Senin, 30 Maret 2026

SANG RAJA TELAH DATANG

Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan
(Lukas 19:38)




Suatu kali seorang filosof Amerika bertanya, "Seandainya Yesus dan Plato kembali ke bumi dan mengajar di kampus yang sama pada saat yang sama, siapakah yang akan saya pilih?" Ia menyimpulkan, "Siapa yang akan memilih untuk pergi dan mendengarkan orang sehebat Plato berbicara tentang kebenaran, sementara pada saat yang sama ia bisa mendengarkan Dia yang adalah Kebenaran itu sendiri?"

Kerumunan orang banyak yang mengelu-elukan Yesus pada hari Minggu Palem yang pertama itu memberi tanggapan yang sama seperti filosof itu. Mereka menyadari bahwa Dia tiada bandingnya, namun ada sesuatu yang janggal dari Dia. Dengan tenang Yesus mengendarai seekor keledai memasuki Yerusalem, sekalipun seekor kuda perang yang gagah mungkin lebih tepat untuk kesempatan itu. Dia mendatangi Bait Allah, kemudian kembali lagi ke Betania (Markus 11:11). Orang banyak itu mengharapkan lebih banyak lagi. Mereka memohon agar dibebaskan dari penjajahan Romawi, namun Dia datang untuk membebaskan mereka dari kuasa setan. Mereka menyadari bahwa Yesus berasal dari Allah, namun mereka sama sekali tidak dapat memahami misi rohani-Nya.

Apakah kita menyatakan hormat kepada Yesus karena Dia adalah Tuhan atau semata-mata karena apa yang dapat Dia lakukan bagi kita? Menghormati Dia berarti menaati Dia dan mematikan sifat dasar kita yang mementingkan diri sendiri. Filosof itu mengenali Dia sebagai Kebenaran dan orang banyak memandang Dia sebagai pembebas mereka, namun kita dipanggil untuk menerima Dia sebagai Raja, Pribadi yang telah datang untuk bertahta dalam hati kita --DJD


MENJADI ORANG KRISTEN BERARTI MENJADI HAMBA YANG SETIA DARI RAJA DI ATAS SEGALA RAJA

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 29 Maret 2026

TATKALA ANDA TIDAK DIHARGAI

Jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu (1Samuel 12:23)


Samuel memiliki kepribadian setegar Gunung Everest di tengah pemandangan bersejarah yang datar dan monoton. Sebagai seorang nabi Allah, ia mengadili orang-orang. Karena Israel merupakan negara teokrasi (dipimpin oleh Tuhan), Samuel sebenarnya adalah raja mereka. Ia menjalankan kewajibannya dengan kemampuan dan pengabdiannya, baik kepada Allah maupun kepada rakyat.

Namun rakyat menginginkan seorang raja seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka (1Samuel 8:5). Jadi mereka meminta agar hamba Allah ini menyingkir. Samuel terluka hatinya karena penolakan mereka. Ia memahami betapa parahnya ketidaktaatan mereka (12:17-19).

Nabi ini bisa saja mengacuhkan raja yang baru dan bangsanya yang suka memberontak ini. Namun sebaliknya ia berkata, "Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu" (ayat 23).

Mengapa Samuel berkata demikian? Ia tahu bahwa sekalipun pintu-pintu dihempaskan di hadapannya, pintu yang lain masih terbuka baginya, yaitu pintu untuk berdoa bagi orang lain. Kesalehan Samuel dinyatakan melalui reaksinya terhadap apa yang terjadi. Ia tetaplah seorang hamba Allah, dan akan tetap memperhatikan umat Allah.

Ketika kita dihina oleh orang-orang yang kita layani, kita harus memutuskan untuk tidak berdosa terhadap Tuhan dengan membalas menghina mereka. Sebaliknya, dengan kasih karunia Allah, kita dapat mendoakan dengan tulus mereka yang mungkin tidak menghargai usaha baik kita --HWR


BERDOALAH BAGI MEREKA YANG MENGANIAYA KAMU
--Yesus (Matius 5:44)

* Take from Renungan Harian