Rabu, 01 Juli 2026

MANFAAT PUKULAN

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6)


Seorang pendidik sekaligus pengarang Kristen, Howard Hendricks, memperingatkan para orangtua agar tidak menyuap ataupun mengancam anak-anak supaya mereka menurut. Anak-anak cuma butuh kedisiplinan yang tegas dan penuh kasih, disertai sedikit pukulan.

Suatu kali Hendricks mengunjungi sebuah keluarga. Ketika diajak makan bersama, seorang anak duduk berseberangan dengannya.

“Makan kentangnya, Sally,” kata ibunya dengan nada memerintah.

“Sally, kalau kamu tidak mau makan kentangnya, kamu tidak akan dapat makanan pencuci mulut nanti!”

Sally malah mengedipkan mata pada Hendricks. Setelah yakin si Sally tidak mau makan, sang ibu mengambil kentang itu dan memberi Sally es krim. Hendricks melihatnya sebagai kenyataan bahwa orangtua akhirnya selalu menuruti kemauan anaknya, bukan sebaliknya seperti pernyataan Alkitab “Hai anak-anak, taatilah orangtuamu” (Efesus 6:1).

Banyak orangtua takut mengambil tindakan tegas, sekalipun mereka tahu itu yang terbaik buat anak-anak. Mereka takut anak-anak akan menentang dan berpikir bahwa mereka tidak lagi mengasihi. Hendricks berkata, “Yang perlu diperhatikan bukanlah anggapan mereka terhadap Anda sekarang, tetapi apa anggapan mereka terhadap Anda 20 tahun yang akan datang.”

Bahkan meski didikan dari Bapa Surgawi terasa menyakitkan, kelak (mungkin beberapa tahun lagi) didikan itu akan “menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibrani 12:11). Sebagai orangtua yang penuh kasih, adakah kita bisa melihat jauh ke depan seperti Bapa kita di surga? --JEY


BILA ANDA MEMBUAT HIDUP INI MUDAH BAGI ANAK ANDA
KELAK IA AKAN SULIT MENJALANI HIDUP INI

* Take from Renungan Hariaan

Selasa, 30 Juni 2026

DUA BERITA

Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4:14)



Pada hari yang sama, novelis Bret Lott menerima dua berita yang mengubahkan hidupnya. Berita pertama memberitahukan bahwa secara tak terduga seorang muridnya yang berbakat menulis meninggal akibat pembengkakan pembuluh darah otak. Berita kedua datang beberapa jam kemudian dari seorang pembawa acara talk show televisi terkenal. Orang itu menyatakan telah memilih salah satu novel Lott untuk acara klub buku yang disiarkan secara langsung setiap bulan. Ini berarti secara instan ia menjadi kaya dan ternama. Berita yang pertama begitu menyedihkan, sedangkan berita kedua sangat menggembirakan. Namun ia berusaha menyeimbangkan keduanya.

Lott, yang adalah pengikut Kristus, menuliskan nama muridnya yang meninggal itu pada sebuah kartu berwarna putih dan membawanya ketika bulan berikutnya ia muncul di televisi. “Saya telah berjanji pada diri sendiri,” katanya. “untuk selalu menyimpan kartu ini dalam saku. Dengan melihatnya seolah saya diingatkan ‘jangan sampai kemasyhuran ini membuatmu sombong, karena kau tak pernah tahu kapan batas umurmu.’”

Kitab Yakobus membandingkan hidup kita seperti “uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (4:14). Janganlah kita terlena oleh kesuksesan kita saat ini dan rencana-rencana kita untuk esok hari. Sebaliknya, kita harus ingat bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan dan tiap-tiap hari merupakan berkat dari-Nya.

Suatu saat nanti, Tuhan akan memanggil kita untuk tinggal bersama-Nya. Dengan mengingat hal ini kiranya kita cara pandang yang benar dan juga kerendahan hati dalam menghadapi setiap berita yang kita terima--DCM


UNTUK MEMBUAT HARI INI BERARTI INGATLAH AKAN KEKEKALAN 

* Take from Renungan Harian

Senin, 29 Juni 2026

BEKERJA DAN BERSENANG-SENANG

Janganlah bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini (Amsal 23:4)


Seorang konselor keluarga bernama Mori Freed telah menemukan apa yang disebutnya "mentalitas tambang garam." Ia berkata, "Pada tahun 1980-an, pikiran orang hanya tertuju pada kerja, kerja, dan kerja serta mendapatkan uang sebanyak mungkin." Ia berkata bahwa pada umumnya orang-orang terobsesi untuk mencari uang secara berlebihan. Akibatnya, mereka menjadi depresi tanpa tahu penyebabnya, padahal mereka telah mendapatkan semua hal yang mereka inginkan. Pengamat lain melihat hal serupa dalam bidang pendidikan. Saat ini, jumlah pekerjaan rumah untuk murid-murid Sekolah Dasar telah meningkat hampir dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir.

