Sabtu, 16 Mei 2026

KETIKA ANDA BERKHIANAT

Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1Petrus 4:19)


Salah satu ujian terkeras yang kita hadapi dalam melayani Allah adalah pengkhianatan. Saya menyaksikan hal ini terjadi pada salah seorang pendeta penuh kasih. Beliau memberi dorongan kepada seorang pemuda berbakat di gerejanya untuk belajar di sekolah teologi. Pendeta itu memberikan dukungan dana bagi sang pemuda. Sampai pemuda itu lulus, pendeta itu masih membimbing, dan mengizinkannya berkhotbah dalam kebaktian.

Lama kelamaan pemuda itu mulai menjatuhkan sang pendeta dengan sindiran dan kritikan. Akhirnya yang tinggal hanyalah keremukan hati. Selanjutnya, pemuda itu mengumumkan dirinya sebagai calon pendeta gereja itu.

Yesus tahu benar tentang pengkhianatan. Dia menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk tinggal bersama keduabelas muridNya, dan salah seorang di antara mereka adalah Yudas. Yesus telah mengajarnya, menunjukkan mukjizat di depan matanya, dan bahkan membasuh kakinya, namun Yudas menjual kesetiaannya demi 30 keping perak. Ketika Yesus mengungkapkan pengkhianatan yang bakal terjadi atas diriNya dalam Yohanes 13:18, Dia mengutip Daud yang juga mengetahui bahwa ada sahabat karibnya yang akan menyerangnya (Mazmur 41:10).

Setelah tahu bahwa Dia dikhianati, Yesus melanjutkan apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukanNya. Dia mengajar kita dengan teladan untuk melayani orang lain karena kita mengasihi dan mematuhi Allah, bukan karena kita ingin dihargai.

Apakah Anda dikhianati? Temukanlah kelegaan dalam pengenalan bahwa kepenuhan sejati akan datang saat kita melakukan kehendak Allah -- DCE

JIKA ANDA DIKHIANATI SERAHKANLAH SEMUANYA PADA ALLAH

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 15 Mei 2026

KESAN TERAKHIR

Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema (1Tesalonika 1:8)


Ketika pakar keuangan dari Amerika bernama John Pierpont Morgan meninggal dunia pada tahun 1913, keinginan dan pernyataan terakhirnya mengungkapkan kesungguhan imannya di dalam Yesus Kristus. Ia telah menunjukkan warisan istimewa yang ia miliki lewat kata-kata yang meyakinkan:

"Saya menyerahkan jiwa saya ke dalam tangan sang Juruselamat dengan keyakinan penuh bahwa setelah menerima dan dibasuh dengan darahNya yang kudus, Dia akan menghadirkan kesucian sebelum saya menghadap takhta Bapa surgawi. Dan saya meminta anak-anak saya untuk memelihara dan mempertahankannya dengan segala resiko dan dengan pengorbanan pribadi apa pun, keseluruhan doktrin tentang penebusan dosa yang dianugerahkan lewat penumpahan darah Yesus Kristus, sekali dan hanya melalui Dia."

Kata-kata tersebut di atas merupakan pesan dan kesan terakhir John kepada ahli warisnya. Suatu sikap yang patut dihargai sebagai suatu kesaksian yang murni tentang contoh iman yang harus kita miliki sebelum kita meninggalkan dunia ini. Dan itu juga -- secara tidak langsung -- menyatakan bahwa sangatlah penting bagi kita untuk bersaksi tentang iman kita pada Kristus tatkala kita masih hidup.

Orang-orang yang belum percaya di Tesalonika menanggapi kesaksian Paulus, Silwanus, dan Timotius lewat perubahan hidup dan kesaksian pribadi, sehingga "firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat" (1Tesalonika 1:6-8). Demikianlah, bila kita mengabarkan Injil melalui ucapan dan tindakan, kita akan meninggalkan pesan dan kesan terakhir yang sangat penting di dunia ini -- VCG

HIDUP BAGI ALLAH MEWARISKAN WARISAN YANG KEKAL

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 14 Mei 2026

HARI KENAIKAN

Adalah lebih berguna bagi kamu jika aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu (Yohanes 16:7)


Ada empat peristiwa adikodrati yang menjaga manusia dari tindakan pengrusakan diri. Sama seperti menara api menembus badai laut, mukjizat-mukjizat ini pun menunjukkan jalur penyelamatan dunia yang telah kehilangan harapan. Kita sering memperingatinya, yakni Natal, Jumat Agung, Paskah dan Hari Kenaikan.

Kebanyakan dari kita telah mengetahui arti penting kelahiran Kristus, ketika Allah menjadi manusia; salib, ketika hukuman dosa terbayar; dan kebangkitan, ketika kuasa kematian dipatahkan. Namun bagaimana halnya dengan kenaikanNya? Mengapa peristiwa ini amat penting?

