Jumat, 27 Februari 2026

KEBIASAAN YANG PENUH ANUGERAH

Aku melatih tubuhku dan menguasainya (1Korintus 9:27)


Seorang pria bepergian di Kanada pada suatu musim semi ketika es dan salju yang meleleh membuatnya hampir tak mungkin mengendarai mobil lebih jauh. Ia sampai pada persimpangan jalan dan melihat tanda bertuliskan, "Hati-hati dalam memilih jejak roda. Anda akan berada di jalur itu sejauh 40 km." Itu adalah sebuah peringatan bijak untuk kita semua dan tidak hanya berlaku saat kita mengemudi di jalan yang sulit.

Setiap kita sampai di persimpangan jalan kehidupan, pilihan apa yang kita buat? Dengan kata lain, arah mana yang akan dituju dan kebiasaan apa "jejak" kebiasaan mana yang akan kita buat?

Kebiasaan adalah pola yang kita ikuti secara konsisten. Sambil berdoa, kita perlu memutuskan kebiasaan yang akan kita ambil. Akankah kebiasaan kita itu sekadar jejak rutinitas? Atau akankah kebiasaan itu menjadi "kebiasaan yang penuh anugerah"?

Paulus mengandaikan perjalanan hidupnya seperti sebuah perlombaan. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk tetap tinggal dalam perlombaan adalah dengan "melatih tubuh[nya] dan menguasainya" (1Korintus 9:27). Itu berarti membentuk suatu pola kebiasaan rohani yang konsisten.

Kebiasaan untuk menjaga tubuh tetap sehat itu penting, tetapi disiplin rohani jauh lebih penting. Apakah kita memilih untuk mengembangkan kebiasaan doa, membaca Alkitab, dan melakukan perbuatan baik secara konsisten?

Kebiasaan adalah "jejak roda" yang rutin. Namun, disiplin rohani yang baik dapat mengubah "jejak roda" kita itu menjadi kebiasaan yang penuh anugerah --VCG


PADA MULANYA KITA MEMBENTUK KEBIASAAN TETAPI AKHIRNYA KEBIASAANLAH YANG MEMBENTUK KITA

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 26 Februari 2026

AWAL YANG BARU

Dalam keadaan yang terdesak ini, ia berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya (2Tawarikh 33:12)


Seorang pria muda sedang mengendarai sebuah mobil tua di sebuah jalan yang sepi di tengah curah hujan ketika mesin mobil itu tiba-tiba mati. Ketika ia menepi ke pinggir jalan, sebuah mobil lain berhenti dan pengendaranya keluar serta bertanya ada apa. Orang asing itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik sesuatu dan kemudian memberi isyarat kepada pemuda itu untuk mencoba menghidupkan mobilnya. Saat mesin mobil hidup kembali, pemuda yang kagum itu berseru, "Terima kasih, saya pikir mobil ini mogok untuk yang terakhir kalinya."

Penolong itu menjawab, "Setiap mesin mobil setidaknya memiliki satu kesempatan lagi untuk 'hidup' bila Anda bisa mendapatkan pemicunya. Prinsip yang sama juga berlaku untuk manusia. Suatu saat Anda akan memiliki kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ini. Ingatlah, selama masih tersisa satu pemicu hidup, belum terlambat bagi orang tersebut untuk memulai suatu awal yang baru."

Tiga puluh tahun kemudian, pemuda itu telah menjadi seorang pendeta di sebuah penjara yang besar. Ia bersaksi bahwa kata-kata tentang suatu awal yang baru selalu dan selalu berbicara kepadanya.

Seperti Allah memberi suatu awal yang baru bagi Manasye saat ia bertobat (2Tawarikh 33:12-13), pendeta ini juga telah melihat mukjizat-mukjizat Allah yang terjadi pada orang-orang yang keras tersebut.

Jika hidup kita berantakan, janganlah putus asa. Melalui pertobatan dan iman, kita dapat memulainya lagi. "Selama masih ada pemicu hidup, belum terlambat untuk memulai suatu awal yang baru" -- HVL

TAK PERNAH ADA KATA TERLAMBAT UNTUK MEMULAI SUATU AWAL YANG BARU BERSAMA ALLAH

* Take from Renungan Harian