Selasa, 10 Februari 2026

DIA MENGAWASI

Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik(Amsal 15:3)


Dalam zaman elektronika ini, kita tidak asing lagi dengan adanya alat-alat penyadap. Sebuah kantor, kamar hotel, atau telepon dapat dimonitor sehingga setiap suara di dalamnya terdengar dengan jelas. Hal ini dilakukan melalui mikrofon dengan tingkat kepekaan yang tinggi. Bentuknya sangat kecil sehingga dengan mudah dapat disembunyikan. Kepala-kepala bagian, pegawai-pegawai pemerintah dan perusahaan yang menduduki jabatan penting haruslah sangat berhati-hati dengan apa yang mereka katakan, terutama tatkala mereka memasuki suatu lingkungan yang asing. Dengan menyadari adanya kemungkinan disadap, mereka pasti akan berpikir dua kali sebelum berbicara.

Pernahkah Anda berpikir sejenak bahwa Allah juga melihat segala hal yang kita lakukan dan mendengarkan segala sesuatu yang kita katakan, setiap saat, dan sepanjang hari? Ibrani 4:13 mengatakan bahwa "segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."

Kebenaran ini menghiburkan sekaligus menenangkan-menghiburkan karena Allah selalu siap sedia untuk membebaskan bila kita berada dalam masalah (Mazmur 33:18-19), dan menenangkan karena "mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" (Amsal 15:3). Betapa besarnya hal ini dapat mempengaruhi cara hidup kita!

Di masa mendatang, bila Anda dicobai atau berada dalam masalah, ingatlah bahwa Allah mengawasi dan mendengar segala sesuatu --RWD


MENGETAHUI BAHWA ALLAH MENGAWASI KITA
MEMBERI KEYAKINAN DAN KETENTERAMAN

* Take from Renungan Harian

Senin, 09 Februari 2026

MATA AIR YANG TERUS MEMANCAR

Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!(Yohanes 7:37


Joseph Campbell, seorang ahli mitologi [penelitian atas cerita-cerita mengenai asal-usul manusia dan dunia] yang terkenal, mengatakan bahwa teman-temannya sesama ahli mitologi sedang hidup dalam "kegersangan." Ia menambahkan bahwa mereka "kebingungan; dan mengembara di tanah yang tidak menunjukkan tanda-tanda adanya air--sumber yang membuat segala sesuatu hidup."

Ini juga menggambarkan penderitaan yang mendalam dari orang-orang yang tak terhitung banyaknya pada masa kini. Mereka mencoba segala cara untuk memuaskan jiwa mereka yang dahaga. Banyak orang bahkan menganut kepercayaan yang hampa, seperti yang dulu sering dibanggakan oleh Campbell. Namun seperti yang dikatakan Nabi Yeremia, mereka membuat bagi diri mereka sendiri "kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air" (Yeremia 2:13).

Apa pun yang dipercayai Campbell saat ini, yang jelas "Sumber yang membuat segala sesuatu hidup" itu adalah Kristus Yesus, Juruselamat kita yang kudus. Dialah yang memberikan "air hidup," yang menjadi "mata air ... yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yohanes 4:10,14).

Jika Anda sudah menanggapi Injil dan secara pribadi telah menerima Kristus Yesus sebagai Juruselamat Anda dari dosa, maka Anda memiliki mata air yang memancar dalam jiwa Anda (Yohanes 7:37-38). Kini Anda dapat berdoa bagi orang-orang di sekitar Anda yang "kebingungan" dan tawarkanlah "air hidup" itu kepada mereka yang haus dan mengembara dalam kegersangan tanpa Kristus --VCG


HANYA YESUSLAH, AIR KEHIDUPAN,
YANG DAPAT MEMUASKAN JIWA KITA YANG DAHAGA AKAN ALLAH

* Take from Renungan Harian

Minggu, 08 Februari 2026

MENCAIRKAN KEBEKUAN

Kamu adalah garam dunia...Kamu adalah terang dunia (Matius 5:13-14)


Beberapa tahun yang lalu, sebuah bangunan yang berisi berton-ton es habis terbakar. Carl Franke, seorang penulis, mengatakan bahwa meski di dalam bangunan tersebut terdapat ribuan galon air yang dapat memadamkan kebakaran, tetapi air itu tidak berada dalam wujud yang dapat digunakan. Bangunan itu penuh dengan bahan-bahan yang beku!

Malangnya, banyak orang dan gereja memiliki masalah yang serupa. Meski diberkati dengan berton-ton sumber daya yang dapat dipakai untuk bersaksi dan melayani, umat pilihan Allah seringkali merupakan "orang-orang beku" di dalam Allah.

Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dan terang, dan Dia memperingatkan supaya kita tidak kehilangan rasa asin sebagai garam dan tidak menyembunyikan terang yang kita miliki (Matius 5:13-20). Di bawah ini ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal di atas.

1. Garam sebagai penyedap rasa tidak akan berguna apabila tidak bersinggungan dengan makanan dan menyatu di dalamnya. Yesus memanggil kita untuk "memberi rasa" kepada masyarakat di dalam nama-Nya, yaitu lewat keterlibatan yang akrab dengan orang lain.

