Minggu, 16 Agustus 2026

JANGAN LUPA

Aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima (2Petrus 1:12)

Bagaimana bisa terjadi orang-orang yang mengalami peristiwa yang sama menyimpan ingatan yang sama sekali berbeda terhadap kejadian tersebut? Sebuah artikel pada Associated Press menyimpulkan hasil dari lusinan studi tentang ingatan manusia: Ingatan manusia tidak dapat merekam kenangan yang tak terhapuskan. Ingatan manusia itu rapuh, tidak lengkap, lunak, dan sangat mudah dipengaruhi oleh masukan orang lain.

Ingatan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Dalam beberapa kasus, orang-orang akan sedikit mengubah versi mereka tentang sebuah kejadian melalui setiap penceritaan ulang, sama seperti seorang nelayan yang melebih-lebihkan cerita tentang ikan yang lolos. Namun, sebuah catatan yang objektif dan sesuai fakta dapat memperbaiki ingatan yang menyimpang, yang dapat kita terima.

Petrus menuliskan dua surat untuk memberi kita catatan yang akurat dan tahan lama tentang kebenaran Allah. Aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. ... Aku akan berusaha, supaya ... kamu selalu mengingat semuanya itu (2Petrus 1:12,15).

Ingatan kita yang rapuh memerlukan penyegaran yang terus-menerus melalui catatan firman Allah, yaitu Alkitab, yang tidak pernah berubah. Lewat alat pengingat yang dapat diandalkan ini, kita dapat menjaga agar pikiran kita tidak diam-diam terhanyut menuju perspektif hidup yang manusiawi belaka.

Tuhan menggunakan Alkitab untuk membangkitkan pikiran kita agar kita tidak melupakan kebenaran-Nya DCM


CARA TERBAIK UNTUK MEMPERBARUI PIKIRAN KITA
ADALAH DENGAN MEMBACA FIRMAN ALLAH SETIAP HARI

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 15 Agustus 2026

BATU DI DASAR JURANG

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71)


Saat itu saya berusia awal tiga puluhan. Saya menjadi seorang istri dan ibu yang penuh pengabdian serta seorang pekerja kristiani mendampingi suami saya. Namun, saya menemukan diri saya berada di dalam sebuah perjalanan yang pasti tak mau dijalani siapa punperjalanan menurun. Saya menuju suatu kehancuran yang dihindari oleh sebagian besar dari kita, yaitu hancurnya sikap terus menerus mengandalkan pada diri sendiri.

Tetapi akhirnya saya mengalami kelegaan yang aneh setelah jatuh ke atas batu di dasar jurang. Di sana saya menemukan sesuatu yang tak terduga. Batu tempat saya terjatuh tidak lain adalah Kristus sendiri. Dengan berserah hanya kepada-Nya, saya berada pada posisi untuk membangun kembali sisa hidup saya, kali ini sebagai seseorang yang bergantung pada Allah, bukan sebagai seseorang yang bergantung pada diri sendiri. Pengalaman di dasar jurang itu menjadi sebuah titik perubahan dan salah satu perkembangan rohani yang paling penting dalam hidup saya.

Banyak orang merasa sama sekali tidak rohani ketika jatuh ke dasar jurang. Penderitaan mereka kerap kali diperkuat oleh orang-orang kristiani yang berpandangan sangat sempit terhadap apa yang sedang dialami oleh sang penderita, dan mengapa hal itu terjadi. Namun, Bapa surgawi kita gembira akan hasil yang ingin Dia capai dari proses yang menyakitkan itu.

Seseorang yang mengetahui rahasia hidup yang bergantung kepada Allah dapat berkata demikian, Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71) JEY


SAAT SEORANG KRISTIANI JATUH KE BATU DI DASAR JURANG
IA AKAN MENEMUKAN BAHWA KRISTUS ADALAH DASAR YANG TEGUH

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 14 Agustus 2026

BILA KASIH DIBALAS BENCI

[Yesus berkata], Jikalau dunia membenci kamu, ingatkah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu (Yohanes 15:18)


Jika ada satu hal yang menjadi ciri khas orang-orang yang percaya kepada Yesus, maka hal itu adalah kasih. Kata kasih muncul di dalam Kitab Suci lebih dari 500 kali. Inti dari Injil adalah kasih, sebagaimana yang kita lihat di dalam Yohanes 3:16. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini .... Surat 1 Yohanes 3:16 menjelaskan lebih lanjut: Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.

Orang kristiani harus melayani satu sama lain di dalam kasih (Galatia 5:13), mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri (Galatia 5:14), hidup di dalam kasih (Efesus 5:2), dan mengasihi dengan perbuatan serta di dalam kebenaran (1Yohanes 3:18).

Jadi, jika Yesus dan para pengikut-Nya adalah kasih, mengapa sebagian orang senang membenci kita? Dan berdasarkan sebuah perkiraan, mengapa ada 200 juta orang percaya yang dianiaya di dunia saat ini?

