Senin, 27 Juli 2026

LEPASKAN!

Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung.... Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak (Mazmur 31:2,10)


Dalam majalah Campus Life, Susan Smart menceritakan penerbangan tunggalnya yang ketiga, yang hampir menewaskannya saat berlatih gerakan akrobatik pada ketinggian 1.524 meter, tiba-tiba pesawatnya, Cessna 150, kehilangan kendali dan mulai berputar-putar jatuh. Setelah panik beberapa detik, ia teringat kata-kata instrukturnya: "Jika suatu saat pesawat Cessna yang kamu terbangkan kehilangan kendali, lepaskan saja kontrol kemudinya. Pesawat itu dirancang untuk dapat terbang dengan sendirinya."

Berulangkali Susan berteriak pada dirinya sendiri, "Lepaskan!" Akhirnya, ia melepaskan kontrol kemudi pesawat dan menutup mukanya. Setelah oleng dan berjungkir balik di angkasa selama beberapa saat, pesawat itu pun kembali tegak. Pesawat itu telah berjungkir balik sejauh satu kilometer lebih, tetapi Susan selamat karena ia memiliki keyakinan untuk melepaskan kontrol kemudi.

Pengalamannya menggambarkan dengan jelas apa arti mempercayai Allah di masa kritis. Saya tahu hal itu sulit dilakukan ketika kita merasa segala sesuatu dalam hidup kita tak terkendali. Hati kita menjadi panik sehingga kita meragukan janji-janji-Nya, mengacuhkan dan tidak menaati perintah-Nya, serta mencoba memecahkan masalah tanpa Dia. Namun semuanya itu sia-sia belaka.

Dalam Mazmur 31, Daud berseru kepada Tuhan dalam masa-masa sulitnya. Ia tahu bahwa satu-satunya pengharapan yang ia miliki adalah menyerahkan situasi yang dihadapinya dalam tangan Allah dan bersandar kepada-Nya.

Adakah hidup Anda sedang kacau dan tak terkendali? Anda tak perlu berusaha sendiri. Berserahlah! --DCE


CARA TERBAIK UNTUK MENGATASI SUATU MASALAH ADALAH MENYERAHKANNYA KEPADA ALLAH

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 26 Juli 2026

MENGAPA KITA MENDERITA?

Hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang (1Tesalonika 5:14)


Dalam pertengahan usia tiga puluhan, penginjil Vance Havner menderita penyakit syaraf yang parah. Sebelumnya ia suka mencela orang-orang yang mengalami penyakit ini. Ia berkata, "Selama 2 tahun saya menderita penyakit syaraf, dan selama itu saya belajar untuk tidak menertawakan orang-orang yang mengalami gangguan syaraf."

Seringkali kita begitu mudah meremehkan kesulitan yang dihadapi orang lain sampai akhirnya kita sendiri mengalami masalah yang sama! Di sekolah Allah, kita belajar untuk bersimpati dengan berbagai kesulitan yang kita anggap tidak seharusnya dialami oleh orang Kristen atau jika terjadi, pasti mudah diatasi. Kita belajar bahwa Allah tidak selalu membebaskan kita dengan segera dan dengan mudah dari kondisi-kondisi sulit itu.

Paulus adalah orang yang beriman dan tangguh, tetapi "duri dalam daging" itu (2Korintus 12:7-10) tetap ada dalam dirinya meski ia telah berulangkali memohon agar Allah mengambil penderitaan itu dari padanya. Namun ia tidak jengkel karena "duri" itu, bahkan ia justru belajar untuk menerima kelemahan yang membuatnya menemukan kekuatan dalam Kristus. Mungkin dilatarbelakangi oleh penderitaan yang dialaminya, rasul ini menasihati umat Kristen, "hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, dan sabarlah terhadap semua orang" (1Tesalonika 5:14).

Melalui duri-duri emosi dan fisik yang Allah izinkan ada dalam hidup kita, kita belajar tentang apa artinya mempercayai Dia. Dan, dalam proses itu kita belajar untuk sabar dan berbuat baik kepada semua orang --DCM


KITA DAPAT MENGHIBUR ORANG LAIN KARENA ALLAH TELAH LEBIH DULU MENGHIBUR KITA

* Take from Renungan Harian