Raja Salomo menujukan kata-katanya yang bijak kepada setiap orang yang berobsesi berlebihan untuk meraih kesuksesan: "Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini" (Amsal 23:4). Terjemahan lain mengatakan, "Bersikaplah bijaksana dengan mengendalikan dirimu."

Bagaimana dengan keluarga kita? Adakah waktu bagi kita untuk bersenang-senang dan tertawa bersama, ataukah selalu ada konflik tentang pekerjaan dan pendidikan yang disertai kata-kata kasar? Seperti apakah keadaan hati kita? Waspadalah, karena dalam pelayanan Kristen pun kadang terdapat obsesi yang tidak sehat.

Kesuksesan dan kekayaan sebesar apa pun yang kita cari akan menjadi hampa bila tidak disertai keseimbangan dan berkat dari Allah. Mungkin inilah saatnya kita harus melihat kembali segala kegiatan kita, bahkan jika perlu sedikit bersantai, mengurangi kesibukan, dan bersenang-senang --DCM


TERUS-MENERUS BEKERJA TANPA BERSENANG-SENANG
AKAN MENGHILANGKAN SUKACITA KEHIDUPAN

* Take from Renungan Harian

Minggu, 28 Juni 2026

"SAYA TAHU CARANYA"

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6)



Dwight Slater, seorang pensiunan dokter misi, bercerita bahwa saat melayani di Afrika ia telah melatih seorang yang pandai namun tidak pernah mengenyam pendidikan formal, untuk menjadi asisten bedah. Namanya Kolo. Orang itu mampu belajar dengan cepat hingga ia segera dapat melakukan pembedahan.

Suatu saat sebuah tim dokter dari Amerika Serikat berada di Afrika guna memberikan bantuan selama beberapa waktu. Namun tatkala mereka harus melakukan pembedahan dengan kondisi yang jarang mereka temui di Amerika Serikat namun umum dijumpai di Afrika, mereka menjadi tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, Kolo langsung mengambil alat-alat bedah, memotong lapisan urat daging dan persendian tulang, lalu menyelesaikan pembedahan itu dengan baik.

Tatkala para dokter yang keheranan itu menanyakan prosedur pembedahan yang rumit tersebut, dengan sederhana Kolo menjawab, "Saya tidak tahu istilah-istilahnya; saya hanya tahu caranya."

Banyak orang Kristen mungkin tidak dapat mendefinisikan istilah-istilah teologi seperti penebusan, kebenaran, dan kedamaian, tetapi mereka tetap dapat menjadi saksi-saksi Kristus yang efektif karena mereka mengenal Yesus, satu-satunya jalan menuju Bapa (Yohanes 14:6). Orang-orang yang tidak percaya hanya membutuhkan penjelasan yang sederhana, yakni bahwa Yesus mati karena dosa-dosa mereka dan bahwa mereka wajib menerima Dia dengan iman.

Anda tak perlu takut menjadi saksi Kristus. Jika Anda sudah tahu caranya, Anda pasti dapat menunjukkan jalan keselamatan itu kepada orang lain-yakni melalui Yesus Kristus! --DCE


HANYA ADA SATU JALAN MENUJU SURGA-YAKNI MELALUI YESUS KRISTUS

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 27 Juni 2026

KEBENARAN DAN KELEMBUTAN

Aku akan menyayangi mereka kembali. Aku akan mengembalikan mereka (Yeremia 12:15)


Bobby merasa sangat kecewa. Ia baru saja dikeluarkan dari tim basket sekolah. Yang lebih buruk lagi, ayahnya mengetahui bahwa ia mencuri beberapa barang dari sebuah toko.

Ketika ayahnya berbicara dengan Bobby, ia membiarkan anaknya menjelaskan apa yang terjadi di sekolah dan di toko. Sang ayah dengan lembut berkata bahwa Allah dapat menggunakan kekecewaan-kekecewaan pada awalnya, seperti dikeluarkan dari tim, untuk mempersiapkan kita dalam menghadapi hal-hal yang lebih besar, yang pasti akan muncul kemudian.

Lalu dengan sungguh-sungguh ia berkata kepada anaknya bahwa ia tidak akan mentolerir pencurian barang di toko. Dengan cepat Bobby berjanji bahwa ia tak akan pernah mencuri lagi. Sekalipun merasa kasihan, sang ayah tetap meminta agar Bobby menanggung akibat dari perbuatannya, yaitu dengan mengembalikan barang curiannya kepada si pemilik toko dan mengakui perbuatannya.

Allah juga bersikap lembut terhadap anak-anak-Nya, lembut tetapi tanpa mengorbankan kebenaran. Dia berkata kepada Nabi Yeremia yang sedang kecewa bahwa dengan belajar menghadapi masalah-masalah kecil ia akan mampu mengerjakan hal-hal yang besar di kemudian hari (Yeremia 12:5). Meski Allah membiarkan bangsa yang suka memberontak itu menghadapi akibat dari dosa-dosa mereka, tetapi Dia memperlihatkan kelembutan hati-Nya dengan menyebut mereka "buah hati-Ku" (ayat 7).