Kembalinya Yesus pada BapaNya mempengaruhi kehidupan setiap orang, baik orang-orang beriman maupun orang-orang yang tidak percaya. Setelah kembali ke surga, Dia mengutus Roh Kudus yang akan menunjukkan kepada semua orang tentang kebutuhan akan Juruselamat bagi mereka (Yohanes 16:8). Yesus juga berkata bahwa Penghibur itu adalah penolong (Yohanes 16:7) dan Guru (Yohanes 14:17; 16:13-15) bagi orang-orang percaya.

Dengan kenaikan Kristus dari bumi ini menyusul kebangkitanNya, kelangsungan pelayananNya menjadi tak terbatas. Dia tak perlu lagi mengerjakan apa yang sekarang telah Dia lakukan melalui Roh Kudus.

Hari Kenaikan Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa Tuhan yang agung tidak hanya meneruskan pelayanNya terhadap kita, tetapi melalui Roh Kudus Dia juga memanggil orang-orang berdosa untuk datang kepadaNya -- DJD

ROH KUDUS TIDAK HANYA MENGHIBUR ORANG-ORANG PERCAYA TETAPI JUGA MENGHUKUM ORANG-ORANG BERDOSA

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 13 Mei 2026

SAYA KAYA!

[aku berdoa] meminta pada Allah Tuhan kita Yesus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar (Efesus 1:17)


Pasangan suami istri Tallahassee yang menghadapi suatu masalah, telah terusir dari rumah mereka dan kini mereka harus tidur di dalam mobil. Mereka mengkuatirkan ketiga anaknya akan direnggut dari kehidupan mereka dan dimasukkan ke panti sosial. Tetapi kemudian mereka memenangkan suatu undian dengan hadiah uang lebih dari 1,5 milyar rupiah.

Secara tiba-tiba mereka menjadi orang kaya. Untuk mengambil hadiah uang lebih 1,25 milyar rupiah (setelah dipotong pajak), mereka menyewa sebuah limousin.

Bayangkanlah bila Anda yang mendapatkan uang sebanyak itu. Bagaimana perasaan Anda? Dan, bagaimana bila Anda memenangkannya sebanyak 100 kali?

Dapatkah uang sebesar itu dibandingkan dengan kekayaan seperti yang diungkapkan dalam Efesus 1:1-23? Jika kita meletakkan pengharapan akan keselamatan pada Yesus Kristus, sesungguhnya kita amatlah kaya secara spiritual! Pernahkah Anda menyadarinya?

Kecemasan terhadap masalah-masalah keseharian dapat membutakan kita untuk memahami apa arti mengenal Anak Allah, apa arti pengharapan atas panggilanNya, apa arti kekayaan, dan apa arti kuasa yang telah disediakanNya bagi kita (Efesus 1:18-19). Keinginan kuat akan uang dan pemuasan ego lainnya dengan mudah membuat mereka yang tidak memiliki kekayaan rohani yang kekal seperti kita merasa cemburu.

Bapa, ampunilah kami atas kebingungan dan ketidakyakinan kami. Bukalah mata kami agar dapat melihat kekayaan yang tak terucapkan yang telah Engkau berikan melalui AnakMu Yesus Kristus -- MRD

KAYA DALAM TUHAN JAUH LEBIH BAIK DARIPADA KAYA DALAM DUNIAWI

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 12 Mei 2026

KONTAK MATA

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
(2Timotius 3:16)

Para peneliti yang mempelajari tentang gerakan mata selama percakapan normal mendapati bahwa mempertahankan kontak mata selama jangka waktu tertentu merupakan hal yang sangat sulit, bahkan tidak mungkin. Sebuah kamera khusus menunjukkan bahwa pandangan mata yang tampaknya terus-menerus terhadap suatu objek sebenarnya terdiri dari serangkaian pandangan sekilas. Gerakan mata sangat penting karena urat-urat syaraf pada mata membutuhkan perubahan rangsang yang terus-menerus jika kita ingin melihat dengan jelas. Penelitian menunjukkan bahwa bila kita melihat satu titik yang sama secara terus-menerus, maka daerah penglihatan kita yang selebihnya akan menjadi kosong.

Kita dapat mengalami hal yang sama pada saat mempelajari Firman Allah. Jika kita secara istimewa hanya "terpancang" pada suatu kebenaran tertentu dari Alkitab dan mengabaikan doktrin-doktrin lain yang juga penting, maka pandangan rohani kita akan mulai kabur. Ada sebagian orang memiliki kecenderungan untuk hanya melihat pada kasih Allah, atau murka Allah, atau penginjilan, atau pertumbuhan gereja, atau akhir zaman, atau iblis, atau dosa. Tidak menjadi soal aspek mana yang kita perhatikan secara khusus, yang jelas kita perlu berhati-hati agar tidak kehilangan pandangan rohani yang benar.

Alkitab mengatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat bagi pertumbuhan kerohanian kita (2Timotius 3:16). Apabila kita melihat gambaran yang lengkap, yakni bagaimana doktrin-doktrin Alkitab yang demikian banyak saling melengkapi, kita tidak akan hanya memandang kebenaran-kebenaran tertentu dan tidak menghiraukan kebenaran-kebenaran yang lain --MRDII


ANDA TAKKAN DAPAT MENIKMATI KEHARMONISAN NADA FIRMAN TUHAN JIKA ANDA HANYA MEMAINKAN SATU NADA KEBENARANNYA

*Take from Renungan Harian 

Senin, 11 Mei 2026

SIAPA YANG PATUT MENERIMA PUJIAN?