Yesus memberitahukan alasannya kepada kita. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, Barang siapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak (Yohanes 3:20). Yesuslah Terang itu. Saat Dia berjalan di muka bumi ini, orang-orang membenci-Nya karena Dia menyingkapkan kegelapan dosa mereka. Dan kita sekarang adalah terang-Nya di dunia ini (Matius 5:14); sehingga, dunia juga akan membenci kita (Yohanes 15:19).

Tugas kita adalah menjadi saluran kasih dan terang Allah, sekalipun kita dibenci sebagai balasannya JDB


KASIH DIBALAS DENGAN KASIH ADALAH HAL YANG BIASA
NAMUN BENCI DIBALAS DENGAN KASIH ADALAH HAL YANG LUAR BIASA

* Take from Rsnungan Harian

Kamis, 13 Agustus 2026

MENGHADAPI PENUDUH

Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku mendoakan mereka (Mazmur 109:4)

Ketika masih kuliah, teman sekamar saya pernah menuduh saya mencuri uangnya sebanyak duaratus ribu rupiah lebih. Ia tidak bertanya secara langsung kepada saya, tetapi menyebarkan berita palsu ini di antara teman-temannya dan melaporkannya kepada dekan. Peristiwa ini kemudian diselidiki dengan seksama sebagaimana yang seharusnya terjadi.

Pada saat itu saya merasa tidak berdaya. Yang dapat saya lakukan hanyalah berkata, "Saya tidak melakukannya." Namun kata-kata itu terdengar seperti gema sia-sia bila diperhadapkan dengan tuduhan dan desas-desus tersebut.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Sebagian dari diri saya ingin menyangkal cerita palsu teman saya itu. Sebagian lainnya ingin berusaha menghubungi semua orang yang telah mendengar cerita tersebut dan mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak bersalah. Di kemudian hari barulah ia mengakui bahwa memang ia sengaja mencari kambing hitam agar ia dapat memperoleh tambahan uang dari orangtuanya untuk membeli tape recorder.

Raja Daud memiliki pengalaman yang sama. Seseorang telah melancarkan tuduhan yang tidak benar terhadapnya, mengancam posisinya dan membuatnya menderita (Mazmur 109:2-4).

Lalu, apa yang diperbuat oleh Daud? Apakah ia menggunakan kekuasaannya untuk menghukum mati orang yang menuduhnya? Tidak, ia berdoa dan meminta Tuhan untuk campur tangan, menghukum pemfitnah, dan meluruskan perkaranya (Mazmur 109:4-29).

Ketika seseorang menyebarkan desas-desus yang tidak benar mengenai diri kita, mungkin kita ingin membalasnya. Alangkah baiknya bila kita menjawab orang-orang yang menuduh kita dengan kuasa doa -- DCE


UNTUK MENGHENTIKAN DESAS-DESUS NEGATIF TENTANG DIRI KITA MULAILAH BERDOA

* Take from Renungan Harian

Rabu, 12 Agustus 2026

DALAM NAMANYA

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40)


Menurut sebuah kisah, suatu hari Fransiskus dari Assisi (1182-1226) sedang menunggang kuda tatkala ia berjumpa dengan seorang penderita kusta yang sedang mengemis di tepi jalan yang akan dilewatinya. Ia kemudian turun dari kudanya, memberikan sejumlah uang dan mencium pipi orang tersebut. Ketika Franciskus melanjutkan perjalanan, ia menoleh ke belakang dan berpikir sesaat bahwa ia telah melihat Kristus sendiri berdiri di tempat pengemis itu.

Cerita ini merupakan ilustrasi yang sangat mengena mengenai kebenaran Alkitab: Kita melayani Tuhan bila kita melayani orang yang kekurangan. Yesus menyatakan hal ini dengan jelas tatkala Dia berkata bahwa setiap kebaikan yang dilakukan kepada mereka yang lapar, haus, tidak memiliki tempat tinggal, sakit, miskin, dan dipenjara, akan dinilai sebagai tindakan yang dilakukan langsung kepadaNya (Matius 25:40,45). Dia mengidentifikasikan diri dengan sangat dekat pada orang-orang yang terhimpit dalam hidup sehingga bila kita melayani mereka dalam namaNya, berarti kita telah melayani Dia.

Kita cenderung membatasi pelayanan kita kepada Kristus dengan berpikir bahwa hamba Tuhan dan utusan Injil adalah orang yang paling tepat untuk melakukan hal itu. Namun ketika kita mengulurkan pertolongan dalam nama Yesus Kristus melalui tindakan kita, Yesus sendiri hadir di sana sekalipun kita tidak dapat melihatNya. Dan suatu saat, ketika kita berdiri di hadapanNya kelak, Dia akan mengingat kembali perbuatan kasih kita yang dilakukan dalam namaNya dan Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu!"