Saat kita menghadapi berbagai kesulitan ataupun akibat dari dosa-dosa kita sendiri, Allah tetap menunjukkan kepada kita kebenaran dan kelembutan --HVL

KASIH ALLAH ITU TEGAS TETAPI LEMBUT

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 26 Juni 2026

BELAJAR BEKERJA SAMA

Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi
(Lukas 22:42)



Cerita berikut dikisahkan oleh A.W. Tozer: "Seorang pria yang sederhana ditanyai bagaimana ia dapat hidup damai sekalipun dikelilingi oleh keadaan-keadaan yang merugikan. Jawabannya sangat sederhana: 'Saya telah belajar bekerja sama dengan hal-hal yang tak terelakkan!'"

Sangat sedikit dari kita yang mempraktekkan cara hidup yang bijaksana dan praktis ini. Tozer berkomentar bahwa banyak dari kita seringkali memberontak dan mengeluh tentang keadaan yang terjadi dalam hidup ini sekalipun kita mengaku "bahwa kita harus tunduk kepada kehendak Allah."

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menyaksikan reaksi Petrus ketika melihat pengkhianatan yang dilakukan terhadap Tuhan yang dicintainya. Dengan menuruti kata hatinya, ia menebas telinga dari hamba Imam Besar (Lukas 22:50; Yohanes 18:10-11). Namun Yesus marah melihat usaha Petrus dalam melindungi-Nya itu dan berkata, "Sudahlah itu" (Lukas 22:51). Lalu Dia mengembalikan telinga itu dengan sebuah jamahan yang menyembuhkan.

Dalam kehidupan kita, ada masalah-masalah yang tak kunjung berakhir. Namun masalah yang Allah izinkan datang kepada kita juga dipakai-Nya demi kebaikan kita. Pertanyaannya adalah, akankah kita mengizinkan apa yang Allah izinkan? Terlalu sering kita berdoa, "Tuhan, keluarkan saya dari kemelut ini." Namun Tuhan mungkin akan berkata, "Biarkan Aku masuk dalam kemelut itu. Izinkan Aku untuk mengubahmu, tanpa perlu mengubah masalah-masalah yang menimpamu." Itulah mukjizat yang paling luar biasa --JEY



KEDAMAIAN HANYA DAPAT DITEMUKAN KETIKA KITA BERSERAHKEPADA KEHENDAK ALLAH

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 25 Juni 2026

SAYALAH YANG TERBAIK!

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Amsal 16:18)


Suatu kali seorang pengacara menggugat sebuah perusahaan besar, dan menuntut pejabat-pejabat di perusahaan tersebut karena telah memutuskan kontrak kerja dengannya. Dalam ruang sidang, pengacara itu menuntut sejumlah besar uang sebagai ganti rugi. Jumlah uang yang dimintanya sangatlah banyak dan tidak lazim, sehingga sang hakim bertanya kepada si pengacara mengapa ia menuntut uang sedemikian banyak. Pengacara tersebut menjawab, "Saya melakukan ini untuk satu alasan." Lalu sambil menegakkan kepala ia berkata, "Tahukah Anda, saya adalah pengacara terbaik di dunia."

Setelah sidang berakhir, seorang temannya bertanya, "Mengapa kau tadi menyombongkan dirimu?"

Dengan cepat, si pengacara menjawab, "Tak ada hal lain yang dapat kulakukan. Apalagi aku berbicara di bawah sumpah; jadi aku harus mengatakan yang sebenarnya!"

Pendapat pengacara tersebut tentang dirinya mengingatkan saya pada perkataan Rasul Paulus dalam Roma 12:3. Ia menasihati orang-orang Kristen demikian: "Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing." Orang yang sangat bangga dengan dirinya sendiri sehingga merasa lebih baik dari orang lain sesungguhnya sedang menuju kejatuhan (Amsal 16:18).

Sebagai pengikut Kristus, mari kita pusatkan perhatian pada kebesaran-Nya dan bukan pada kebesaran diri kita --RWD


JIKA ANDA SELALU MENYANYIKAN PUJIAN BAGI DIRI SENDIRI
MAKA ANDA HANYA AKAN MENGELUARKAN SUARA-SUARA SUMBANG

* Take from Renungan Harian

Rabu, 24 Juni 2026

KEMURUNGAN PERSEKUTUAN DOA

Tuhan, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu (Mazmur 102:2)


Terkadang, persekutuan doa dapat membuat Anda lesu. Meskipun Anda sangat senang dapat berkumpul dengan teman-teman untuk berdoa, pokok-pokok doa dapat membuat kecil hati. Seorang misionaris menghadapi masalah-masalah kesehatan. Seorang anak menderita kanker. Sepasang suami-istri dalam kelas Sekolah Minggu akan bercerai. Pengabar Injil yang ditunjuk kesulitan dalam mengumpulkan bantuan keuangan. Anda pun punya pergumulan sendiri. Semakin banyak permohonan yang Anda dengar, Anda semakin jemu.

