Jumat, 29 Mei 2026

DI BALIK SENYUMAN

Engkau telah memberikan sukacita kepadaku (Mazmur 4:8)


Menurut sebuah artikel di harian The New York Times, tersenyum dapat menimbulkan perasaan yang menyenangkan. Penulis Daniel Goleman menyebutkan hasil sebuah eksperimen para peneliti yang mendapati bahwa mengatakan cheese [dilafalkan: 'ciz'] dapat membuat orang tersenyum dan menimbulkan perasaan senang. Sebaliknya, mengucapkan kata few [dilafalkan: 'fyu'] dapat menimbulkan ekspresi wajah yang berbeda, dan menimbulkan emosi yang negatif.

Hasil penelitian itu memang menarik, tetapi saya kira ada cara lain yang lebih baik untuk mendapatkan kedamaian dan sukacita yang sejati. Caranya bekerja dari dalam keluar, bukan dari luar ke dalam.

Dalam Mazmur 4, Daud mengemukakan beberapa tindakan yang dilakukannya ketika dilanda kesedihan. Ia meminta kelegaan dan belas kasihan Allah (ayat 2). Ia terhibur ketika mengetahui bahwa Allah berkenan kepadanya dan mendengar seruannya (ayat 4). Daud tinggal diam di hadapan Allah (ayat 5). Ia hanya tekun melakukan apa yang benar dan menaruh kepercayaan kepada-Nya (ayat 6). Ia menikmati jaminan yang pasti akan kedamaian dan keamanan dari Allah (ayat 9). Daud percaya akan memiliki sukacita (ayat 8) sebagai karunia dari Allah, bukan dari senyuman yang dipaksakan, yang barangkali hanya akan memberi perasaan senang yang bersifat sementara.

Bapa, tolong kami agar di saat-saat sedih kami berpaling kepada-Mu. Beri kami kedamaian dan sukacita seperti yang dialami Daud ketika berseru kepada-Mu -MRDII


HATI YANG DIJAMAH ANUGERAH ALLAH AKAN MENAMPILKAN SUKACITA DI WAJAH

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 28 Mei 2026

UKURAN KASIH

Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya
(1 Yohanes 4:21)


Ketika mengunjungi rumah seorang kristiani, saya melihat kata-kata ini terpampang pada sebuah hiasan dinding: "Engkau mengasihi Yesus seperti kau mengasihi orang yang paling tidak kaukasihi." Saya tersentak membaca kata-kata itu. Namun kemudian saya menemukan kata-kata serupa dalam 1 Yohanes 4:20, "Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya."

Setelah itu saya sering mendapati diri saya mengkritik orang lain dengan mengabaikan kesalahan saya sendiri yang justru lebih mencolok. Jika saya mengasihi Yesus sebesar kasih saya terhadap orang yang saya kritik, berarti saya sedikit sekali mengasihi-Nya. Ini membuat saya sedih dan kecewa, karena sepertinya saya tidak mampu mengasihi Yesus dan sesama dengan semestinya.

Dalam 1 Yohanes 4:10, kita tahu bahwa kasih yang sejati tidak dapat diukur melalui kasih kita kepada Allah, tetapi melalui kasih-Nya kepada kita. Dia menunjukkan kedalaman kasih-Nya melalui kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Itulah teladan kita. "Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi" (ayat 11).

Kini setiap kali saya gagal mengasihi orang lain, saya memohon ampun kepada Allah. Saya minta agar Dia menolong saya menunjukkan kepada sesama, kasih yang Dia berikan kepada saya.

Adakah Anda rindu untuk lebih mengasihi Yesus? Mulailah dengan mengasihi orang-orang di sekitar Anda. Ingatlah, kasih kepada Yesus dan kasih kepada sesama selalu berjalan beriringan -JEY


KASIH ADALAH KEHENDAK ALLAH DALAM TINDAKAN

* Take from Renungan Harian