Senin, 07 September 2026

TUJUAN HIDUP YANG TERUTAMA

Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh (Roma 1:22)


Pada tahun 1636, sekelompok orang Kristen Puritan mendirikan Universitas Harvard. Motto universitas ini adalah: Christo et Ecclesiae, yang berarti "Bagi Kristus dan Gereja." Salah satu prinsip yang dianut universitas ini adalah: Setiap orang harus memikirkan tujuan utama dari hidup dan studinya, yakni mengenal Allah dan Yesus Kristus, yang merupakan hidup kekal. Yohanes 17:3."

Pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang bergengsi itu telah lama meninggalkan tujuan rohani mula-mula tersebut. Bahkan kini banyak mahasiswa Fakultas Teologi Harvard yang beranggapan bahwa tujuan yang berpusatkan pada Kristus adalah sesuatu yang picik dan kuno. Lebih dari itu, ada peristiwa nyata sebagai ungkapan dari pandangan tersebut. Belum lama ini sekelompok mahasiswa Harvard dengan sengaja mengadakan suatu upacara pemakaman, sebagai suatu bentuk ejekan, melewati Fakultas Teologia. Mereka membawa keranda dan membuat pernyataan bahwa, "Allah, Bapa kita, telah mati."

Mahasiswa-mahasiswa itu telah berada jauh dari kebenaran sejati, sebagaimana jauhnya timur dari barat. Allah Bapa yang kekal, yang telah menciptakan segala kehidupan di bumi (termasuk kehidupan mereka yang mengejek Dia), bebas dari kematian sebagaimana Dia juga bebas dari dosa.

Tiga ratus lima puluh tahun setelah Harvard didirikan, tujuan utama yang sesungguhnya dari hidup masih dan selalu akan seperti yang dikatakan oleh orang-orang Puritan kolonial di atas, yakni "mengenal Allah dan Yesus Kristus, yang merupakan hidup kekal." Marilah kita menjadikan prinsip ini sebagai tujuan utama hidup kita -- VCG


UNTUK MENGETAHUI TUJUAN HIDUP KITA HARUS MENGENAL KEHIDUPAN SANG PENCIPTA

* Take from Renungan Harian

 

Minggu, 06 September 2026

DILENGKAPI UNTUK BERTUGAS

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu...sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi (Yosua 1:9)


Ketika Perang Dunia II berkobar, saya berada di Inggris dan bekerja sebagai seorang teknisi pembedahan di sebuah rumah sakit tentara. Saat itulah saya mendengar berita radio yang mengejutkan semua orang: "Franklin Delano Roosevelt telah wafat!" Saya merasa sedih dan terguncang. Apakah wakil presiden Harry Truman mampu untuk menjadi seorang presiden?

Lega rasanya ketika saya mendengar sang wapres berkata bahwa ia merasa seakan-akan kejatuhan beban yang sangat berat di pundaknya, dan ia meminta agar seluruh masyarakat berdoa baginya. Ucapan sang wapres ini meyakinkan saya bahwa ia dengan rendah hati mengakui keterbatasan dan perlunya pertolongan Allah.

Tidak banyak dari kita yang beruntung menempati posisi kepemimpinan dengan tugas sebesar itu, namun umumnya kita semua pernah mengalami perasaan tak berdaya saat menghadapi tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab itu dapat berupa pekerjaan baru, mendapat promosi di tempat kerja, memilih pasangan hidup, menjadi orang tua, ataupun menyanggupi pelayanan baru di Sekolah Minggu atau gereja.

Tatkala kita dihadapkan pada suatu tantangan baru, kita dapat membangun keberanian berdasarkan firman Tuhan kepada Yosua (Yosua 1:9). Kita dapat menerima kesempatan itu sebagai sesuatu yang diberikan Allah dan percaya bahwa Dia berkenan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Bila kita merenungkan firmanNya, mematuhi dan berdoa mengandalkan Tuhan, serta bekerja dengan rajin, maka Dia akan memampukan kita melakukan semua itu. Dia akan melengkapi kita dalam bertugas -- HVL


PANGGILAN ALLAH SELALU DISERTAI DENGAN KEKUATAN UNTUK MENUNAIKANNYA


* Take from Renungan Harian