2. Terang bersinar supaya terlihat. Orang-orang percaya harus keluar dari persembunyian mereka supaya dikenal sebagai murid-murid-Nya. Pernyataan iman mereka harus tampak nyata lewat perbuatan baik yang mereka lakukan. D.L. Moody berkata, "Sebuah mercusuar tidak perlu menembakkan meriam untuk menarik perhatian orang kepada terang yang mereka pancarkan. Dengan terus bersinar saja sudah cukup."

Kita harus menggarami masyarakat dan menerangi dunia bagi Kristus. Sekarang waktunya untuk mencairkan bahan-bahan beku yang ada dalam kehidupan kita --JEY


TUJUAN KITA DI BUMI INI BUKAN UNTUK MEMBIASAKAN DIRI DENGAN KEGELAPAN, MELAINKAN UNTUK BERCAHAYA SEPERTI TERANG

*Take from Renungan Harian 

Sabtu, 07 Februari 2026

TAK DIKENAL

Ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri (Roma 16:2)




James Deitz telah membuat berbagai lukisan pesawat terbang dan awaknya. Lukisannya begitu realistis sehingga tampak seperti foto. Banyak karyanya dipajang di berbagai galeri penerbangan di Amerika Serikat, termasuk Lembaga Smithsonian.

Salah satu lukisan Deitz yang berjudul "Tak Dikenal", menggambarkan empat awak mekanik yang sedang memperbaiki sebuah pesawat pengebom. Mereka berada jauh di bawah geladak kapal induk pengangkut pesawat terbang, di tengah Samudera Pasifik pada Perang Dunia II. Keempat pria berwajah pucat dan serius yang berlumuran minyak itu sedang bekerja keras memperbaiki pesawat agar dapat kembali ke medan perang.

Mungkin kita pun sedang melakukan tugas tak terlihat dalam mendukung misi gereja untuk menyebarkan Injil dan menumbuhkan iman jemaat. Tanpa banyak sukarelawan, tak satu pun gereja atau lembaga misi dapat menjalankan pelayanannya secara efektif.

Saat Rasul Paulus mengakhiri suratnya kepada jemaat di Roma, ia menuliskan beberapa nama yang tak disebutkan di bagian lain Alkitab. Sebagai contoh, Paulus menyebut Febe dan mengatakan bahwa ia "memberikan bantuan kepada banyak orang" (ayat 16:2). Febe dan beberapa orang lain, telah menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan dan pelayanan gereja mula-mula.

Apakah Anda bekerja "di bawah geladak kapal"? Ingatlah, pelayanan Anda bagi Kristus sangat penting. Bahkan jika tak seorang pun menunjukkan penghargaan atas kerja keras Anda, yakinlah bahwa suatu hari nanti Tuhan sendiri akan memberikan penghargaan kepada Anda (Kolose 3:23,24) --Dave Egner


TAK ADA PELAYANAN BAGI KRISTUS YANG TAK TERLIHAT OLEH-NYA

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 06 Februari 2026

BUAH ROH

Apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita (2Petrus 1:8)


Billy Graham pernah berceritakan tentang pertobatan yang dialami oleh H.C. Morrison, pendiri dari Asbury Theological Seminary. Ia mengungkapkan bahwa pada suatu hari, Morrison, yang pada waktu itu bekerja di tanah pertanian, sedang membajak di sawah. Tiba-tiba ia melihat seorang pendeta Metodis yang sudah tua lewat dengan kudanya.

Morrison mengenal orang tua itu sebagai orang yang sangat ramah dan saleh. Ketika melihat orang tua tersebut lewat pada hari itu, ia seperti disadarkan akan dosanya yang sangat besar hingga ia jatuh berlutut. Di antara pematang-pematang sawahnya, ia menyerahkan hidupnya kepada Allah.

Ketika mengakhiri kisah nyata itu, Billy Graham berdoa dengan sungguh-sungguh, "Ya Allah, jadikanlah aku orang kudus seperti itu."

Agustinus berkata, "Apakah Anda ingin menjadi kudus? Kalau begitu, praktekkanlah mulai sekarang." Kekudusan yang sejati dan abadi berasal dari siapa diri kita. Meski tidak melakukan apa pun, kita tetap dapat memberi hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain apabila kehidupan kita dibentuk oleh kasih karunia Allah. Bahkan tatkala kita tersisih karena usia tua, penyakit, atau keadaan, kita tetap bisa berbuah. Entahkah Anda tengah terbaring di tempat tidur atau terkurung di dalam rumah, hidup Anda yang kudus tetap dapat menjadi kesaksian yang baik.

Ini hanya bisa terjadi jika kita memiliki hubungan yang dekat dengan Yesus (Yohanes 15:1-11). Pada saat itulah kita akan menghasilkan buah yang "tetap" (ayat 16) -DHR

KESAKSIAN YANG PALING KUAT ADALAH HIDUP KUDUS

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 05 Februari 2026

DALAM SUSAH ATAUPUN SENANG?

Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan .... Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (Efesus 5:22,25)


Di dekat rumah kami ada sebuah lapangan golf. Saat berdiri di halaman belakang, saya melihat kolam yang seolah-olah tak sabar menunggu pukulan meleset saya berikutnya. Sering kali saya membayangkan sandtraps [lubang berisi pasir dalam permainan golf] dan pepohonan mengejek permainan saya yang jelek.

Saya menceritakan permainan golf ini dengan perasaan campur aduk. Sesekali saya suka bermain golf. Namun tinggal berdekatan dengan lapangan golf selalu mengingatkan saya akan kesalahan-kesalahan yang saya buat saat bermain golf. Itulah tidak enaknya.

Masalah yang sama dapat timbul dalam pernikahan. Terkadang suami-istri melupakan harapan dan mimpi yang pernah saling mereka bagikan. Maka kehadiran pasangan hanya menjadi sumber gangguan, pengingat berbagai kesalahan dan kekecewaan di masa lalu.

Ketika Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus, ia meminta agar para suami dan istri mengarahkan pikiran mereka pada hubungan mereka dengan Anak Allah (5:22,33). Di dalam Dia kita menemukan kasih yang tak berkesudahan dan pengampunan bagi kegagalan kita. Di dalam Dia kita menemukan Pribadi yang suka melupakan hal-hal yang paling buruk dalam diri kita dan memberikan yang terbaik. Dia mengingatkan kita, bukan pada kekalahan kita, tetapi pada apa yang belum kita capai.

Bapa, ampuni kami yang hanya memusatkan perhatian pada kekurangan dan kesalahan kami, dan bukan pada kasih Putra-Mu Yesus Kristus. Bantulah kami untuk kembali mengasihipasangan kami dalam terang kasih Tuhan yang besar --Mart De Haan II


PERNIKAHAN MUNGKIN DITENTUKAN DI SURGA TETAPI HARUS DIJALANKAN DI DUNIA

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 04 Februari 2026

DALAM SATU HARMONI

Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya (1Korintus 12:18)


Saya sangat tersentuh saat mendengarkan sekelompok paduan suara yang bernyanyi dalam satu harmoni yang selaras. Mula-mula, dengan satu suara yang kuat mereka memuji dan memuliakan Allah. Kemudian pada refreinnya, suara sopran, alto, tenor, dan bas menyanyikan bagian mereka masing-masing sehingga terciptalah harmoni yang indah. Perpaduan ini menggetarkan jiwa saya dan membuat nyanyian satu suara tadi kurang menarik jika dibandingkan dengan perpaduan pada refreinnya.

Para pengikut Kristus juga "bernyanyi" dengan suara-suara yang berbeda ketika bekerja bagi Tuhan. Kita datang dari latar belakang, kepribadian, dan kemampuan yang berbeda-beda. Meski demikian, pekerjaan yang kita kerjakan bersama bagi Dia dapat menghasilkan keselarasan yang indah dalam pelayanan. Namun, sebagian orang Kristen justru menuntut hal-hal yang sesuai dengan metode dan prosedur yang mereka ingini, bukannya menghargai perbedaan yang ada. Mereka ingin setiap orang menyanyi dengan cara mereka.

Sekalipun kesatuan seperti ini memberi hasil yang terbatas, tak ada yang lebih memuaskan dibandingkan saat kita melihat bagaimana banyak individu dengan gaya, talenta, dan identitas masing-masing, tampil dalam kesehatian untuk menyampaikan pesan yang sama, yakni kasih dan keselamatan yang ditawarkan Tuhan Yesus Kristus.

Dalam melayani Kristus, janganlah kita kuatir bila orang-orang di sekeliling kita tidak menyanyikan "not" yang sama dengan kita. Jika mereka telah memiliki keharmonisan dengan Alkitab, maka sebenarnya kita telah berada dalam satu "paduan suara" yang sama --RWD


ALLAH MEMANGGIL ANAK-ANAKNYA UNTUK BERSATU -- BUKAN UNTUK MENJADISERAGAM

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 03 Februari 2026

MEMULAI LAGI

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Korintus 5:17)


Seorang anak kecil memandang ibunya dan bertanya, "Bu, apakah Ibu tahu alasan mengapa Allah menciptakan kita?"

Sang ibu yang tahu bahwa putranya memiliki penjelasan tersendiri, justru balas bertanya, "Baiklah, Justin, apakah kamu tahu alasannya?"

"Oh, mudah saja. Karena manusia yang ada di dalam Alkitab berkelakuan sangat buruk sehingga Allah ingin memulai lagi dari awal."

Jika direnungkan baik-baik, Anda akan tahu mengapa anak kecil ini dapat mengambil kesimpulan seperti itu. Ketika mendengarkan cerita-cerita Alkitab di Sekolah Minggu, yang ia dengarkan adalah kisah tentang Adam dan Hawa yang membuat hidup kita berantakan, atau tentang Yunus yang tidak menaati Allah dan ditelan oleh ikan besar. Ia pun mendengar tentang Yudas yang mengkhianati Yesus demi memperoleh 30 keping uang perak.

