Sabtu, 16 Mei 2026

KETIKA ANDA BERKHIANAT

Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1Petrus 4:19)


Salah satu ujian terkeras yang kita hadapi dalam melayani Allah adalah pengkhianatan. Saya menyaksikan hal ini terjadi pada salah seorang pendeta penuh kasih. Beliau memberi dorongan kepada seorang pemuda berbakat di gerejanya untuk belajar di sekolah teologi. Pendeta itu memberikan dukungan dana bagi sang pemuda. Sampai pemuda itu lulus, pendeta itu masih membimbing, dan mengizinkannya berkhotbah dalam kebaktian.

Lama kelamaan pemuda itu mulai menjatuhkan sang pendeta dengan sindiran dan kritikan. Akhirnya yang tinggal hanyalah keremukan hati. Selanjutnya, pemuda itu mengumumkan dirinya sebagai calon pendeta gereja itu.

Yesus tahu benar tentang pengkhianatan. Dia menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk tinggal bersama keduabelas muridNya, dan salah seorang di antara mereka adalah Yudas. Yesus telah mengajarnya, menunjukkan mukjizat di depan matanya, dan bahkan membasuh kakinya, namun Yudas menjual kesetiaannya demi 30 keping perak. Ketika Yesus mengungkapkan pengkhianatan yang bakal terjadi atas diriNya dalam Yohanes 13:18, Dia mengutip Daud yang juga mengetahui bahwa ada sahabat karibnya yang akan menyerangnya (Mazmur 41:10).

Setelah tahu bahwa Dia dikhianati, Yesus melanjutkan apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukanNya. Dia mengajar kita dengan teladan untuk melayani orang lain karena kita mengasihi dan mematuhi Allah, bukan karena kita ingin dihargai.

Apakah Anda dikhianati? Temukanlah kelegaan dalam pengenalan bahwa kepenuhan sejati akan datang saat kita melakukan kehendak Allah -- DCE

JIKA ANDA DIKHIANATI SERAHKANLAH SEMUANYA PADA ALLAH

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 15 Mei 2026

KESAN TERAKHIR

Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema (1Tesalonika 1:8)


Ketika pakar keuangan dari Amerika bernama John Pierpont Morgan meninggal dunia pada tahun 1913, keinginan dan pernyataan terakhirnya mengungkapkan kesungguhan imannya di dalam Yesus Kristus. Ia telah menunjukkan warisan istimewa yang ia miliki lewat kata-kata yang meyakinkan:

"Saya menyerahkan jiwa saya ke dalam tangan sang Juruselamat dengan keyakinan penuh bahwa setelah menerima dan dibasuh dengan darahNya yang kudus, Dia akan menghadirkan kesucian sebelum saya menghadap takhta Bapa surgawi. Dan saya meminta anak-anak saya untuk memelihara dan mempertahankannya dengan segala resiko dan dengan pengorbanan pribadi apa pun, keseluruhan doktrin tentang penebusan dosa yang dianugerahkan lewat penumpahan darah Yesus Kristus, sekali dan hanya melalui Dia."

Kata-kata tersebut di atas merupakan pesan dan kesan terakhir John kepada ahli warisnya. Suatu sikap yang patut dihargai sebagai suatu kesaksian yang murni tentang contoh iman yang harus kita miliki sebelum kita meninggalkan dunia ini. Dan itu juga -- secara tidak langsung -- menyatakan bahwa sangatlah penting bagi kita untuk bersaksi tentang iman kita pada Kristus tatkala kita masih hidup.

Orang-orang yang belum percaya di Tesalonika menanggapi kesaksian Paulus, Silwanus, dan Timotius lewat perubahan hidup dan kesaksian pribadi, sehingga "firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat" (1Tesalonika 1:6-8). Demikianlah, bila kita mengabarkan Injil melalui ucapan dan tindakan, kita akan meninggalkan pesan dan kesan terakhir yang sangat penting di dunia ini -- VCG

HIDUP BAGI ALLAH MEWARISKAN WARISAN YANG KEKAL

* Take from Renungan Harian