Selasa, 22 September 2026

BILA KERJA TELAH USAI

Kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN (Mazmur 78:4)


Warisan dari seorang pekerja Kristen tidak akan pernah berakhir, meskipun pekerjaan mereka terkadang harus berakhir.

Hal ini belum lama terlintas dalam pikiran saya, yakni ketika saya mendengar keluhan seorang wanita tua yang merasa bahwa dirinya sudah tidak berguna lagi. Meskipun ia telah bertahun-tahun melayani sebagai guru Sekolah Minggu (dan untuk hal ini ia dikenang dengan penuh kasih), serta pengaruh rohani yang telah diwariskannya kepada anak dan cucunya, ia merasa bahwa ia tidak lagi berguna. Namun apa yang dirasakannya tersebut sebenarnya tidaklah benar.

Alkitab mengingatkan kita bahwa umat Allah perlu mewariskan kepada generasi berikutnya berbagai kisah tentang Allah dan orang-orang dipakaiNya. Dalam Yoel 1:1-20, misalnya, penduduk Yudea diperintahkan untuk menyampaikan cerita tentang tulah belalang kepada anak-anaknya. Karena cerita itu memiliki implikasi kenabian, maka bagian itu merupakan bagian dari warisan yang penting dan perlu disampaikan ke generasi berikutnya. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Mazmur 78:1-72, juga disampaikan pesan yang sama. Para tua-tua Israel harus menceritakan kepada orang-orang muda cerita-cerita tentang pekerjaan Allah dalam sejarah Israel.

Saat ini kita memperoleh berita keselamatan melalui Yesus dan memiliki kesempatan untuk menjalani hidup yang mengabdi kepada Allah. Jika kita telah meneruskan berita injil kepada generasi mendatang, dampak tersebut akan terus melekat. Bahkan sekalipun pekerjaan kita telah usai, dampaknya akan terus berlanjut. Pengaruh yang kita tanamkan tidak akan pernah mati -- JDB

MENCERITAKAN PERBUATAN-PERBUATAN YESUS BAGI KITA AKAN MENINGGALKAN JEJAK UNTUK DIIKUTI OLEH ORANG LAIN 

* Take from Renungan Harian

Senin, 21 September 2026

PERINTAH 10: JANGAN SERAKAH

Jangan mengingini rumah sesamamu...atau apapun yang dipunyai sesamamu (Keluaran 20:17)


Seorang pemilik toko di sebuah kota bersikeras menolak untuk menerima suatu produk baru untuk dijual di tokonya. "Ingat, anak muda," kata pemilik toko kepada salesman itu, "di kota ini, setiap keinginan tidak selalu berarti kebutuhan."

Mengacaukan antara keinginan dan kebutuhan berarti menuruti hasrat hati dan merupakan menjelasan mengapa kita seringkali didorong nafsu untuk memperoleh lebih dan lebih. Kita gagal melihat bahwa kepenuhan hidup yang terbesar tidaklah diperoleh dengan menumpuk harta benda, tetapi dengan mengenal Allah.

Perintah Allah yang kesepuluh ini mungkin tampak sepele bila dibandingkan dengan hal-hal besar seperti pembunuhan, pencurian, berdusta dan perzinahan. Namun perintah ini sama mendasarnya dengan perintah-perintah yang lain dan merupakan jaminan akan damai sejahtera dan kepuasan atas apa yang dimiliki. Perintah ini merupakan satu-satunya perintah yang lebih menekankan pada sikap daripada perbuatan. Perintah ini merupakan pengaman terhadap godaan untuk melanggar sembilan perintah yang lain.

Hasrat Daud terhadap istri orang lain mengarahkannya pada perzinahan, pencurian dan pembunuhan (2Samuel 11:1-27). Dan keinginan untuk memperoleh lebih banyak kesenangan, kuasa, atau harta benda dapat menghancurkan hubungan antarpribadi dalam keluarga, dan menyebabkan kita berdusta terhadap sesama. Dan karena menuruti hasrat hati mirip dengan menyembah berhala (Kolose 3:5), maka perintah ini juga menjaga kita untuk tetap memiliki dan mempertahankan hubungan pribadi yang baik dengan Allah.

Tuhan, tolonglah kami agar merasa puas atas segala sesuatu yang kami miliki di dalam Engkau -- DJD

KEPUASAN BERARTI MENGINGINKAN APA YANG TELAH KITA MILIKI BUKAN MEMILIKI SEGALA SESUATU YANG KITA INGINKAN

* Take from Renunga Harian