Kamis, 01 Oktober 2026

REKAN SEKERJA ALLAH

Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya (Matius 6:8)


Seorang pria telah mengubah sebidang tanah yang ditumbuhi semak belukar menjadi taman yang indah. Lalu ia memperlihatkan hasil karyanya kepada seorang kawannya. Dengan menunjuk petak bunga itu ia berkata, "Lihatlah apa yang telah saya kerjakan di sini." Namun, kawannya itu membetulkan perkataannya, "Maksudmu, 'Lihatlah yang telah Allah dan saya kerjakan di sini.'" Tukang kebun itu menjawab, "Saya rasa kau benar. Tapi seharusnya kaulihat keadaan tanah ini ketika Allah mengurusnya seorang diri."

Kita mungkin tersenyum dalam menanggapi jawaban si tukang kebun itu, padahal sebenarnya jawaban ini mengungkapkan kebenaran rohani yang indah, yaitu bahwa kita adalah rekan sekerja Allah. Ini berlaku di setiap bidang kehidupan kita, termasuk doa. Ini menjawab pertanyaan yang serta merta muncul ketika merenungkan perkataan Yesus dalam Matius 6. Yesus berfirman, kita tak perlu berdoa dengan bertele-tele seperti orang yang tidak mengenal Allah, karena Bapa di surga mengetahui kebutuhan kita sebelum kita memintanya (Matius 6:7,8).

Yang menjadi pertanyaan, mengapa kita berdoa? Jawabannya sangatlah sederhana dan menghibur. Dengan kemurahan-Nya, Allah memberi kita hak istimewa untuk menjadi rekan sekerja-Nya di segala bidang kehidupan, baik jasmani maupun rohani. Kita bekerja sama dengan Allah melalui doa untuk mengalahkan kuasa jahat dan untuk memenuhi tujuan-Nya yang penuh kasih atas dunia ini. Sungguh merupakan suatu kehormatan dapat menjadi teman sekerja Allah! Hal itu sungguh menjadi dorongan bagi kita untuk berdoa! --Herb Vander Lugt

PEKERJAAN ALLAH DIKERJAKAN OLEH ORANG-ORANG YANG BERDOA

* Take from Renungan Haria 

Rabu, 30 September 2026

PENYAMPAI PESAN

Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah (2Petrus 1:21)


Sumbangan dari para penyampai pesan terhadap kemenangan dalam Perang Dunia II sangatlah besar, tetapi hanya sedikit orang yang mengenal mereka. Pada tahun 1942, Angkatan Bersenjata AS merekrut dan melatih 29 pemuda Indian Navajo dan mengirim mereka ke pangkalan yang amat dijaga kerahasiaannya. Orang-orang ini disebut "penyampai pesan". Mereka diminta untuk memikirkan sebuah sandi khusus dalam bahasa asli mereka yang tidak dapat dipecahkan musuh. Mereka berhasil, sandi itu tak pernah dapat dipecahkan. Sandi itu menjaga keamanan pesan dan sangat mempermudah komunikasi di medan perang. Dua puluh tiga tahun setelah perang berakhir, sandi rahasia itu tetap tersimpan aman, untuk berjaga-jaga seandainya dibutuhkan lagi.

Namun tidak demikian dengan Alkitab. Alkitab tidak diberikan dalam bentuk sandi yang mustahil untuk dimengerti. Meskipun terdiri dari banyak perumpamaan, kata kiasan yang detail, dan juga catatan mengenai penglihatan yang luar biasa, Injil ditulis oleh manusia untuk diberikan kepada manusia.

Pesan tentang kasih dan penyelamatan Allah sangatlah jelas dan tidak mungkin salah. Para penulis Alkitab digerakkan Roh Allah untuk mencatat dengan tepat semua yang Dia ingin kita ketahui. Selama berabad-abad manusia telah dibebaskan dari dosa dan rasa bersalah mereka karena mempercayai pesan-Nya. Kita semua berutang besar kepada para penyampai pesan ini.

Kita bahkan berutang lebih besar lagi kepada para penulis Kitab Suci, yang menerima firman Allah dan menuliskannya. Oleh sebab itu, marilah kita sering-sering membacanya --Dave Egner


BANYAK ORANG YANG BUTA AKAN KEBENARAN
TERBUKA MATANYA SAAT MEMBACA ALKITAB


* Take from Renungan Harian