Senin, 01 Juni 2026

HARGA SUATU KEBENARAN

Aku akan masuk menghadap raja...kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati (Ester 4:16)


Ketika saya berbicara dengan seorang pemuda sebelum hari H dalam Perang Dunia II, saya mengamati bahwa mereka mengalami suatu ketakutan. Tak seorang pun dari mereka yang ingin mati dalam peperangan. Namun bagaimanapun juga, sebagian besar dari mereka menggambarkan keyakinan bahwa alasan mereka untuk berperang adalah benar dan itu adalah harga dari suatu resiko.

Ratu Ester juga mengalami perasaan yang sama. Ia tidak ingin mati. Ia berpuasa selama tiga hari untuk menyatakan kebutuhannya akan pertolongan khusus dari Allah. Menurut adat-istiadat Persia, jika Ester menghadap raja tanpa diundang dan raja tidak berkenan, raja dapat menjatuhkan hukuman mati sekalipun itu isterinya. Namun Ester berani mengambil resiko itu karena ia sangat mengasihi rakyatnya.

Saat ini di Amerika Serikat, pria dan wanita dan yang gugur karena membela negaranya sangat dihormati. Dorongan patriotisme memaksa mereka mengambil jalan itu dalam hidup mereka. Baik secara sukarela maupun karena wajib militer, mereka bergabung untuk mempertahankan tanah airnya. Kadang-kadang mereka harus pergi ke tempat yang jauh untuk mendukung negara lain berperang merebut kemerdekaan. Mereka mempertaruhkan nyawa dan mati.

Sama seperti kita berhutang pada mereka yang gugur untuk mencapai kemerdekaan, kita juga harus berterima kasih kepada Allah karena AnakNya telah mati di kayu salib untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa. Pada saat ini, banyak hal yang harus kita syukuri -- HVL

HARGA KEMERDEKAAN KITA DARI DOSA DIBAYAR DENGAN DARAH

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 31 Mei 2026

PEKERJAAN YANG BERARTI

Kami adalah kawan sekerja Allah (1 Korintus 3:9)


Seorang arsitek kenamaan dunia, Sir Christopher Wren, membangun kembali London setelah hampir seluruhnya terbakar pada tahun 1666. Suatu hari ia mengunjungi sebuah gereja besar yang sedang dibangun. Ia berteriak kepada seorang pekerja yang berada di sebuah tangga yang tinggi, "Apa yang sedang kaulakukan di situ?" Dengan bangga pekerja itu berkata, "Saya sedang membantu Sir Christopher Wren membangun sebuah katedral!"

Apa yang dikatakannya memang bukanlah omong kosong, karena tanpa bantuan pekerja yang tak dikenal itu, Wren sendiri tidak dapat mendirikan satu pun bangunan yang indah. Gereja-gereja indah yang dibangun tidak hanya merupakan kenangan atas karya Wren, tetapi juga atas semua kerja keras dari para pekerja itu.

Apakah Anda pernah merasa bahwa apa yang Anda kerjakan dalam hidup ini membosankan dan tak berarti? Kebanyakan dari kita terkadang merasa terperangkap dalam pekerjaan yang membosankan. Terkadang pula sulit bagi kita untuk terus mengingat bahwa saat melayani Kristus, kita adalah "kawan sekerja Allah" (1 Korintus 3:9), yang membantu Allah sendiri dalam mendirikan gereja-Nya (ayat 10,11; Matius 16:18). Apa pun pekerjaan atau tugas kita dalam hidup ini, asal dengan setia kita menggunakan waktu, bakat, dan karunia kita, berarti kita sedang membantu Allah membangun Kerajaan-Nya.

Pujilah Allah karena Dia telah memberi kita hak istimewa untuk bekerja bersama-Nya. Bersama Tuhan, pekerjaan kita selalu berarti -VCG


DALAM SIMFONI PELAYANAN ALLAH
SETIAP BAGIAN BERPERAN PENTING

* Take from Renungan Harian