Marilah kita terus melayani Dia dengan cara melayani orang lain yang membutuhkan -- DJD

KITA MELAYANI KRISTUS TATKALA KITA MELAYANI ORANG-ORANG YANG MEMBUTUHKAN

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 11 Agustus 2026

INTI AJARAN

Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)


Seorang ayah yang berpengalaman berkata, "Sebelum menikah, saya memiliki enam teori tentang membesarkan anak; kini saya mempunyai enam anak, tanpa teori!"

Bayangan tugas menjadi orangtua terkadang tampak berlebihan. Untuk mencari petunjuk, kita pergi ke toko buku yang penuh dengan buku-buku berseri tentang membesarkan anak yang ditulis oleh para konselor rohani maupun penasihat sekuler. Juga saat membuka Alkitab untuk mencari petunjuk tertentu, kita akan menemukan ayat-ayat yang menunjukkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Kita sering membaca Efesus 6:4 yang berbunyi, "Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."

Kita mungkin mengharapkan lebih banyak perintah dari apa yang ditunjukkan dalam ayat ini, tetapi sebenarnya Allah telah memasukkan lebih banyak perintah di dalamnya daripada yang kita sadari. Jika kita "meresapkan" ayat tersebut ke dalam pikiran dan memohon agar Allah menolong kita untuk memahami bagaimana melaksanakannya, kita akan melihatnya sebagai sebungkus larutan kental yang diencerkan hingga menjadi 2000 liter minuman.

Kapan terakhir kali kita merenungkan tindakan kita yang memancing amarah anak-anak? Bagaimana kata-kata dan nada suara kita membuat mereka kecewa? Hal kecil apa yang dapat kita lakukan hari ini untuk mendorong pertumbuhan rohani mereka?

Dalam Efesus 6:4 terkandung inti dari rencana Allah tentang bagaimana menjadi orangtua. Karena itu, tak ada salahnya bila kita mulai mempraktekkannya sejak sekarang --DCM


ORANGTUA YANG SALEH MENJADI PENUNJUK JALAN YANG TERBAIK BAGI ANAK UNTUK DATANG KEPADA ALLAH

* Take from Renungan Harian

Senin, 10 Agustus 2026

KEINGINAN HATI

Keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan (Roma 10:1)


Seorang pemimpin Yahudi diundang untuk berbicara pada pertemuan umat Kristen di Amerika Serikat yang sedang memperingati ulang tahun Israel yang ke-50. Sang rabi melihat umat Kristen sebagai sahabat kaum Yahudi. Katanya, "Kami aman di Amerika meski kami bukan orang Kristen. Namun kami aman justru karena kekristenan."

Kalimat ini merupakan bantahan dari tuduhan bahwa orang Kristen anti terhadap bangsa Yahudi dan bahkan bertanggung jawab atas kematian 6 juta orang Yahudi selama Perang Dunia II. Memang benar bahwa banyak pemimpin Kristen di Jerman yang turut bersalah dalam hal anti-Semit [anti Yahudi] dan menjadi pengecut, tetapi mereka bukanlah orang-orang yang mempengaruhi Hitler. Hitler sangat terpengaruh dengan tulisan-tulisan Nietzsche, seorang filosof ateis yang fanatik, yang membenci orang Kristen dan mendukung pembantaian terhadap kaum Yahudi.

Umat Kristen yang percaya pada Alkitab seharusnya mencerminkan sikap Rasul Paulus, yang sangat mengasihi sahabat-sahabat Yahudinya (Roma 10:1). Ia rindu supaya mereka mengetahui, seperti dirinya, bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dijanjikan, Juruselamat seluruh umat dari segala bangsa. Paulus bahkan berkata bahwa ia rela dikutuk Allah jika memang itu dapat menjadi berkat dan keselamatan bagi bangsa Yahudi (Roma 9:3).

Adakah hati Anda pedih melihat keturunan Abraham? Mereka memiliki warisan yang berlimpah dari Perjanjian Lama, tetapi mereka tetap membutuhkan Yesus Kristus. Berdoalah bagi mereka saat ini --HVL


SETIAP ORANG, TERMASUK ORANG-ORANG PILIHAN ALLAH PERLU MEMILIH YESUS

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 09 Agustus 2026

DIPULIHKAN UNTUK DIKASIHI

Kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal (Titus 3:7)


Isidore Zimmerman dipenjara selama 25 tahun atas tindak kejahatan yang tidak dilakukannya. Karena sebuah kesaksian palsu, ia dituduh membunuh seorang polisi New York. Pada akhirnya ia terbukti tidak bersalah, sehingga pada tahun 1962 ia dibebaskan. Namun apakah kemudian ia dapat hidup bahagia? Tidak.

Meskipun terbukti tidak bersalah, Zimmerman tak dapat menghindari fakta bahwa ia adalah mantan narapidana. Beberapa pekerjaan yang berhasil ia peroleh dengan cepat berakhir ketika majikannya tahu bahwa ia pernah dipenjara. Masa lalunya memang telah dibersihkan, tetapi masyarakat tidak dapat menerima dirinya sepenuhnya.

