Rabu, 04 November 2026

BERHALA DALAM HATI

Orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya (Yehezkiel 14:3)


Ketika saya dan suami saya pergi mengabarkan Injil untuk pertama kalinya, saya prihatin melihat maraknya materialisme di masyarakat kami. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya pun bisa menjadi orang yang materialistis. Lagi pula, bukankah sewaktu kami pergi untuk mengabarkan Injil, kami pergihampir tanpa membawa apa-apa? Bukankah kami harus tinggal di apartemen kuno yang tak terpelihara dengan perabotnya yang sudah usang? Saya pikir materialisme tidak bisa menyentuh kami.

Namun, perasaan tidak puas perlahan-lahan mulai berakar dalam hati saya. Tak lama kemudian, saya mulai memimpikan benda-benda bagus dan diam-diam merasa kesal karena tidak dapat memiliki benda-benda tersebut. Suatu hari, Roh Allah membuka mata saya terhadap suatu pemahaman yang menyentak. Materialisme tidak harus berarti memiliki harta benda, tetapi dapat berupa keinginan untuk memilikinya. Saya terpaku karena merasa bersalah telah bersikap materialistis! Tuhan telah menunjukkan bahwa ketidakpuasan saya telah menjadi berhala dalam hati saya. Hari itu saya menyesali dosa yang tidak kentara ini, dan saat itu juga Allah kembali menguasai hati saya sebagai singgasana-Nya yang sah. Sudah tentu saya merasakan kepuasan yang mendalam, bukan karena harta benda, melainkan karena Dia.

Di zaman Yehezkiel, Tuhan pun menunjukkan penyembahan berhala di hati umat-Nya (Yehezkiel 14:3-7). Dan sekarang, Dia rindu melihat kita membersihkan hati dari segala yang merusak kepuasan kita akan Dia --Joanie Yoder


BERHALA ADALAH SEGALA SESUATU
YANG MERAMPAS SINGGASANA ALLAH YANG SAH


* Take from Renungan Haeian

Selasa, 03 November 2026

SELALU SIAP MENDENGAR

Dengarkanlah ini, hai bangsa yang tolol ... yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar! (Yeremia 5:21)


Salah seorang anak laki-laki saya sangat mahir menutup telinganya terhadap hal yang tidak ingin ia dengar. Di gereja, pikirannya mengembara ke mana-mana. Ia bisa memberitahu Anda berapa jumlah lajur di langit-langit dan berapa banyak kursi di tempat paduan suara. Berulang kali saya mendengar omelan istri saya kepadanya, "Kau mendengarkan Ibu, kan?"

Kita juga sering bersalah karena menutup telinga terhadap hal yang tidak ingin kita dengar, sekalipun pesan itu berasal dari Allah. Dalam bukunya Christian Reflections (Refleksi Orang Kristiani), C. S. Lewis mengatakan bahwa seseorang yang hendak mengabaikan suara Allah akan mengikuti nasihat ini: "Hindari ketenangan, kesunyian, dan setiap lintasan pikiran yang mengembalikan kita pada arah dan tujuan kita. Pusatkan perhatian pada uang, seks, status, kesehatan, dan (terutama) keluhan Anda. Terus hidupkan radio. Hiduplah dalam keramaian."

Ketika kita melakukan kesalahan, saat itulah kita benar-benar perlu mendengarkan suara Allah. Namun, sering kali kita begitu keras kepala sehingga memutuskan untuk tidak mendengarkan-Nya. Nabi Yeremia mengecam orang-orang seperti ini, katanya, "Hai bangsa yang tolol ... yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar ... bangsa ini mempunyai hati yang selalu melawan dan memberontak" (Yeremia 5:21, 23).

Daripada menutup telinga terhadap suara Allah, bacalah Alkitab dan berdoalah kepada-Nya secara teratur. Luangkan waktu sejenak untuk merenungkan Allah beserta berkat-Nya yang melimpah. Itulah cara mendengarkan yang baik! --Dave Egner


ALLAH BERBICARA KEPADA MEREKA YANG MELUANGKAN WAKTU UNTUK MENDENGARKAN

* Take from Renungan Harian