Jumat, 25 September 2026

KUASA YANG MERUSAK

Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28)


Apakah yang dapat merusak pelayanan baik sebuah gereja? Cukup seseorang yang haus kekuasaan.

Salah seorang pendeta yang pernah menjadi teman saya semasa kuliah, mengirimkan surat kepada saya dan menceritakan tentang gangguan yang terjadi di gerejanya. Orang-orang di gerejanya telah beriman kepada Kristus, dan jumlah jemaatnya berkembang menjadi empat kali lipat. Anggota-anggota gereja aktif melayani di gereja dan masyarakat.

Namun kemudian, seseorang yang duduk di posisi kepemimpinan mulai merasa iri dengan pengaruh sang pendeta. Karena ia merasa patut memperoleh kekuasaan lebih, maka mulailah ia menjelek-jelekkan sang pendeta. Ia berharap hal ini dapat meningkatkan kualitasnya. Ia tidak peduli tindakannya berpengaruh negatif terhadap karya Allah; ia hanya menginginkan kekuasaan dan pengakuan. Ia memicu kekacauan yang menyebabkan teman saya akhirnya mengundurkan diri.

Apabila kita melayani Kristus, kita tidak punya hak untuk mencari kekuasaan. Kita tidak berhak memperoleh gengsi. Kita tidak memiliki alasan untuk mencari peningkatan harga diri dan pengakuan. Betapa lebih baik jika kita melayani dengan diam-diam di belakang, sambil mengingat Yesus, teladan kita yang "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" (Matius 20:28).

Apakah Anda seorang pendeta? Pengajar? Diaken? Misionaris? Anggota gereja? Jika Anda mencari kekuasaan, Anda barangkali akan mendapatkannya. Akan tetapi, kekuasaan yang Anda dapatkan itu akan menjadi kekuasaan yang merusak pelayanan baik dari gereja Anda -JDB


KITA KEHILANGAN PERKENAN ALLAH APABILA MENCARI PUJIAN MANUSIA

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 24 September 2026

SEDIKIT DEMI SEDIKIT

Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki negeri itu (Keluaran 23:30)


Ketika saya masih kecil, ibu saya memberi "buku" miliknya yang berharga untuk membantu saya belajar, seperti yang pernah dialaminya dahulu. Saya sangat menyukai salah satu cerita, dan tidak pernah membayangkan bila cerita tersebut dapat mempengaruhi saya bertahun-tahun kemudian.

Cerita itu mengisahkan tentang seorang anak lelaki kecil dengan sekopnya yang kecil. Anak ini berusaha membersihkan jalan di depan rumahnya yang penuh salju tebal yang baru saja turun. Seorang pria berhenti dan mengamati usaha keras anak tersebut. "Nak," sapanya, "Bagaimana mungkin anak sekecil kamu dapat melakukan tugas sebesar ini?" Anak itu mendongak dan menjawab dengan yakin, "Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" Dan ia melanjutkan pekerjaannya.

Allah menumbuhkan benih dari cerita itu pada saat saya baru saja bangkit kembali dari keputusasaan. Saya teringat bagaimana suara "orang dewasa" di dalam hati saya mencela suara "anak kecil" yang lemah: "Bagaimana orang yang tidak bisa apa-apa seperti kamu dapat berharap menaklukkan gunung sebesar ini?" Jawaban anak lelaki kecil di atas menjadi jawaban saya: "Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" Dan saya dapat mengatasi persoalan tersebut, yakni dengan bergantung kepada Allah. Namun itu merupakan satu kemenangan kecil setelah kemenangan lainnya.

Hambatan yang dihadapi bangsa Israel ketika mereka hendak memasuki tanah yang telah dijanjikan Allah kepada mereka, pastilah tampak sangat sukar untuk dicapai. Namun Allah tidak meminta mereka melakukan semuanya sekaligus.

"Sedikit demi sedikit" merupakan strategi yang efektif untuk menuju kemenangan -- JEY


PERCAYAKAN KEPADA ALLAH UNTUK MEMINDAHKAN "GUNUNG" TETAPI KITA JUGA HARUS TETAP MENGGALI


* Take from Renungan Harian