Batapa jauh perbedaan yang kita alami manakala kita mempercayai Yesus Kristus sebagai Juruselamat! Kita adalah orang-orang yang bersalah. Namun karena kesucian hidup Yesus Kristus dan karya penebusan-Nya, kita tidak hanya dibenarkan, tetapi juga dipulihkan sepenuhnya sehingga menjadi kesayangan Bapa surgawi. Dia memperlakukan kita seolah-olah kita tidak pernah melanggar hukum-Nya. Dia memperdamaikan diri-Nya dengan kita dan menjadikan kita anggota keluarga-Nya. Allah menerima kita secara total.

Sungguh menakjubkan bahwa melalui iman, dan juga kematian Yesus Kristus, para pendosa yang bersalah dapat dibenarkan oleh Allah. Yang lebih menakjubkan lagi adalah kenyataan bahwa Dia akan memulihkan kita dan menginginkan kita bekerja bagi-Nya.

Itulah makna keselamatan yang sesungguhnya -DJD


TATKALA ALLAH MENGAMPUNI DIA MEMBUANG DOSA DAN MEMULIHKAN JIWA 

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 08 Agustus 2026

AIR MATA DI SURGA

Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis
(Wahyu 21:4)



Pada tahun 1991, seorang gitaris terkenal asal Inggris, Eric Clapton, sangat berduka ketika putranya Conor yang berusia empat tahun tewas karena terjatuh dari jendela apartemennya. Sebagai sarana untuk menyalurkan dukacitanya, Clapton menulis syair lagu dengan nada kesedihan yang mendalam: "Tears in Heaven". Tampaknya setiap nada dalam lagu itu mengandung kepedihan dan kehilangan yang hanya dapat dimengerti oleh orangtua yang pernah kehilangan anak.

Namun yang mengejutkan, beberapa tahun kemudian dalam sebuah wawancara di televisi, Clapton mengatakan, "Dalam beberapa hal, lagu itu sebenarnya bukanlah lagu yang mengandung kesedihan, melainkan lagu yang penuh keyakinan. Ketika dikatakan bahwa tidak akan ada lagi air mata di surga, menurut saya itu adalah lagu optimisme, yaitu tentang pertemuan kembali."

Pemikiran tentang reuni surgawi sungguh menguatkan. Bagi setiap orang yang telah memercayai Kristus untuk mendapatkan keselamatan, ada pengharapan bahwa kelak kita akan dipersatukan kembali selamanya, di tempat "Ia akan menghapus segala air mata dari mata [kita], dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis (Wahyu 21:4). Dan yang terpenting, di situlah kita akan "melihat wajah-Nya" dan tinggal bersama Kristus untuk selamanya (22:4).

Kala kita mengalami kehilangan dan dukacita, ratap tangis dan perkabungan, alangkah menghibur bila kita mengetahui bahwa Kristus telah membeli sebuah rumah surgawi bagi kita yang di dalamnya tidak ada lagi ratap tangis! --WEC


KETIKA ALLAH MENGHAPUS AIR MATA KITA DUKACITA AKAN MENYUARAKAN LAGU KEKEKALAN

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 07 Agustus 2026

S.T.M.K.

Haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir (Ulangan 10:19)


Kadang kala kehidupan kristiani menampakkan ekspresi yang luar biasa dari kebajikan yang biasa-biasa saja. Sebagai contoh, Anda pasti berharap bahwa orang yang diliputi Roh Kudus akan bersikap ramah. Dan dengan mempraktikkan sikap tersebut di tengah masyarakat ternyata membawa perbedaan yang luar biasa!

Dalam bukunya, Liability Factor, Tim Sanders berkata bahwa seseorang yang menebarkan kepada sesamanya "sukacita, kebahagiaan, penghiburan, atau perasaan menjadi muda kembali" akan lebih mungkin direkrut atau dipromosikan. Ia menyatakan bahwa sebagian perusahaan telah menyingkirkan ketidakramahan. Mereka menyebut sistem mereka S.T.M.K.: "Saya Tidak Melihat Ketidakramahan".

Prinsip itu seharusnya dipraktikkan oleh warga kerajaan Kristus. Bila orang ditanya apa yang mereka cari di gereja, jawaban pertama mereka adalah keramahan. Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa banyak umat kristiani terasa sejauh bintang dan sedingin ruang angkasa.

Tuhan berkata kepada umat Israel kuno bahwa Dia "menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian" (Ulangan 10:18). Dia memerintahkan mereka untuk ikut teladan perilaku-Nya (ayat 19).

