Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: jangan mencuri, mengapa engkau sendiri mencuri? (Roma 2:21)
Seorang profesor yang mengajar etika di sebuah universitas terkemuka sedang menghadiri konvensi. Saat makan siang di restoran, ia terlibat diskusi yang mendalam tentang kebenaran dan moralitas dengan seorang dosen lain yang mengajar filsafat. Sebelum meninggalkan meja makan, profesor tersebut memasukkan sendok dan garpu perak ke saku bajunya. Melihat wajah rekannya yang penuh tanda tanya, ia menjelaskan, "Saya hanya mengajar tentang etika. Saya membutuhkan sendok-sendok ini."
Melalui pekerjaannya, orang tersebut dibayar untuk mengajarkan prinsip-prinsip tentang yang benar dan salah kepada mahasiswa-mahasiswanya. Namun di luar jam mengajar, ia gagal menerapkan prinsip-prinsip yang telah diajarkannya ini. Pengajaran tanpa penerapan adalah kemunafikkan, dan kemunafikan itu sendiri adalah dosa.
Yesus mengingatkan orang-orang munafik pada zamanNya bahwa Allah telah menyatakan melalui Yesaya, "Bangsa ini...memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari padaKu" (Yesaya 29:13). Ia juga menyebutkan amarah Allah pada Israel melalui Yehezkiel, "Mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukanya" (Yehezkiel 33:32).
Kehidupan kristiani seperti sebuah mata uang. Di satu sisi adalah kepercayaan; dan di sisi lain adalah perbuatan. Bila perbuatan kita tidak sejalan dengan kepercayaan kita, maka kita adalah orang yang munafik. Dengan kemurahan karunia Allah, kita perlu menempatkan penerapan dan pengajaran secara seimbang. Kita harus melakukan apa yang telah kita ucapkan agar dapat menyaksikan apa yang telah kita lakukan. -- VCG
PERBUATAN MENYATAKAN KEPERCAYAAN KITA YANG SESUNGGUHNYA
* Take from Renungan Harian