Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27)
Suami Sarah Winchester memperoleh banyak keuntungan dari usahanya membuat dan menjual senapan. Setelah suaminya meninggal karena penyakit influensa pada tahun 1918, ia pindah ke San Jose, California.
Dukacita atas kematian suaminya dan ketertarikannya yang sebenarnya telah lama pada dunia okultisme, membuat Sarah mencari dukun untuk menghubungi suaminya yang telah mati. Lalu dukun tersebut berkata kepada Sarah, "Selama Anda tetap terus membangun rumah Anda tanpa berhenti, Anda tidak akan pernah menemui ajalmu."
Sarah percaya kepada dukun tersebut, karena itu ia lalu membeli sebuah rumah besar yang memiliki 17 kamar yang belum selesai dibangun dan mulai memperluasnya. Proyek ini berlanjut sampai ia meninggal pada usia 85 tahun, Biayanya mencapai 10,5 miliar rupiah pada saat upah pekerja masih Rp 1050 perhari. Rumah tersebut memiliki 150 kamar, 13 kamar mandi, 2000 pintu, 47 tungku perapian dan 10.000 jendela. Dan Sarah meninggalkan banyak bahan bangunan sehingga para pekerja dapat melanjutkan pembangunan rumah tersebut selama kurun waktu 80 tahun kemudian.
Saat ini, rumah tersebut telah berubah fungsinya menjadi objek wisata. Bangunan itu menjadi saksi bisu atas perbudakan terhadap rasa takut yang menghinggapi berjuta-juta manusia di dunia ini dalam menghadapi kematian (Ibrani 2:15).
Karena Yesus telah mati bagi kita dan bangkit dari kematianNya, ketakutan kita atas kematian telah diubah menjadi sebuah pengharapan. Hal ini terjadi ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi kita. Ini adalah jalan yang terbaik untuk menghadapi pertemuan yang tak terelakkan dengan kematian -- VCG
BILA SAAT KEMATIAN TIBA INGATLAH SEMUA HAL YANG TELAH ANDA PERBUAT
* Take from Renungan Harian