Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1Petrus 4:19)
Salah satu ujian terkeras yang kita hadapi dalam melayani Allah adalah pengkhianatan. Saya menyaksikan hal ini terjadi pada salah seorang pendeta penuh kasih. Beliau memberi dorongan kepada seorang pemuda berbakat di gerejanya untuk belajar di sekolah teologi. Pendeta itu memberikan dukungan dana bagi sang pemuda. Sampai pemuda itu lulus, pendeta itu masih membimbing, dan mengizinkannya berkhotbah dalam kebaktian.
Lama kelamaan pemuda itu mulai menjatuhkan sang pendeta dengan sindiran dan kritikan. Akhirnya yang tinggal hanyalah keremukan hati. Selanjutnya, pemuda itu mengumumkan dirinya sebagai calon pendeta gereja itu.
Yesus tahu benar tentang pengkhianatan. Dia menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk tinggal bersama keduabelas muridNya, dan salah seorang di antara mereka adalah Yudas. Yesus telah mengajarnya, menunjukkan mukjizat di depan matanya, dan bahkan membasuh kakinya, namun Yudas menjual kesetiaannya demi 30 keping perak. Ketika Yesus mengungkapkan pengkhianatan yang bakal terjadi atas diriNya dalam Yohanes 13:18, Dia mengutip Daud yang juga mengetahui bahwa ada sahabat karibnya yang akan menyerangnya (Mazmur 41:10).
Setelah tahu bahwa Dia dikhianati, Yesus melanjutkan apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukanNya. Dia mengajar kita dengan teladan untuk melayani orang lain karena kita mengasihi dan mematuhi Allah, bukan karena kita ingin dihargai.
Apakah Anda dikhianati? Temukanlah kelegaan dalam pengenalan bahwa kepenuhan sejati akan datang saat kita melakukan kehendak Allah -- DCE
JIKA ANDA DIKHIANATI SERAHKANLAH SEMUANYA PADA ALLAH
* Take from Renungan Harian