Minggu, 15 Februari 2026

“WAKTU LUNAK”

Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat(Galatia 4:4)


Setelah meneliti perilaku ribuan pengguna telepon genggam, James Katz, seorang profesor di bidang komunikasi di Rutgers University, menyimpulkan bahwa telepon genggam telah mengubah pembawaan cara berpikir kita tentang waktu. Para periset mengatakan bahwa Amerika Serikat kini hidup di dalam “waktu lunak”. Istilah tersebut diciptakan untuk menggambarkan pemikiran para pengguna telepon genggam yang menelepon pada pukul 8.20 untuk mengatakan ia akan terlambat hadir dalam rapat yang diadakan pukul 8.30, datang pukul 8.45, dan menganggap dirinya tepat waktu karena ia telah menelepon sebelumnya.

Tidak seperti kita, Allah senantiasa tepat waktu. Kita berusaha memahami mengapa Dia tidak bertindak di dalam peristiwa-peristiwa dunia atau di dalam kehidupan pribadi kita secepat yang seharusnya Dia perbuat menurut pemikiran kita. Akan tetapi, Alkitab menyatakan ketepatan waktu Allah yang Perkasa menurut rencana-Nya. Galatia 4:4,5 berbunyi, “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak- Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Dan Roma 5:6 berbunyi, “Waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan [pada saat yang tepat] oleh Allah.”

Kita dapat memercayai Allah yang bijak dan penuh kasih ini, yang tidak pernah terlambat dalam rencana kekal-Nya, yang tepat waktu dalam segala aspek kehidupan kita yang sekecil-kecilnya —David McCasland


PENGATURAN WAKTU ALLAH SENANTIASA TEPAT

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 14 Februari 2026

“KEKRISTENAN KONSUMEN”

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23)


Dalam buku The Empty Church, sejarawan Thomas C. Reeves berkata, “Kekristenan di Amerika modern . . . cenderung mudah, menggembirakan, nyaman, dan kompatibel. Tidak diperlukan pengorbanan diri, disiplin, kerendahan hati, pandangan mengenai dunia yang dituju setelah kematian, hasrat bagi jiwa-jiwa, takut dan juga kasih akan Allah. Hanya ada sedikit rasa bersalah dan tak ada penghukuman, serta upah di surga pada hakikatnya pasti. Apa yang kita miliki sekarang mungkin sangat cocok diberi label ‘Kekristenan Konsumen’. Harganya murah dan kepuasan konsumen tampaknya terjamin.”

Jika kita hanyalah konsumen dari Allah yang Perkasa, kita dapat menjadi selektif dalam iman dan menolak segala sesuatu yang tidak kita sukai. Tetapi itu bukanlah gagasan yang kita peroleh dari Yesus. Dia mengarahkan kita ke salib, tidak ke meja pengecekan barang rohani. Dia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku. Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 9:23,24). Kristus mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita, bukan untuk kepuasan kita. Dan Dia memanggil kita untuk memercayai-Nya, kemudian mengikuti-Nya dengan hidup dalam penyangkalan diri.

Di dalam dunia ini, di mana konsumen selalu menjadi pihak yang benar, diperlukan ketaatan yang radikal kepada Allah supaya kita dijauhkan dari keikutsertaan dalam “Kekristenan Konsumen” —David McCasland

MENGIKUT YESUS TIDAK SELALU MUDAH, TETAPI SELALU BENAR

* Take From Renungan Harian