Selasa, 31 Maret 2026

PENGHAPUSAN YANG FATAL

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa (1Korintus 1:18)


Ketika sebuah gabungan gereja-gereja mengumumkan perayaan Paskah, mereka sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang salib. Penghapusan itu memang disengaja. Seorang pejabat gereja menjelaskan, "Salib menimbulkan terlalu banyak beban budaya."

Memang selama ini salib selalu menyinggung perasaan beberapa pihak. Rasul Paulus dengan tegas mengatakan bahwa "pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa" (1Korintus 1:18). Diselamatkan secara kekal oleh Pribadi yang dihukum secara tidak adil beratus-ratus tahun yang lalu, sungguh suatu teguran terhadap harga diri, kebaikan, dan kemandirian manusia! Tetapi tanpa salib itu, kubur yang kosong menjadi tak berarti. Itulah sebabnya Paulus dengan penuh rasa syukur berseru, "Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus" (Galatia 6:14).

Setiap tahun perayaan Paskah membawa banyak berkat bagi orang-orang percaya. Sementara kita mengenang kematian Tuhan di kayu salib, hati kita dipenuhi oleh kasih dan ucapan syukur. Tetapi kita tidak tinggal tetap di lereng bukit Palestina itu, saat kematian tampaknya telah meraih kemenangan. Kita bergegas menuju pagi kebangkitan dengan sorak-sorai kemenangannya. Semua peristiwa selama Minggu Paskah terjalin menjadi hamparan anugerah yang menakjubkan. Kayu yang ternoda darah dan kubur yang kosong merupakan sebuah kesatuan. Menghilangkan salib dari Paskah merupakan penghapusan yang fatal [VCG]



SALIB DAN KUBUR YANG KOSONG
MEMBERIKAN KESELAMATAN PENUH 

* Take from Renungan Haeian

Senin, 30 Maret 2026

SANG RAJA TELAH DATANG

Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan
(Lukas 19:38)




Suatu kali seorang filosof Amerika bertanya, "Seandainya Yesus dan Plato kembali ke bumi dan mengajar di kampus yang sama pada saat yang sama, siapakah yang akan saya pilih?" Ia menyimpulkan, "Siapa yang akan memilih untuk pergi dan mendengarkan orang sehebat Plato berbicara tentang kebenaran, sementara pada saat yang sama ia bisa mendengarkan Dia yang adalah Kebenaran itu sendiri?"

Kerumunan orang banyak yang mengelu-elukan Yesus pada hari Minggu Palem yang pertama itu memberi tanggapan yang sama seperti filosof itu. Mereka menyadari bahwa Dia tiada bandingnya, namun ada sesuatu yang janggal dari Dia. Dengan tenang Yesus mengendarai seekor keledai memasuki Yerusalem, sekalipun seekor kuda perang yang gagah mungkin lebih tepat untuk kesempatan itu. Dia mendatangi Bait Allah, kemudian kembali lagi ke Betania (Markus 11:11). Orang banyak itu mengharapkan lebih banyak lagi. Mereka memohon agar dibebaskan dari penjajahan Romawi, namun Dia datang untuk membebaskan mereka dari kuasa setan. Mereka menyadari bahwa Yesus berasal dari Allah, namun mereka sama sekali tidak dapat memahami misi rohani-Nya.

Apakah kita menyatakan hormat kepada Yesus karena Dia adalah Tuhan atau semata-mata karena apa yang dapat Dia lakukan bagi kita? Menghormati Dia berarti menaati Dia dan mematikan sifat dasar kita yang mementingkan diri sendiri. Filosof itu mengenali Dia sebagai Kebenaran dan orang banyak memandang Dia sebagai pembebas mereka, namun kita dipanggil untuk menerima Dia sebagai Raja, Pribadi yang telah datang untuk bertahta dalam hati kita --DJD


MENJADI ORANG KRISTEN BERARTI MENJADI HAMBA YANG SETIA DARI RAJA DI ATAS SEGALA RAJA

* Take from Renungan Harian