Senin, 21 September 2026

PERINTAH 10: JANGAN SERAKAH

Jangan mengingini rumah sesamamu...atau apapun yang dipunyai sesamamu (Keluaran 20:17)


Seorang pemilik toko di sebuah kota bersikeras menolak untuk menerima suatu produk baru untuk dijual di tokonya. "Ingat, anak muda," kata pemilik toko kepada salesman itu, "di kota ini, setiap keinginan tidak selalu berarti kebutuhan."

Mengacaukan antara keinginan dan kebutuhan berarti menuruti hasrat hati dan merupakan menjelasan mengapa kita seringkali didorong nafsu untuk memperoleh lebih dan lebih. Kita gagal melihat bahwa kepenuhan hidup yang terbesar tidaklah diperoleh dengan menumpuk harta benda, tetapi dengan mengenal Allah.

Perintah Allah yang kesepuluh ini mungkin tampak sepele bila dibandingkan dengan hal-hal besar seperti pembunuhan, pencurian, berdusta dan perzinahan. Namun perintah ini sama mendasarnya dengan perintah-perintah yang lain dan merupakan jaminan akan damai sejahtera dan kepuasan atas apa yang dimiliki. Perintah ini merupakan satu-satunya perintah yang lebih menekankan pada sikap daripada perbuatan. Perintah ini merupakan pengaman terhadap godaan untuk melanggar sembilan perintah yang lain.

Hasrat Daud terhadap istri orang lain mengarahkannya pada perzinahan, pencurian dan pembunuhan (2Samuel 11:1-27). Dan keinginan untuk memperoleh lebih banyak kesenangan, kuasa, atau harta benda dapat menghancurkan hubungan antarpribadi dalam keluarga, dan menyebabkan kita berdusta terhadap sesama. Dan karena menuruti hasrat hati mirip dengan menyembah berhala (Kolose 3:5), maka perintah ini juga menjaga kita untuk tetap memiliki dan mempertahankan hubungan pribadi yang baik dengan Allah.

Tuhan, tolonglah kami agar merasa puas atas segala sesuatu yang kami miliki di dalam Engkau -- DJD

KEPUASAN BERARTI MENGINGINKAN APA YANG TELAH KITA MILIKI BUKAN MEMILIKI SEGALA SESUATU YANG KITA INGINKAN

* Take from Renunga Harian 

Minggu, 20 September 2026

PERINTAH 9: JANGAN BERBOHONG

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu (Keluaran 20:16)


Betapa mudahnya kita berdusta! Hanya dengan sedikit membesar-besarkan fakta di satu sisi, menghilangkan rincian di sisi lain, atau dengan sikap diam yang menyesatkan, kita dapat merusak suatu kebenaran. Namun sesungguhnya kebenaran tetap merupakan landasan dan struktur vital dari semua hubungan antarmanusia. Jika kerangka suatu kebenaran dihilangkan, maka masyarakat akan runtuh. Kemutlakan moral ini demikian nyata, sehingga penjahat sekalipun akan menghukum rekan-rekannya yang berdusta kepada mereka.

Perintah Allah yang kesembilan ini melarang kita melakukan tipu muslihat terhadap sesama dan mengarisbawahi kesakralan kebenaran dalam segala hal yang kita lakukan. Dua kata Ibrani yang digunakan untuk kata "dusta" dalam Keluaran 20:16 dan dalam Ulangan 5:20 berarti "tidak benar" dan "tidak jujur." Bersaksi dusta terhadap sesama, merupakan ekspresi ketidakjujuran dan ketidakbenaran.

Perintah ini juga mengupas dua motif dasar yang dibenci Allah -- kelicikan dan kesombongan. Ketika kita berdusta, biasanya hal ini dilakukan untuk mencampakkan orang lain pada sisi yang negatif atau menempatkan diri kita pada sisi yang positif. Tindakan pertama itu berasal dari kelicikan, sedangkan yang kedua berasal dari kesombongan.

Yesus berkata, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup" (Yohanes 14:6). Semakin dekat kita kepadaNya, semakin jujur kita terhadap diri kita sendiri dan sesama. Namun yang menjadi masalah saat ini adalah, "Apakah kita benar-benar adalah pengikut Kristus -- yang adalah kebenaran itu?" -- DJD

TAK ADA YANG DAPAT MELEMAHKAN KEBENARAN SELAIN DARIDAPA MENGULUR-ULUR KEBENARAN 

* Take from Renungan Harian