Namun, kemudian seorang pelayan doa yang tekun mulai berdoa. Dengan penuh keyakinan, ia bersyukur kepada Allah atas pengendalian-Nya yang sempurna terhadap segala masalah yang kami doakan. Dengan mencucurkan air mata ia memohon agar Allah bekerja dalam hidup mereka yang didoakan. Dengan jujur ia mengakui bahwa kami tidak selalu memahami apa yang sedang Allah perbuat. Seperti pemazmur, ia mengubah keluh kesah menjadi pujian kepada Allah karena telinga-Nya selalu mendengarkan kita. Doa berubah menjadi pujian karena seorang yang saleh percaya bahwa Tuhan mendengar "doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka" (Mazmur 102:18).

Apakah Anda sedang bergumul dalam kesulitan hidup Anda sendiri dan persoalan-persoalan yang bertubi-tubi dari teman-teman terdekat serta orang-orang yang Anda kasihi? Belajarlah untuk menyerahkan semua masalah itu kepada Allah yang kekal. Inilah cara yang jitu untuk mengusir kejemuan dalam persekutuan doa --Dave Branon


SEKALIPUN PANDANGAN KE SEKELILING TAMPAK SURAM PANDANGAN KE ATAS SELALU CERAH

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 23 Juni 2026

SIAPA YANG PEGANG KENDALI?

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)



Saya tersenyum ketika seorang teman menceritakan pengalamannya saat naik taksi di New York. Sopir taksi yang ditumpanginya tampak ingin memamerkan kemahirannya menyetir. Dengan berani ia melanggar kepadatan lalu lintas kota besar itu, mengemudi seenaknya, membelok secara tiba-tiba, nyaris menyerempet mobil lain, dan suka mengerem mendadak.

Teman saya itu merasa yakin mereka akan mengalami kecelakaan. Ia sangat frustrasi dan ketakutan karena tak dapat mengendalikan keadaan pada saat itu. Seolah-olah hidupnya bergantung pada orang yang tak dapat diandalkan.

Saat merenungkan cerita itu, saya tersadar akan kecenderungan manusiawi kita yang selalu ingin mengendalikan segala sesuatu. Kita cenderung mudah merasa gugup tatkala kehilangan kendali atas hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita perlu menyerahkan diri kepada Dia yang menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita dapat melakukannya tanpa rasa takut bila mengingat bahwa Dia tak pernah gegabah menuntun kita. Kita perlu belajar bersikap tenang dalam hadirat-Nya dan percaya bahwa Dia sanggup mengendalikan segala sesuatu yang Dia izinkan untuk kita alami.

Kita memang harus berencana dan hidup secara bertanggung jawab. Namun kita juga harus ingat bahwa di atas segalanya, Allah mengendalikan hidup kita (Amsal 16:9, Yakobus 4:13-17). Bukan usaha kita, tetapi kehendak Allahlah yang membuat kita tetap hidup dan merasa aman. Hidup kita akan senantiasa terjamin bila kita mempercayakannya dalam tangan Allah -MRD II


MASA DEPAN KITA PASTI TERJAMIN DALAM TANGAN ALLAH YANG MAHATAHU 

* Take from Renungan Harian

Senin, 22 Juni 2026

SUARA YANG AGUNG

Aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di surga, katanya: "Haleluya!" (Wahyu 19:1)


Seorang anak kecil bernama Philip menyusuri jalanan sebuah kota kecil di Pennsylvania. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia mendengar bunyi yang asing di telinganya. Ternyata yang didengarnya adalah bunyi piano. Philip Bliss yang saat itu berusia 10 tahun sangat tertarik akan bunyi itu sehingga ia mencari dan mendatangi rumah yang menjadi sumber suara tersebut.

Ketika wanita yang memainkan piano itu melihat Philip, ia berhenti bermain. Philip berkata, "Tolong, mainkan lagi!" Namun wanita itu tidak menggubris keinginan Philip dan mengusirnya. Wanita itu tak tahu betapa agungnya dentingan nada itu bagi Philip. Ia tidak tahu bahwa bocah itu kelak akan menjadi orang berbakat yang menulis banyak himne indah.

Bayangkan bagaimana bila seseorang yang memiliki bakat musik untuk pertama kalinya mendengarkan komposisi permainan piano yang indah dengan alunan nada dan suara yang bervariasi. Lalu bayangkan pula bagaimana bila kelak untuk pertama kalinya Anda mendengar irama agung yang dilantunkan oleh umat tebusan Allah di surga. Dalam kitab Wahyu kita membaca bahwa di surga nanti, ribuan orang akan menggabungkan suara mereka dengan "kecapi Allah" dan bersama-sama menyanyi, "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan Allah, Yang Mahakuasa!" (Wahyu 15:3).

