Senin, 17 Agustus 2026

MEMPERBAIKI KESALAHAN

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia (Yakobus 3:9)


Ketika saya mulai memeriksa tugas makalah mata kuliah menulis dari mahasiswa tingkat satu yang saya ajar, saya agak toleran dalam mengoreksi kesalahan mereka. Saya berharap tidak akan melihat kesalahan yang sama lagi.

Tetapi ketika saya masih menemukan kesalahan yang sama pada makalah berikutnya, saya mulai agak jengkel. Saya berharap para mahasiswa saya belajar dari kesalahan mereka dan menghindarinya saat mengerjakan tugas berikutnya. Akan tetapi, biasanya yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.

Gambaran itu mirip dengan kehidupan kekristenan kita. Tuhan dengan sabar mengingatkan kita melalui kehadiran Roh Kudus, misalnya supaya kita tidak mengatakan hal-hal negatif mengenai orang lain. Dia menyuruh kita untuk bersikap ramah dan penuh kasih, bukannya mencari-cari kesalahan dan menaruh dendam kepada orang lain (Efesus 4:31,32). Namun, kadang kala kita terpeleset kembali ke dalam kebiasaan lama dengan membiarkan kata-kata kasar dan menyakitkan keluar dari bibir kita saat membicarakan orang lain (Yakobus 3:8-12).

Saya kembali menerapkan hal mendasar ini kepada para mahasiswa saya untuk menghilangkan kebiasaan lama mereka. Kami berlatih, memeriksa berbagai kesalahan, memperbaikinya, dan menghilangkan banyak kesalahan.

Tuhan dengan penuh kesabaran terus bekerja bersama kita untuk memperbaiki cara kita berbicara tentang orang lain. Ketika kita mendengarkan ajaran-Nya, belajar dari kesalahan, dan bergantung pada kuasa-Nya, maka kita akan bertumbuh dan berubah --Dave Branon


KEGAGALAN BISA ANDA TINGGALKAN DENGAN CARA MENGHADAPINYA

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 16 Agustus 2026

JANGAN LUPA

Aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima (2Petrus 1:12)

Bagaimana bisa terjadi orang-orang yang mengalami peristiwa yang sama menyimpan ingatan yang sama sekali berbeda terhadap kejadian tersebut? Sebuah artikel pada Associated Press menyimpulkan hasil dari lusinan studi tentang ingatan manusia: Ingatan manusia tidak dapat merekam kenangan yang tak terhapuskan. Ingatan manusia itu rapuh, tidak lengkap, lunak, dan sangat mudah dipengaruhi oleh masukan orang lain.

Ingatan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Dalam beberapa kasus, orang-orang akan sedikit mengubah versi mereka tentang sebuah kejadian melalui setiap penceritaan ulang, sama seperti seorang nelayan yang melebih-lebihkan cerita tentang ikan yang lolos. Namun, sebuah catatan yang objektif dan sesuai fakta dapat memperbaiki ingatan yang menyimpang, yang dapat kita terima.

Petrus menuliskan dua surat untuk memberi kita catatan yang akurat dan tahan lama tentang kebenaran Allah. Aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. ... Aku akan berusaha, supaya ... kamu selalu mengingat semuanya itu (2Petrus 1:12,15).

Ingatan kita yang rapuh memerlukan penyegaran yang terus-menerus melalui catatan firman Allah, yaitu Alkitab, yang tidak pernah berubah. Lewat alat pengingat yang dapat diandalkan ini, kita dapat menjaga agar pikiran kita tidak diam-diam terhanyut menuju perspektif hidup yang manusiawi belaka.

Tuhan menggunakan Alkitab untuk membangkitkan pikiran kita agar kita tidak melupakan kebenaran-Nya DCM


CARA TERBAIK UNTUK MEMPERBARUI PIKIRAN KITA
ADALAH DENGAN MEMBACA FIRMAN ALLAH SETIAP HARI

* Take from Renungan Harian