Jumat, 06 November 2026

MASALAH HIDUP DAN MATI

Masa hidup kami tujuh puluh tahun ... sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap (Mazmur 90:10)


Dengan mengubah gen pengendali penuaan, para ilmuwan yakin mereka dapat memperpanjang batas rata-rata usia manusia hingga 100 tahun menjelang akhir abad ini. Ini akan melampaui usia 70 tahun yang dinubuatkan dalam Mazmur 90:10. Namun, seandainya manusia memang dapat hidup lebih lama, bab terakhir dalam "buku kehidupan" masih tetap terbaca demikian, "sebab berlalunya buru-buru" (ayat 10).

Musa, penulis Mazmur 90, hidup hingga 120 tahun. Ia melihat kematian sebagai hal yang tak terelakkan di dunia yang telah dikutuk karena dosa. Namun, ia tidak pesimis. Ia memohon supaya Allah mengajarinya menghitung hari-hari supaya dapat beroleh "hati yang bijaksana" (ayat 12). Ia ingin dikenyangkan oleh kasih setia Allah supaya dapat bersukacita dan bersorak-sorai (ayat 14). Ia juga meminta supaya Allah menunjukkan kemuliaan-Nya kepada generasi yang akan datang (ayat 16). Begitulah cara Musa menghadapi realitas kematian, beberapa ribu tahun silam.

Seperti semua orang sejak Adam dan Hawa, kita menderita sebagai akibat dosa, dan kematian menjadi suatu kepastian (Roma 6:23). Namun, kita dapat hidup dengan pengharapan dan sukacita, karena Allah mengutus Putra-Nya untuk mati bagi dosa-dosa kita. Yesus menaklukkan maut saat bangkit dari kubur. Dan jika kita menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita pun dapat mengalami pengampunan Allah dan menanti untuk dapat bersama-sama dengan Dia di surga selamanya. Apakah Anda sudah menghadapi dan menyelesaikan masalah hidup dan mati ini? --Dennis De Haan



ANDA TIDAK AKAN SIAP UNTUK HIDUP SEBELUM ANDA SIAP UNTUK MATI

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 05 November 2026

DIA HIDUP!

Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup (Kisah Para Rasul 1:3)


Ketika menara World Trade Center runtuh disertai suara gemuruh bangunan yang hancur berkeping-keping, warga kota New York mengalami apa yang sudah dialami oleh banyak orang dari belahan dunia lain, yaitu ketakutan akan terorisme. Berbagai serangan susulan di negara-negara lain telah meningkatkan keprihatinan bahwa umat manusia mungkin sedang menuju kehancuran diri.

Semua kerusuhan di dunia mungkin membuat kita berpikir bahwa masa depan kita tampak begitu suram. Kita bahkan mungkin menyimpulkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang layak untuk membesarkan anak-anak.

Meskipun demikian, tetap ada secercah cahaya pengharapan yang dapat menerangi pandangan kita akan masa depan. Bill Gaither menggambarkan hal itu dalam lagunya yang berjudul "S'bab Dia Hidup". Gagasan tentang lagu itu muncul di kepalanya pada akhir tahun 1960-an. Saat itu sedang terjadi kerusuhan sosial di AS dan konflik di Asia Tenggara. Istrinya, Gloria, sedang hamil, dan mereka berpendapat bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat untuk melahirkan seorang anak ke dunia. Namun ketika anak laki-lakinya lahir, Bill berpikir tentang Juruselamat yang hidup, lalu kata-kata ini melintas di dalam benaknya: "Anak ini dapat menghadapi hari-hari yang tidak pasti karena Dia hidup."

Dua ribu tahun yang lampau Yesus bangkit dari kubur dan memberikan "banyak tanda" bahwa Dia hidup (Kisah Para Rasul 1:3). Karena itu, kita dapat terus melangkah saat menghadapi ketakutan. Sebab Yesus hidup, kita dapat menghadapi hari esok --Dave Branon


KUBUR KRISTUS YANG KOSONG
MEMENUHI KITA DENGAN HARAPAN


* Take from Renungan Harian