Sabtu, 26 September 2026

DEMI KAUM MISKIN

Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu (Ulangan 15:11)


Orang itu duduk di sudut jalan dari hari ke hari untuk mengemis. Ia miskin dan sungguh-sungguh mengharap akan mendapat sedikit uang untuk membeli makanan.

Ia tidak sendiri. Lebih dari setengah jumlah penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan internasional, yaitu berpendapatan kurang dari dua puluh ribu rupiah sehari. Kemiskinan dan kelaparan adalah masalah-masalah besar di dunia kita yang mudah membuat kita merasa tak berdaya atau menjadi berhati batu serta tidak berbuat apa pun.

Namun, Allah tidak menutup mata terhadap penderitaan orang-orang miskin. Saat Dia memberikan tuntunan hidup bagi umat-Nya, Dia juga menambahkan perintah untuk memerhatikan orang-orang yang membutuhkan (Ulangan 15:11). Dia berkata kepada umat-Nya, "Janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan" (ayat 7,8).

Allah juga memerintahkan umat-Nya supaya jangan membabat habis hasil ladang mereka sampai ke tepi, sehingga mereka yang kurang beruntung dapat mengumpulkan sisa-sisa hasil ladang untuk makanan mereka (Imamat 19:9,10). Yesus pun peduli terhadap kaum miskin melalui perkataan dan tindakan-Nya.

Sebagai orang kristiani, kita harus memerhatikan kaum miskin. Masing-masing pribadi dan gereja dapat bergabung di organisasi kristiani yang melawan kemiskinan sambil mewartakan firman Allah. Allah memedulikan kaum miskin. Bagaimana dengan kita? -AMC


ALLAH TELAH MENCUKUPI KEBUTUHAN KITA
SEHINGGA KITA DAPAT BERBAGI DENGAN ORANG YANG MEMBUTUHKAN 

* Take from Renungan Harian

Jumat, 25 September 2026

KUASA YANG MERUSAK

Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28)


Apakah yang dapat merusak pelayanan baik sebuah gereja? Cukup seseorang yang haus kekuasaan.

Salah seorang pendeta yang pernah menjadi teman saya semasa kuliah, mengirimkan surat kepada saya dan menceritakan tentang gangguan yang terjadi di gerejanya. Orang-orang di gerejanya telah beriman kepada Kristus, dan jumlah jemaatnya berkembang menjadi empat kali lipat. Anggota-anggota gereja aktif melayani di gereja dan masyarakat.

Namun kemudian, seseorang yang duduk di posisi kepemimpinan mulai merasa iri dengan pengaruh sang pendeta. Karena ia merasa patut memperoleh kekuasaan lebih, maka mulailah ia menjelek-jelekkan sang pendeta. Ia berharap hal ini dapat meningkatkan kualitasnya. Ia tidak peduli tindakannya berpengaruh negatif terhadap karya Allah; ia hanya menginginkan kekuasaan dan pengakuan. Ia memicu kekacauan yang menyebabkan teman saya akhirnya mengundurkan diri.

Apabila kita melayani Kristus, kita tidak punya hak untuk mencari kekuasaan. Kita tidak berhak memperoleh gengsi. Kita tidak memiliki alasan untuk mencari peningkatan harga diri dan pengakuan. Betapa lebih baik jika kita melayani dengan diam-diam di belakang, sambil mengingat Yesus, teladan kita yang "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" (Matius 20:28).

Apakah Anda seorang pendeta? Pengajar? Diaken? Misionaris? Anggota gereja? Jika Anda mencari kekuasaan, Anda barangkali akan mendapatkannya. Akan tetapi, kekuasaan yang Anda dapatkan itu akan menjadi kekuasaan yang merusak pelayanan baik dari gereja Anda -JDB


KITA KEHILANGAN PERKENAN ALLAH APABILA MENCARI PUJIAN MANUSIA

* Take from Renungan Harian