Kamis, 21 Mei 2026

TEMPAT BAGI KESEDIHAN

Penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya (Yesaya 53:4)


Monumen Veteran Vietnam diresmikan tahun 1982. Dalam 15 tahun pertama, terdapat 54.000 benda yang ditaruh di monumen tersebut. Dibutuhkan waktu hampir satu jam tiap malam, dan bahkan lebih lama lagi pada Hari Pahlawan, untuk mengumpulkan benda-benda kenangan tersebut--boneka beruang, foto dari cucu seorang prajurit, surat dari seorang anak perempuan yang belum pernah mengenal ayahnya, dan masih banyak lagi.

Setiap benda itu diberi nama dan disimpan di gudang. Tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan dengan benda-benda itu. "Tak seorang pun menyangka hal ini akan terjadi," kata seorang penjaga taman. "Tiap benda yang diletakkan itu bersifat sangat pribadi. Apa yang mereka lakukan ini mengejutkan setiap orang."

Kita semua pernah merasa kehilangan, dan seringkali kita membawa rasa duka itu bertahun-tahun lamanya. Kita berjuang dengan emosi kita sendiri. Adakah tempat bagi kita untuk melepas kesedihan dan memperoleh pemulihan dari luka-luka kehidupan ini?

Yesaya 53 menyebut Mesias sebagai Pribadi yang, ketika di kayu salib, "penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya.... Dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (ayat 4-5). Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang menyelamatkan kita dari dosa, kita juga mengenal Dia sebagai Pribadi yang mengangkat beban dukacita dari pundak kita.

Kita dapat menyerahkan kesusahan kita kepada sang Penanggung Kesengsaraan. Melalui pengurbanan-Nya di kayu salib, menolong, memulihkan dan mengakhiri kepedihan yang terdalam di hati kita [DCM]


SERAHKAN KESEDIHAN ANDA KEPADA "SANG PENANGGUNG KESENGSARAAN"

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 20 Mei 2026

BERBICARA DAN BERBUAT

Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: jangan mencuri, mengapa engkau sendiri mencuri? (Roma 2:21)


Seorang profesor yang mengajar etika di sebuah universitas terkemuka sedang menghadiri konvensi. Saat makan siang di restoran, ia terlibat diskusi yang mendalam tentang kebenaran dan moralitas dengan seorang dosen lain yang mengajar filsafat. Sebelum meninggalkan meja makan, profesor tersebut memasukkan sendok dan garpu perak ke saku bajunya. Melihat wajah rekannya yang penuh tanda tanya, ia menjelaskan, "Saya hanya mengajar tentang etika. Saya membutuhkan sendok-sendok ini."

Melalui pekerjaannya, orang tersebut dibayar untuk mengajarkan prinsip-prinsip tentang yang benar dan salah kepada mahasiswa-mahasiswanya. Namun di luar jam mengajar, ia gagal menerapkan prinsip-prinsip yang telah diajarkannya ini. Pengajaran tanpa penerapan adalah kemunafikkan, dan kemunafikan itu sendiri adalah dosa.

Yesus mengingatkan orang-orang munafik pada zamanNya bahwa Allah telah menyatakan melalui Yesaya, "Bangsa ini...memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari padaKu" (Yesaya 29:13). Ia juga menyebutkan amarah Allah pada Israel melalui Yehezkiel, "Mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukanya" (Yehezkiel 33:32).

Kehidupan kristiani seperti sebuah mata uang. Di satu sisi adalah kepercayaan; dan di sisi lain adalah perbuatan. Bila perbuatan kita tidak sejalan dengan kepercayaan kita, maka kita adalah orang yang munafik. Dengan kemurahan karunia Allah, kita perlu menempatkan penerapan dan pengajaran secara seimbang. Kita harus melakukan apa yang telah kita ucapkan agar dapat menyaksikan apa yang telah kita lakukan. -- VCG

PERBUATAN MENYATAKAN KEPERCAYAAN KITA YANG SESUNGGUHNYA

* Take from Renungan Harian