Keramahan bukanlah sekadar praktik bisnis yang bijaksana. Sikap itu seharusnya menjadi karakteristik semua pengikut Kristus. Apabila Anda ke gereja hari ini, berperilakulah sedemikian rupa sehingga seorang pendatang baru akan berkata, "Saya tidak melihat ketidakramahan" --HWR


DI DUNIA DI MANA BANYAK ORANG KURANG MEMBERI PERHATIAN ORANG KRISTIANI SEHARUSNYA MEMBERI PERHATIAN LEBIH 
* Take from Renungan Harian

Kamis, 06 Agustus 2026

KASIH YANG TAK BERUBAH

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang (Yakobus 1:17)

Pada suatu pesta pernikahan yang saya hadiri, kakek mempelai perempuan mengutip di luar kepala sebuah pilihan yang mengharukan dari Kitab Suci tentang hubungan suami dan istri. Kemudian, seorang teman dari pasangan itu membacakan "Soneta 116" karya William Shakespeare. Pendeta yang memimpin upacara memakai sebuah kalimat dari soneta itu untuk melukiskan jenis kasih yang harus menjadi ciri pernikahan kristiani: "Bukan kasih namanya jika ia berubah ketika mendapati perubahan." Sang penyair ingin mengatakan bahwa kasih yang sejati tidak berubah dalam keadaan apa pun.

Pendeta itu mencatat banyaknya perubahan yang akan dialami pasangan ini dalam kehidupan bersama mereka, termasuk kesehatan dan akibat-akibat penuaan yang tak terhindarkan. Kemudian, ia menantang mereka untuk mengembangkan cinta kasih alkitabiah sejati yang tidak akan goyah ataupun pudar meskipun mereka pasti akan menghadapi berbagai perubahan.

Ketika saya menyaksikan sukacita dan kegembiraan pasangan muda ini, saya teringat akan sebuah ayat yang dikatakan Yakobus, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran" (1:17). Allah tidak pernah berubah, demikian pula kasih-Nya kepada kita. Kita adalah penerima kasih sempurna dari Bapa surgawi kita, yang mengasihi kita "dengan kasih yang kekal" (Yeremia 31:3).

Kita dipanggil untuk menerima kasih-Nya yang tidak pernah pudar, agar kasih itu dapat membentuk hidup kita, sehingga kita dapat menunjukkannya juga kepada orang lain --DCM


KASIH ALLAH TETAP BERTAHAN SAAT SEGALA HAL TIDAK BERJALAN LANCAR

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 05 Agustus 2026

NYANYIAN SYUKUR

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur (Mazmur 33:1)


Keluarga kami senang mendengarkan puji-pujian Kristen dan menghadiri konser. Kami sering memutar kaset lagu rohani yang pada saat berkendaraan. Kami mendorong anak-anak kami untuk ikut serta dalam paduan suara sejak anak sulung kami berusia 3 tahun, dan kini ia mendapat beasiswa untuk kuliah di bidang musik.

Kecintaan terhadap musik ini bukan karena jasa saya, karena saya tidak tahu apa-apa tentang musik. Saya tidak mengikuti pelajaran musik atau menyanyi dalam paduan suara. Namun satu hal yang pasti, Anda tidak harus menguasai musik untuk memperoleh berkat darinya.

Perhatikan ucapan pemazmur, "Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur" (Mazmur 33:1). Ia tidak berkata, "Bersorak-sorailah, hai kamu yang memiliki talenta musik!" Ia juga tidak berkata, "Puji-pujian dari pemain piano berbakat itu indah!" Saya selalu bersyukur karena Allah juga menikmati nyanyian saya saat saya mengikuti lagu rohani yang dinyanyikan di kasetnya, sama seperti Dia mendengar pemusik yang handal. Tentu saja, mungkin banyak orang yang tidak sependapat dengan saya.

Kita dapat bersukacita bersama mereka yang membantu kita dalam penyembahan melalui kemampuan mereka yang dibagikan kepada kita. Memang Mazmur 33:1 mengatakan agar kita bermain musik dengan baik. Namun janganlah kiranya semangat kita kendor untuk memuji. Kita meningkatkan penyembahan dan sukacita di dalam Tuhan pada saat kita menggunakan musik untuk mengungkapkan pujian kita. Sebagai orang Kristen, kita selalu memiliki banyak hal untuk dinyanyikan -- JDB


HATI YANG TERTUJU KEPADA ALLAH AKAN MELANTUNKAN NADA-NADA PUJIAN

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 04 Agustus 2026

KESALAHAN UMUM

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita (Galatia 3:13)

Seorang wanita tua berkata kepada saya bahwa ia mengasihi Yesus, berdoa secara teratur, membaca Alkitab setiap hari dan mengakui dosa-dosanya setiap malam. Namun ia takut menghadapi kematian. Ia tidak yakin bahwa Allah akan menerimanya. Ia juga berkata bahwa ia ingin sekali memperoleh kemurahan Allah dengan memberikan uang dalam jumlah besar kepada gerejanya tanpa sepengetahuan suaminya. Ia tahu bahwa hal ini salah, tetapi ia berkata, "Saya melakukannya demi keselamatan saya."

Wanita ini gagal memahami kata-kata Paulus, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9). Wanita ini tetap beranggapan bahwa ia harus berbuat baik untuk memperoleh kemurahan Allah.