Alkitab adalah gambaran kenyataan yang menyedihkan tentang manusia. Tidak ada edisi perbaikan dari sejarah umat Allah. Melalui berbagai tokoh yang diketengahkan secara apa adanya, Alkitab membuktikan bahwa kita semua membutuhkan pengampunan untuk dosa-dosa kita. "Orang-orang jahat" di Alkitab mengingatkan kita bahwa "semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).

Namun, ada kabar gembira. Allah telah menyediakan jalan untuk "memulai lagi". Ia mengutus Yesus yang rela mati supaya kita dapat menjadi ciptaan baru (2Korintus 5:17). Percayalah kepada Yesus dan Anda akan diselamatkan dari dosa-dosa Anda. Setelah itu Anda akan dapat "memulai lagi dari awal" --Dave Branon


MINTALAH HATI YANG BARU DARI ALLAH UNTUK MEMULAI AWAL YANG BARU

* Take from Renungan Harian 

Senin, 02 Februari 2026

BAGAIMANA PENGLIHATAN ANDA?

Karena iman maka ia [Musa] telah meninggalkan Mesir....Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan (Ibrani 11:27)


Beberapa bulan yang lalu, saya menengok dua orang Kristen yang sama-sama sakit parah. Saya heran karena perilaku keduanya bertolak belakang. Yang seorang murung dan tak bergairah sama sekali saat saya membacakan Kitab Suci, berdoa, dan berbicara tentang pengharapan di dalam Kristus. Tampaknya ia memiliki penglihatan rohani yang kabur.

Seorang lagi, ketika dijumpai, sedang berbicara dengan bersemangat kepada dua orang cucunya. Ia mengungkapkan keinginannya agar mereka memiliki kehidupan yang baik dan mendorong mereka untuk hidup bagi Yesus. Pria ini mempunyai penglihatan rohani yang sehat. Dengan imannya ia dapat melihat Allah yang tak terlihat sementara ia menyongsong kematian.

Kita mendapati pertentangan reaksi yang sama dalam Bilangan 13 dan 14. Dua belas mata-mata diutus untuk mengintai Tanah Perjanjian. Kedua belas orang itu melihat bahwa daerah itu sungguh lebat, hijau, dan subur. Benar-benar tanah pertanian yang sangat baik! Namun sepuluh orang dari antara mereka ketakutan karena besarnya dan banyaknya orang-orang kuat yang suka berperang, yang tinggal di sana. Mereka berkata bahwa menyerang bangsa tersebut merupakan hal yang konyol. Dua mata-mata yang lain, Yosua dan Kaleb, bersikeras bahwa bersama Tuhan, mereka pasti dapat menguasai daerah tersebut. Dengan iman mereka dapat melihat Allah yang mampu mengatasi segala rintangan.

Apa yang kita lihat saat ini? Apakah kita hanya melihat besarnya masalah-masalah kita? Dapatkah kita melihat kebesaran Allah? Hanya Dia yang dapat memberi penglihatan rohani yang sehat --HVL


DALAM SETIAP KESUKARAN ANDA PASTI DAPAT MENEMUKAN SEBUAH KESEMPATAN

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 01 Februari 2026

KEHEBATAN YANG SEJATI

Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan (Mazmur 112:1)


Sebuah artikel pada majalah Time menanyakan mengapa akhir-akhir ini di kalangan masyarakat terdapat begitu banyak wanita yang memilih untuk tidak menikah. Hal tersebut mendorong seorang pengarang bernama Melissa Bank, untuk menulis dan menjelaskan jawaban yang ringkas atas artikel tersebut. Ia menulis, "Kita akui saja. Seorang wanita tidak hanya menginginkan sembarang pria dalam hidupnya. Ia hanya akan mau menikah dengan pria yang hebat."

Tentu saja, bagi banyak orang, definisi "hebat" dapat menimbulkan berbagai arti yang berbeda. Akan tetapi, Alkitab mengajarkan bahwa kehebatan yang sejati adalah hasil dari perkenan dan berkat Allah.

Perhatikan gambaran Mazmur 112 tentang orang yang "berbahagia," yakni orang yang menikmati perkenan Allah: Ia takut akan Tuhan (ayat 1), ia sangat suka kepada segala perintah-Nya (ayat 1), ia bersikap adil (ayat 4), ia adalah seorang yang pengasih dan penyayang (ayat 4), ia penuh belas kasihan (ayat 5), ia memiliki kepercayaan yang penuh kepada Allah (ayat 7), ia berhati teguh dan tidak takut (ayat 8). Benar-benar gambaran sifat yang luar biasa! Inilah tanda-tandanya orang hebat.

