Jumat, 24 Juli 2026

PELAJARAN YANG BERHARGA

 Semua yang benar ... pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8)


Pada tahun 1892, John Hyde bertolak dari pelabuhan New York menuju India. Misinya adalah mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Yesus. Selama 20 tahun berikutnya, ia sering dijuluki "Hyde sang Pendoa" karena ia sering meluangkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendoakan keselamatan orang-orang yang belum percaya dan juga kebangunan rohani dari para pengikut Kristus.

Suatu hari, Hyde merasa sedih karena menjumpai seorang pendeta yang "dingin" secara rohani. Ia pun berdoa, "Ya, Bapa, Engkau tahu betapa dinginnya ...." Belum selesai ia berkata-kata, seolah-olah ada sebuah jari yang menahan mulutnya untuk tidak menyebutkan nama orang itu.

Hyde ketakutan ketika ia sadar telah menghakimi pendeta itu dengan tidak adil. Ia pun mengakui kesalahannya dan memutuskan untuk tidak lagi berfokus pada kekurangan orang lain. Sebaliknya, ia ingin melihat mereka sebagai pribadi yang dikasihi Allah. Hyde meminta Tuhan menunjukkan kepadanya hal-hal yang "benar" (Filipi 4:8) dalam kehidupan pendeta itu, dan ia pun memuji Allah karena masih menjumpai banyak kebaikan. Sejak itu Hyde yakin bahwa kehidupan rohani sang pendeta dipulihkan.

Janganlah menjadi pencari kesalahan orang lain, apalagi di dalam doa. Mari kita ikuti teladan Paulus yang memfokuskan diri pada segala yang telah Allah kerjakan dan apa saja yang dapat terus dikerjakan-Nya dalam hidup manusia (Efesus 1:17-21). Alih-alih berdoa untuk menyerang orang lain, marilah kita berdoa bagi kebaikan mereka-JEY


JADILAH PEMBERI BERKAT
DAN BUKAN PENCARI KESALAHAN

* Take from Renungan Harian

Kamis, 23 Juli 2026

IMAN YANG PALSU

Bangsa ini ... memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku (Yesaya 29:13)


Akropolis, kuil kuno terkenal yang terletak di atas bukit di Atena tak pernah sepi dikunjungi para wisatawan selama berabad-abad. Dari situ, ribuan pelancong dari segala penjuru dunia sering membawa bongkahan batu pualam sebagai oleh-oleh.

Namun, bagaimana mungkin bongkahan batu itu tidak pernah habis? Jawabannya sangat mudah. Setiap beberapa bulan, sebuah truk yang bermuatan batu pualam didatangkan dari sebuah tempat, ribuan kilometer jauhnya dari situ. Batu-batu tersebut kemudian ditebarkan di seluruh daerah Akropolis. Jadi para turis selalu dapat pulang sambil dengan bangga membawa benda yang mereka kira suatu peninggalan bersejarah yang benar-benar asli.

Kita dapat terkecoh dengan berbagai penipuan semacam itu. Bahasa dan musik religius, benda-benda dan pelayanan religius dapat membodohi kita dan membuat kita berpikir bahwa kita sedang mengalami jamahan Allah. Padahal kita hanya terjebak dalam rutinitas yang hampa.

Pada zaman Nabi Yesaya, kebanyakan orang Israel hanya mengikuti arus. Itulah sebabnya Allah berkata, "Jangan lagi membawa persembahan yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku .... Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya" (Yesaya 1:13,14).

Penipuan yang bersifat religius hanya akan membuat jiwa-jiwa tetap dahaga. Tindakan-tindakan kita yang saleh belum tentu merupakan iman sepenuh hati yang dikehendaki Tuhan -VCG


SESEORANG YANG MUNAFIK MEMANG MEMILIKI ALLAH DI BIBIRNYA TETAPI DUNIA DALAM HATINYA

* Take from Renungan Harian