[Allah] berbuat menurut kehendak-Nya terhadap balatentara langit dan penduduk bumi (Daniel 4:35)


Sejarawan Stephen E. Ambrose meyakini bahwa pengorbanan para pahlawan telah membuat Amerika Serikat menjadi "negara terhebat dan terbesar yang pernah ada." Ia menghubungkan kebesaran negara ini dengan beberapa presiden terdahulu seperti Washington dan Jefferson, juga beberapa penjelajah seperti Lewis dan Clark. Ambrose menulis, "Allah tidak menyumbangkan apa pun, manusialah yang membuat Amerika demikian."

Pandangan tersebut berpusat pada kontribusi manusia yang dianggap sangat penting, namun lupa mengenali bahwa di balik itu semua Allah membimbing dan mengontrol jatuh bangunnya setiap bangsa di dunia.

Raja Nebukadnezar berpikir bahwa dirinyalah yang sepenuhnya berjasa atas berdirinya kerajaan Babel yang sangar besar itu. Ia menyombongkan diri, "Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun ...?" (Daniel 4:30).

Ia belum selesai berbicara saat Allah merendahkannya sehingga ia menjadi seperti binatang dan memakan rumput-rumput yang ada di padang. Tujuh tahun kemudian ia berkata, "Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap balatentara langit dan penduduk bumi" (ayat 35).

Janganlah kita diperdaya oleh kepandaian kita sendiri. Allahlah yang bekerja di dalam kita, yang memberi kita keinginan untuk menaati-Nya dan kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya (Filipi 2:13). Hanya Allah yang patut dipuji. Dialah yang layak menerima pujian --VCG


KERENDAHAN HATI YANG SEJATI SENANTIASA MEMUJI ALLAH ATAS SETIAP KEBERHASILAN

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 10 Mei 2026

TERANGILAH DUNIA

Kamu adalah terang dunia (Matius 5:14)


Pada suatu malam, putri saya Julie bersama temannya mengendarai mobil dari kampus mereka menuju kota terdekat. Dalam perjalanan, mereka melewati daerah yang sangat gelap karena arus listrik sedang terputus. Rasanya begitu asing dan menakutkan mengendarai mobil melewati daerah yang gelap seperti itu.

Ketika mereka meninggalkan daerah itu, mereka melihat cahaya di depan mereka. Sinarnya bagaikan mercusuar. Dan saat sampai ke sumber cahaya itu, mereka terkejut bercampur senang saat mendapati bahwa satu-satunya cahaya dalam kegelapan itu berasal dari sebuah gereja. Sebuah rumah ibadah sedang menerangi dunia di sekitarnya.

Seperti itu pulalah seharusnya orang melihat kita sebagai orang kristiani. Dalam dunia yang gelap karena dosa, kita diharapkan dapat menjadi terang yang bercahaya dan mengundang orang-orang untuk datang mendekat. Yesus telah membawa kita keluar dari kegelapan, dan Dia mengatakan bahwa kita, para pengikut-Nya, adalah "terang dunia" (Matius 5:14). Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita hidup "sebagai anak-anak terang" (Efesus 5:8).

Ini adalah tantangan besar yang harus membuat kita memikirkan secara serius bagaimana kita hidup. Tanyakanlah pada diri Anda sendiri, "Sudahkah saya menjadi terang bagi hidup orang lain? Apakah hidup dan perkataan saya menuntun orang-orang keluar dari kegelapan dan datang kepada terang Yesus?"

Dunia ini gelap, tetapi kita memiliki terang. Sudahkah kita menerangi sekeliling kita? --Dave Branon


HIDUP ANDA DAPAT MEMANCARKAN TERANG ATAU MENGUSIR KEGELAPAN

* Take from Renungan Harian 

Sabtu, 09 Mei 2026

MATI UNTUK HIDUP

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Lukas 9:23)


Salib pada zaman Romawi dirancang untuk kematian. Hanya untuk itu. Lalu apa maksud Yesus ketika Dia mengatakan bahwa siapa pun yang ingin mengikut Dia harus "memikul salibnya setiap hari" (Lukas 9:23)? Perkataan-Nya itu tidak berarti bahwa kita semua harus disalibkan secara jasmani. "Salib" yang Dia maksud adalah tindakan mematikan keinginan hati kita dan sikap penyerahan diri tanpa syarat pada kehendak Allah.

Kematian yang dimaksud di sini adalah penyangkalan terhadap keinginan kita akan rumah yang lebih besar, anak-anak yang lebih penurut, dan teman-teman yang selalu siap membantu. Kita juga diharapkan mampu menanggung beban ketika disalahpahami, dipermalukan, dan kehilangan harga diri, termasuk untuk mampu menerima berbagai situasi yang tidak bisa diubah. Utusan Injil dan penyair Amy Carmichael rupanya mengenal dengan baik apa itu kesengsaraan dan penderitaan. Oleh sebab itu ia menulis, "Dalam penerimaan ada kedamaian."

