Kamis, 23 Juli 2026

IMAN YANG PALSU

Bangsa ini ... memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku (Yesaya 29:13)


Akropolis, kuil kuno terkenal yang terletak di atas bukit di Atena tak pernah sepi dikunjungi para wisatawan selama berabad-abad. Dari situ, ribuan pelancong dari segala penjuru dunia sering membawa bongkahan batu pualam sebagai oleh-oleh.

Namun, bagaimana mungkin bongkahan batu itu tidak pernah habis? Jawabannya sangat mudah. Setiap beberapa bulan, sebuah truk yang bermuatan batu pualam didatangkan dari sebuah tempat, ribuan kilometer jauhnya dari situ. Batu-batu tersebut kemudian ditebarkan di seluruh daerah Akropolis. Jadi para turis selalu dapat pulang sambil dengan bangga membawa benda yang mereka kira suatu peninggalan bersejarah yang benar-benar asli.

Kita dapat terkecoh dengan berbagai penipuan semacam itu. Bahasa dan musik religius, benda-benda dan pelayanan religius dapat membodohi kita dan membuat kita berpikir bahwa kita sedang mengalami jamahan Allah. Padahal kita hanya terjebak dalam rutinitas yang hampa.

Pada zaman Nabi Yesaya, kebanyakan orang Israel hanya mengikuti arus. Itulah sebabnya Allah berkata, "Jangan lagi membawa persembahan yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku .... Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya" (Yesaya 1:13,14).

Penipuan yang bersifat religius hanya akan membuat jiwa-jiwa tetap dahaga. Tindakan-tindakan kita yang saleh belum tentu merupakan iman sepenuh hati yang dikehendaki Tuhan -VCG


SESEORANG YANG MUNAFIK MEMANG MEMILIKI ALLAH DI BIBIRNYA TETAPI DUNIA DALAM HATINYA

* Take from Renungan Harian

Rabu, 22 Juli 2026

SIAPA YANG AKAN KUUTUS?

Aku mendengar suara Tuhan berkata, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku, "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8)


Sebagai seorang pendeta muda, saya melayani sekelompok jemaat baru, termasuk orangtua saya. Ayah saya sangat aktif dalam "pelayanan terhadap sesama" di gereja. Ia melakukan penginjilan, kunjungan ke rumah sakit dan panti jompo, melayani sesama di dalam bus, memberi pertolongan kepada orang miskin, dan lain sebagainya. Meski tidak pernah dilatih secara formal tentang pelayanan, Ayah ternyata memiliki kemampuan alami untuk menjalin relasi dengan orang-orang yang berada di tengah masa-masa sukar. Itu adalah fokus kecintaannya, yaitu orang-orang tertindas yang kerap diabaikan. Bahkan, pada hari ia mengembuskan napas terakhir, hal terakhir yang ia katakan kepada saya adalah janjinya untuk mampir ke rumah seseorang. Ia ingin memastikan bahwa janjinya itu tetap ia pegang.

Saya yakin pelayanan ayah saya adalah pelayanan yang mengikuti teladan hati Kristus. Yesus memandang banyak orang yang dilupakan di dunia dan berbelas kasih kepada mereka (Matius 9:36-38). Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk berdoa agar Bapa surgawi mengutus para pekerja (seperti ayah saya) untuk menjangkau mereka yang berbeban berat dengan memerhatikan kehidupan mereka.

Ayah saya telah menjadi jawaban atas doa-doa yang dinaikkan dalam kehidupan orang-orang yang terluka. Dan kita pun dapat menjadi jawaban atas doa-doa tersebut. Tatkala ada orang yang memanjatkan doa agar muncul seseorang yang mewakili kasih Kristus, kiranya hati kita memberi tanggapan demikian, "Ya Tuhan, ini aku, utuslah aku!" --WEC

PELAYANAN SEJATI ADALAH KASIH DALAM PERBUATAN 

* Take from Renungan Harian