Selasa, 26 Mei 2026

BERKAT YANG DITINGGALKAN

Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga (Lukas 24:51)


Seorang penderita kanker sedang mendekati ajalnya. Saya sedang berada di dalam kamarnya ketika keluarganya berkumpul mengelilinginya. Ia berbicara kepada satu per satu anaknya, kepada pasangan mereka, dan kepada cucu-cucunya yang masih muda. Dengan lembut dan penuh kasih, ia memberkati mereka masing-masing. Bahkan nasihat-nasihatnya pun diucapkan dengan lemah lembut. Ia mengingatkan mereka supaya tetap menjadikan Tuhan pusat kehidupan mereka. Kami semua mencucurkan air mata karena sadar bahwa ia takkan lama lagi bersama kami. Beberapa hari kemudian ia meninggal.

Juruselamat kita melakukan hal yang sama sebelum Dia naik ke surga. Bukannya mencucurkan air mata saat melihat-Nya pergi, para murid-Nya justru sangat bersukacita meski mereka tahu bahwa mereka takkan dapat lagi secara langsung mengalami berkat-Nya. Namun, Yesus akan segera mengirim Roh Kudus untuk tinggal dalam diri mereka (Kisah Para Rasul 1,2). Dia yang "duduk di sebelah kanan Allah" (Roma 8:34) akan menjadi perantara bagi mereka. Dan janji-Nya untuk datang kembali membuat mereka tenang (1Tesalonika 4:13-18).

Saat kita teringat akan Juruselamat kita yang naik ke surga, marilah kita bersukacita atas berkat yang Dia tinggalkan bagi kita. Dan selagi masih ada kesempatan, marilah kita menyemangati orang yang kita kasihi untuk tetap menjadikan Kristus pusat kehidupan mereka. Kelak saat kita meninggalkan dunia ini, maka teladan serta perkataan kita dapat menjadi berkat paling berharga yang bisa kita tinggalkan --Dave Egner


KRISTUS NAIK AGAR ROH KUDUS TURUN

* Take from Renungan Harian

Senin, 25 Mei 2026

DI HADIRAT ALLAH

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7)





Sebagai anak petani di Dakota Utara, dulu saya sering terkagum-kagum ketika melihat ke langit di hari yang cerah atau ketika mendengarkan gemuruh guntur sebelum badai datang. Allah tampak begitu besar dan saya merasa begitu kecil. Saya sering mengalami perasaan seperti itu ketika mendekati altar gereja atau mendengar Ayah berdoa. Namun, sekarang saya mengakui bahwa kadangkala saya cenderung lebih santai ketika berpikir tentang Allah, berdoa, mempelajari Alkitab, atau turut serta dalam penyembahan.

Ketika kita berkumpul untuk menyembah, menyanyi, berdoa, dan mendengarkan khotbah, sering kali kita melakukannya dengan setengah hati dan kurang disertai takut akan Allah. Pengkhotbah 5 mengungkapkan masalah tersebut dan memperingatkan kita untuk tidak berjanji kepada Allah dengan sembarangan atau dengan kepura-puraan.

Kita cenderung hanya mendengarkan sebagian dari apa yang disampaikan Allah melalui firman-Nya. Mendengar yang sesungguhnya adalah mendengarkan dengan disertai ketaatan. Janji yang tidak ditepati di hadapan Allah adalah masalah yang sangat serius (Pengkhotbah 5:1,3-5). Sebagaimana banyak mimpi tidak terwujud menjadi kenyataan, demikian juga ada banyak perkataan sia-sia di hadirat Allah. Tetapi takutlah akan Allah (ayat 2,6).

Tanamkan selalu dalam pikiran Anda betapa agung dan mulianya Allah serta betapa kecil dan berdosanya kita. Bersyukurlah kepada-Nya karena anugerah dan kasih-Nya. Perenungan yang sungguh-sungguh tentang karakter Allah akan membantu kita untuk takut akan Allah (ayat 6) --HVL


TAKUT AKAN ALLAH ADALAH PERMULAAN DARI PENYEMBAHAN YANG SEJATI 

* Take from Renungan Harian