Rabu, 08 April 2026

KENCAN YANG TAK TERELAKKAN

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27)


Suami Sarah Winchester memperoleh banyak keuntungan dari usahanya membuat dan menjual senapan. Setelah suaminya meninggal karena penyakit influensa pada tahun 1918, ia pindah ke San Jose, California.

Dukacita atas kematian suaminya dan ketertarikannya yang sebenarnya telah lama pada dunia okultisme, membuat Sarah mencari dukun untuk menghubungi suaminya yang telah mati. Lalu dukun tersebut berkata kepada Sarah, "Selama Anda tetap terus membangun rumah Anda tanpa berhenti, Anda tidak akan pernah menemui ajalmu."

Sarah percaya kepada dukun tersebut, karena itu ia lalu membeli sebuah rumah besar yang memiliki 17 kamar yang belum selesai dibangun dan mulai memperluasnya. Proyek ini berlanjut sampai ia meninggal pada usia 85 tahun, Biayanya mencapai 10,5 miliar rupiah pada saat upah pekerja masih Rp 1050 perhari. Rumah tersebut memiliki 150 kamar, 13 kamar mandi, 2000 pintu, 47 tungku perapian dan 10.000 jendela. Dan Sarah meninggalkan banyak bahan bangunan sehingga para pekerja dapat melanjutkan pembangunan rumah tersebut selama kurun waktu 80 tahun kemudian.

Saat ini, rumah tersebut telah berubah fungsinya menjadi objek wisata. Bangunan itu menjadi saksi bisu atas perbudakan terhadap rasa takut yang menghinggapi berjuta-juta manusia di dunia ini dalam menghadapi kematian (Ibrani 2:15).

Karena Yesus telah mati bagi kita dan bangkit dari kematianNya, ketakutan kita atas kematian telah diubah menjadi sebuah pengharapan. Hal ini terjadi ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi kita. Ini adalah jalan yang terbaik untuk menghadapi pertemuan yang tak terelakkan dengan kematian -- VCG

BILA SAAT KEMATIAN TIBA INGATLAH SEMUA HAL YANG TELAH ANDA PERBUAT

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 07 April 2026

PERJALANAN PANJANG

Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya (Mazmur 119:35)


Saya mengamati peta kota New York, dan saya yakin mampu membacanya. Hotel saya berada di sebelah barat Manhattan. Jadi saya harus berjalan ke timur kira-kira 10 kilometer. Ah, jalan-jalan yang menyenangkan di hari Sabtu. Tentu saja saya bisa berjalan-jalan dengan naik taksi, bus, atau kereta bawah tanah. Namun untuk dapat benar-benar menikmati pemandangan kota yang dijuluki Big Apple ini, saya pikir paling baik jika berjalan kaki.

Akhirnya saya berjalan kaki. Saya menelusuri Broadway menuju Central Park. Melewati ratusan beranda pertokoan. Melintasi daerah pecinan. Mendengar berbagai suara. Menghirup berbagai aroma. Mengamati orang-orangnya. Memandangi arus lalu lintasnya. Mengunjungi toko-tokonya. Saya benar-benar merasa menjadi bagian dari kota New York. Walaupun menyita waktu dan tenaga, tetapi hasilnya sangat memuaskan.

Tatkala menjalani kehidupan kristiani, kita pun menghadapi pilihan yang sama. Kita dapat memilih jalan yang mudah. Misalnya dengan menunggu orang lain menjelaskan tentang hal-hal rohani, mengambil jalan pintas dengan mengabaikan kehidupan doa, atau membaca sekilas sebuah bagian dari Kitab Suci dan menyebutnya "saat teduh." Sebaliknya, kita dapat mengerahkan usaha dan meluangkan waktu untuk mendekat kepada Allah.

Mengapa Anda tidak memilih melakukan perjalanan panjang bersama Allah hari ini? Tetapkan hati untuk "mencari Dia dengan segenap hati" (Mazmur 119:2), mempelajari firman-Nya, dan menaati apa yang Dia perintahkan. Perjalanan Anda akan sangat menyenangkan! -JDB


UNTUK MENIKMATI PERJALANAN BERSAMA ALLAH
TETAPLAH MELANGKAH SESUAI FIRMAN-NYA


* Take from Renungan Singaraja