Minggu, 08 November 2026

BADAI

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu (Matius 7:24)


Neal Beidleman selamat dari ekspedisi malang pada tahun 1996, di mana delapan orang pendaki gunung tewas di atas Gunung Everest. Sebagian dari mereka telah membayar uang sebesar 65.000 dolar agar mendapat kesempatan mendaki puncak gunung tertinggi di dunia itu. Saat mengevaluasi penyebab kemalangan tersebut, Beidleman berkata, "Tragedi dan malapetaka ... tidak disebabkan oleh sebuah keputusan, kejadian, atau kesalahan tunggal, tetapi merupakan titik puncak dari banyak hal dalam hidup Anda. Ada sesuatu yang terjadi, dan kejadian itu menjadi katalisator bagi datangnya semua risiko yang telah Anda ambil."

Di atas Gunung Everest, "sesuatu" itu berupa badai salju yang mengamuk. Menurut jurnalis Todd Burgess, "Jika bukan karena badai, para pendaki gunung itu tetap akan menghadapi banyak tantangan yang penuh risiko. Tetapi badai itulah yang menunjukkan kelemahan mereka."

Berbagai hal yang berisiko dalam hidup kita kini, baik ketidakpedulian atau ketidaktaatan rohani, dapat menenggelamkan kita saat badai menerjang. Yesus menceritakan sebuah kisah tentang pembangun rumah yang bijak dan bodoh untuk menekankan arti penting ketaatan akan firman-Nya (Matius 7:24-27). Dia berkata, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu" (ayat 24).

Ketaatan kepada Kristus tidak menghapuskan badai kehidupan, tetapi hal ini menentukan apakah kita akan bertahan atau jatuh ketika badai datang menerjang --David McCasland

BADAI KEHIDUPAN MENGUNGKAPKAN KEKUATAN IMAN KITA

* Take from Renungan Harian 

Sabtu, 07 November 2026

MENIRU PENCIPTA SEJATI

Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih (Efesus 5:1)

Museum Louvre di Paris mungkin merupakan museum seni termashyur di dunia. Museum ini memajang berbagai lukisan asli buah karya banyak pelukis besar seperti Delacroix, Michelangelo, Rubens, da Vinci, Ingres, Vermeer, dan masih banyak lagi.


Semenjak tahun 1793, Louvre telah mendorong para seniman yang bercita-cita tinggi untuk datang dan meniru lukisan-lukisan asli tersebut. Sebagian seniman modern kita yang termasyur telah melakukan hal itu dan telah menjadi pelukis yang semakin baik dengan meniru karya dunia terbaik.

Sebuah artikel di majalah Smithsonian mengisahkan tentang Amal Dagher, pria berusia 63 tahun yang sudah menduplikasi karya seni di Louvre selama 30 tahun. Sampai sekarang Dagher tetap terkagum-kagum pada para pelukis lukisan asli itu dan terus belajar dari itu semua. Ia berkata, "Jika Anda terlalu puas dengan diri sendiri, Anda tidak akan menjadi lebih baik."

Rasul Paulus memerintahkan kita untuk menjadi "penurut-penurut Allah" (Efesus 5:1). Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Tesalonika, ia memuji jemaat itu karena mereka semakin menjadi penurut Tuhan dan menjadi teladan bagi yang lain (1Tesalonika 1:6-10).

Seperti halnya para peniru lukisan di Louvre, kita pun tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sebelum kita naik ke surga. Namun demikian, kita harus menahan godaan untuk puas dengan peneladanan kita terhadap Yesus sekarang ini. Kita harus selalu memandang Dia, belajar dari-Nya, dan memohon pertolongan-Nya. Marilah kita meneladani Sang Pencipta Sejati --Dave Egner


UNTUK MENJADI SEPERTI KRISTUS
KITA HARUS BELAJAR DARI SANG PENCIPTA SEJATI

* Take from Renungan Harian