Sabtu, 01 Agustus 2026

LISTRIK YANG PADAM

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7)

Kesunyian membangunkan saya pada pukul 5.30 di suatu pagi. Tidak ada deru sepoi-sepoi baling-baling kipas angin, tidak ada dengungan lemari es yang menenangkan di lantai bawah. Sekilas pandangan ke luar jendela mempertegas bahwa listrik yang padam telah membuat semua orang di lingkungan kami tidak nyaman tepat ketika mereka bersiap-siap untuk berangkat bekerja.

Saya sadar jam alarm tidak akan berbunyi, dan tidak akan ada berita televisi. Mesin pembuat kopi, pemanggang roti, pengering rambut, dan banyak telepon tidak dapat digunakan. Memulai hari tanpa listrik sebenarnya hanya sekadar ketidaknyamanan dan gangguan rutinitas, tetapi jadi terasa bagaikan bencana.

Kemudian saya sadar betapa seringnya saya terburu-buru memasuki hari tanpa kekuatan rohani. Saya menggunakan lebih banyak waktu untuk membaca surat kabar daripada Alkitab. Mendengarkan Roh digantikan dengan mendengarkan siaran radio. Saya menghadapi orang-orang dan situasi sulit dengan roh ketakutan, bukannya dalam roh “kekuatan, kasih, dan ketertiban” yang telah Allah berikan bagi kita (2 Timotius 1:7). Pastilah saya kelihatan tidak rapi secara rohani, seperti orang yang berpakaian dan berdandan dalam gelap.

Peristiwa listrik yang padam itu hanya sebentar, tetapi pelajarannya tetap tinggal, yaitu mengingatkan saya akan kebutuhan saya untuk memulai hari dengan mencari Tuhan. Kekuatan-Nya bukan demi kesuksesan atau kesejahteraan saya, melainkan supaya saya dapat memuliakan Kristus dengan tinggal di dalam kuasa-Nya --David McCasland


ROH MANUSIA AKAN MEMBUAT KITA GAGAL APABILA ROH KUDUS TIDAK MENGISI KITA

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 31 Juli 2026

MASALAH RASA

Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani (2 Korintus 7:1)


Dua ekor kecoa memutuskan untuk mengunjungi rumah makan favorit mereka. Ketika kecoa yang lebih besar sedang menikmati makanannya, kecoa yang lebih kecil berkata, “Kamu pasti tidak percaya mendengar cerita tentang rumah yang baru saja aku tinggalkan. Rumah itu tak bernoda sedikit pun. Wanita pemiliknya pastilah seorang yang suka bersih-bersih. Segala sesuatunya begitu bersih, baik bak cuci, meja pajangan, maupun lantainya. Kamu tidak akan bisa menemukan remah-remah di mana pun juga.” Kecoa satunya berhenti mengunyah, memandang temannya dengan jengkel, dan berkata, “Haruskah kamu berbicara seperti itu ketika aku sedang makan?”

Cerita tentang kecoa ini dapat diterapkan kepada manusia juga. Surat Paulus yang kedua kepada jemaat Korintus menunjukkan bahwa para pembaca surat-surat Paulus harus belajar banyak tentang hidup suci. Mereka perlu mengembangkan sifat lapar dan haus akan kebenaran yang lebih kuat. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta mereka untuk berbalik dari segala macam kekotoran (7:1). Ia mengingatkan mereka bahwa Allah ingin agar umat-Nya memisahkan diri mereka dari sampah rohani.

Jika “kebersihan” hati tampaknya tidak menarik, barangkali kita telah cukup puas dengan “remah-remah” keinginan duniawi kita. Karena itu, kita harus belajar untuk mengecap bagaimana rasanya kesalehan itu.

Bapa, ampunilah kami karena telah memenuhi keinginan daging kami yang penuh dosa ini. Sebaliknya, bantulah kami untuk menanamkan selera yang ingin dihasilkan Roh Kudus-Mu di dalam diri kami --Mart De Haan

DOSA TIDAK BISA TUMBUH SUBUR DI TEMPAT KESALEHAN DITANAMKAN 

* Take from Renungan Harian