Senin, 20 Juli 2026

SISI TERJAUH DUNIA

Kewargaan kita terdapat di dalam surga (Filipi 3:20)


Patrick O’Brian (1914-2000) adalah seorang penulis terkenal novel-novel yang berbau sejarah. Pada tahun 1969 ia menerbitkan sebuah novel yang berjudul Master and Commander: The Far Side of the World. Itu adalah novel (yang kemudian menjadi film yang sukses) tentang peperangan di laut selama berlangsungnya Perang Napoleon. Salah satu pengangkat kepopuleran buku ini adalah perhatian O’Brian yang luar biasa terhadap pengetahuan tentang angkatan laut dan sejarah alam. Dan ia menuliskannya dengan wawasan yang merasuk sampai ke dalam jati diri manusia.

Dalam suatu adegan yang menggugah hati, digambarkan Kapten "Lucky Jack" Aubrey sedang mempersiapkan awak kapalnya untuk suatu pertempuran. Ia berkata, "Inggris terancam akan diserbu, dan meski saat ini kita berada di sisi terjauh dunia, kapal ini adalah kampung halaman kita. Kapal ini adalah Inggris."

Pandangan Kapten Aubrey tentang kewarganegaraan tersebut didasarkan pada kesetiaan, bukan pada suatu tempat tertentu. Pandangan ini dengan jelas menggambarkan suatu prinsip yang alkitabiah. Rasul Paulus pernah menulis surat kepada jemaat di Filipi, sebuah daerah jajahan Romawi, "Kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat" (Filipi 3:20).

Kita perlu senantiasa diingatkan bahwa walaupun kita tinggal di bumi saat ini, kita harus meletakkan kesetiaan kita di rumah abadi kita. Kita perlu selalu memikirkan "hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2) --HDF


TATKALA ANDA MEMIKIRKAN TUGAS-TUGAS DI DUNIA
 PIKIRKANLAH SURGA SENANTIASA

* Take from Renungan Harian

Minggu, 19 Juli 2026

DEKAT DENGAN ALLAH

TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu?...Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya (Mazmur 15:1,5)


Selama bertahun-tahun saya mengenal banyak orang yang hidupnya memancarkan keberadaan dan kuasa Allah. Beberapa orang diantaranya saat ini telah berada di surga. Beberapa orang lainnya masih melayani Tuhan.

Mazmur 15:1-5 memaparkan ciri-ciri orang yang dapat "menumpang" di kemah Tuhan dan diam di "gunungNya yang kudus." Inilah cara pemazmur menggambarkan kedekatan dan kuasa Allah. Misalnya seperti orang yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran (Mazmur 15:2) dan yang tidak berbuat jahat (Mazmur 15:3). Orang memandang rendah kebusukan, menghormati yang baik, berpegang pada sumpah meski apapun yang terjadi, meminjamkan uang tanpa mementingkan diri sendiri dan menolak suap (Mazmur 15:4-5).

Sebagai orang Kristen, memang kita berterimakasih atas pengurbanan Yesus sehingga kita beroleh pengampunan dan memiliki damai dengan Allah. Namun kita cenderung melupakan bahwa Yesus juga mati untuk membuat kita lebih baik. Kita harus mendambakan hal ini dengan sungguh-sungguh sehingga kita memiliki kemauan untuk berubah dari sesuatu yang tidak menunjukkan diri kita sebagai Kristen. Paulus berkata, "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan" (2Timotius 2:19).

Tentu saja, kita tidak dapat melakukan hal ini dengan kemampuan kita sendiri. Kita harus terus menerus berdoa memohon pertolongan Allah, mengisi pikiran kita dengan firmanNya, dan tunduk kepada Roh Kudus. Jika kita melakukan hal ini, dalam hidup kita akan nampak keberadaan Allah dan kita akan menjadi orang yang digambarkan dalam Mazmur 15:1-5, yang hidupnya dekat dengan Allah -- HVL


HIDUP YANG DEKAT DENGAN ALLAH ADALAH HIDUP YANG PENUH DENGAN KEBAIKAN

* Take from Renungan Harian