Minggu, 01 November 2026

JALAN YANG SEPI

Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak
(Markus 6:31)



Delapan puluh kilometer di sebelah barat Asheville, North Carolina, saya membawa mobil saya keluar dari jalan bebas hambatan yang padat dan melanjutkan perjalanan ke kota melalui jalur Blue Ridge Parkway yang berpemandangan indah. Pada sore hari di akhir bulan Oktober itu, saya mengemudi dengan lambat dan sering berhenti untuk menikmati pemandangan pegunungan serta dedaunan musim gugur yang berkilauan. Perjalanan itu memang tidak membawa saya sampai tujuan dengan cepat, tetapi perjalanan itu menyegarkan jiwa saya.

Pengalaman itu membuat saya bertanya, "Seberapa sering saya melewati jalan yang sepi bersama Yesus? Adakah saya keluar dari jalan bebas hambatan yang penuh tanggung jawab dan kesibukan untuk memusatkan perhatian kepada-Nya selama beberapa saat setiap hari?"

Setelah para murid Yesus menyelesaikan sebuah pelayanan yang penuh tantangan, Dia berkata kepada mereka, "Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak" (Markus 6:31). Bukannya memperoleh liburan panjang, mereka justru hanya melakukan sebuah perjalanan singkat di atas perahu bersama Yesus sebelum kemudian mereka dikerumuni orang banyak. Para murid menyaksikan belas kasihan Tuhan dan berpartisipasi dengan-Nya dalam memenuhi kebutuhan orang banyak tersebut (ayat 33-43). Saat hari yang melelahkan itu berakhir, Yesus mencari penyegaran melalui doa kepada Bapa surgawi (ayat 46).

Yesus Tuhan kita selalu beserta kita, baik di tengah hiruk pikuk atau ketenangan. Namun demikian, kita perlu mengambil waktu setiap hari untuk melewati jalan yang sepi bersama-Nya --DCM


SANGATLAH BAIK UNTUK MELUANGKAN WAKTU BERSAMA ALLAH 

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 31 Oktober 2026

SELAMAT JALAN

Saat kematianku sudah dekat (2Timotius 4:6)


Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti "melonggarkan" atau "melepaskan tambatan". Paulus menggunakan kata yang sama saat mendesah, "Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23).

Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti "berlayar" -- membongkar sauh, melepas tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus untuk "meninggal dunia".

Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita. Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, "Selamat jalan!"

Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?

Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) --DHR


ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN ALLAH TIDAK PERLU TAKUT AKAN KEMATIAN 

* Take from Renungan Harian