Senin, 23 Maret 2026

PERKENALAN

Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku (Filipi 2:30)


Saya pikir ada salah cetak ketika pada jadwal acara sebuah konferensi kristiani tertulis waktu untuk perkenalan akan berlangsung selama dua setengah jam. Namun ternyata jadwal itu benar. Dan bagi saya, sesi itulah yang paling berkesan di akhir minggu.

Bukannya memperkenalkan dirinya sendiri, menceritakan pekerjaannya, atau keluarganya, setiap orang justru memperkenalkan temannya. Ada yang memperkenalkan teman yang sudah lama dikenalnya, tetapi ada juga yang memperkenalkan teman yang baru ditemuinya semalam. Setiap perkenalan mengungkapkan hal-hal yang menguatkan, dengan penekanan khusus pada keunikan dan nilai setiap individu.

Rasul Paulus adalah seorang “penyampai perkenalan” yang hebat. Ia memuji rekan-rekannya dalam hal iman dan pelayanan. Surat-suratnya diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada pria dan wanita yang sudah membantunya. Ia mengatakan dengan tegas bahwa Timotius adalah orang yang karakternya telah teruji, yang “sama seperti seorang anak menolong bapaknya” telah melayaninya dalam pelayanan Injil (Filipi 2:22). Ia juga memuji Epafroditus, yang nyaris mati karena pengabdiannya yang tak mementingkan diri sendiri kepada Kristus dan pelayanannya kepada orang lain (ayat 30).

Dalam dunia yang dipenuhi oleh keinginan untuk menjatuhkan, marilah kita semakin berusaha membangun orang lain dengan kata-kata kita kepada mereka dan perkataan kita tentang mereka. “Perkenalan” seperti itu bisa menjadi salah satu hal terpenting yang dapat kita lakukan setiap hari --David McCasland


PEKERJAAN KITA BELUMLAH BERAKHIR
SEBELUM KITA MEMBANGUN ORANG LAIN

* Take from Renungan Harian

Minggu, 22 Maret 2026

HANYA SATU PILIHAN

Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (Habakuk 2:4)


Jika Anda meminta beberapa orang untuk menggambar sebuah garis lekak-lekuk di atas selembar kertas, mereka tidak mungkin membuat dua garis yang persis sama. Dari sini kita dapat menarik sebuah pelajaran: Ada begitu banyak cara untuk hidup tidak lurus, namun hanya ada satu cara untuk hidup lurus.

Tuhan mengatakan kepada kita bahwa orang yang benar hanya memiliki satu pilihan, yaitu untuk “hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Dalam pasal sebelum pernyataan dari Tuhan ini, Nabi Habakuk mengeluh tentang kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Ia merasa seolah-olah orang fasik menelan orang yang benar (Habakuk 1:13).

Allah menjawab keluhan Habakuk dengan mengatakan bahwa Dia berharap supaya umat-Nya bersikap “benar” dan hidup dengan iman. Dia tidak ingin mereka menjadi seperti orang yang “membusungkan dada” dan “tidak lurus hatinya” (2:4). Orang yang sombong dan terlalu percaya diri akan mencari-cari alasan atas kesalahan yang ia perbuat dan atas ketidaksempurnaannya. Ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya membutuhkan Allah. Jalan hidupnya tidak lurus.

Kejahatan tampaknya menang di dunia kita ini. Namun, Allah mendorong kita untuk hidup dengan iman, dan menyimpan di dalam hati jaminan yang diberikan-Nya kepada Habakuk, yaitu bahwa akan tiba hari pembalasan bagi orang-orang jahat.

Satu-satunya cara untuk menyenangkan Allah sekarang ini dan menyiapkan diri untuk menghadapi hari pembalasan itu adalah hidup dengan iman --Albert Lee


SATU-SATUNYA JALAN YANG BENAR ADALAH JALAN YANG LURUS DAN SEMPIT

* Take from Renungan Harian