Namun, sifat-sifat kepribadian yang mengagumkan ini tidak terbatas bagi kaum pria saja. Sifat-sifat ini dapat berfungsi layaknya sebagai ‘daftar periksa’ yang efektif bagi kita semua, manakala kita berusaha hidup sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Dengan pertolongan Roh Kudus, kita akan mampu hidup sedemikian rupa sehingga dapat dinilai hebat di hadapan Allah. Saat kita melakukannya, orang lain akan melihat hasilnya, hingga akhirnya kita dapat mengembalikan segala pujian kepada Allah -JDB


KESALEHAN ADALAH TANDA MANUSIA HEBAT

*Take from Renungan Harian 

Sabtu, 31 Januari 2026

ALLAH TAHU YANG TERBAIK

Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku (Yeremia 18:6)


Adelaide Pollard merencanakan untuk pergi ke Afrika sebagai seorang utusan Injil, tetapi pada saat-saat terakhir rencana itu dibatalkan karena keterbatasan dana. Jadi tak heran bila dalam persekutuan doa setelah itu, ia begitu murung. Namun doa seorang wanita tua mengusir kegelapan dalam hatinya: "Ya, Tuhan! Kami tidak berkeberatan menerima apa yang Kauizinkan terjadi dalam hidup kami. Yang penting bagi kami adalah biarlah kehendak-Mu terlaksana!" Seketika itu juga Adelaide Pollard menyerahkan diri kepada kehendak Allah dan menemukan kedamaian.

Sorenya, ia mengkaji cerita tentang tukang periuk dalam Yeremia 18:4. Ia merenungkan tentang bejana yang rusak di tangan tukang periuk itu. Apa yang rusak itu kemudian dibentuk kembali sehingga menjadi bejana lain yang lebih bagus. Ia pun menyadari bahwa ia juga harus menyerahkan diri kepada kehendak Allah dan membiarkan Tuhan membentuk kehidupannya sesuai dengan rencana-Nya.

Selanjutnya sebuah puisi melintas di benaknya: "Kaulah sang Tukang Periuk, aku tanah liatnya. Bentuklah aku sesuai kehendak-Mu, sementara aku akan menunggu dan berserah." Akhirnya, pada waktu yang ditentukan oleh Allah sendiri, Pollard pun diizinkan Tuhan untuk melayani di Afrika, Inggris, dan bahkan di seluruh Amerika Serikat.

Allah mendengarkan orang yang dengan tulus berdoa, "Jadilah kehendak-Mu, Tuhan." Bertanyalah kepada diri Anda sendiri: Apakah aku sudah membiarkan Tukang Periuk yang Agung membentuk hidupku menurut kehendak-Nya? -JEY

DALAM PENYERAHAN DIRI TERDAPAT KEDAMAIAN

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 30 Januari 2026

LANGKAH YANG MENYAKITKAN

Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan (Wahyu 2:5)


Pertobatan bukanlah tindakan untuk membersihkan kehidupan sehingga kita dapat diampuni. C.S. Lewis berkata bahwa pertobatan "bukan sesuatu yang Allah minta dari Anda sebelum Dia memanggil Anda untuk kembali kepada Bapa ... melainkan lebih merupakan penjabaran tentang seperti apakah 'kembali' itu."

Di majalah Leadership, seorang pria bercerita tentang perjuangannya selama 10 tahun melawan pornografi. Selama itu, ia sangat menderita karena harus menjalani kehidupan ganda. Suatu hari, dalam kengeriannya ia sadar bahwa ia tak lagi dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang penuh warna-warni atau embusan lembut angin laut. Pikirannya yang terobsesi oleh hawa nafsu telah menumpulkan penghargaannya terhadap hal-hal yang indah dalam hidup ini dan merenggut sukacita yang ia dapatkan dari kedekatannya dengan sang istri dan dengan Yesus.

Dari luar ia tampak setia kepada istrinya dan juga kepada Tuhan, tetapi sesungguhnya hatinya jauh dari mereka. Ia seperti orang-orang percaya yang ditegur Yesus dalam Wahyu 2. Yesus berkata kepada mereka, "Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan" (ayat 4-5).

Pria itu tahu apa yang perlu ia lakukan. Ia mengakui dosanya kepada Allah dan kepada istrinya, meski itu sangat menyakitkan dan janggal, tetapi mendatangkan sukacita baginya karena ia memperoleh pengampunan dan hubungan yang diperbarui.

Meski menyakitkan pertobatan, dapat memulihkan sukacita yang sejati, karena kita hidup benar dengan Allah dan sesama --DJD


PERTOBATAN ADALAH LUKA YANG MEMBAWA KITA PADA PEMULIHAN 

* Take from Renungan Harian

Kamis, 29 Januari 2026

ORANG-ORANG ISTIMEWA

Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati (1Petrus 3:8)


Hubert H. Humphrey, seorang mantan senator, wakil presiden, dosen dan kepala keluarga, dengan bangga bercerita tentang keluarga yang dikasihinya dalam sebuah wawancara di televisi. Namun tiba-tiba matanya berkaca-kaca tatkala ia menceritakan tentang kelahiran seorang cucu perempuannya yang menderita cacat mental. "Itu terjadi beberapa tahun yang lalu," ungkapnya, "tetapi tahukah Anda, kehadiran anak istimewa ini justru telah membuat cinta kasih dalam keluarga kami lebih indah dari sebelumnya."