Yesus mengatakan bahwa kita harus memikul salib setiap hari. Ketika bangun setiap hari, hendaknya kita dengan ceria serta berani memikul beban kita, karena ada hal lain yang juga diberikan "setiap hari". Hal lain itu ialah kasih karunia-Nya yang senantiasa cukup setiap hari, sebab justru dalam kelemahan kitalah kuasa-Nya menjadi sempurna (2Korintus 12:9). Dia tidak akan pernah meninggalkan ataupun membiarkan kita (Ibrani 13:5). Dia berjanji bahwa melalui kematian rohani kita, Dia akan membuat kita lebih hidup daripada sebelumnya (1Korintus 15:53-57).

Sudahkah Anda mati untuk hidup? --David Roper

HATI YANG SIAP MENERIMA AKAN MENEMUKAN KEDAMAIAN

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 08 Mei 2026

BABI DAN DOMBA

Pandanglah burung-burung di langit.... Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26)


Ketika David Field, seorang penulis dan pendeta, tiba di gereja yang mengundangnya untuk menjadi pembicara tamu, ia diperkenalkan pada seorang anggota paduan suara. Ketika Field bertanya tentang pekerjaannya, wanita itu menjawab "Saya memelihara babi." "Berapa banyak babi yang kamu miliki?" tanya Field lagi. Tanpa ragu ia menjawab, "Sekarang ini seratus sembilan puluh dua ekor." Sambil tertawa Field menanggapi jawaban tersebut, "Sungguh? Kamu yakin itu?" Dengan jengkel wanita itu menjawab, "Tentu saja saya yakin. Saya kan memberi nama pada mereka semua!"

Bayangkan, ada seseorang yang mengenali nama 192 babi! Namun mengapa tidak--jika Anda melakukannya dengan senang hati seperti yang dilakukan wanita tersebut terhadap kawanan babinya?

Bagaimana dengan sang Pencipta, yang memiliki nama untuk setiap bintang yang tak terhitung di langit? (Yesaya 40:26). Sang Pencipta itu juga adalah Gembala kita yang Baik, yang mengasihi kita jauh melebihi kasih manusia. Dan Gembala Yang Baik itu memanggil domba-domba-Nya masing-masing menurut namanya (Yohanes 10:3).

Mungkin kita pernah tergoda untuk berpikir bahwa Allah Yang Mahakuasa, yang menopang galaksi demi galaksi itu mungkin tidak sanggup memperhatikan kita dan masalah yang kita hadapi. Namun Yesus berkata bahwa Bapa surgawi memelihara dan memperhatikan kebutuhan binatang-binatang terkecil sekalipun, dan bahwa kita jauh lebih tinggi nilainya dari binatang-binatang itu (Matius 6:26). Dia mengenal nama-nama kita dan memenuhi kebutuhan kita [VCG]


ALLAH BERKUASA UNTUK MEMPERHATIKAN KEBUTUHAN KITA YANG TERKECIL

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 07 Mei 2026

SUMBER SUKACITA

Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersuka-cita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu (2Korintus 6:10)


Paul Gerhardt, seorang pendeta di Jerman pada abad 17, memiliki segudang alasan untuk tak bersukacita. Istri dan keempat anaknya meninggal dunia; Perang Tiga Puluh Tahun telah membinasakan warga dan menghancurkan Jerman; konflik gereja dan guncangan politik mengisi hidupnya dengan penderitaan. Namun, di tengah-tengah penderitaan pribadinya yang hebat, ia menulis lebih dari 130 himne yang kebanyakan diwarnai sukacita dan ketaatan kepada Yesus Kristus.

Berikut kutipan lirik salah satu himne karya Gerhardt, "Holy Spirit, Source of Gladness":


Biarkan kasih yang tidak mengenal batas
Mengalir bagai hujan yang deras,
Memberi kita harta tak ternilai harganya
Yang didamba manusia, dan yang Allah beri;
Dengarkan kesungguhan permohonan kami,
Tiap hati yang berat menjadi berseri;
Tinggal dalam persekutuan,
Roh yang penuh kedamaian.

Karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus (Roma 5:5), adakah situasi di mana kita tak dapat mengalami sukacita yang Dia berikan?

Selama melewati masa penderitaan besar, Rasul Paulus menggambarkan pengalamannya itu seperti "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu" (2Korintus 6:10).

Duka dan penderitaan adalah kenyataan hidup yang tak dapat dihindari. Namun, Roh Kudus adalah sumber sukacita kita, "memberi kita harta tak ternilai harganya yang didamba manusia, dan yang Allah beri" --DCM


KEBAHAGIAAN BERGANTUNG PADA PERISTIWA YANG KITA ALAMI TETAPI SUKACITA BERGANTUNG PADA YESUS

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 06 Mei 2026

"SOBAT BAIK"

Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu (Yohanes 15:14)


Jemaat menyimak dengan sungguh-sungguh pada saat pendeta memulai doanya dengan kalimat: "Bapa kami yang di surga ..." Tiba-tiba saja, kalimat sang pendeta seperti disahut oleh suara yang berkata, "Halo, sobat baik!"

