Rabu, 16 September 2026

TATKALA KITA TIDUR

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi ..., dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur (Mazmur 127:2)


Terjemahan Mazmur 127:2 berbunyi, "Ia memberikan kepada yang dicintai-Nya bahkan pada waktu ia tidur" (versi NASB). Saya yakin ada hal yang sangat signifikan dalam ayat ini yang akan berlalu begitu saja bila kita tidak memahami bahwa Israel mengawali harinya pada malam hari, bukan pada pagi hari.

Kita sering mengawali hari dengan banyak kegiatan. Setelah bangun, kita menyambar makanan siap-saji untuk sarapan, dan terburu-buru pergi. Kita punya banyak hal yang harus dikerjakan!

Sebaliknya, Israel memulai harinya pada malam hari. Mereka beristirahat dan tidur, lalu bangun di pagi hari untuk ikut mengerjakan pekerjaan yang sedang Allah kerjakan, karena "Dia, Sang Penjaga Israel, tidak terlelap dan tidak tertidur" (121:4, versi NASB).

Pola bangsa Israel ini tampak signifikan. Saya yakin demikian karena hal itu menggambarkan sikap yang seharusnya kita ikuti dalam berbagai usaha yang kita lakukan. Hari-hari kita seharusnya diawali dengan bersandar penuh pada kemampuan Allah yang tak terbatas. Tatkala mulai bekerja, sesungguhnya kita ikut serta mengerjakan apa yang sedang Dia kerjakan.

Sia-sia saja kita membawa diri dalam kegiatan gila-gilaan yang meresahkan, "bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam" (127:2), seolah-olah kesuksesan bergantung sepenuhnya pada usaha kita. Memang kita harus bekerja keras dan setia dengan semua yang kita kerjakan, tetapi harus disadari bahwa segala sesuatunya bergantung pada Allah. Dia tak pernah berhenti bekerja untuk kepentingan kita. Sebelum memulai pekerjaan, mula-mula kita harus mendapatkan ketenangan dalam Dia --DHR


KERJAKAN TUGAS ANDA SEBAIK MUNGKIN DAN BIARKAN TUHAN YANG MENGERJAKAN SISANYA --Longfellow

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 15 September 2026

DIPIMPIN OLEH ROH

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14)



Sebagai seorang pendeta muda pada masa 1940-an, Francis Schaeffer terkenal karena kemampuannya dalam berorganisasi. Sekolah Alkitab musim panas di gerejanya di St. Louis mampu menarik 700 anak-anak dari seluruh penjuru kota dan peristiwa tersebut menjadi berita satu halaman penuh di surat kabar setempat. Tetapi ketika ia dan istrinya membuka L'Abri Fellowship di Swiss, Schaeffer sengaja tidak membuat target-target organisasional.

Ia menjelaskan pendekatan yang tidak semestinya ini sebagai tuntunan khusus dari Allah bagi mereka, dan mengatakan bahwa itu adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan. Namun, ia ingin supaya orang-orang lebih melihat tangan Allah, dan bukannya keberhasilan program-program yang tersusun dengan baik.

Schaeffer berkata, "Menurut saya, masyarakat zaman sekarang sulit menerima segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan kepada publik. Akan tetapi, dalam hal ini kami mencari pribadi Allah untuk melihat apa yang ingin Dia lakukan dengan pekerjaan ini."

Paulus berkata, "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah" (Roma 8:14). Ayat ini selain berlaku pada keputusan-keputusan tertentu, juga berbicara mengenai pendekatan umum terhadap hidup. Anak-anak Allah seharusnya tidak mencoba melakukan sesuatu tanpa pimpinan Roh Kudus.

Berjalan dengan tuntunan Roh dan mengikuti arah yang ditunjuk-Nya adalah langkah iman yang memberikan kemuliaan bagi Allah dan akan memimpin pada hidup dan damai sejahtera (ayat 6,13) --David McCasland


HATI MANUSIA MEMIKIR-MIKIRKAN JALANNYA, TETAPI TUHANLAH YANG MENENTUKAN ARAH LANGKAHNYA --AMSAL 16:9

* Take from Renungan Harian