Rabu, 02 September 2026

JALAN YANG BENAR

Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka (Amsal 4:25)


Saya sering mendengar bahwa jika seorang petani mengarahkan pandangannya pada satu sasaran yang jauh selama membajak sawah, maka ia akan menghasilkan alur yang lurus. Saya mencoba mempraktekkan prinsip ini ketika memotong rumput. Dan benar, saya pun mendapatkan petak-petak rumput yang terpotong rapi.

Jika dengan mengarahkan pandangan ke sebuah sasaran yang jauh Anda dapat membajak atau memotong rumput dengan rapi, maka Anda juga dapat menggunakan prinsip tersebut dalam kehidupan, apalagi jika sasaran pandang itu selalu sama, baik kemarin, hari ini dan selamanya.

Itulah yang dikatakan oleh penulis Amsal dalam pasal 4. Sesungguhnya, seluruh pasal dalam kitab Amsal berbicara tentang mengikuti jalan yang benar. Kitab tersebut menasihatkan tentang bagaimana menghindari godaan dosa seksual (pasal 5-7), bagaimana mempertahankan integritas (12:1-16; 29:23), bagaimana mengendalikan lidah (12:17-22; 21:23), bagaimana menghadapi orang yang sulit (14:7, 15:1) serta rahasia untuk hidup sehat dan umur panjang (3:7-8, 13-18). Menurut kitab Amsal, orang yang bijaksana akan berjalan di jalan yang benar dan tidak akan menyimpang.

Alkitab tidak hanya menasihatkan kita untuk menjadi bijaksana tetapi juga untuk mengenal pribadi Yesus Kristus. Satu pertanyaan yang terpenting adalah bagaimana hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak hanya mengajarkan kebenaran; Dia adalah kebenaran itu sendiri (Yohanes 14:6). Karena itu, satu-satunya cara untuk mengikuti jalan yang benar adalah dengan mengarahkan pandangan kita kepada-Nya [DJD]


HIKMAT KITA MENJADI SIA-SIA JIKA KITA TIDAK MENGIKUT KRISTUS

* Take from Renungan Harian

 

Selasa, 01 September 2026

PERANGKAP MASA DEPAN

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23)


Sue Shellenbarger, kolumnis dari rubrik "Work & Family" (Kerja & Keluarga) dalam The Wall Street Journal, telah bertemu beratus orang yang menurutnya "hidup demi meraih masa depan. Mereka membayangkan bahwa di masa depan itu mereka dapat hidup dengan santai, sehingga mereka dapat memperkuat hubungan pribadi dan keluarga." Sue menyebut hal ini "'perangkap masa depan,' karena bayangan mereka itu hanya merupakan khayalan yang terus dikejar sementara dalam kenyataannya mereka mengubur diri di tengah pekerjaan dan usaha mengejar hal-hal lain."

Kebanyakan kita yang berkata bahwa keluarga sangat penting, biasanya justru tidak hidup sebagaimana seharusnya. Mungkin tanpa menyadari hal ini, kita telah merendahkan betapa berharganya hari ini karena asyik membayangkan indahnya hari esok yang tak mungkin kita raih.

Saat Anda membaca Kolose 3:12-25, cobalah untuk menyambungnya dengan frasa hari ini pada akhir setiap ayat. "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu" hari ini (ayat 15). "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu" hari ini (ayat 16). Lalu di belakang setiap perintah yang ditujukan kepada para istri, suami, anak, dan bapa-bapa (ayat 18-21) tambahkan pula kata hari ini. Firman Allah yang datang kepada kita bersifat penting dan mendesak, sehingga kita perlu menaatinya sekarang juga, bukan untuk ditunda-tunda.

Satu-satunya cara untuk menghindari perangkap masa depan adalah dengan mengikuti setiap tuntunan Allah bagi pekerjaan dan kehidupan keluarga kita-hari ini juga!-DCM


ALLAH MENGHENDAKI KETAATAN BUKAN SEKADAR NIAT BAIK 

* Take from Renungan Harian