Beberapa tahun kemudian Humphrey meninggal dunia. Ketika sanak keluarganya demikian berat untuk meninggalkan pemakaman, meskipun seluruh rangkaian upacara telah selesai, anak inilah yang kemudian menggugah hati mereka. "Kakek kini sudah berada di surga, tidak lagi di kuburan ini!" katanya. Betapa diberkatinya keluarga Humphrey dengan adanya anak istimewa seperti itu.

Sebagai raja, Daud dapat saja melenyapkan seluruh sanak keluarga Saul karena Saul telah berkali-kali mencoba membunuhnya. Namun hal itu tidak dilakukannya, melainkan Daud lebih suka menunjukkan kasihnya oleh karena Yonatan. Dan ketika disampaikan kepadanya mengenai Mefiboset yang timpang (2Samuel 9:3), Daud malah memperlakukannya sebagai salah seorang anak raja. Saya yakin, dengan keberadaannya yang cacat dan sebagai seorang anggota keluarga Saul, Mefiboset telah menerbitkan perasaan kasih yang besar di dalam hati Daud.

Orang-orang yang memiliki kekurangan menempati tempat khusus dalam rencana Allah. Marilah kita belajar dari teladan yang telah diberikan oleh Raja Daud -- HVL


ORANG-ORANG YANG MEMILIKI KEKURANGAN MEMILIKI KELEBIHAN KHUSUS UNTUK MENGAJAR KITA MENGASIHI

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 28 Januari 2026

WASPADALAH!

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! (1Korintus 10:12)


Beberapa tahun yang lalu ketika sedang berjalan-jalan di Gunung Rainier, Washington, saya dan istri saya Carolyn tiba di sebuah sungai es yang sedang meluap. Di situ telah terpasang balok datar yang melintang di sungai sebagai jembatan darurat. Namun jembatan darurat itu tak ada pegangannya, lagi pula licin.

Menyeberang di atas balok yang basah tampak sangat menakutkan, sehingga Carolyn tidak ingin menyeberang. Namun akhirnya ia mendapat keberanian dan perlahan-lahan ia berjalan setapak demi setapak dengan hati-hati menuju seberang.

Sewaktu kembali kami harus berjalan di atas balok itu lagi, dan ia menyeberang dengan kehati-hatian yang sama. "Apa kau takut?" tanya saya. "Tentu saja," jawabnya, "tetapi itulah yang membuatku selamat." Sekali lagi, karena sadar akan bahaya, ia berhasil menyeberang dengan selamat.

Sering kali dalam hidup ini kita dihadapkan pada banyak bahaya moral. Kita sebaiknya selalu berpikir bahwa sewaktu-waktu kita bisa jatuh. "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh" (1 Korintus 10:12). Dalam berbagai kesempatan dan keadaan, siapa pun dari kita dapat jatuh dalam dosa apa pun. Sungguh bodoh bila kita berpikir takkan pernah jatuh.

Kita harus berjaga-jaga, berdoa, dan mempersenjatai diri di setiap kesempatan, yakni dengan percaya sepenuhnya kepada Allah (Efesus 6:13). "Sebab Allah setia" (1 Korintus 10:13), dan Dia akan memberi kita kekuatan agar tidak jatuh --David Roper


ALLAH SUDAH MENYEDIAKAN SENJATA KITA TINGGAL MENGAMBIL DAN MENGENAKANNYA

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 27 Januari 2026

MARI KITA BICARAKAN!

Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu (Amsal 3:3)


Kepolisian San Diego menerima keluhan dari seorang wanita yang mengatakan bahwa ia menerima beberapa panggilan telepon yang mengganggu. Pada tengah malam seseorang meneleponnya, dengan menirukan suara anjing menggonggong, dan kemudian menutup telepon. Akhirnya polisi menemukan bahwa telepon itu berasal dari tetangga wanita tersebut. Tetangga itu mengatakan bahwa setiap kali ia terbangun karena gonggongan anjing wanita tersebut, ia ingin memastikan bahwa wanita itu juga terbangun.

Tindakan yang dilakukan sang tetangga itu sama sekali tidak menunjukkan hikmat Allah. Alkitab mengajarkan agar kita menghadapi masalah secara langsung (Matius 18:15-20). Sebuah pembicaraan yang jujur pada saat yang tepat dan demi semua pihak yang terlibat, merupakan suatu penyelesaian masalah.

Namun, tindakan yang penuh kasih dan terbuka seperti itu tidak selalu dilakukan orang kristiani. Kita cenderung untuk "bermain-main" daripada memercayai Allah dan melewati situasi tegang dengan hati nurani yang bersih serta hasrat untuk berdamai. Tanda-tanda diabaikan. Kasih sayang disembunyikan. Percakapan menjadi singkat. Suasana menjadi dingin, dan kebekuan situasi ini hanya dapat dicairkan oleh perpaduan yang bijak antara belas kasih dan kebenaran (Amsal 3:3).