Sementara menanti saat kita kelak menjadi bagian dari paduan suara surgawi itu, marilah kita mulai memuji Allah dan Juruselamat kita yang tiada bandingnya, yang layak menerima segala pujian dan kemuliaan -JDB


MENYANYIKAN PUJIAN BAGI ALLAH TAK AKAN PERNAH KETINGGALAN ZAMAN 

* Take from Renungan Harian

Minggu, 21 Juni 2026

RAKSASA DI LAUT DALAM

Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak (Kejadian 1:21)



Ikan paus biru adalah hewan paling besar yang pernah hidup. Beberapa di antaranya memiliki panjang 30 meter dan beratnya dapat melebihi 175 ton. Ikan paus biru terbesar yang pernah diukur memiliki jantung yang besarnya sama dengan mobil Volkswagen!

Di kitab Kejadian kita membaca, "Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air" (1:21).

Pada saat Sang Pencipta menyatakan diri-Nya kepada Ayub di dalam masa penderitaannya, Dia menggunakan raksasa dari laut dalam, termasuk si "buaya yang misterius", untuk menggambarkan kekuasaan-Nya yang Ilahi, sifat-Nya yang tak terselidiki, dan karakter-Nya yang tak terbandingi.

"Baru saja melihat dia [buaya], orang sudah terbanting. Orang yang nekat pun takkan berani membangkitkan marahnya. Siapakah yang dapat bertahan di hadapan Aku? ... Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku" (Ayub 40:28-41:2).

Allah menggunakan ikan paus, buaya, dan seluruh raksasa di laut yang dalam untuk mengingatkan kita bahwa Dia sebagai Pencipta alam semesta sangatlah luar biasa (Roma 1:20). Dia yang menciptakan makhluk-makhluk raksasa yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia adalah seorang Pribadi yang melampaui kendali serta pemahaman kita.

Sebagaimana badai dan petir yang menakutkan membuat kita berdiri takjub akan Sang Pencipta, begitu pula seharusnya ikan paus biru. Segala ciptaan Allah menunjuk pada kuasa-Nya yang kekal --HDF


DUNIA BERISI TANDA-TANDA YANG MENUNJUK KEPADA SANG PENCIPTA

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 20 Juni 2026

JUTAAN!

Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Lukas 12:34)


Film buatan Inggris berjudul Millions (Jutaan) mengisahkan secara menarik mengenai dua orang kakak beradik yang menemukan sekantong penuh uang, yang tidak jelas siapa pemiliknya. Si bungsu ingin menggunakannya untuk menolong orang miskin, sementara si sulung melihat uang itu sebagai jalan menuju popularitas dan hidup yang enak. Film itu membandingkan secara kontras kebebasan dari roh yang murah hati dengan kefrustrasian dari tangan yang menggenggam.

Saat berkhotbah dari Kejadian 3, pendeta saya berkata, "Kejatuhan manusia ke dalam dosa telah membuat tangan kita menggenggam kuat." Ajaran Yesus tentang iman dan kemurahan hati menuntun kita untuk membuka tangan. Dia berkata, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Lukas 12:32-34).

Kata-kata Tuhan mungkin terdengar begitu radikal, sehingga sulit bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara mempraktikkannya. Namun, jika kita benar-benar mencari tuntunan-Nya, Dia akan menuntun setiap langkah kita dan menjaga hati kita dari kekhawatiran.

Saya yakin, anak yang murah hati di dalam film itu telah memiliki tangan yang terbuka jauh sebelum jutaan uang jatuh ke tangan mereka --DCM


ADA LEBIH BANYAK KUASA DI DALAM TANGAN YANG TERBUKA DARIPADA TANGAN YANG TERGENGGAM

* Take from Renungan Harian 

Jumat, 19 Juni 2026

KASIH TAK PERNAH GAGAL

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1Korintus 13:13)


Penyair Archibald MacLeish berkata bahwa "seperti halnya sinar, kasih menjadi lebih baik di kegelapan". Ia menyebut hal ini sebagai "hikmat terakhir di sore hari". Hal yang sama berlaku atas kasih kita kepada satu sama lain; kasih dapat menjadi lebih baik saat kita menua. Saya telah melihatnya sendiri pada dua teman saya yang sudah lanjut usia.

Mereka sudah menikah selama lebih dari 50 tahun, namun masih sangat saling mencintai. Yang satu hampir meninggal karena mengidap kanker pankreas; sedang yang lainnya hampir meninggal karena Parkinson. Minggu lalu saya melihat Barbara membungkuk ke ranjang Claude, menciumnya, dan berbisik, "Aku mencintaimu." Claude menjawab, "Engkau cantik."

Saya merenungkan pasangan-pasangan yang telah mengabaikan pernikahan mereka, yang tidak mau bertahan dalam situasi baik atau buruk, sakit atau sehat, miskin atau kaya, dan saya sedih melihat mereka. Mereka akan kehilangan kasih seperti yang dinikmati oleh kedua teman saya di tahun-tahun terakhir mereka.

