Rabu, 27 Mei 2026

MATA ROHANI YANG BARU

Seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi (Kisah Para Rasul 9:18)


Pada tahun 1991, dua operasi telah menyembuhkan Shirl Jennings yang buta selama 40 tahun. Keluarga dan teman-temannya sangat gembira. Namun, hari berikutnya tunangan Shirl menulis dalam buku hariannya bahwa Shirl "masih terus beradaptasi untuk melihat .... Ia belum dapat mempercayai pandangannya .... Seperti bayi yang baru belajar melihat, segala sesuatu tampak baru, menakjubkan, dan menakutkan karena ia belum yakin untuk melihat."

Walaupun Shirl dapat mengenali orang dan benda-benda dengan alat inderanya yang lain, ia belum dapat mengenali mereka dengan penglihatan. Orang-orang berharap ia dapat segera beradaptasi, tetapi ia masih kesulitan untuk memahami segala sesuatu yang kini dilihatnya.

Tidakkah kita juga mengalami hal seperti ini ketika menerima anugerah keselamatan dari Allah?

Setelah Paulus mengalami kebutaan dalam perjalanan ke Damsyik, pemulihan penglihatannya menjadi perumpamaan yang kuat bagi penglihatan rohani yang kemudian ia terima dari Tuhan Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 9:3-17). Kita tidak tahu apa yang dialami Paulus selama 3 tahun di Arab setelah pertobatannya (Galatia 1:15-18), yang jelas ia pasti belajar lagi secara mendalam tentang kehidupan dan tentang Allah.

Dibutuhkan waktu untuk menumbuhkan hubungan dengan Kristus, dan untuk melihat dengan mata rohani yang baru apa yang telah Dia berikan kepada kita. Bersabarlah satu sama lain, khususnya terhadap setiap orang kristiani baru, yang kita kenal dalam perjalanan rohani yang penuh sukacita -DCM


PERTOBATAN ADALAH SEBUAH LANGKAH IMAN
KEDEWASAAN MEMBUTUHKAN PERJALANAN IMAN

* Take from Renungan Harian

Selasa, 26 Mei 2026

BERKAT YANG DITINGGALKAN

Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga (Lukas 24:51)


Seorang penderita kanker sedang mendekati ajalnya. Saya sedang berada di dalam kamarnya ketika keluarganya berkumpul mengelilinginya. Ia berbicara kepada satu per satu anaknya, kepada pasangan mereka, dan kepada cucu-cucunya yang masih muda. Dengan lembut dan penuh kasih, ia memberkati mereka masing-masing. Bahkan nasihat-nasihatnya pun diucapkan dengan lemah lembut. Ia mengingatkan mereka supaya tetap menjadikan Tuhan pusat kehidupan mereka. Kami semua mencucurkan air mata karena sadar bahwa ia takkan lama lagi bersama kami. Beberapa hari kemudian ia meninggal.

Juruselamat kita melakukan hal yang sama sebelum Dia naik ke surga. Bukannya mencucurkan air mata saat melihat-Nya pergi, para murid-Nya justru sangat bersukacita meski mereka tahu bahwa mereka takkan dapat lagi secara langsung mengalami berkat-Nya. Namun, Yesus akan segera mengirim Roh Kudus untuk tinggal dalam diri mereka (Kisah Para Rasul 1,2). Dia yang "duduk di sebelah kanan Allah" (Roma 8:34) akan menjadi perantara bagi mereka. Dan janji-Nya untuk datang kembali membuat mereka tenang (1Tesalonika 4:13-18).

Saat kita teringat akan Juruselamat kita yang naik ke surga, marilah kita bersukacita atas berkat yang Dia tinggalkan bagi kita. Dan selagi masih ada kesempatan, marilah kita menyemangati orang yang kita kasihi untuk tetap menjadikan Kristus pusat kehidupan mereka. Kelak saat kita meninggalkan dunia ini, maka teladan serta perkataan kita dapat menjadi berkat paling berharga yang bisa kita tinggalkan --Dave Egner


KRISTUS NAIK AGAR ROH KUDUS TURUN

* Take from Renungan Harian