Ini merupakan kesalahan umum yang sering terjadi di kalangan orang Kristen. Rasul Paulus mengoreksi konsep sebagian orang percaya di Galatia yang memiliki pemahaman seperti itu. Mereka berpendapat bahwa kita perlu menjaga aturan-aturan dalam Perjanjian Lama. Paulus menegaskan bahwa Yesus Kristus dengan kematianNya di kayu salib telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat (Galatia 3:13).

Apakah Anda mempercayai hal ini? Apakah Anda telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda secara pribadi? Jika demikian, serahkanlah diri Anda dalam karyanya di kayu salib, dan bersukacita serta ucapkanlah syukur. Jangan terjebak dalam anggapan bahwa Anda dapat mengusahakan sendiri kemurahan Allah -- HVL


KESELAMATAN ADALAH ANUGERAH CUMA-CUMA BAGI ORANG BERDOSA YANG TAK LAYAK

* Takefrom Renungan Harian

Senin, 03 Agustus 2026

SEMUA ORANG TELAH BERDOSA

Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak (Mazmur 14:3)


Saya membaca kisah tentang seorang wanita yang berada di ambang kematian, yang telah menjalani kehidupan dengan baik dan bermoral, tanpa pernah merasa membutuhkan Juruselamat. Namun ketika seorang pendeta menawarkan diri untuk datang dan berbicara dengannya, wanita tersebut mengizinkannya berkunjung. Pendeta itu menjelaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus. Setelah menekankan bahwa Yesus telah mati bagi dosa semua orang, termasuk dirinya, sang pendeta mendesak wanita itu untuk mempercayai sang Juruselamat.

Lalu wanita itu menjawab, "Maksud Anda, jika ingin diselamatkan maka saya harus datang kepada Allah dan berkata bahwa hidup begitu kotor saya seperti orang lain, juga seperti orang yang paling jahat?" "Ya," jawab si pendeta, "hanya itu satu-satunya jalan." Wanita itu berpikir sejenak dan menjawab, "Kalau begitu, saya tidak mau!"

Kesombongan dan ketidakrelaannya untuk datang kepada Kristus sebagai orang berdosa membuat ia harus menghadapi penghakiman Allah. Ia lupa menyadari bahwa orang yang "baik" sekalipun tidak layak berdiri di hadapan Allah yang kudus.

Kita semua membutuhkan Juruselamat yang dapat membebaskan kita dari segala dosa. Kita harus mengakui segala kesalahan kita dengan rendah hati, mengakui bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri, dan melalui iman menerima anugerah kehidupan kekal yang telah Allah sediakan dengan cuma-cuma bagi kita. Dengan murah hati Tuhan telah menawarkan keselamatan kepada semua orang--karena kita semua adalah orang berdosa! --RWD


HANYA DENGAN MENGAKUI SEGALA KESALAHAN KITA MAKA KITA DAPAT MENERIMA KASIH KARUNIA ALLAH

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 02 Agustus 2026

BERHATI-HATILAH!

Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan (Lukas 21:8)


Seorang kenalan saya "ditipu" oleh seorang wiraniaga yang pandai bicara yang singgah di tempat usahanya. Orang itu memperlihatkan sejumlah permata menarik yang menurutnya telah dibelinya dengan potongan harga yang sangat besar. Ia terutama merasa bangga akan beberapa arloji yang tampaknya sangat mahal, dengan merek terkenal tertempel pada lempeng arlojinya.

Teman saya merasa terkesan dan membeli beberapa arloji. Namun ketika wiraniaga itu telah pergi, ia memeriksa "hasil penawarannya" dengan lebih teliti. Ia terkejut mendapati bahwa merek dagangnya sama sekali bukan dari merek yang terkenal. Dua huruf dalam nama itu berbeda, namun cetakannya sedemikian kecil sehingga ia tidak memperhatikan hal itu sebelumnya. Tali arloji tersebut juga bukan kulit asli melainkan "kadal asli", dan pada bagian belakang kotaknya terdapat tulisan yang menandakan bahwa jam itu terbuat dari bahan berkualitas rendah.

Kejadian itu mengingatkan saya akan apa yang dikatakan oleh Sang Juruselamat dalam Lukas 21:8, "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan." Bahkan sama seperti sebagian orang dalam dunia bisnis yang dengan pandai telah menyesatkan fakta-fakta dan menjadikan pelanggan-pelanggan mereka sebagai korban, ada juga guru-guru palsu di dalam gereja-gereja yang memutarbalikkan kebenaran. Meskipun mereka menggunakan istilah alkitabiah dan tampak ortodoks! Namun, berhati-hatilah! Mereka adalah iblis yang akan menyesatkan Anda. Milikilah landasan yang teguh akan firman Allah, maka Anda tidak akan "ditipu" oleh muslihat mereka --Richard De Haan

SELIDIKILAH SEMUA PENGAJARAN DI DALAM TERANG FIRMAN ALLAH 

* Take From Renungan Harian

Sabtu, 01 Agustus 2026

LISTRIK YANG PADAM

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7)

Kesunyian membangunkan saya pada pukul 5.30 di suatu pagi. Tidak ada deru sepoi-sepoi baling-baling kipas angin, tidak ada dengungan lemari es yang menenangkan di lantai bawah. Sekilas pandangan ke luar jendela mempertegas bahwa listrik yang padam telah membuat semua orang di lingkungan kami tidak nyaman tepat ketika mereka bersiap-siap untuk berangkat bekerja.