Orang-orang mulai tertawa ketika mereka menyadari bahwa suara itu ternyata berasal dari sebuah alat komunikasi yang menangkap kata-kata seorang sopir truk yang sedang berbicara di radio panggilnya! Tidak banyak yang dapat dicapai pada kebaktian hari itu, sebab jemaat terus tertawa geli mengingat suara yang membuat mereka berpikir Allah menjawab sang pendeta dengan menyebutnya "sobat baik".

Musa mengerti bagaimana rasanya menjadi sahabat Allah -- yaitu menjalin relasi yang melebihi hubungan pertemanan biasa. Tuhan kerap berbicara kepada Musa "dengan berhadapan muka seperti seorang manusia berbicara kepada temannya" (Keluaran 33:11). Abraham, bapa bangsa-bangsa, juga disebut sebagai sahabat Allah (2Tawarikh 20:7).

Namun, apakah Anda dan saya dapat menjadi sahabat Allah? Dalam bacaan Alkitab hari ini, Yesus, teladan tertinggi dari persahabatan yang penuh kasih, menyebut murid-murid-Nya sebagai sahabat (Yohanes 15:13,15). Dia berkata dengan sungguh-sungguh: "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu" (ayat 14).

Dan apakah perintah-Nya bagi kita? Yaitu agar kita mengasihi-Nya dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (Markus 12:30,31). Begitulah cara kita menjadi sahabat Allah --AMC


SAHABAT TERBAIK DI DUNIA HANYALAH SUATU BAYANG-BAYANG APABILA DIBANDINGKAN DENGAN YESUS -- Chambers

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 05 Mei 2026

JANGAN TAKUT

Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar
(Yesaya 12:2)


Saya memiliki mesin pengisap daun yang sudah kuno untuk membersihkan teras pada belakang rumah. Mesinnya terbatuk-batuk, gemeretak, mengeluarkan asap yang mengganggu, dan istri saya (dan mungkin juga tetangga) menganggapnya terlalu bising.

Tetapi anjing tua kami sama sekali tidak peduli dengan kebisingan yang ditimbulkannya itu. Ketika saya menghidupkan pengisap daun itu, ia bahkan tidak mengangkat kepalanya. Ia hanya beranjak dengan enggan ketika saya mengisap daun-daun atau sampah ke arahnya. Itu karena ia memercayai saya.

Lelaki muda yang kadang-kadang menyiangi rumput di halaman kami menggunakan pengisap daun yang sama, tetapi ia tidak ditolerir oleh anjing kami. Beberapa tahun yang lalu, ketika anjing kami masih kecil, ia mengusiknya dengan mesin itu dan anjing saya tidak pernah melupakannya. Sekarang, ketika laki-laki itu memasuki halaman belakang, kami harus mengunci anjing itu di dalam rumah, karena ia menggeram dan menggonggonginya. Padahal situasinya sama, tetapi tangan yang menggunakan pengisap daun itu membuatnya berbeda.

Demikian pula dengan diri kita. Situasi yang menakutkan tidak akan mengganggu jika kita memercayai tangan yang mengendalikannya. Jika dunia dan kehidupan kita diatur oleh kekuatan yang semena-mena dan asal-asalan, kita sudah selayaknya merasa takut. Tetapi tangan yang mengendalikan semesta alam—tangan Allah—adalah tangan yang bijaksana dan penuh belas kasih. Kita dapat memercayai-Nya, apa pun situasi yang melingkupi kita dan kita tidak perlu takut —DHR


ALLAH MEMEGANG KENDALI JADI KITA TIDAK PERLU TAKUT

* Take from Renungan Harian 

Senin, 04 Mei 2026

HANYA SATU PINTU

Akulah pintu; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat
(Yohanes 10:9)



Seorang ahli Perjanjian Lama bernama Sir George Adam Smith mengatakan bahwa ketika ia mengunjungi Tanah Suci, ia melihat seorang gembala dan dombanya berdiri di depan benteng. Tidak ada pintu terlihat di sana. Di situ yang tampak hanyalah sebuah lubang sebesar tubuh manusia.

Smith kemudian bertanya kepada gembala tersebut mengapa di sana tidak ada pintu. Gembala itu menjelaskan, "Sayalah jalan masuknya. Saya berdiri di lubang itu, dan domba lewat di bawah saya memasuki benteng. Apabila mereka semua sudah berada di dalam dengan aman, maka saya akan berbaring melintang pada lubang itu. Tidak akan ada pencuri yang dapat masuk dan juga tidak ada domba yang bisa keluar kecuali melewati tubuh saya. Sayalah jalan masuknya."

