Sabtu, 31 Oktober 2026

SELAMAT JALAN

Saat kematianku sudah dekat (2Timotius 4:6)


Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti "melonggarkan" atau "melepaskan tambatan". Paulus menggunakan kata yang sama saat mendesah, "Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23).

Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti "berlayar" -- membongkar sauh, melepas tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus untuk "meninggal dunia".

Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita. Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, "Selamat jalan!"

Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?

Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) --DHR


ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN ALLAH TIDAK PERLU TAKUT AKAN KEMATIAN 

* Take from Renungan Harian

Jumat, 30 Oktober 2026

KEKAGUMAN MENJADI PUJIAN

Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib (Mazmur 9:2)


Apakah kegiatan terbesar yang dapat menyita waktu? Penyembahan kepada Allah! Penyembahan bukanlah suatu ritual yang terburu-buru, doa-doa rutin, atau mendengarkan musik merdu merayu. Penyembahan adalah pengalaman "hanyut dalam kekaguman, cinta, dan doa," seperti tulisan Charles Wesley. Penyembahan adalah kekaguman yang menuntun kita untuk memuji Dia.

Ketika pertama kali melihat Grand Canyon, saya tidak dapat berkata apa-apa. Teman yang mengantar saya ke sana memahami reaksi saya dan berdiri mematung di sebelah saya. Saya terkesima mengagumi pemandangan dahsyat di depan mata dan berpikir, "Inilah sekilas kebesaran Allah". Namun, kekaguman saya itu bukanlah penyembahan.

Tanggapan saya berbeda ketika bertatap muka dengan Yesus saat membaca Kitab Suci. Kekaguman saya berubah menjadi pujian ketika saya melihat Dia dalam segala keindahan-Nya. Siapakah yang memelihara jiwa saya? Kesucian-Nya tak bernoda: "Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?" (Yohanes 8:46). Kebijaksanaan-Nya tiada bandingnya: "Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!" (Yohanes 7:46). Belas kasih-Nya tak terbatas: "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka" (Matius 9:36). Keagungan-Nya luar biasa: "Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka" (Matius 17: 2)

Begitu mengenal Yesus yang telah tertulis di dalam Injil, kekaguman saya berubah menjadi pujian. Saya bersujud dalam penyembahan dan berseru seperti Tomas: "Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28) -VCG


PENYEMBAHAN YANG SEJATI KEPADA KRISTUS AKAN MENGUBAH KEKAGUMAN MENJADI PUJIAN 

* Take from Renungan Harian