Saya sadar jam alarm tidak akan berbunyi, dan tidak akan ada berita televisi. Mesin pembuat kopi, pemanggang roti, pengering rambut, dan banyak telepon tidak dapat digunakan. Memulai hari tanpa listrik sebenarnya hanya sekadar ketidaknyamanan dan gangguan rutinitas, tetapi jadi terasa bagaikan bencana.

Kemudian saya sadar betapa seringnya saya terburu-buru memasuki hari tanpa kekuatan rohani. Saya menggunakan lebih banyak waktu untuk membaca surat kabar daripada Alkitab. Mendengarkan Roh digantikan dengan mendengarkan siaran radio. Saya menghadapi orang-orang dan situasi sulit dengan roh ketakutan, bukannya dalam roh “kekuatan, kasih, dan ketertiban” yang telah Allah berikan bagi kita (2 Timotius 1:7). Pastilah saya kelihatan tidak rapi secara rohani, seperti orang yang berpakaian dan berdandan dalam gelap.

Peristiwa listrik yang padam itu hanya sebentar, tetapi pelajarannya tetap tinggal, yaitu mengingatkan saya akan kebutuhan saya untuk memulai hari dengan mencari Tuhan. Kekuatan-Nya bukan demi kesuksesan atau kesejahteraan saya, melainkan supaya saya dapat memuliakan Kristus dengan tinggal di dalam kuasa-Nya --David McCasland


ROH MANUSIA AKAN MEMBUAT KITA GAGAL APABILA ROH KUDUS TIDAK MENGISI KITA

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 31 Juli 2026

MASALAH RASA

Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani (2 Korintus 7:1)


Dua ekor kecoa memutuskan untuk mengunjungi rumah makan favorit mereka. Ketika kecoa yang lebih besar sedang menikmati makanannya, kecoa yang lebih kecil berkata, “Kamu pasti tidak percaya mendengar cerita tentang rumah yang baru saja aku tinggalkan. Rumah itu tak bernoda sedikit pun. Wanita pemiliknya pastilah seorang yang suka bersih-bersih. Segala sesuatunya begitu bersih, baik bak cuci, meja pajangan, maupun lantainya. Kamu tidak akan bisa menemukan remah-remah di mana pun juga.” Kecoa satunya berhenti mengunyah, memandang temannya dengan jengkel, dan berkata, “Haruskah kamu berbicara seperti itu ketika aku sedang makan?”

Cerita tentang kecoa ini dapat diterapkan kepada manusia juga. Surat Paulus yang kedua kepada jemaat Korintus menunjukkan bahwa para pembaca surat-surat Paulus harus belajar banyak tentang hidup suci. Mereka perlu mengembangkan sifat lapar dan haus akan kebenaran yang lebih kuat. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta mereka untuk berbalik dari segala macam kekotoran (7:1). Ia mengingatkan mereka bahwa Allah ingin agar umat-Nya memisahkan diri mereka dari sampah rohani.

Jika “kebersihan” hati tampaknya tidak menarik, barangkali kita telah cukup puas dengan “remah-remah” keinginan duniawi kita. Karena itu, kita harus belajar untuk mengecap bagaimana rasanya kesalehan itu.

Bapa, ampunilah kami karena telah memenuhi keinginan daging kami yang penuh dosa ini. Sebaliknya, bantulah kami untuk menanamkan selera yang ingin dihasilkan Roh Kudus-Mu di dalam diri kami --Mart De Haan

DOSA TIDAK BISA TUMBUH SUBUR DI TEMPAT KESALEHAN DITANAMKAN 

* Take from Renungan Harian

Kamis, 30 Juli 2026

KETIKA MATAHARI TAK BERSINAR

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)


Acap kali kita menyepelekan berkat-berkat Allah hingga akhirnya berkat-berkat itu diambil dari kita. Lalu kita menyadari betapa berartinya anugerah Allah, bahkan untuk hal yang paling lazim sekalipun.

Ada sebuah legenda mengenai hari ketika matahari tidak bersinar. Pada pukul enam pagi, langit masih gelap. Pukul tujuh pagi masih tetap malam. Siang datang, tetapi suasana masih seperti tengah malam. Akhirnya, pada pukul empat sore, orang-orang berkumpul di beberapa gereja untuk memohon matahari kepada Allah.

Pagi berikutnya, sekumpulan orang berkumpul di luar rumah dan memandang ke langit sebelah timur. Ketika secercah cahaya matahari menyibak fajar, orang-orang tersebut bersorak dan memuji Allah karena matahari itu.