Kita seperti domba yang memerlukan Gembala (1 Petrus 2:25). Untuk jalan masuk ke surga, tempat kebahagiaan kekal, Yesus memberikan pernyataan yang mengagumkan ini: "Akulah pintu ke domba-domba itu .... barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat" (Yohanes 10:7-9). Orang-orang yang mendengar-Nya pada saat itu tidak membayangkan pintu dari kayu yang tergantung pada engsel. Mereka memahami bahwa Dia benar-benar mengatakan, "Akulah jalan masuk ke rumah Allah." Dia dapat mengklaim diri-Nya sebagai jalan menuju kebahagiaan kekal, jalan khusus menuju kemuliaan Allah, karena Dialah Putra Allah.

Yesus merupakan satu-satunya jalan menuju surga (Yohanes 14:6). Kita dapat masuk ke sana hanya jika meletakkan iman kepada-Nya —VCG


ADA BANYAK JALAN KE NERAKA TETAPI HANYA ADA SATU JALAN KE SURGA

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 03 Mei 2026

LATIHAN BERIBADAH

Latihlah dirimu beribadah (1Timotius 4:7)


Konsultan kebugaran Jhannie Tolbert mengatakan bahwa Anda tidak memerlukan treadmill (alat fitnes) atau peralatan khusus untuk melakukan latihan fisik sewaktu berada di rumah. Tolbert menggunakan kotak perkakas untuk latihan melompat, mengangkat panci sup untuk melatih otot bahu, serta menggunakan perkakas rumah tangga yang lain untuk latihan fisik setiap hari. Ia mengatakan bahwa Anda dapat tetap menjaga kebugaran meskipun hanya latihan di rumah dengan menggunakan peralatan yang murah dan sederhana. Pelatih lain setuju dan mendorong orang-orang untuk menggunakan tali lompat, kursi, sapu, dan bahkan tas belanja untuk latihan secara rutin. Mereka melihat bahwa latihan adalah soal kemauan, bukan kekayaan.

Prinsip yang sama berlaku untuk kebugaran rohani. Meskipun kamus Alkitab, tafsir, dan buku-buku lain memang bermanfaat, kita dapat memulai latihan rohani hanya dengan menggunakan Alkitab dan bimbingan Roh Kudus. Paulus mendorong anak didiknya Timotius: "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang" (1 Timotius 4:7,8).

Anda tidak perlu memiliki uang banyak untuk mendapatkan kebenaran rohani dan mempraktikkannya. Kita tidak memerlukan peralatan atau bahan-bahan khusus untuk mendoakan teman, bersyukur kepada Allah, atau menaikkan pujian bagi-Nya. Kita hanya perlu memulai dari tempat kita sekarang, dengan apa yang kita punyai, sekarang juga —DCM


LATIHAN BERIBADAH
ADALAH KUNCI KARAKTER YANG SALEH

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 02 Mei 2026

PANTANG MENYERAH

Lalu Yesus berkata kepadanya, "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki" (Matius 15:28)


Pada 1953, sebuah perusahaan baru, Rocket Chemical Company beserta tiga stafnya, mencoba menciptakan produk pelarut dan minyak pelumas pencegah karat yang bisa digunakan di industri penerbangan. Mereka bereksperimen sebanyak 40 kali untuk menyempurnakan formulanya. Formula bernama WD-40 -- singkatan dari Water Displacement, 40th attempt (penghalau air, hasil percobaan ke-40) -- masih digunakan sampai sekarang. Sungguh kegigihan yang mengagumkan!

Injil Matius mencatat kisah lain tentang semangat pantang menyerah. Seorang wanita Kanaan memiliki anak perempuan yang kerasukan setan. Wanita itu tak memiliki harapan lagi bagi anaknya itu -- sampai ia mendengar Yesus berada di daerahnya.

Wanita yang putus asa ini mendatangi Yesus dengan membawa masalahnya karena ia percaya Dia dapat menolongnya. Ia berseru kepada-Nya walaupun tampaknya segala hal dan semua orang menentangnya -- ras, latar belakang agama, gender, para murid, Setan, dan sepertinya Yesus pun demikian (Matius 15:22-27). Ia menghadapi banyak rintangan, tetapi ia tidak menyerah. Ia gigih merangsek maju menerjang gelapnya lorong kesulitan, keinginan yang mustahil, dan penolakan. Hasilnya? Yesus menghargai iman wanita itu dan menyembuhkan anak perempuannya (ayat 28).

Kita pun diundang untuk menghampiri Yesus dengan semangat pantang menyerah. Apabila kita senantiasa meminta, mencari, dan mengetuk, kita akan menemukan kasih karunia dan belas kasihan saat kita memerlukannya --MW


Sesuatu terjadi saat kita berdoa,
Berdoalah dan jangan gampang menyerah,
Bergumullah sampai hari terang;
Ya, berdoalah senantiasa. --Anon.



SIKAP PANTANG MENYERAH DALAM BERDOA AKAN MENYENANGKAN HATI ALLAH 

* Take from Renungan Harian

Jumat, 01 Mei 2026

DORONGAN SEMANGAT

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan (Ibrani 12:2)


Ketika putra saya Joe masih kecil, saya membawanya ke YMCA terdekat untuk belajar berenang. Saya dapat membayangkan ketika dia kelak meraih medali emas di Olimpiade.

