Selasa, 16 Juni 2026

BAPAK KEKEKALAN

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3)


Kekekalan! Adakah konsep lain yang lebih menakjubkan dari hal ini? Pikiran kita seringkali sulit menangkap ide tentang keberadaan yang tak pernah berakhir.

Arthur Stace dari Sidney, Australia, terus dibayangi oleh pemikiran bahwa orang-orang yang tidak mengenal Kristus akan terhilang dalam kekekalan. Maka ia pun bangun pagi-pagi dan menuliskan kata kekekalan dengan kapur di trotoar seluruh kota. Akhirnya ia dikenal sebagai "Bapak Kekekalan." Banyak orang menanggapi pelayanannya yang rendah hati ini dengan menaruh iman mereka pada Yesus Kristus.

Saat Alkitab berbicara tentang kehidupan kekal, hal ini juga mengacu pada hubungan kita dengan Allah, tidak hanya tentang berlalunya waktu. Dalam Yohanes 17:3, Yesus menjelaskan bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah yang benar secara intim. Namun kekekalan juga berarti keberadaan yang tidak pernah berakhir. Pertanyaannya adalah: Di mana kita akan menjalani kekekalan itu?

Dari waktu ke waktu yang terus berjalan, kita semua bergerak menembus waktu menuju kekekalan. Adakah hal ini menumbuhkan dalam diri kita pengharapan yang penuh sukacita atau perasaan takut? Semua itu tergantung pada hubungan kita dengan Yesus Kristus.Dia telah memberikan satu-satunya jalan kepada Bapa (Yohanes 14:6; Kisah 4:12). Pengurbanan-Nya untuk menebus dosa memungkinkan kita untuk "bersama-sama dengan Tuhan" (1Tesalonika 4:17).

Apa yang telah Anda putuskan tentang Yesus? Jawaban Anda akan menentukan di mana Anda akan menjalani kekekalan [VCG]


ORANG YANG HANYA MEMIKIRKAN KEHIDUPAN DI DUNIA INI AKAN MENJALANI KEKEKALAN DALAM PENYESALAN

* Tae from Renungan Harian 

Senin, 15 Juni 2026

YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG

Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Wahyu 21:5)


Sebelum Yesus meninggalkan dunia ini, Dia berjanji akan menyediakan tempat bagi orang-orang yang mengasihiNya (Yohanes 14:2-3). Beberapa tahun kemudian Dia berkata kepada Yohanes muridNya, dalam suatu penglihatan, dan memberikan gambaran yang lebih rinci sehingga dapat dimengerti oleh manusia. Sejak saat itu, orang-orang Kristen merenungkannya dengan penuh rasa ingin tahu tentang "langit baru dan bumi baru," saat maut, perkabungan, ratap tangis atau dukacita tidak akan ada lagi (Wahyu 21:1,4).

Ya, ketika kita ditebus dari segala hutang dosa, tidak akan ada lagi laknat, dan kita dapat beribadah kepadaNya. Kita akan melihat wajahNya dan menjadi seperti Dia (Wahyu 22:3-4; 1Yohanes 3:2).

Merenungkan sukacita yang besar ini, Thomas Browne, dokter Inggris yang terkenal (1605-1682) terdorong untuk menulis demikian: "Pada saat mulai membicarakan tentang kehidupan setelah kematian, kita seperti dua orang bayi dalam kandungan yang sedang mendiskusikan apa yang akan terjadi dalam kehidupan yang akan datang. Pengetahuan dan pengertian kita saat ini tentang apa yang akan terjadi kelak, yang membuat kita bersukacita, tidak lebih besar daripada keadaan seseorang yang hidup saat ini di rahim.... Sebagai orang Kristen, kita menyadari bahwa hal itu sungguh luar biasa sehingga kita dapat bersukacita, tetapi kenyataan yang benar-benar akan terjadi kelak jauh lebih luar biasa daripada segala yang dapat kita bayangkan pada saat ini."

Pada saat kegelapan hidup melanda atau sukacita melimpah, jangan lupakan bahwa yang terbaik untuk kita masih akan datang -- DJD

SUKACITA TERBESAR DI DUNIA ADALAH HARAPAN MASA DEPAN DI SURGA

* Take from Renungan Harian