Minggu, 27 September 2026

YESUS MEMBEBASKAN KITA

Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32)


Setelah zaman Rasul Paulus, barangkali belum ada orang lain yang menuliskan pengalamannya pada saat mengalami tekanan rohani secara jelas, selain ahli teologi terkenal bernama Agustinus (354-430 M). Meskipun dikaruniai kepandaian yang luar biasa, di masa mudanya ia pernah berkubang dalam kebobrokan moral yang sangat parah.

Sambil mengenang masa lalu, Agustinus mengisahkan pergumulannya, "Saya diikat oleh rantai besi kehendak saya sendiri. Saya cenderung menjadi seorang penderita yang patah semangat, bukannya orang yang memiliki kemauan untuk bangkit. Kehendak itu menjadi senjata makan tuan bagi saya, karena saya telah menjadi apa yang sesungguhnya tidak saya kehendaki."

Banyak di antara kita yang pernah menjalani pergumulan serupa. Kita ingin terbebas dari dosa, tetapi ternyata kita selalu mendapati diri tidak mampu mematahkan rantai kehendak kita. Kemudian, ketika kita percaya kepada Yesus, kita dibebaskan dan dapat menyuarakan kembali lirik kidung pujian karya Charles Wesley: "Lama sudah rohku terbelenggu dalam dosa dan gelapnya kemanusiaanku; mata-Mu memancarkan sinar yang menghidupkan kembali, aku terbangun, tempat aku dikurung tiba-tiba diterangi cahaya! Rantai yang membelengguku terlepas, rohku dibebaskan; aku bangkit, keluar, dan mengikut Dia."

Hanya Yesus, satu-satunya Pribadi yang mampu melepaskan belenggu dosa di dalam hidup Anda. Terimalah Dia sebagai Juru Selamat Anda, dan "kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32) --VCG

KEBEBASAN SEJATI DITEMUKAN DALAM MELAYANI KRISTUS

* Take from Renungan Harian 

Sabtu, 26 September 2026

DEMI KAUM MISKIN

Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu (Ulangan 15:11)


Orang itu duduk di sudut jalan dari hari ke hari untuk mengemis. Ia miskin dan sungguh-sungguh mengharap akan mendapat sedikit uang untuk membeli makanan.

Ia tidak sendiri. Lebih dari setengah jumlah penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan internasional, yaitu berpendapatan kurang dari dua puluh ribu rupiah sehari. Kemiskinan dan kelaparan adalah masalah-masalah besar di dunia kita yang mudah membuat kita merasa tak berdaya atau menjadi berhati batu serta tidak berbuat apa pun.

Namun, Allah tidak menutup mata terhadap penderitaan orang-orang miskin. Saat Dia memberikan tuntunan hidup bagi umat-Nya, Dia juga menambahkan perintah untuk memerhatikan orang-orang yang membutuhkan (Ulangan 15:11). Dia berkata kepada umat-Nya, "Janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan" (ayat 7,8).

Allah juga memerintahkan umat-Nya supaya jangan membabat habis hasil ladang mereka sampai ke tepi, sehingga mereka yang kurang beruntung dapat mengumpulkan sisa-sisa hasil ladang untuk makanan mereka (Imamat 19:9,10). Yesus pun peduli terhadap kaum miskin melalui perkataan dan tindakan-Nya.

Sebagai orang kristiani, kita harus memerhatikan kaum miskin. Masing-masing pribadi dan gereja dapat bergabung di organisasi kristiani yang melawan kemiskinan sambil mewartakan firman Allah. Allah memedulikan kaum miskin. Bagaimana dengan kita? -AMC


ALLAH TELAH MENCUKUPI KEBUTUHAN KITA
SEHINGGA KITA DAPAT BERBAGI DENGAN ORANG YANG MEMBUTUHKAN 

* Take from Renungan Harian