Jumat, 13 Februari 2026

MENGALIHKAN BEBAN

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! (Mazmur 55:23)


Komputer saya yang malang mengalami kelebihan muatan. Saya menambahkan banyak program ke dalamnya, menyimpan berton-ton informasi dan mengerjakan beberapa proyek besar. Akhirnya komputer saya memberi sebuah pesan yang jelas bahwa ia tidak bisa menerima informasi lagi. Jika saya tidak mengurangi muatannya dengan segera, komputer tersebut akan "meledak."

Oleh karena itu saya mengambil beberapa disket tambahan dan dengan segera memindahkan muatannya. Saya menyimpan tiap proyek dalam satu disket dan membuang banyak sampah yang sudah tidak saya perlukan lagi. Komputer saya seakan-akan berterima kasih karena dapat bernafas dengan lega dan dapat berjalan dengan normal kembali.

Kadang-kadang kehidupan saya menjadi sama seperti komputer tersebut. Saya mengambil begitu banyak tanggung jawab, aktivitas dan komitmen, dan saya menanggung banyak emosi-emosi yang tidak terselesaikan sehingga tidak mungkin bagi saya untuk menanggung lebih banyak beban lagi. Beban dan urusan-urusan itu terasa sangat besar dan berat. Jika saya jujur, saya harus mengakui bahwa saya hampir-hampir "meledak."

Ketika kita mendapat tanda-tanda kelebihan muatan -- sulit tidur, kepekaan yang berlebihan, kecemasan -- telah tiba saatnya untuk melakukan beberapa pengurangan muatan. Telah tiba saatnya untuk meletakkan beberapa aktivitas dan tanggung jawab. Mungkin kita harus mengatakan "tidak" untuk beberapa permintaan. Dan di atas segalanya, seperti saran pemazmur, kita harus meletakkan beban kita pada Tuhan. Dia telah berjanji untuk menolong membawa beban kita -- DCE

ALLAH MENGUNDANG KITA UNTUK MEMBEBANI DIA DENGAN SEGALA YANG MEMBEBANI KITA

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 12 Februari 2026

BEJANA TANAH LIAT

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat (2Korintus 4:7)


Ruthe Frens telah menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang utusan Injil di Jepang. Tatkala saya diminta untuk berbicara pada hari pemakamannya, kata-kata Rasul Paulus dalam 2Korintus 4 terngiang dalam benak saya. Pertobatan Ruthe ketika masih anak-anak tidak seperti yang dialami Paulus. Pertobatannya tidak disertai dengan cahaya yang sangat terang dan suara Yesus yang menyampaikan pesan (Kisah Para Rasul 9). Namun, setelah bertahun-tahun semua orang yang mengenal Ruthe melihat bahwa ia telah melihat cahaya itu--ia telah mengenal Allah secara pribadi melalui iman di dalam Yesus Kristus (2Korintus 4:6). Dan wajahnya menyiratkan sukacita karena hubungannya dengan Tuhan.

Kisah Ruthe ini memenuhi gambaran Paulus tentang tubuh manusia sebagai "suatu bejana tanah liat" (ayat 7), yang rapuh dan hanya bersifat sementara. Suatu penyakit yang hampir merenggut nyawanya pada tahun 1953 telah membuat fisik Ruthe rentan. Namun selama tahun-tahun itu ia bertumbuh semakin kuat secara rohani.

Saya berada bersama keluarganya ketika dokter memberitahu bahwa hidupnya takkan lama lagi. Pada saat itu, setiap orang melihat kedamaian menghiasi wajahnya. Sesudah kematiannya, kebanyakan surat dan pesan e-mail dari teman-temannya di Jepang berisikan tema yang senada: senyum Ruthe memancarkan kehadiran Yesus dalam hidupnya.

Apakah hidup Anda menunjukkan kepada orang lain bahwa Anda mengenal Yesus? Dapatkah mereka melihat bahwa hati Anda telah diubahkan? --HVL


KEHIDUPAN ORANG KRISTEN IBARAT SEBUAH JENDELA YANG MELALUINYA ORANG LAIN DAPAT MELIHAT YESUS

* Take from Renungan Harian