Selasa, 23 Juni 2026

SIAPA YANG PEGANG KENDALI?

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)



Saya tersenyum ketika seorang teman menceritakan pengalamannya saat naik taksi di New York. Sopir taksi yang ditumpanginya tampak ingin memamerkan kemahirannya menyetir. Dengan berani ia melanggar kepadatan lalu lintas kota besar itu, mengemudi seenaknya, membelok secara tiba-tiba, nyaris menyerempet mobil lain, dan suka mengerem mendadak.

Teman saya itu merasa yakin mereka akan mengalami kecelakaan. Ia sangat frustrasi dan ketakutan karena tak dapat mengendalikan keadaan pada saat itu. Seolah-olah hidupnya bergantung pada orang yang tak dapat diandalkan.

Saat merenungkan cerita itu, saya tersadar akan kecenderungan manusiawi kita yang selalu ingin mengendalikan segala sesuatu. Kita cenderung mudah merasa gugup tatkala kehilangan kendali atas hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita perlu menyerahkan diri kepada Dia yang menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita dapat melakukannya tanpa rasa takut bila mengingat bahwa Dia tak pernah gegabah menuntun kita. Kita perlu belajar bersikap tenang dalam hadirat-Nya dan percaya bahwa Dia sanggup mengendalikan segala sesuatu yang Dia izinkan untuk kita alami.

Kita memang harus berencana dan hidup secara bertanggung jawab. Namun kita juga harus ingat bahwa di atas segalanya, Allah mengendalikan hidup kita (Amsal 16:9, Yakobus 4:13-17). Bukan usaha kita, tetapi kehendak Allahlah yang membuat kita tetap hidup dan merasa aman. Hidup kita akan senantiasa terjamin bila kita mempercayakannya dalam tangan Allah -MRD II


MASA DEPAN KITA PASTI TERJAMIN DALAM TANGAN ALLAH YANG MAHATAHU 

* Take from Renungan Harian

Senin, 22 Juni 2026

SUARA YANG AGUNG

Aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di surga, katanya: "Haleluya!" (Wahyu 19:1)


Seorang anak kecil bernama Philip menyusuri jalanan sebuah kota kecil di Pennsylvania. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia mendengar bunyi yang asing di telinganya. Ternyata yang didengarnya adalah bunyi piano. Philip Bliss yang saat itu berusia 10 tahun sangat tertarik akan bunyi itu sehingga ia mencari dan mendatangi rumah yang menjadi sumber suara tersebut.

Ketika wanita yang memainkan piano itu melihat Philip, ia berhenti bermain. Philip berkata, "Tolong, mainkan lagi!" Namun wanita itu tidak menggubris keinginan Philip dan mengusirnya. Wanita itu tak tahu betapa agungnya dentingan nada itu bagi Philip. Ia tidak tahu bahwa bocah itu kelak akan menjadi orang berbakat yang menulis banyak himne indah.

Bayangkan bagaimana bila seseorang yang memiliki bakat musik untuk pertama kalinya mendengarkan komposisi permainan piano yang indah dengan alunan nada dan suara yang bervariasi. Lalu bayangkan pula bagaimana bila kelak untuk pertama kalinya Anda mendengar irama agung yang dilantunkan oleh umat tebusan Allah di surga. Dalam kitab Wahyu kita membaca bahwa di surga nanti, ribuan orang akan menggabungkan suara mereka dengan "kecapi Allah" dan bersama-sama menyanyi, "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan Allah, Yang Mahakuasa!" (Wahyu 15:3).

Sementara menanti saat kita kelak menjadi bagian dari paduan suara surgawi itu, marilah kita mulai memuji Allah dan Juruselamat kita yang tiada bandingnya, yang layak menerima segala pujian dan kemuliaan -JDB


MENYANYIKAN PUJIAN BAGI ALLAH TAK AKAN PERNAH KETINGGALAN ZAMAN 

* Take from Renungan Harian