Yang membuat saya kesal, Joe tidak tertarik untuk mengikuti kelas renang. Ia malah melihat air kolam, memandang pelatihnya, dan ia pun mulai menangis ketakutan.

Saya berpikir, Oh tidak, ternyata saya menjadi ayah seorang anak pengecut! Parahnya lagi, si pelatih meminta saya membawa Joe kembali ke ruang ganti. Ketika ia merengek-rengek minta pulang, saya memberinya sedikit semangat: "Kamu bisa, Joe! Ayah akan selalu menemanimu saat latihan, dan kita akan saling memberi tanda. Jika kamu takut, lihatlah Ayah; dan ketika Ayah mengacungkan jempol, ketahuilah bahwa kamu tidak ada apa-apa karena Ayah di sini mendukungmu." Akhirnya Joe setuju, dan kini ia dapat berenang dengan baik.

Kita pun sering menghadapi keadaan yang tampaknya sulit dan mustahil. Pada saat itulah kita perlu yakin di dalam Yesus. Mungkin naluri pertama kita adalah melarikan diri dalam ketakutan. Namun, justru pada saat itulah kita harus melihat kepada Yesus, "yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibrani 12:2). Dia akan mengangkat tangan-Nya yang pernah terluka bekas dipaku dan berkata, "Bertahanlah. Teruskanlah bertanding. Aku dulu pernah melakukannya, dan dalam kuasa-Ku kau bisa menang. Kau pasti bisa!" --JMS


Berpeganglah pada Kristus dan Dia akan memberimu
Kemauan untuk menyelesaikan perjalanan;
Berpeganglah teguh pada-Nya dan teruslah bertahan,
Dan Dia akan memperbarui kekuatanmu. --D. De Haan


KEMENANGAN KRISTUS DI MASA LALU MEMBERI KEKUATAN DI MASA KINI DAN PENGHARAPAN DI MASA YANG AKAN DATANG

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 30 April 2026

MAHKOTA YANG DIPERSEMBAHKAN

Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa (Wahyu 4:11)


Suatu kali pada masa pemerintahannya, Ratu Victoria dari Inggris mendengarkan khotbah yang dibawakan oleh seorang pendeta. Khotbah itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kali. Orang-orang yang duduk di dekat tempat khusus sang ratu dapat melihat bahwa ratu berlinang air mata.

Seusai kebaktian, ia ingin bertemu dengan pendeta itu seorang diri. Ketika melihat perasaan sang ratu yang begitu mendalam, sang pendeta lalu menanyakan alasan sang ratu begitu terharu. Ratu menjawab, "Karena khotbah Anda tentang kedatangan kembali Sang Raja dunia yang tak bercela itu, saya berharap saya masih hidup ketika Dia datang kembali sehingga saya dapat meletakkan mahkota saya di kaki-Nya!"

Ada upah yang besar untuk pelayanan yang setia, yang melibatkan tindakan dan motif kita. Upah-upah ini, yang disebut sebagai "mahkota" dalam Perjanjian Baru, akan didapat oleh mereka yang telah menerima hadiah kehidupan kekal.

Mungkin Anda akan berkata, "Saya tidak mengharapkan upah atas apa pun yang saya lakukan untuk Kristus." Sudahkah Anda merenungkan apa yang dapat Anda lakukan dengan mahkota apa pun yang Anda terima hari itu? Tidak akan ada tempat memajang piala di surga; tidak akan ada sorak kemenangan terhadap prestasi duniawi. Para pendosa yang telah ditebus akan mendapatkan sukacita yang luar biasa karena dapat melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta-Nya sembari berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa" (Wahyu 4:11) --PRV


MAHKOTA SURGAWI BUKAN UNTUK DISIMPAN MELAINKAN UNTUK DIPERSEMBAHKAN DI KAKI KRISTUS

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 29 April 2026

PENGALAMAN YANG HILANG

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu (Mazmur 51:14)


Seorang pendeta di Los Angeles mengunjungi seorang pria dan menanyakan apakah ia seorang kristiani. "Oh, ya. Saya adalah anggota sebuah gereja di Ohio," katanya, "dan pada saat saya meminta surat keanggotaan gereja sebelum datang ke sini, saya duduk dan menuliskan pengalaman kristiani saya di atas sehelai kertas. Saya telah menyimpan kedua surat tersebut di dalam sebuah kotak kecil. Saya akan menunjukkannya kepada Anda."

Ketika ia mengeluarkan kotak itu, ternyata seekor tikus telah menggerogoti kotak itu dan menghancurkan surat-surat yang ada di dalamnya. Ia berkata kepada sang pendeta, "Saya telah kehilangan pengalaman kristiani dan surat gereja saya."

