Senin, 08 Juni 2026

HANYA SESAAT

Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar (Amsal 22:1)


Kita membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah reputasi, dan hanya membutuhkan ketidakbijaksanaan sesaat saja untuk menghancurkannya.

Saya berpikir mengenai hal ini ketika teringat pada seorang teman kuliah yang tak pernah terlibat masalah atau menimbulkan kesulitan. Namun suatu hari, sedikit saja ia berbuat jahil, yakni melempar sebatang korek api ke dalam keranjang sampah hingga terjadi kebakaran yang menghanguskan sebagian asrama kami, reputasinya pun tercoreng parah. Sejak itu, apa pun yang dilakukannya, namanya selalu dikaitkan dengan tindakan sembrono tersebut.

Sering kita berpikir bahwa orang muda harus sangat berhati-hati dengan reputasi mereka, dan memang mereka perlu menjaga nama baik mereka. Namun orang dewasa juga dapat merusak nama baik mereka hanya dengan satu pilihan yang salah.

Renungkan tentang Daud, yang selama bertahun-tahun menanggung noda dosa karena perselingkuhannya dengan Batsyeba. Meski ia diampuni, namun reputasinya telah ternoda. Kita tidak mengetahui kejadian rinci yang melatarbelakangi penulisan Mazmur 38, tetapi pasal tersebut menggambarkan penderitaan Daud akibat dosanya. Untuk menghindari penderitaan semacam itu, Kitab Suci memberitahu agar kita menjaga hati (Amsal 4:23), agar hidup dengan bijaksana (Efesus 5:15), dan agar kita mengikuti teladan Yesus (1Petrus 2:21).

Hanya dibutuhkan waktu sesaat untuk menghancurkan nama baik dan kesaksian Anda bagi Allah. Jangan biarkan hal itu terjadi pada Anda --JDB

DENGAN MENJAGA KARAKTER KITA MAKA REPUTASI KITA AKAN TERJAGA DENGAN SENDIRINYA --Moody 

* Take from Renungan Harian

Minggu, 07 Juni 2026

YANG PATUT DIINGAT

Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersuka cita. Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak sorai (Mazmur 126:3,5)


Saya mendengar Chuck Colson berkata dalam sebuah wawancara di televisi bahwa ia tak dapat melupakan sukacita dan damai sejahtera yang dialaminya ketika ia menyerahkan diri kepada Yesus Kristus.

Banyak di antara kita dapat mengingat dengan baik saat-saat mengharukan karena Allah menjawab doa kita dengan cara yang luar biasa. Kita sering menjadikan saat-saat itu sebagai pengalaman di atas segala pengalaman.

Namun, kehidupan ini juga ditandai dengan adanya kegelapan dan kesukaran. Pada saat seperti itu kita dapat membesarkan hati dengan merenungkan masa lalu dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai kekuatan untuk menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan. Kita dapat dikuatkan bahwa Allah yang pernah menolong kita pasti akan menolong kita saat ini juga.

Kita memperhatikan bacaan Alkitab hari ini. Setelah mengingat kembali sukacita yang dialami bangsa Israel ketika Allah memimpin mereka dengan tanganNya yang ajaib, pemazmur kembali memohon belas kasihan Allah.

Dalam hal tersebut, pemazmur memakai dua ungkapan untuk menyatakan pertolongan yang diharapkannya. Ungkapan pertama adalah batang air yang kering dengan tiba-tiba dapat menjadi penuh melimpah karena hujan lebat (Mazmur 126:4). Ungkapan kedua mengenai buah yang dihasilkan dari proses menabur dan menuai yang membutuhkan waktu yang panjang dan lama (Mazmur 126:5-6).

Kesetiaan Allah di masa lalu meyakinkan kita bahwa Dia juga akan memenuhi segala kebutuhan kita di masa depan. Inilah yang patut diingat -- HVL


MAKIN BAIK INGATAN KITA (AKAN BERKAT DAN PERTOLONGAN ALLAH) MAKIN TERDORONG HATI KITA UNTUK SELALU MEMUJI DIA

* Take from Renungan Harian