Senin, 28 September 2026

DIPAKAI ALLAH

Menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi
(1Timotius 6:18)



Penginjil Franklin Graham menulis, "Jika kita ingin menjadi tipe orang yang dapat dipakai Allah kapan pun, di mana pun, ke mana pun, kita harus memberikan diri, rumah, dapur, dan ruang tamu kita sebagai pos-pos terdepan bagi kerajaan Allah." Orang yang mempraktikkan pernyataan di atas sedang memenuhi tantangan Paulus untuk "menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi" (1 Timotius 6:18).

Beberapa tahun yang lalu, keluarga kami merasa bahwa Tuhan memberikan tantangan yang sama. Dengan percaya bahwa Allah ingin masuk lebih dalam lagi ke dalam kehidupan, kepemilikan, dan waktu kami, kami menerima tantangan itu di dalam doa.

Tak lama kemudian kami menangani seorang pecandu berat narkoba dan membuka rumah kami untuknya. Beberapa sanak keluarga bergabung dengan kami untuk membantu orang-orang yang rindu untuk datang kepada Kristus dan melepaskan diri dari narkoba. Akhirnya kami mendirikan sebuah pusat rehabilitasi kristiani, sebuah pelayanan yang masih berlangsung hingga saat ini. Untuk melengkapi kami dalam pelayanan ini, Allah menggunakan kesedihan yang pernah kami alami sendiri. Kesukaran membantu kami memahami orang lain, dan memampukan kami untuk membimbing mereka agar mempercayakan keselamatan dan kebutuhan sehari-hari mereka kepada Yesus.

Allah juga rindu memakai Anda, harta milik Anda, dan bahkan penderitaan Anda untuk memperlengkapi Anda dengan hidup yang kaya dalam memberi dan berbagi. Sudahkah Anda menerima tantangan-Nya?--Joanie Yoder

BELAS KASIH DIBUTUHKAN UNTUK MENYEMBUHKAN LUKA SESAMA 

* Take from Renungan Harian

Minggu, 27 September 2026

YESUS MEMBEBASKAN KITA

Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32)


Setelah zaman Rasul Paulus, barangkali belum ada orang lain yang menuliskan pengalamannya pada saat mengalami tekanan rohani secara jelas, selain ahli teologi terkenal bernama Agustinus (354-430 M). Meskipun dikaruniai kepandaian yang luar biasa, di masa mudanya ia pernah berkubang dalam kebobrokan moral yang sangat parah.

Sambil mengenang masa lalu, Agustinus mengisahkan pergumulannya, "Saya diikat oleh rantai besi kehendak saya sendiri. Saya cenderung menjadi seorang penderita yang patah semangat, bukannya orang yang memiliki kemauan untuk bangkit. Kehendak itu menjadi senjata makan tuan bagi saya, karena saya telah menjadi apa yang sesungguhnya tidak saya kehendaki."

Banyak di antara kita yang pernah menjalani pergumulan serupa. Kita ingin terbebas dari dosa, tetapi ternyata kita selalu mendapati diri tidak mampu mematahkan rantai kehendak kita. Kemudian, ketika kita percaya kepada Yesus, kita dibebaskan dan dapat menyuarakan kembali lirik kidung pujian karya Charles Wesley: "Lama sudah rohku terbelenggu dalam dosa dan gelapnya kemanusiaanku; mata-Mu memancarkan sinar yang menghidupkan kembali, aku terbangun, tempat aku dikurung tiba-tiba diterangi cahaya! Rantai yang membelengguku terlepas, rohku dibebaskan; aku bangkit, keluar, dan mengikut Dia."

Hanya Yesus, satu-satunya Pribadi yang mampu melepaskan belenggu dosa di dalam hidup Anda. Terimalah Dia sebagai Juru Selamat Anda, dan "kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32) --VCG

KEBEBASAN SEJATI DITEMUKAN DALAM MELAYANI KRISTUS

* Take from Renungan Harian