Jika hanya kedua dokumen itu yang hilang, kehilangan itu tidaklah besar. Banyak orang menanam "saham" yang besar di dalam sertifikat baptisan atau surat keterangan gereja, namun mereka tidak mengalami karya anugerah sejati di dalam hati. Hanya iman di dalam Sang Juruselamatlah yang akan memberikan keselamatan.

Orang-orang kristiani sejati juga dapat belajar dari cerita ini. "Pengalaman" mereka yang dulu penting mungkin telah "disimpan di dalam kotak" dan dibiarkan membusuk. Mereka telah gagal untuk menjaganya tetap segar dan hidup, melalui persekutuan setiap hari dengan Tuhan melalui doa dan pemahaman Alkitab.

Jika hal ini menggambarkan diri Anda, berserulah bersama Daud, "Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu" (Mazmur 51:14) —PRVG


IMAN DI DALAM PENGAKUAN IMAN RASULI DAPAT MENJADI BUSUK TETAPI IMAN DI DALAM KRISTUS DAPAT TETAP SEGAR SETIAP HARI

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 28 April 2026

TAK TERSEMBUNYI

Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan
(Markus 7:24)



Minyak wangi dari bunga mawar merupakan salah satu produk negara Bulgaria yang paling berharga dan dibebani pajak ekspor yang tinggi. Suatu kali seorang turis yang tidak bersedia membayar pajak, menyembunyikan dua botol kecil minyak berharga ini di dalam kopernya. Akan tetapi, ada sedikit parfum yang telah tumpah di kopernya. Setibanya di stasiun kereta api, aroma parfum itu telah menyebar dari dalam koper, sehingga memberitakan harta karun yang tersembunyi tersebut. Pihak berwenang segera mengetahui apa yang telah dilakukan sang pria dan menyita suvenir mahal tersebut.

Hal yang sama berlaku untuk Tuhan Yesus. Dia pun tidak dapat dirahasiakan. Orang banyak selalu mengerumuni-Nya. Mereka ingin mendengar perkataan hikmat, menerima pengampunan-Nya, serta meminta belas kasihan-Nya.

Setelah Dia naik ke surga kepada Bapa-Nya, pengaruh Yesus berlanjut di dalam kehidupan murid-murid-Nya. Orang banyak sadar bahwa mereka bersama Yesus (Kisah Para Rasul 4:13). Sikap dan tingkah laku mereka menandakan bahwa mereka adalah pengikut-Nya yang sejati.

Apakah Anda benar-benar hidup bagi Yesus? Apakah kasih Kristus begitu nyata di dalam hidup Anda sehingga orang-orang yang mengenal Anda dapat menyadari bahwa Anda adalah pengikut Dia yang "tidak dapat dirahasiakan"? (Markus 7:24). Jika memang demikian halnya, maka dunia akan dengan mudah melihat bahwa Anda berada di pihak Allah. Pengaruh Anda tidak dapat dirahasiakan —HGB

ANDA TIDAK DAPAT MENYEMBUNYIKAN PENGARUH ANDA

* Take from Renungan Harian 

Senin, 27 April 2026

KUASA DARI PENGARUH

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? (Galatia 3:1a)


Bertahun-tahun waktu yang dipakai oleh seseorang untuk melatih dirinya memakai tata bahasa yang baik dan benar, tidak akan mampu mengalahkan beberapa jam berbicara dengan seorang sahabat yang memakai bahasa secara serampangan. Itulah hasil pengamatan saya baru-baru ini ketika secara tidak sengaja saya mendengar percakapan anak saya Steven dengan salah seorang temannya.

Saya mendengar teman Steven itu berkali-kali menggunakan bahasa Inggris dengan sangat buruk. Saya sangat heran dengan pilihan kata yang digunakannya. Namun yang lebih mengherankan lagi adalah ketika saya mendengar Steven berbicara seperti anak itu juga. Padahal ia tidak biasa berbicara demikian -- paling tidak sampai saat ia mendapat sedikit pengaruh dari teman sebayanya itu.

Itu adalah suatu gambaran akan kuasa pihak lain yang dapat mengubah cara berpikir kita. Secara hati-hati kita membimbing anak-anak kita agar dapat memakai bahasa yang baik dan benar, akan tetapi pengaruh satu teman saja dapat menghancurkan segala usaha kita.

Prinsip ini berlaku pula terhadap perkara-perkara yang jauh lebih penting. Ahazia dalam 2Tawarikh 22:1-12 dikatakan telah dipengaruhi oleh ibunya untuk melakukan yang jahat (2Tawarikh 22:3). Akibatnya, "Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN" (2Tawarikh 22:4). Kakeknya, Yosafat, juga memberi pengaruh, tetapi pengaruh yang jahat dari ibunyalah yang lebih menguasainya.

Kita dapat terkecoh! Karena itu kita harus berhati-hati terhadap apa atau siapa yang mempengaruhi kita, dan hiduplah dekat dengan Bapa kita, sumber segala apa yang baik dan benar! -- JDB

PILIHLAH SAHABAT DENGAN HATI-HATI SEBAB KITA DAPAT MENJADI SEPERTI MEREKA 

* Take from Renungan Harian