Anda melihat pesawat jet terbang melintasi langit, pujilah Allah, yang "kekuasaanNya di dalam awan-awan" (Mazmur 68:35) -- DCE

ALLAH YANG MENJAGA ALAM SEMESTA INI ADALAH ALLAH YANG MENJAGA KITA

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 19 April 2026

BANYAK OMONG

Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!
(Mazmur 141:3)



Seseorang menghadiri suatu pertemuan di mana pembicara tamu berbicara dengan panjang lebar. Ketika pendengarnya itu sudah tidak tahan lagi, ia bangkit berdiri dan keluar dengan perlahan-lahan melalui pintu samping. Di koridor ia berjumpa dengan seorang sahabatnya yang mengajukan pertanyaan, "Apakah orang itu sudah selesai berbicara?" "Ya," jawab orang itu, "orang itu sudah selesai sejak tadi, tetapi ia tidak menyadarinya! Ia cuma tidak mau berhenti!"

Berbicara yang seperlunya dan yang berharga untuk disampaikan adalah sesuatu yang semestinya kita lakukan dengan orang lain setiap hari. Namun, jika kita mau jujur dengan diri kita sendiri, kebanyakan dari pembicaraan kita tak lebih dari sekadar suatu omong kosong. Tuhan Yesus memperingatkan, "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman" (Matius 12:36).

Berhentilah sejenak dan pikirkanlah, apa yang biasa kita bicarakan dalam percakapan sehari-hari dengan orang lain? Tentang apa kebanyakan pokok pembicaraan kita? Apakah kita telah berbicara terlalu banyak dan tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara? Apakah yang kita bicarakan itu memberi keuntungan kepada orang lain? Dan lebih dari itu semua, apakah perkataan kita memuliakan Allah?

Tuhan dapat memampukan kita berbicara untuk membangun orang lain, bukan justru hanya sekadar asal berbicara. Hari ini juga, jadikanlah kata-kata Daud berikut ini sebagai doa kita: "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!" (Mazmur 142:3) -- RWD

JIKA PIKIRAN KITA SEDANG KOSONG JANGAN LUPA MEMATIKAN SUARANYA 

* Take from Renungan Harian