Keluhan kita terhadap sesama tidak dapat dihilangkan begitu saja dengan mengubur kemarahan. Jika sebuah masalah tidak cukup kecil untuk dilupakan dengan tulus hati, maka marilah kita membicarakannya --Mart De Haan


CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN MUSUH ANDA ADALAH MENJADIKANNYA TEMAN ANDA

* Take from Renungan Harian 

Senin, 26 Januari 2026

BESARNYA KASIH ALLAH

[Aku berdoa]. supaya kamu ... dapat memahami ... kasih Kristus. sekalipun ia melampaui segala pengetahuan (Efesus 3:18-19)


Kasih Allah kepada kita begitu besar sehingga kita sulit memahaminya. Kasih itu menjangkau kita melalui gelapnya dunia yang penuh dosa, bahkan sekalipun kita tidak layak menerima kasih-Nya. Alkitab berkata bahwa sebelum menciptakan planet kita ini, Allah sudah memutuskan bahwa kelak Dia akan menunjukkan kasih-Nya yang begitu dalam kepada kita yang berdosa, yakni melalui kematian Putra-Nya di kayu salib (1 Petrus 1:20; Wahyu 13:8).

Saya membayangkan bahwa saya menoleh ke belakang dan melihat Tuhan sedang mengangkat gunung-gunung, memotong barisan bukit dengan aliran sungai, dan meratakan dataran. Saya menyaksikan bagaimana Dia menciptakan lautan yang luas dan danau-danau yang indah. Kemudian, setelah semua pekerjaan itu berakhir, saya melihat Dia beristirahat sambil memandangi hasil ciptaan-Nya yang indah. Lalu Dia memandang bagian dunia tempat Putra-Nya kelak akan dilahirkan. Dia tahu Yesus akan ditolak dan disalibkan. Sebenarnya, dengan sedikit sapuan tangan-Nya, Dia dapat melenyapkan dunia ini dan menghindarkan Putra-Nya dari penderitaan salib. Namun Dia tidak melakukannya.

Karena kasih Allah, sang Putra diutus ke dunia dan dikurbankan. Di Kalvari, Dia mati untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam Yohanes 3:16 tertulis, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Betapa besar kasih-Nya kepada kita! -DCE


KARENA KASIH ALLAH YANG KEKAL
KITA DAPAT MEMPEROLEH KEHIDUPAN YANG KEKAL

* Take from Renungan Harian

Minggu, 25 Januari 2026

BATAS AKHIR KEHIDUPAN

Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu (Amos 4:12)


Kita semua diperhadapkan pada batas waktu. Pembayaran rekening, perpanjangan SIM, penghitungan pajak, dan sebagainya. Semuanya berjalan terus mendekati batas waktunya.

Namun ada satu batas waktu yang paling penting yang harus kita hadapi. Alkitab berkata, "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibrani 9:27).

Selain orang-orang percaya yang akan bangkit pada waktu kedatangan Yesus kembali (1Tesalonika 4:16-17), semua orang akan binasa. Dan semua orang tanpa terkecuali akan menghadapi penghakiman Allah. Alangkah bodohnya bila kita tidak bersiap-siap untuk menghadapi peristiwa yang sangat penting ini.

Dalam Lukas 12:1-59, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang merencanakan akan membangun lumbung-lumbung yang lebih besar untuk menyimpan gandum dan barang-barangnya di dunia ini agar ia dapat hidup dengan tenang dan tentram. Namun Allah berkata kepadanya, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu!" (Lukas 12:20). Batas waktu baginya telah tiba.

Apakah Anda telah siap untuk berjumpa dengan Allah? Jika Anda belum pernah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda pribadi, terimalah Dia sekarang juga tanpa menunda-nunda lagi. Percayalah bahwa Dia telah mengucurkan darahNya di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa Anda, dan dengan kebangkitanNya dari kubur Dia juga telah mengalahkan maut. Mintalah Yesus menyelamatkan Anda. Dengan demikian Anda akan menghadapi batas waktu akhir kehidupan ini dengan mantap -- RWD


JANGAN TUNGGU SAMPAI PUKUL 11.00 UNTUK BERTOBAT KARENA KITA MUNGKIN SAJA MATI PADA PUKUL 10.30

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 24 Januari 2026

SOK TAHU

Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah (Yakobus 1:19²2.)


Betapa menjengkelkannya bila seseorang memotong pembicaraan&&& kita dan seakan-akan ia telah tahu apa yang akan kita ucapkan, kemudian melompat mengambil kesimpulan yang dibuatnya sendiri.

Disadari atau tidak, kita sering melakukan hal seperti itu. Kita sering bersikap sok tahu ketika mendengar apa yang diungkapkan oleh orang lain. Memang kita mendengar kalimat-kalimat yang diucapkannya, tetapi kita tidak sungguh-sungguh memperhatikan apa yang dikatakannya. Dan hasilnya adalah kesalahpahaman!

