Senin, 13 April 2026

MEMINJAMI TUHAN

Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu (Amsal 19:17)


Seorang ayah memberikan uang 50 sen kepada putranya yang masih kecil dan berpesan bahwa ia boleh memakai uang itu sesukanya. Di kemudian hari ketika sang ayah menanyakan tentang uang itu, si anak menjawab bahwa ia telah meminjamkannya kepada seseorang.

"Siapa yang kaupinjami?" tanya ayahnya. Anaknya menjawab, "Aku memberikannya kepada seorang pria miskin di jalan yang kelihatannya lapar."

"Oh, sungguh bodoh! Kamu takkan pernah mendapatkan uang itu kembali," kata ayahnya. "Tetapi, Yah, Alkitab mengatakan bahwa orang yang memberi kepada orang miskin berarti memiutangi Tuhan."

Sang ayah sangat senang mendengar jawaban anaknya sehingga ia memberinya 50 sen lagi. "Lihat, Ayah," ujar sang anak. "Tadi sudah kukatakan bahwa aku akan mendapatkan uang itu kembali, hanya saja aku tidak menduga itu terjadi begitu cepat!"

Pernahkah Tuhan meminjam sesuatu dari Anda? Pernahkah Anda sadar bahwa dalam kebutuhan orang lain terdapat permintaan langsung dari surga terhadap sedikit dari yang Anda miliki? Alkitab menegur sikap mengabaikan orang miskin, yang sering kita lakukan dengan melontarkan perkataan saleh tanpa berbuat apa-apa untuk mereka (Yakobus 2:14-17). Bahkan Galatia 6:10 meminta kita supaya "berbuat baik kepada semua orang".

Tak ada janji bahwa kita akan segera menerima balasan. Namun, saat Yesus mengajar para pengikut-Nya tentang kedatangan-Nya kembali, Dia mengatakan kita akan diberi upah karena memberi diri kepada orang lain dalam nama-Nya (Matius 25:34-46) --HGB


ANDA DAPAT MEMBERI TANPA MENGASIHI NAMUN ANDA TIDAK DAPAT MENGASIHI TANPA MEMBERI

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 12 April 2026

MAUT TAKKAN MEMISAHKAN KITA

Jawab Yesus kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati"
(Yohanes 11:25)



Meskipun para penulis dan filsuf telah berusaha sebaik mungkin untuk menyusun berbagai argumen penting perihal kehidupan setelah kematian, mereka tetap belum berhasil memberikan penghiburan bagi hati yang terluka, resah, dan dipenuhi pertanyaan.

Sebaliknya, Yesus selalu dapat memuaskan kita. Dia tidak menyodorkan beragam argumen filosofis. Dia tidak berusaha membuktikan bahwa kekekalan itu masuk akal; Dia benar-benar menyatakan hal itu! Dia mengatakan hal yang diketahui-Nya, dan menjawab dengan kuasa surgawi, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25). Kebangkitan ini mempunyai dua aspek. Tubuh orang percaya akan dibangkitkan, dan roh mereka akan hidup di surga.

Apa artinya hal ini bagi kaum kristiani yang berduka karena kematian orang-orang terkasih? Kematian tidak memutuskan tali kasih kita bagi mereka, karena kasih itu ada pada roh, bukan pada tubuh. Renungkan saja, ketika orang-orang yang kita kasihi harus melakukan suatu perjalanan yang panjang, pikiran mereka dapat melintasi jarak yang jauh sehingga seolah-olah jarak itu hanya tinggal sejengkal, dan kasih mereka menyelimuti kita seolah-olah mereka di sisi kita. Begitu pula yang terjadi dengan orang-orang terkasih yang telah mendahului kita.

Apakah saat ini Anda sedang berdukacita karena seseorang telah dipanggil ke surga? Yesus berjanji bahwa kita akan dipersatukan kembali pada suatu hari kelak ketika Allah mengembalikan orang-orang berharga yang kita kasihi --MRD


KRISTUS TELAH MENGGANTIKAN PINTU MAUT DENGAN PINTU GERBANG KEHIDUPAN YANG BERCAHAYA

* Take from Renungan Harian