Rabu, 23 September 2026

KEBAIKAN ORANG SAMARIA

Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan
(Lukas 10:33)



Dalam bukunya yang berjudul Kindness: Reaching Out to Others (Berbuat Baik: Menggapai Sesama), Phyllis J. Le Peau mengaitkan kisah ini: "Beberapa mahasiswa seminari diminta untuk berkotbah tentang kisah orang Samaria yang baik hati. Ketika sampai waktunya untuk berkotbah, para mahasiswa itu dengan sengaja datang terlambat ke seminari. Tatkala para mahasiswa itu terburu-buru menuju kampus, mereka berpapasan dengan seseorang yang berpura-pura meminta pertolongan. Ironisnya, tidak seorang pun dari mahasiswa yang berhenti untuk menolongnya." Le Peau memberi komentar, "Ya, mereka memang harus melakukan suatu kotbah yang penting."

Orang Kristen dapat menyajikan kotbah yang hebat kepada dunia tatkala mereka merefleksikan kebaikan Allah seperti yang ditunjukkan oleh orang Samaria yang baik hati kepada sesamanya. Tetapi seharusnya hal itu tidak hanya diucapkan.

Bagaimana dengan kita? Setiap kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, seharusnya menghidupkan kembali kisah tentang orang Samaria yang baik hati itu. Apakah kita mau meluangkan waktu dan bersedia ikut terlibat? Barangkali kita dapat membantu tetangga yang sedang membutuhkan materi, atau menyediakan telinga yang simpatik untuk mendengar seorang yang bermasalah. Mungkin kita dapat bersaksi kepada seseorang yang Tuhan antar ke dalam hidup kita hari ini. Atau, akankah kita berlaku seperti para pemimpin agama yang bergegas lewat dari seberang jalan dan tidak memberikan pertolongan?

Marilah kita memuliakan nama Tuhan dengan menjawab kebutuhan orang lain sebagaimana Dia pasti akan melakukannya -- DCE

PERBUATAN BAIK TIDAK AKAN PERNAH KETINGGALAN ZAMAN 

* Take from Renungan Harian

Selasa, 22 September 2026

BILA KERJA TELAH USAI

Kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN (Mazmur 78:4)


Warisan dari seorang pekerja Kristen tidak akan pernah berakhir, meskipun pekerjaan mereka terkadang harus berakhir.

Hal ini belum lama terlintas dalam pikiran saya, yakni ketika saya mendengar keluhan seorang wanita tua yang merasa bahwa dirinya sudah tidak berguna lagi. Meskipun ia telah bertahun-tahun melayani sebagai guru Sekolah Minggu (dan untuk hal ini ia dikenang dengan penuh kasih), serta pengaruh rohani yang telah diwariskannya kepada anak dan cucunya, ia merasa bahwa ia tidak lagi berguna. Namun apa yang dirasakannya tersebut sebenarnya tidaklah benar.

Alkitab mengingatkan kita bahwa umat Allah perlu mewariskan kepada generasi berikutnya berbagai kisah tentang Allah dan orang-orang dipakaiNya. Dalam Yoel 1:1-20, misalnya, penduduk Yudea diperintahkan untuk menyampaikan cerita tentang tulah belalang kepada anak-anaknya. Karena cerita itu memiliki implikasi kenabian, maka bagian itu merupakan bagian dari warisan yang penting dan perlu disampaikan ke generasi berikutnya. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Mazmur 78:1-72, juga disampaikan pesan yang sama. Para tua-tua Israel harus menceritakan kepada orang-orang muda cerita-cerita tentang pekerjaan Allah dalam sejarah Israel.

Saat ini kita memperoleh berita keselamatan melalui Yesus dan memiliki kesempatan untuk menjalani hidup yang mengabdi kepada Allah. Jika kita telah meneruskan berita injil kepada generasi mendatang, dampak tersebut akan terus melekat. Bahkan sekalipun pekerjaan kita telah usai, dampaknya akan terus berlanjut. Pengaruh yang kita tanamkan tidak akan pernah mati -- JDB

MENCERITAKAN PERBUATAN-PERBUATAN YESUS BAGI KITA AKAN MENINGGALKAN JEJAK UNTUK DIIKUTI OLEH ORANG LAIN 

* Take from Renungan Harian