Pemazmur mengerti ia tidak mungkin mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Allah baginya. Ia sedih karena ia mungkin saja melupakan hal-hal tersebut. Lalu ia menggenggam jiwanya yang lembek, menggoncang-goncangkannya, dan memaksanya untuk memikirkan beberapa karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

Karena kebaikan Allah sepasti matahari, kita berada dalam bahaya jika melupakan apa yang dicurahkan-Nya bagi kita setiap hari. Jika kita menghitung berkat satu per satu, kita tak akan pernah dapat menyelesaikannya. Tetapi jika kita mendaftar 10 atau 20 pemberian yang diberikan Allah bagi kita setiap hari, akan terjadi sesuatu pada hati kita.

Marilah kita coba dan kita akan mengetahui sendiri hasilnya HWR


JIKA ANDA INGIN KAYA HITUNG SEMUA MILIK ANDA YANG TAK DAPAT DIBELI 

* Take from Renungan Harian

Rabu, 29 Juli 2026

DAHSYAT!

Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (Mazmur 47:3)


Kata berikut ini sering dipakai dan kita mendengarnya dalam konteks yang sangat tidak lazim. Kata tersebut adalah dahsyat.

Suatu kali cucu saya, Josh, yang berusia 9 tahun dan saya sedang bermain mobil balap yang dikendalikan dari jauh di ruang keluarga. Beberapa kali ia berkata, "Dahsyat!"

Pada kesempatan lain, ketika saya dan istri saya sedang meninggalkan restoran, sang manajer restoran yang sedang berdiri di pintu bertanya, "Apakah semuanya memuaskan Anda?" "Ya," jawab saya. "Dahsyat!" katanya.

Kedua peristiwa ini membuat saya berpikir: Meskipun bermain dengan cucu saya dan menikmati makanan di restoran adalah hal-hal yang menyenangkan, tetapi apakah pengalaman-pengalaman ini memang benar-benar dahsyat? Jadi, saya membuka kamus Mr. Webster edisi lengkap. Definisi utama mencatat arti dahsyat sebagai "rasa hormat yang sangat dalam", "mengerikan", "hebat". Saya jadi teringat ketika sedang berdiri di tepi Grand Canyon sebelah selatan. Ini sungguh-sungguh merupakan pengalaman yang dahsyat.

Kemudian, saya memikirkan kenyataan yang jauh lebih dahsyat, yaitu mengenal Sang Pencipta dan Penopang seluruh alam semesta ini. Jadi, memang tidak mengherankan apabila pemazmur menulis kalimat seperti ini, "Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat" (Mazmur 47:3).

Lain kali apabila kita mendengar kata dahsyat, kiranya kata itu mengingatkan kita kepada Allah kita yang hebat, yang benar-benar dahsyat! --DJD

TAK ADA YANG LEBIH DAHSYAT DARIPADA MENGENAL ALLAH

* Take from Renungan Harian

Selasa, 28 Juli 2026

TERANG UNTUK TIAP LANGKAH

FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanKu (Mazmur 119:105)


Seseorang pernah mengamati bahwa, "Orang yang membawa lentera di jalan yang gelap pada malam hari hanya dapat melihat sejauh satu langkah di depan. Ketika ia menjalani langkah tersebut, lentera itu berpindah ke depan dan langkah berikutnya dibuat menjadi jelas. Akhirnya ia mencapai tujuan dengan selamat tanpa sekali pun berjalan dalam gelap. Semua jalan yang dilalui terang, tetapi hanya satu langkah pada setiap saat. Demikianlah cara Allah membimbing kita."

Ketika seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya, ia tahu tujuan akhirnya dan memperoleh jaminan atas keselamatan pada masa yang akan datang. Namun awan gelap yang tidak dikenal dapat menyelubungi jalan kecil yang harus dijalaninya. Berbagai perangkap, bahaya yang tersembunyi dan salah langkah yang tragis sering mengganggu pejalan yang lelah dan mencuri kedamaian dan keyakinan yang disediakan Tuhan baginya untuk dinikmati.

Namun sebagai anak-anak Allah yang percaya kepadaNya, kita tidak perlu merasa kuatir tentang hari esok. Kita memiliki terang dari firman Allah, yakni kasih dan penyertaanNya dalam setiap situasi dalam kehidupan. Bahkan sama seperti sebuah lentera menerangi setiap langkah baru pada sebuah jalan gelap pada malam hari, lentera Injil pun menyediakan terang pada jalan kita.

Bagaimanapun gelapnya kehidupan yang kita alami tidak akan menjadi masalah bila kita berjalan dalam pimpinanNya. Selalu ada terang menyertai setiap langkah kita -- RWD


TAK ADA YANG PERLU DITAKUTI DALAM MENGHADAPI KEGELAPAN HARI ESOK JIKA ANDA BERJALAN DALAM TERANG HARI INI 

* Take from Renungan Harian