Jumat, 31 Juli 2026

MASALAH RASA

Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani (2 Korintus 7:1)


Dua ekor kecoa memutuskan untuk mengunjungi rumah makan favorit mereka. Ketika kecoa yang lebih besar sedang menikmati makanannya, kecoa yang lebih kecil berkata, “Kamu pasti tidak percaya mendengar cerita tentang rumah yang baru saja aku tinggalkan. Rumah itu tak bernoda sedikit pun. Wanita pemiliknya pastilah seorang yang suka bersih-bersih. Segala sesuatunya begitu bersih, baik bak cuci, meja pajangan, maupun lantainya. Kamu tidak akan bisa menemukan remah-remah di mana pun juga.” Kecoa satunya berhenti mengunyah, memandang temannya dengan jengkel, dan berkata, “Haruskah kamu berbicara seperti itu ketika aku sedang makan?”

Cerita tentang kecoa ini dapat diterapkan kepada manusia juga. Surat Paulus yang kedua kepada jemaat Korintus menunjukkan bahwa para pembaca surat-surat Paulus harus belajar banyak tentang hidup suci. Mereka perlu mengembangkan sifat lapar dan haus akan kebenaran yang lebih kuat. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta mereka untuk berbalik dari segala macam kekotoran (7:1). Ia mengingatkan mereka bahwa Allah ingin agar umat-Nya memisahkan diri mereka dari sampah rohani.

Jika “kebersihan” hati tampaknya tidak menarik, barangkali kita telah cukup puas dengan “remah-remah” keinginan duniawi kita. Karena itu, kita harus belajar untuk mengecap bagaimana rasanya kesalehan itu.

Bapa, ampunilah kami karena telah memenuhi keinginan daging kami yang penuh dosa ini. Sebaliknya, bantulah kami untuk menanamkan selera yang ingin dihasilkan Roh Kudus-Mu di dalam diri kami --Mart De Haan

DOSA TIDAK BISA TUMBUH SUBUR DI TEMPAT KESALEHAN DITANAMKAN 

* Take from Renungan Harian

Kamis, 30 Juli 2026

KETIKA MATAHARI TAK BERSINAR

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)


Acap kali kita menyepelekan berkat-berkat Allah hingga akhirnya berkat-berkat itu diambil dari kita. Lalu kita menyadari betapa berartinya anugerah Allah, bahkan untuk hal yang paling lazim sekalipun.

Ada sebuah legenda mengenai hari ketika matahari tidak bersinar. Pada pukul enam pagi, langit masih gelap. Pukul tujuh pagi masih tetap malam. Siang datang, tetapi suasana masih seperti tengah malam. Akhirnya, pada pukul empat sore, orang-orang berkumpul di beberapa gereja untuk memohon matahari kepada Allah.

Pagi berikutnya, sekumpulan orang berkumpul di luar rumah dan memandang ke langit sebelah timur. Ketika secercah cahaya matahari menyibak fajar, orang-orang tersebut bersorak dan memuji Allah karena matahari itu.

Pemazmur mengerti ia tidak mungkin mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Allah baginya. Ia sedih karena ia mungkin saja melupakan hal-hal tersebut. Lalu ia menggenggam jiwanya yang lembek, menggoncang-goncangkannya, dan memaksanya untuk memikirkan beberapa karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

Karena kebaikan Allah sepasti matahari, kita berada dalam bahaya jika melupakan apa yang dicurahkan-Nya bagi kita setiap hari. Jika kita menghitung berkat satu per satu, kita tak akan pernah dapat menyelesaikannya. Tetapi jika kita mendaftar 10 atau 20 pemberian yang diberikan Allah bagi kita setiap hari, akan terjadi sesuatu pada hati kita.

Marilah kita coba dan kita akan mengetahui sendiri hasilnya HWR


JIKA ANDA INGIN KAYA HITUNG SEMUA MILIK ANDA YANG TAK DAPAT DIBELI 

* Take from Renungan Harian