Kamis, 02 Juli 2026

MENEMUKAN REALITAS

Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa (Yohanes 14:9)



Pada tahun 1960-an, banyak orang muda yang mengalami keresahan tertipu sehingga mereka percaya bahwa mabuk karena obat-obatan terlarang adalah cara untuk mencapai "realitas" yang mereka idam-idamkan. Namun realitas yang dimaksud hanyalah ilusi belaka dan bukan sesuatu yang nyata.

Tuhan tahu bahwa kita sering mencari apa yang diidamkan hati kita di tempat-tempat yang salah. Dia juga tahu bahwa kita hanya akan puas jika mengenal Dia, karenanya Dia ingin kita tahu bahwa Dialah realitas yang sejati.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6). Namun saat itu Filipus belum mengerti bahwa hanya Yesuslah yang ia butuhkan, sehingga ia juga ingin melihat Bapa dan berkata, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami" (ayat 8). Yesus menjawab, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (ayat 9). Karena Dia telah menyatakan bahwa Dia sama dengan Allah Bapa, maka sesungguhnya hanya Dialah yang kita butuhkan.

Baru-baru ini saya melihat kata-kata yang tertera pada sebuah stiker yang ditempel di bemper sebuah mobil: CARILAH YANG MAHATINGGI. Saya rasa yang dimaksud sang pengemudi dengan kalimat tersebut adalah hubungan dengan Yesus Kristus, bukan realitas yang semu. Yesus datang membawa arti dan kepuasan sejati dalam kehidupan kita. Sudahkah Anda bertemu dengan Kristus, sang realitas yang sejati? --JEY


PENCARIAN MANUSIA TERHADAP REALITAS AKAN BERAKHIR SAAT IA BERTEMU DENGAN KRISTUS

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 01 Juli 2026

MANFAAT PUKULAN

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6)


Seorang pendidik sekaligus pengarang Kristen, Howard Hendricks, memperingatkan para orangtua agar tidak menyuap ataupun mengancam anak-anak supaya mereka menurut. Anak-anak cuma butuh kedisiplinan yang tegas dan penuh kasih, disertai sedikit pukulan.

Suatu kali Hendricks mengunjungi sebuah keluarga. Ketika diajak makan bersama, seorang anak duduk berseberangan dengannya.

“Makan kentangnya, Sally,” kata ibunya dengan nada memerintah.

“Sally, kalau kamu tidak mau makan kentangnya, kamu tidak akan dapat makanan pencuci mulut nanti!”

Sally malah mengedipkan mata pada Hendricks. Setelah yakin si Sally tidak mau makan, sang ibu mengambil kentang itu dan memberi Sally es krim. Hendricks melihatnya sebagai kenyataan bahwa orangtua akhirnya selalu menuruti kemauan anaknya, bukan sebaliknya seperti pernyataan Alkitab “Hai anak-anak, taatilah orangtuamu” (Efesus 6:1).

Banyak orangtua takut mengambil tindakan tegas, sekalipun mereka tahu itu yang terbaik buat anak-anak. Mereka takut anak-anak akan menentang dan berpikir bahwa mereka tidak lagi mengasihi. Hendricks berkata, “Yang perlu diperhatikan bukanlah anggapan mereka terhadap Anda sekarang, tetapi apa anggapan mereka terhadap Anda 20 tahun yang akan datang.”

Bahkan meski didikan dari Bapa Surgawi terasa menyakitkan, kelak (mungkin beberapa tahun lagi) didikan itu akan “menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibrani 12:11). Sebagai orangtua yang penuh kasih, adakah kita bisa melihat jauh ke depan seperti Bapa kita di surga? --JEY


BILA ANDA MEMBUAT HIDUP INI MUDAH BAGI ANAK ANDA
KELAK IA AKAN SULIT MENJALANI HIDUP INI

* Take from Renungan Hariaan