Saya telah menyaksikan Claude dan Barbara selama bertahun-tahun, dan saya tahu bahwa iman yang dalam kepada Allah, komitmen seumur hidup, kesetiaan, dan kasih yang menyangkal diri adalah tema utama dari pernikahan mereka. Mereka mengajarkan kepada saya bahwa kasih yang sejati tidak pernah menyerah, "tidak pernah gagal". Kasih mereka adalah "hikmat terakhir di sore hari", dan akan berlanjut sampai akhir. Kiranya kita menyatakan kasih yang tak berkesudahan serupa itu kepada mereka yang mengasihi kita --DHR


JANGAN MENUNDA UNTUK MENGUCAPKAN KATA-KATA KASIH YANG DAPAT ANDA UCAPKAN HARI INI

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 18 Juni 2026

KAUM “APATEIS”

Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Wahyu 3:16)


Banyak orang mengaku bahwa mereka percaya akan Allah. Itu berarti mereka adalah orang-orang teis. Orang yang benar-benar ateis, sangatlah jarang ditemukan.

Saat ini, tampaknya kita perlu menambahkan istilah baru untuk sejumlah besar orang yang mengaku percaya kepada Allah, tetapi tidak peduli akan Allah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sepatutnya mereka disebut orang-orang apateis. Kata ini terbentuk dari kata benda apati yang berarti “kemasabodohan”, yaitu suatu bentuk ketidakpedulian. Dan sayangnya, kepercayaan apa pun yang dianut seseorang, ia tetap hidup sebagai orang “apateis”. Imannya hanya menghasilkan perbedaan kecil dalam perilakunya.

Rasul Yohanes mencatat bahwa Yesus menggambarkan gereja di Laodikia sebagai gereja yang tidak dingin atau tidak panas (Wahyu 3:16). Mereka suam-suam kuku, atau dapat kita sebut sebagai orang-orang “apateis”.

Bagaimana dengan kita yang mengaku percaya kepada Yesus? Apakah kita suam-suam kuku? Kita berdoa, tetapi doa kita hanyalah sebagai kewajiban? Kita ke gereja dan mungkin terlibat dalam berbagai pelayanan kristiani, tetapi semua itu hanyalah suatu rutinitas, seperti menyikat gigi atau membersihkan rumah? Apakah kita telah kehilangan kasih yang mula-mula, suatu semangat yang kita miliki pada awal perjalanan rohani kita?

Hari ini, marilah kita jadikan doa pemazmur sebagai doa kita: “Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?” (Mazmur 85:7) --Vernon Grounds



TANPA HATI YANG BERKOBAR UNTUK ALLAH
KITA TIDAK DAPAT BERSINAR BAGI YESUS

* Take from Renungan Harian




Rabu, 17 Juni 2026

“KAMU DENGAR SUARAKU?”

Janganlah kamu menghakimi, kamu pun tidak akan dihakimi
(Lukas 6:37)



Seorang suami yang sedang menghadapi masalah berkomunikasi dengan istrinya, menyimpulkan bahwa sang istri bukanlah pendengar yang baik. Oleh karenanya ia memutuskan untuk melakukan sebuah tes tanpa diketahui istrinya.

Suatu sore ia duduk jauh dari kamarnya. Sang istri membelakanginya sehingga tak dapat melihatnya. Dengan sangat pelan si suami berkata, “Kamu dengar suaraku?” Tak ada tanggapan.

Ia mendekat sedikit, lalu bertanya lagi, “Kamu dengar suaraku?” Lagi-lagi tak ada jawaban.

Tanpa bersuara ia maju lebih dekat lagi dan membisikkan kata-kata yang sama. Masih saja tak ada jawaban.

Akhirnya ia berdiri tepat dibelakang sang istri, sambil berkata, “Kamu bisa dengar suaraku?”

Betapa terkejut dan sedihnya ia manakala istrinya menanggapinya dengan marah, “Ya, untuk keempat kalinya!”

Ini merupakan peringatan yang baik bagi kita tentang menghakimi.

Sebagian besar dari kita suka mengkritik kesalahan orang lain untuk menutupi bahwa kita sendiri juga sering melakukan kesalahan yang sama. Kita cenderung pintar menemukan kesalahan orang, yang sebenarnya bukan kesalahannya, melainkan kesalahan kita.

Yesus mengenal sifat manusia dengan baik. Itu sebabnya Dia berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi” (Lukas 6:36,37)--RW


JIKA ANDA HENDAK MENGOREKSI KESALAHAN SEGERALAH BERCERMIN

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 16 Juni 2026

BAPAK KEKEKALAN

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3)


Kekekalan! Adakah konsep lain yang lebih menakjubkan dari hal ini? Pikiran kita seringkali sulit menangkap ide tentang keberadaan yang tak pernah berakhir.

