Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati (1Petrus 3:8)
Hubert H. Humphrey, seorang mantan senator, wakil presiden, dosen dan kepala keluarga, dengan bangga bercerita tentang keluarga yang dikasihinya dalam sebuah wawancara di televisi. Namun tiba-tiba matanya berkaca-kaca tatkala ia menceritakan tentang kelahiran seorang cucu perempuannya yang menderita cacat mental. "Itu terjadi beberapa tahun yang lalu," ungkapnya, "tetapi tahukah Anda, kehadiran anak istimewa ini justru telah membuat cinta kasih dalam keluarga kami lebih indah dari sebelumnya."
Beberapa tahun kemudian Humphrey meninggal dunia. Ketika sanak keluarganya demikian berat untuk meninggalkan pemakaman, meskipun seluruh rangkaian upacara telah selesai, anak inilah yang kemudian menggugah hati mereka. "Kakek kini sudah berada di surga, tidak lagi di kuburan ini!" katanya. Betapa diberkatinya keluarga Humphrey dengan adanya anak istimewa seperti itu.
Sebagai raja, Daud dapat saja melenyapkan seluruh sanak keluarga Saul karena Saul telah berkali-kali mencoba membunuhnya. Namun hal itu tidak dilakukannya, melainkan Daud lebih suka menunjukkan kasihnya oleh karena Yonatan. Dan ketika disampaikan kepadanya mengenai Mefiboset yang timpang (2Samuel 9:3), Daud malah memperlakukannya sebagai salah seorang anak raja. Saya yakin, dengan keberadaannya yang cacat dan sebagai seorang anggota keluarga Saul, Mefiboset telah menerbitkan perasaan kasih yang besar di dalam hati Daud.
Orang-orang yang memiliki kekurangan menempati tempat khusus dalam rencana Allah. Marilah kita belajar dari teladan yang telah diberikan oleh Raja Daud -- HVL
ORANG-ORANG YANG MEMILIKI KEKURANGAN MEMILIKI KELEBIHAN KHUSUS UNTUK MENGAJAR KITA MENGASIHI
* Take from Renungan Harian