Rabu, 09 September 2026

MENGELOLA HATI

Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman (Matius 23:28)


Ketika masih menjadi ibu rumah tangga muda, saya sangat senang membersihkan rumah dari atas sampai bawah. Masalahnya adalah, kebersihan rumah itu ternyata tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya, saya mengerti bahwa jika saya menjaga agar rumah cukup rapi, maka rumah itu akan tampak bersih, walaupun sebenarnya tidak demikian adanya. Secara bertahap saya mengutamakan penampilan rumah yang rapi, tetapi saya tidak membersihkannya secara saksama. Kompromi ini tidak hanya menguntungkan, tetapi juga meyakinkan. Terkadang saya pun terkecoh. Namun pada hari yang cerah, rumah yang tampaknya bersih itu menjadi tampak apa adanya-berdebu dan kotor.

Pada zaman Yesus, para ahli Taurat dan orang Farisi berbuat munafik dengan menekankan agar tampil suci, namun mereka mengabaikan kesucian hati (Matius 23:25). Ketika cahaya Yesus menerangi mereka, Dia mengungkapkan kebenaran mengenai kehidupan religius jasmaniah mereka. Dia tidak menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan jasmaniah mereka salah, namun mereka sangat keliru karena menggunakan berbagai kegiatan tersebut untuk menutupi kejahatan. Bagi mereka, pembersihan bagian dalam sudah sangat terlambat.

Menjaga penampilan dalam pekerjaan rumah tangga tidaklah salah, tetapi berpura-pura bahwa kita memiliki hati yang bersih adalah keliru. Hanya orang-orang yang suci hatinya yang akan menyambut Yesus dengan percaya diri ketika Dia datang. Apakah hati Anda siap? Ataukah hati Anda perlu dibersihkan? Sekaranglah saatnya Anda memerhatikan hal itu! -JEY

DI PUSAT KESUCIAN TERDAPAT KESUCIAN HATI 

* Take from Renungan Harian

Selasa, 08 September 2026

MENGHARAPKAN BERKAT

Aku bersukacita ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN" (Mazmur 122:1)



Ketika seseorang menghentak-hentakkan kakinya di luar gereja disertai mengeluh tentang kualitas musik, panjangnya pengumuman, atau tentang khotbah yang buruk, mungkin yang menjadi masalah adalah dirinya sendiri.

Sedikit atau bahkan tidak memperoleh berkat sama sekali dari suatu kebaktian, adalah sama seperti kita memasuki sebuah pertokoan raksasa tetapi keluar hanya dengan membawa barang seharga 100 rupiah. Sebenarnya di sana tersedia ratusan barang berharga ribuan rupiah, tetapi penjaga toko hanya membawakan apa yang ia inginkan.

Jika kita mengikuti kebaktian dengan harapan untuk memperoleh berkat, kita telah mengambil langkah pertama untuk menerima berkat. Jika kita mengikuti kebaktian dengan kerinduan yang murni untuk mendengarkan Allah berbicara kepada kita melalui Alkitab, kita pasti akan pulang dengan hati yang dipuaskan. Namun sebaliknya, kita akan meninggalkan gereja tanpa membawa berkat apa-apa bila kita datang semata-mata karena kewajiban, hadir dengan sikap yang kritis atau memiliki rasa dengki terhadap pendeta atau sesama jemaat lainnya.

Saat Anda pergi ke gereja untuk berbakti pada hari Minggu mendatang, pergilah dengan semangat sebagaimana pemazmur, yang menyatakan, "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN'" (Mazmur 122:1). Pujian-pujian, persekutuan dengan sesama orang percaya, dan firman Allah yang disampaikan akan memberkati jiwa kita! -- HGB

UNTUK DAPAT DIPUASKAN SECARA ROHANI, PERGILAH KE GEREJA DENGAN KEINGINAN YANG BAIK, BUKAN SIKAP YANG BURUK 

* Take from Renungan Harian