Minggu, 30 Agustus 2026

BERJALAN BERSAMA ALLAH

Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal (Ulangan 33:27)



Etty Hillesum adalah seorang wanita muda Yahudi yang hidup di Amsterdam pada tahun 1942. Waktu itu, para tentara Nazi melakukan penangkapan terhadap orang-orang Yahudi dan memasukkan mereka ke kamp konsentrasi. Selama menanti saat penangkapan yang tak terelakkan itu terhadap dirinya, dengan rasa takut terhadap ketidakpastian akan masa depan, ia pun mulai membaca Alkitab--dan ia bertemu dengan Yesus. Selanjutnya ia mendapatkan keberanian dan keyakinan yang luar biasa saat ia meletakkan tangannya ke dalam tangan Allah.

Etty menulis dalam buku hariannya: "Kebinasaan menghampiri kami dari segala penjuru: Kami terkepun dan tak seorang pun dapat menyelamatkan kami. Namun saya tak merasa berada dalam cengkeraman siapa pun. Saya merasa aman dalam tangan Allah. Saat duduk di meja tua kesayangan di rumah, maupun saat berada di tempat kerja paksa di bawah pengawasan penjaga, saya tetap merasa aman dalam tangan Allah. Bila Anda sudah memulai perjalanan dengan Allah, yang harus Anda lakukan hanyalah terus berjalan bersama-Nya sehingga kehidupan ini menjadi suatu perjalanan panjang bersama-Nya."

Etty adalah gambaran hidup yang menguatkan pernyataan pemazmur: "Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.... Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (56:4-5). Suatu tantangan besar bagi setiap orang yang sedang dilanda ketakutan!

Pada saat kita merasakan kekuatan lengan-lengan Allah yang kekal menopang kita (Ulangan 33:27); kita akan dapat menjalani hidup ini dengan penuh keyakinan sambil memegang tangan Sahabat kita yang tak tampak itu --VCG


ANDA DAPAT MEMILIKI KEPASTIAN AKAN HARI ESOK
JIKA ANDA BERJALAN BERSAMA ALLAH HARI INI


* Take from Renungan Harian

Sabtu, 29 Agustus 2026

PERJALANAN

Tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mazmur 139:10)


Istri saya dan saya gemar mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi. Pada musim gugur lalu, kami menyusuri jalan-jalan pedesaan di sebelah utara Wisconsin. Warna-warna khas musim gugur yang tampak di setiap pucuk pepohonan menghadirkan pemandangan yang sangat mengesankan. Pohon-pohon maple merah dan oranye, cemara hijau, serta hutan kayu berwarna kuning melukiskan pemandangan yang menakjubkan. Karena tak dapat menduga apa yang akan kami jumpai dalam perjalanan selanjutnya, perjalanan ini menjadi perjalanan yang tak terlupakan.

Salah satu sisi yang mengasyikkan bila kita berjalan bersama Kristus ialah bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Terkadang kita tidak menyukai berbagai liku-liku yang akan kita jumpai dalam perjalanan itu, tetapi Allah memberikan yang terbaik dan menuntun kita menuju kehendak-Nya.

Rasul Paulus dan rekan-rekannya sedang melanjutkan perjalanan untuk mewartakan Injil melintasi Asia kecil ketika Allah mengubah rencana mereka (Kisah Para Rasul 16:6-7). Mereka pergi ke Troas, bukannya ke Bitinia. Malam itu Paulus mendapat penglihatan tentang seseorang yang berseru kepadanya, "Menyeberanglah kemari [Makedonia] dan tolonglah kami" (ayat 9). Maka rencana Paulus pun berubah begitu Allah menyatakan rencana-Nya melalui penglihatan itu.

Saat kita berdoa dengan sungguh dan bertanya tentang kehendak-Nya, kita dapat meyakini bahwa Dia akan menuntun kita tiap hari lewat firman dan oleh Roh-Nya di dalam kita (Mazmur 139:10). Karena Dia baik (25:8), kita dapat mempercayakan liku-liku perjalanan hidup yang kita sebut "kehidupan kristiani" kepada-Nya --DCE


ANDA TIDAK AKAN KEHILANGAN JALAN
JIKA ANDA MENGIKUT DIA YANG ADALAH JALAN


* Take from Renungan Harian