Arthur Stace dari Sidney, Australia, terus dibayangi oleh pemikiran bahwa orang-orang yang tidak mengenal Kristus akan terhilang dalam kekekalan. Maka ia pun bangun pagi-pagi dan menuliskan kata kekekalan dengan kapur di trotoar seluruh kota. Akhirnya ia dikenal sebagai "Bapak Kekekalan." Banyak orang menanggapi pelayanannya yang rendah hati ini dengan menaruh iman mereka pada Yesus Kristus.

Saat Alkitab berbicara tentang kehidupan kekal, hal ini juga mengacu pada hubungan kita dengan Allah, tidak hanya tentang berlalunya waktu. Dalam Yohanes 17:3, Yesus menjelaskan bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah yang benar secara intim. Namun kekekalan juga berarti keberadaan yang tidak pernah berakhir. Pertanyaannya adalah: Di mana kita akan menjalani kekekalan itu?

Dari waktu ke waktu yang terus berjalan, kita semua bergerak menembus waktu menuju kekekalan. Adakah hal ini menumbuhkan dalam diri kita pengharapan yang penuh sukacita atau perasaan takut? Semua itu tergantung pada hubungan kita dengan Yesus Kristus.Dia telah memberikan satu-satunya jalan kepada Bapa (Yohanes 14:6; Kisah 4:12). Pengurbanan-Nya untuk menebus dosa memungkinkan kita untuk "bersama-sama dengan Tuhan" (1Tesalonika 4:17).

Apa yang telah Anda putuskan tentang Yesus? Jawaban Anda akan menentukan di mana Anda akan menjalani kekekalan [VCG]


ORANG YANG HANYA MEMIKIRKAN KEHIDUPAN DI DUNIA INI AKAN MENJALANI KEKEKALAN DALAM PENYESALAN

* Tae from Renungan Harian 

Senin, 15 Juni 2026

YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG

Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Wahyu 21:5)


Sebelum Yesus meninggalkan dunia ini, Dia berjanji akan menyediakan tempat bagi orang-orang yang mengasihiNya (Yohanes 14:2-3). Beberapa tahun kemudian Dia berkata kepada Yohanes muridNya, dalam suatu penglihatan, dan memberikan gambaran yang lebih rinci sehingga dapat dimengerti oleh manusia. Sejak saat itu, orang-orang Kristen merenungkannya dengan penuh rasa ingin tahu tentang "langit baru dan bumi baru," saat maut, perkabungan, ratap tangis atau dukacita tidak akan ada lagi (Wahyu 21:1,4).

Ya, ketika kita ditebus dari segala hutang dosa, tidak akan ada lagi laknat, dan kita dapat beribadah kepadaNya. Kita akan melihat wajahNya dan menjadi seperti Dia (Wahyu 22:3-4; 1Yohanes 3:2).

Merenungkan sukacita yang besar ini, Thomas Browne, dokter Inggris yang terkenal (1605-1682) terdorong untuk menulis demikian: "Pada saat mulai membicarakan tentang kehidupan setelah kematian, kita seperti dua orang bayi dalam kandungan yang sedang mendiskusikan apa yang akan terjadi dalam kehidupan yang akan datang. Pengetahuan dan pengertian kita saat ini tentang apa yang akan terjadi kelak, yang membuat kita bersukacita, tidak lebih besar daripada keadaan seseorang yang hidup saat ini di rahim.... Sebagai orang Kristen, kita menyadari bahwa hal itu sungguh luar biasa sehingga kita dapat bersukacita, tetapi kenyataan yang benar-benar akan terjadi kelak jauh lebih luar biasa daripada segala yang dapat kita bayangkan pada saat ini."

Pada saat kegelapan hidup melanda atau sukacita melimpah, jangan lupakan bahwa yang terbaik untuk kita masih akan datang -- DJD

SUKACITA TERBESAR DI DUNIA ADALAH HARAPAN MASA DEPAN DI SURGA

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 14 Juni 2026

PEMAZMUR YANG SINIS

Tuhan adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang (Mazmur 116:5)


Theodore Roosevelt memahami betul bahayanya bersikap sinis ketika ia mengungkapkan kata-kata, "Cara terburuk untuk mengarungi kehidupan ini adalah menghadapinya dengan sikap sinis."

Pemazmur hampir saja tergelincir dalam bahaya ini. Ia memiliki musuh yang licik dan jahat. Serangan yang dialaminya tidak beralasan dan keputusasaannya menjadi begitu dalam sampai ia mengira ia akan mati. Dalam kesepian dan sakit hati, ia lalu mengambil kesimpulan sendiri bahwa tak seorang pun yang dapat dipercayainya. Ia berkata dalam kebingungannya, "Semua manusia pembohong" (Mazmur 116:11).

