Senin, 27 April 2026

KUASA DARI PENGARUH

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? (Galatia 3:1a)


Bertahun-tahun waktu yang dipakai oleh seseorang untuk melatih dirinya memakai tata bahasa yang baik dan benar, tidak akan mampu mengalahkan beberapa jam berbicara dengan seorang sahabat yang memakai bahasa secara serampangan. Itulah hasil pengamatan saya baru-baru ini ketika secara tidak sengaja saya mendengar percakapan anak saya Steven dengan salah seorang temannya.

Saya mendengar teman Steven itu berkali-kali menggunakan bahasa Inggris dengan sangat buruk. Saya sangat heran dengan pilihan kata yang digunakannya. Namun yang lebih mengherankan lagi adalah ketika saya mendengar Steven berbicara seperti anak itu juga. Padahal ia tidak biasa berbicara demikian -- paling tidak sampai saat ia mendapat sedikit pengaruh dari teman sebayanya itu.

Itu adalah suatu gambaran akan kuasa pihak lain yang dapat mengubah cara berpikir kita. Secara hati-hati kita membimbing anak-anak kita agar dapat memakai bahasa yang baik dan benar, akan tetapi pengaruh satu teman saja dapat menghancurkan segala usaha kita.

Prinsip ini berlaku pula terhadap perkara-perkara yang jauh lebih penting. Ahazia dalam 2Tawarikh 22:1-12 dikatakan telah dipengaruhi oleh ibunya untuk melakukan yang jahat (2Tawarikh 22:3). Akibatnya, "Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN" (2Tawarikh 22:4). Kakeknya, Yosafat, juga memberi pengaruh, tetapi pengaruh yang jahat dari ibunyalah yang lebih menguasainya.

Kita dapat terkecoh! Karena itu kita harus berhati-hati terhadap apa atau siapa yang mempengaruhi kita, dan hiduplah dekat dengan Bapa kita, sumber segala apa yang baik dan benar! -- JDB

PILIHLAH SAHABAT DENGAN HATI-HATI SEBAB KITA DAPAT MENJADI SEPERTI MEREKA 

* Take from Renungan Harian

Minggu, 26 April 2026

GUNAKAN TALENTA ANDA

Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya (Markus 14:8)


Sebagaimana Maria dari Betania memberikan yang terbaik bagi Yesus (Markus 14:1-9), maka kita pun masing-masing harus memberikan milik kita yang terbaik bagi Tuhan. Upaya kita mungkin tampak tidak berarti, tetapi Allah dapat menggunakan apa yang tidak berarti itu untuk kemuliaan-Nya.

D. L. Moody bercerita tentang seorang pria yang menyeberangi Samudera Atlantik dengan menggunakan kapal. Ia mengalami mabuk laut yang parah dan mengurung diri di kabin. Suatu malam ia mendengar teriakan, "Ada orang jatuh ke laut!" Namun ia merasa bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan untuk memberikan pertolongan. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, "Setidaknya saya dapat menaruh lentera saya pada tingkap di sisi kapal." Ia berusaha berdiri lalu menggantungkan lenteranya.

Keesokan harinya ia mendengar bagaimana orang yang berhasil diselamatkan tersebut berkata, "Saya nyaris tenggelam di tengah gelapnya malam. Namun pada saat yang tepat, seseorang menaruh sebuah lentera pada tingkap di sisi kapal. Ketika lentera itu menyinari tangan saya, seorang pelaut yang ada di sekoci penyelamat menangkap tangan saya dan menarik saya masuk ke sekocinya."

Setiap orang yang membawa lenteranya, atau menggunakan satu talentanya, sekecil apa pun, akan membantu melaksanakan tujuan Allah di bumi ini, dan memuliakan sang Juruselamat. Kita akan sangat bersukacita bila di kemudian hari Tuhan memandang kita, dan sambil tersenyum dengan penuh kasih Dia berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia .... Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu (Matius 25:21)--HGB


HIDUP KITA MERUPAKAN PEMBERIAN ALLAH BAGI KITA APA YANG KITA LAKUKAN DALAM HIDUP ADALAH PEMBERIAN KITA BAGI ALLAH 

* Take from Renungan Harian