Selasa, 03 November 2026

SELALU SIAP MENDENGAR

Dengarkanlah ini, hai bangsa yang tolol ... yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar! (Yeremia 5:21)


Salah seorang anak laki-laki saya sangat mahir menutup telinganya terhadap hal yang tidak ingin ia dengar. Di gereja, pikirannya mengembara ke mana-mana. Ia bisa memberitahu Anda berapa jumlah lajur di langit-langit dan berapa banyak kursi di tempat paduan suara. Berulang kali saya mendengar omelan istri saya kepadanya, "Kau mendengarkan Ibu, kan?"

Kita juga sering bersalah karena menutup telinga terhadap hal yang tidak ingin kita dengar, sekalipun pesan itu berasal dari Allah. Dalam bukunya Christian Reflections (Refleksi Orang Kristiani), C. S. Lewis mengatakan bahwa seseorang yang hendak mengabaikan suara Allah akan mengikuti nasihat ini: "Hindari ketenangan, kesunyian, dan setiap lintasan pikiran yang mengembalikan kita pada arah dan tujuan kita. Pusatkan perhatian pada uang, seks, status, kesehatan, dan (terutama) keluhan Anda. Terus hidupkan radio. Hiduplah dalam keramaian."

Ketika kita melakukan kesalahan, saat itulah kita benar-benar perlu mendengarkan suara Allah. Namun, sering kali kita begitu keras kepala sehingga memutuskan untuk tidak mendengarkan-Nya. Nabi Yeremia mengecam orang-orang seperti ini, katanya, "Hai bangsa yang tolol ... yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar ... bangsa ini mempunyai hati yang selalu melawan dan memberontak" (Yeremia 5:21, 23).

Daripada menutup telinga terhadap suara Allah, bacalah Alkitab dan berdoalah kepada-Nya secara teratur. Luangkan waktu sejenak untuk merenungkan Allah beserta berkat-Nya yang melimpah. Itulah cara mendengarkan yang baik! --Dave Egner


ALLAH BERBICARA KEPADA MEREKA YANG MELUANGKAN WAKTU UNTUK MENDENGARKAN

* Take from Renungan Harian 

Senin, 02 November 2026

DIKECEWAKAN SAHABAT

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka (Yohanes 17:20)


Dengan para sahabat seperti yang dimilikinya, Ayub tak lagi membutuhkan musuh. Ketiga sahabatnya yang seharusnya menghibur, sama sekali tidak meringankan penderitaan Ayub. Bukannya bersimpati, mereka malah melemparkan tuduhan yang memperberat penderitaannya.

Namun, Ayub berhasil keluar dari penderitaan dan kebingungan itu dengan penuh kemenangan. Satu langkah penting yang dilakukannya untuk mencapai kemenangan adalah mendoakan para sahabat yang telah mengkritik dan menyalahkannya. Allah mendengarkan doanya. Ia pun bahagia melihat sahabat-sahabatnya kembali kepada Allah untuk memperoleh pengampunan (Ayub 42:7-10).

Yesus juga mendoakan sahabat-sahabat-Nya (Yohanes 17:6-19), meski mereka sering mengecewakan. Sementara menjalani penderitaan yang dalam menjelang penyaliban yang semakin dekat, Yesus berdoa bagi Petrus meski Dia tahu bahwa tak lama lagi Petrus akan menyangkal-Nya (Lukas 22:31-34).

Yesus pun berdoa bagi Anda dan saya (Yohanes 17:20-26). Pelayanan doa-Nya, yang dimulai sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, terus berlanjut sampai hari ini. Meski kadang-kadang kita bersikap seperti musuh-Nya, dan bukan sebagai sahabat-Nya, Yesus tetap membela kita di hadapan Bapa-Nya (Roma 8:34; Ibrani 7:25).

Dalam mengikuti teladan Kristus, kita harus mendoakan para sahabat dan kenalan kita, bahkan ketika mereka menyakiti hati kita. Adakah seseorang yang dapat Anda doakan hari ini? -- Haddon Robinson


AGAR ANDA DAPAT MENGASIHI SESEORANG LEBIH DALAM
LEBIH SERINGLAH BERDOA UNTUK DIA

* Take from Renungan Harian