Sikap sinis bagaikan virus yang menyerang roh dan menghancurkan hubungan kita, baik dengan sesama maupun dengan Allah. Sikap sinis mencurigai hal-hal yang buruk, bahkan pada orang-orang yang terbaik sekalipun. Ia dapat melihat lebih banyak keburukan pada sebuah lubang kunci daripada kebaikan pada sebuah pintu yang terbuka lebar.

Pemazmur hampir saja dikalahkan oleh musuh-musuhnya, bukan dengan pedang melainkan dengan kata-kata. Dan bahaya terbesar terjadi bukan karena fitnah yang dituduhkan kepadanya, melainkan karena pengaruh kejahatan itu di dalam jiwanyayang menghalangi hubungannya dengan Tuhan.

Hati-hatilah terhadap bahaya kesinisan. Hindarilah melakukan penghakiman terhadap orang lain dalam keputusasaan Anda. Pemazmur telah melakukan hal ini, tetapi dengan segera ia menyadari bahwa pandangannya keliru. Allah telah memimpinnya dan menggantikan sikap sinisnya dengan pujian yang mengharukan. Allah juga dapat melakukan hal yang sama kepada Anda -- HWR


SIKAP SINIS HANYA MELIHAT HAL-HAL YANG BURUK TETAPI IMAN MELIHAT HAL-HAL YANG BAIK

* Take from Renungan Harian 

Sabtu, 13 Juni 2026

UTUSAN SURGA

 Kami ini adalah utusan-utusan Kristus (2Korintus 5:20)


Teman sekelas saya di kelas empat memberi kesan yang mendalam pada diri saya. Cita-citanya adalah menjadi utusan atau duta besar negara bila ia sudah dewasa. Meskipun cita-cita mulia di masa kecil itu tak pernah tercapai, tetapi sebagai orang yang percaya akan Kristus, ia tetaplah seorang utusan di dunia yang sebenarnya bukan tempat asalnya.

Saya pun demikian. Juga semua orang Kristen.

Menurut Rasul Paulus, kewarganegaraan kita adalah di dalam surga (Filipi 3:20). Melalui Kristus, Allah telah menjadikan kita ciptaan baru dan mendamaikan kita dengan diri-Nya (2Korintus 5:17-18). Sementara itu, kita juga bekerja sebagai utusan-utusan Kristus (ayat 20) bagi dunia yang akan binasa di bawah kekuasaan penguasa yang jahat.

Namun apa maksudnya menjadi utusan Kristus? Artinya kita harus mendorong orang lain untuk didamaikan dengan Allah (ayat 18-20). Tugas kita adalah menuntun orang kepada sang Juruselamat sehingga mereka menjadi warga negara dari kerajaan kekal yang mengutus kita. Bersama dengan mereka kita mengharapkan kedatangan-Nya kembali untuk menjemput kita dan menantikan saat "pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya" (Wahyu 11:15).

Hingga saat itu tiba, kita harus menunaikan tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita dengan serius. Kita telah memiliki hak istimewa untuk memiliki kewarganegaraan di surga. Kita juga memiliki kewajiban yang sama istimewanya dengan menjadi utusan Kerajaan Surga [HVL]


KEWARGAAN KITA DI SURGA
MENEGASKAN TUGAS-TUGAS KITA DI BUMI INI

* Take from Renungan Harian

Jumat, 12 Juni 2026

GURU YANG BAIK

Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik (Titus 2:7)


Semasa kuliah di Bryan College saya mengenal seorang guru Alkitab yang bernama Irving Jensen. Ia dikenal sebagai pakar yang menguasai berbagai metode Pendalaman Alkitab dan ia pun telah menerbitkan banyak buku dan menulis banyak artikel dalam majalah yang mengangkat pokok bahasan tersebut. Ia sangat meyakini apa yang diajarkannya dan juga merupakan seorang guru yang sangat efektif dan berpengaruh besar di antara para mahasiswa.

Jensen berhasil karena ia menjalankan dalam apa yang diajarkannya. Walau terkadang ia tidak lancar berbicara dan tidak menerapkan teknik penguasaan kelas yang baik, namun ia mencintai para mahasiswanya dan mengajar kami untuk mencintai firman Allah sebagaimana ia sendiri mempraktekkan dan mengajarkannya. Ia mempraktekkan firman yang tertulis dalam Titus 2:7,8, “Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.”

Kita sendiri harus menjaga kesaksian kita tentang Kristus dengan gaya hidup yang sehat sehingga tidak dapat dicela oleh lawan-lawan kita. Hidup kita harus menjadi teladan supaya orang-orang disekitar kita dapat tertarik untuk mengetahui kebenaran tentang Kristus (ayat 10).

Perkataan dan gaya hidup kita hendaknya membawa pesan Kristus. Mengajar lewat perkataan dan perbuatan--itulah caranya menjadi guru yang baik--DCE


GURU YANG BAIK TIDAK HANYA TAHU CARA MELAKUKAN SESUATU TETAPI JUGA MEMPRAKTEKKAN SESUATU ITU

* Take from Renungan Harian