Rabu, 24 Juni 2026

KEMURUNGAN PERSEKUTUAN DOA

Tuhan, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu (Mazmur 102:2)


Terkadang, persekutuan doa dapat membuat Anda lesu. Meskipun Anda sangat senang dapat berkumpul dengan teman-teman untuk berdoa, pokok-pokok doa dapat membuat kecil hati. Seorang misionaris menghadapi masalah-masalah kesehatan. Seorang anak menderita kanker. Sepasang suami-istri dalam kelas Sekolah Minggu akan bercerai. Pengabar Injil yang ditunjuk kesulitan dalam mengumpulkan bantuan keuangan. Anda pun punya pergumulan sendiri. Semakin banyak permohonan yang Anda dengar, Anda semakin jemu.

Namun, kemudian seorang pelayan doa yang tekun mulai berdoa. Dengan penuh keyakinan, ia bersyukur kepada Allah atas pengendalian-Nya yang sempurna terhadap segala masalah yang kami doakan. Dengan mencucurkan air mata ia memohon agar Allah bekerja dalam hidup mereka yang didoakan. Dengan jujur ia mengakui bahwa kami tidak selalu memahami apa yang sedang Allah perbuat. Seperti pemazmur, ia mengubah keluh kesah menjadi pujian kepada Allah karena telinga-Nya selalu mendengarkan kita. Doa berubah menjadi pujian karena seorang yang saleh percaya bahwa Tuhan mendengar "doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka" (Mazmur 102:18).

Apakah Anda sedang bergumul dalam kesulitan hidup Anda sendiri dan persoalan-persoalan yang bertubi-tubi dari teman-teman terdekat serta orang-orang yang Anda kasihi? Belajarlah untuk menyerahkan semua masalah itu kepada Allah yang kekal. Inilah cara yang jitu untuk mengusir kejemuan dalam persekutuan doa --Dave Branon


SEKALIPUN PANDANGAN KE SEKELILING TAMPAK SURAM PANDANGAN KE ATAS SELALU CERAH

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 23 Juni 2026

SIAPA YANG PEGANG KENDALI?

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)



Saya tersenyum ketika seorang teman menceritakan pengalamannya saat naik taksi di New York. Sopir taksi yang ditumpanginya tampak ingin memamerkan kemahirannya menyetir. Dengan berani ia melanggar kepadatan lalu lintas kota besar itu, mengemudi seenaknya, membelok secara tiba-tiba, nyaris menyerempet mobil lain, dan suka mengerem mendadak.

Teman saya itu merasa yakin mereka akan mengalami kecelakaan. Ia sangat frustrasi dan ketakutan karena tak dapat mengendalikan keadaan pada saat itu. Seolah-olah hidupnya bergantung pada orang yang tak dapat diandalkan.

Saat merenungkan cerita itu, saya tersadar akan kecenderungan manusiawi kita yang selalu ingin mengendalikan segala sesuatu. Kita cenderung mudah merasa gugup tatkala kehilangan kendali atas hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita perlu menyerahkan diri kepada Dia yang menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita dapat melakukannya tanpa rasa takut bila mengingat bahwa Dia tak pernah gegabah menuntun kita. Kita perlu belajar bersikap tenang dalam hadirat-Nya dan percaya bahwa Dia sanggup mengendalikan segala sesuatu yang Dia izinkan untuk kita alami.

Kita memang harus berencana dan hidup secara bertanggung jawab. Namun kita juga harus ingat bahwa di atas segalanya, Allah mengendalikan hidup kita (Amsal 16:9, Yakobus 4:13-17). Bukan usaha kita, tetapi kehendak Allahlah yang membuat kita tetap hidup dan merasa aman. Hidup kita akan senantiasa terjamin bila kita mempercayakannya dalam tangan Allah -MRD II


MASA DEPAN KITA PASTI TERJAMIN DALAM TANGAN ALLAH YANG MAHATAHU 

* Take from Renungan Harian