Sabtu, 29 Agustus 2026

PERJALANAN

Tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mazmur 139:10)


Istri saya dan saya gemar mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi. Pada musim gugur lalu, kami menyusuri jalan-jalan pedesaan di sebelah utara Wisconsin. Warna-warna khas musim gugur yang tampak di setiap pucuk pepohonan menghadirkan pemandangan yang sangat mengesankan. Pohon-pohon maple merah dan oranye, cemara hijau, serta hutan kayu berwarna kuning melukiskan pemandangan yang menakjubkan. Karena tak dapat menduga apa yang akan kami jumpai dalam perjalanan selanjutnya, perjalanan ini menjadi perjalanan yang tak terlupakan.

Salah satu sisi yang mengasyikkan bila kita berjalan bersama Kristus ialah bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Terkadang kita tidak menyukai berbagai liku-liku yang akan kita jumpai dalam perjalanan itu, tetapi Allah memberikan yang terbaik dan menuntun kita menuju kehendak-Nya.

Rasul Paulus dan rekan-rekannya sedang melanjutkan perjalanan untuk mewartakan Injil melintasi Asia kecil ketika Allah mengubah rencana mereka (Kisah Para Rasul 16:6-7). Mereka pergi ke Troas, bukannya ke Bitinia. Malam itu Paulus mendapat penglihatan tentang seseorang yang berseru kepadanya, "Menyeberanglah kemari [Makedonia] dan tolonglah kami" (ayat 9). Maka rencana Paulus pun berubah begitu Allah menyatakan rencana-Nya melalui penglihatan itu.

Saat kita berdoa dengan sungguh dan bertanya tentang kehendak-Nya, kita dapat meyakini bahwa Dia akan menuntun kita tiap hari lewat firman dan oleh Roh-Nya di dalam kita (Mazmur 139:10). Karena Dia baik (25:8), kita dapat mempercayakan liku-liku perjalanan hidup yang kita sebut "kehidupan kristiani" kepada-Nya --DCE


ANDA TIDAK AKAN KEHILANGAN JALAN
JIKA ANDA MENGIKUT DIA YANG ADALAH JALAN


* Take from Renungan Harian

Jumat, 28 Agustus 2026

BELAJAR MELIHAT

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah (Roma 6:11)



Dalam bukunya An Anthropologist on Mars, Oliver Sacks bercerita tentang seorang pria bernama Virgil. Virgil mengalami kebutaan sejak kecil. Lalu, berpuluh tahun kemudian ia menjalani operasi sehingga dapat melihat kembali.

Namun pada mulanya, seperti orang buta yang disembuhkan Yesus di luar Betsaida (Markus 8:22-26), Virgil mendapat kesulitan dengan penglihatan barunya. Meski dapat membedakan gerakan dan warna, ia tak dapat menyatukan bayangan-bayangan tersebut menjadi bentuk yang ia mengerti. Untuk sementara, perilakunya masih sama seperti ketika ia buta.

Sacks berkomentar, "Seseorang harus mati sebagai orang buta terlebih dahulu untuk kemudian dilahirkan kembali sebagai orang yang dapat melihat. Jika tidak, ia akan merasa tidak nyaman karena perasaan buta dan terasing untuk sementara masih sangat mempengaruhinya."

Pendapat itu menggemakan ajaran Paulus tentang menguburkan hidup yang lama, untuk hidup dalam hidup yang baru (Roma 6:4). Ini adalah perubahan rohani yang dramatis sehingga kemungkinan besar kita akan mengalami masa penyesuaian diri yang sulit. Kebiasaan dan sikap yang sudah mendarah daging mungkin masih melekat pada diri kita, seperti daun yang layu di musim gugur.

Untuk mengalahkan dosa, ingatlah bahwa kita bukan lagi budak dosa (ayat 11), dan waspadalah agar dosa tidak berkuasa lagi dalam hidup kita (ayat 2). Kemudian, serahkanlah diri Anda kepada Allah sebagai "orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup" (ayat 13). Dengan demikian kebutaan rohani kita akan berlalu, dan kita akan belajar melihat Yesus dengan lebih jelas --VCG


DOSA MEMBUTAKAN NAMUN ANUGERAH ALLAH MENCELIKKAN

* Take from Renungan Harian