Kamis, 24 September 2026

SEDIKIT DEMI SEDIKIT

Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki negeri itu (Keluaran 23:30)


Ketika saya masih kecil, ibu saya memberi "buku" miliknya yang berharga untuk membantu saya belajar, seperti yang pernah dialaminya dahulu. Saya sangat menyukai salah satu cerita, dan tidak pernah membayangkan bila cerita tersebut dapat mempengaruhi saya bertahun-tahun kemudian.

Cerita itu mengisahkan tentang seorang anak lelaki kecil dengan sekopnya yang kecil. Anak ini berusaha membersihkan jalan di depan rumahnya yang penuh salju tebal yang baru saja turun. Seorang pria berhenti dan mengamati usaha keras anak tersebut. "Nak," sapanya, "Bagaimana mungkin anak sekecil kamu dapat melakukan tugas sebesar ini?" Anak itu mendongak dan menjawab dengan yakin, "Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" Dan ia melanjutkan pekerjaannya.

Allah menumbuhkan benih dari cerita itu pada saat saya baru saja bangkit kembali dari keputusasaan. Saya teringat bagaimana suara "orang dewasa" di dalam hati saya mencela suara "anak kecil" yang lemah: "Bagaimana orang yang tidak bisa apa-apa seperti kamu dapat berharap menaklukkan gunung sebesar ini?" Jawaban anak lelaki kecil di atas menjadi jawaban saya: "Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" Dan saya dapat mengatasi persoalan tersebut, yakni dengan bergantung kepada Allah. Namun itu merupakan satu kemenangan kecil setelah kemenangan lainnya.

Hambatan yang dihadapi bangsa Israel ketika mereka hendak memasuki tanah yang telah dijanjikan Allah kepada mereka, pastilah tampak sangat sukar untuk dicapai. Namun Allah tidak meminta mereka melakukan semuanya sekaligus.

"Sedikit demi sedikit" merupakan strategi yang efektif untuk menuju kemenangan -- JEY


PERCAYAKAN KEPADA ALLAH UNTUK MEMINDAHKAN "GUNUNG" TETAPI KITA JUGA HARUS TETAP MENGGALI


* Take from Renungan Harian

Rabu, 23 September 2026

KEBAIKAN ORANG SAMARIA

Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan
(Lukas 10:33)



Dalam bukunya yang berjudul Kindness: Reaching Out to Others (Berbuat Baik: Menggapai Sesama), Phyllis J. Le Peau mengaitkan kisah ini: "Beberapa mahasiswa seminari diminta untuk berkotbah tentang kisah orang Samaria yang baik hati. Ketika sampai waktunya untuk berkotbah, para mahasiswa itu dengan sengaja datang terlambat ke seminari. Tatkala para mahasiswa itu terburu-buru menuju kampus, mereka berpapasan dengan seseorang yang berpura-pura meminta pertolongan. Ironisnya, tidak seorang pun dari mahasiswa yang berhenti untuk menolongnya." Le Peau memberi komentar, "Ya, mereka memang harus melakukan suatu kotbah yang penting."

Orang Kristen dapat menyajikan kotbah yang hebat kepada dunia tatkala mereka merefleksikan kebaikan Allah seperti yang ditunjukkan oleh orang Samaria yang baik hati kepada sesamanya. Tetapi seharusnya hal itu tidak hanya diucapkan.

Bagaimana dengan kita? Setiap kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, seharusnya menghidupkan kembali kisah tentang orang Samaria yang baik hati itu. Apakah kita mau meluangkan waktu dan bersedia ikut terlibat? Barangkali kita dapat membantu tetangga yang sedang membutuhkan materi, atau menyediakan telinga yang simpatik untuk mendengar seorang yang bermasalah. Mungkin kita dapat bersaksi kepada seseorang yang Tuhan antar ke dalam hidup kita hari ini. Atau, akankah kita berlaku seperti para pemimpin agama yang bergegas lewat dari seberang jalan dan tidak memberikan pertolongan?

Marilah kita memuliakan nama Tuhan dengan menjawab kebutuhan orang lain sebagaimana Dia pasti akan melakukannya -- DCE

PERBUATAN BAIK TIDAK AKAN PERNAH KETINGGALAN ZAMAN 

* Take from Renungan Harian