Baru-baru ini saya duduk di depan sepasang suami isteri yang sedang berdebat sengit. Mereka saling melemparkan tuduhan, melontarkannya pada saat yang bersamaan, dan terus menerus saling memotong pembicaraan. Setiap kata yang mereka ucapkan membuat kesalahpahaman bagaikan pisau menikam semakin dalam dan dalam, memperparah "luka" dalam hubungan mereka. Sangat sukar bagi saya saat itu untuk menyerukan gencatan senjata di tengah keriuhan perang kata-kata itu.

Saya tidak dapat membayangkan apakah Yesus juga pernah terlibat dalam percakapan yang amat kasar seperti itu. Orang-orang mendengarkan Dia, dan Dia mendengarkan mereka. Yakobus, dalam suratnya kepada jemaat mula-mula, menulis, "Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yakobus 1:9). Saya yakin bahwa ia telah berulang kali melihat teladan ini di dalam diri Yesus.

Mendengarkan dengan penuh rasa hormat membuat kita mampu mengendalikan amarah dan menghargai kebenaran. Marilah kita mendengarkan pembicaraan orang lain dengan cermat dan menghindari tindakan yang terlalu cepat melompat ke kesimpulan -- DJD

KITA AKAN MEMPEROLEH LEBIH BANYAK SAHABAT MELALUI TELINGA DARIPADA MELALUI MULUT

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 23 Januari 2026

PERTANYAAN TERBAIK

TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? (Mazmur 15:1)


Pemenang hadiah Nobel, fisikawan Martin Perl ditanya kepada siapa ia mempersembahkan keberhasilannya. "Ibu saya," jawabnya. "Setiap hari apabila saya pulang dari sekolah ia bertanya kepada saya, 'Marty, apakah kamu melontarkan pertanyaan-pertanyaan bagus hari ini?'"

Daud melontarkan pertanyaan terbaik dari semua pertanyaan: "TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?" (Mazmur 15:1). Ada dua kata yang dipakai oleh orang Ibrani kuno untuk mengekspresikan pertanyaan "siapa?". Salah satunya adalah seperti yang kita gunakan. Akan tetapi, di sini Daud menggunakan kata yang lain sehingga pertanyaannya, "Orang seperti apakah yang tinggal dekat dengan Allah?"

Jawaban yang muncul merupakan serangkaian sifat-sifat karakter: "Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya" (ayat 2).

Mengetahui kebenaran dan menaati kebenaran adalah dua hal yang berbeda. Allah suka tinggal di gunung-Nya yang kudus dengan orang-orang yang kudus yang mencerminkan kenyataan akan kebenaran yang mereka percayai. Ia mengasihi orang-orang yang "mengenakan kebenaran".

Namun, Mazmur ini bukanlah mengenai kekudusan kita sendiri, yang kita pikir akan membuat kita dapat memasuki hadirat-Nya. Melainkan lebih mengenai keindahan dari kekudusan yang Allah bentuk dalam diri kita jika kita tinggal dalam persekutuan dengan-Nya.

Semakin kita dekat kepada Allah, kita semakin serupa dengan-Nya --DHR


BERJALANLAH DEKAT DENGAN ALLAH SUPAYA TIDAK ADA YANG DAPAT MEMISAHKAN ANDA DARI-NYA

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 22 Januari 2026

DITARIK OLEH SALIB

Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku (Yohanes 12:32)


Patung Liberty menjulang di atas pelabuhan New York. Patung wanita yang megah itu, dengan obor kebebasan terangkat tinggi, telah memikat jutaan orang yang tercekik oleh tirani dan tekanan. Mereka ditarik kepada apa yang disimbolkan oleh monumen itu kebebasan.

Di atas tumpuan kaki Liberty terukir kata-kata puisi Emma Lazarus "The New Colossus" (Patung Besar yang Baru):


Berikanlah aku orang-orangmu
yang letih dan miskin,
Kumpulan orang banyakmu
yang berjubel
yang rindu untuk menghirup
kebebasan,
Sampah tercela
Dari pantaimu yang padat;
Kirimkanlah mereka ini, yang tunawisma,
yang diombang-ambingkan badai, kepadaku;
Aku mengangkat lampuku di samping pintu emas ini.

Ada sebuah monumen lain yang menjulang di atas sejarah, yang menawarkan kebebasan rohani bagi orang-orang yang diperbudak di mana saja. Monumen itu adalah salib tempat Yesus tergantung 2.000 tahun yang lalu. Pada mulanya pemandangan itu membuat kita jijik. Lalu kita melihat Putra Allah yang tak berdosa mati menggantikan kita, bagi dosa-dosa kita. Dari salib itu kita mendengar kata-kata "Ya Bapa, ampunilah mereka" (Lukas 23:34) dan "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Saat kita percaya kepada Kristus sebagai Juru Selamat, beban rasa bersalah yang berat terguling dari jiwa kita yang lelah oleh dosa. Kita bebas selama-lamanya.

Sudahkah Anda mendengar dan menanggapi undangan salib itu? --DJD

KEBEBASAN TERBESAR KITA ADALAH KEBEBASAN DARI DOSA

* Take from Renungan Harian