Jumat, 04 September 2026

RUMAH YANG "BERBICARA"

Apa yang kuperintahkan...haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu (Ulangan 6:6,9)


Tak lama sesudah pernikahan G. Campbell Morgan, seorang pendeta dari Skotlandia, ayahnya mengunjungi rumah yang baru saja dilengkapi dan ditata oleh pengantin baru itu. Setelah mereka memperlihatkan rumah tersebut dengan perasaan bangga dan puas, sang ayah berkata, "Ya, memang bagus sekali, tetapi tak seorang pun yang melihat rumah ini akan tahu apakah kalian milik Allah atau milik setan!"

Morgan terkejut mendengar perkataan pedas namun penuh arti yang diucapkan ayahnya. Tetapi ia dapat memahami maksud ayahnya. Sejak hari itu ia melakukan sedikit penataan baru, sehingga dalam setiap ruangan di rumahnya, ada sesuatu yang dapat memberi petunjuk bahwa ia dan istrinya berimannya kepada Kristus.

Banyak orang percaya berupaya memasang benda-benda yang dapat mengingatkan mereka akan kasih dan kebaikan Allah di rumah mereka. Satu saja ayat Alkitab yang terpampang di tembok atau suatu benda seni Kristiani lainnya, mungkin berguna untuk mendorong anggota keluarga untuk melayani dan memuji Allah.

Demikian juga dengan adanya buku-buku dan majalah-majalah Kristen, dapat membantu kita dalam merenungkan firman Allah. Saksi-saksi bisu semacam itu dapat membuka kesempatan bagi kita untuk berbicara dengan para tamu tentang kebaikan Tuhan.

Bagaimana dengan kondisi rumah Anda? Apakah tamu Anda akan mendapatkan petunjuk tentang kehidupan rohani Anda? -- HGB

APA YANG ADA DI RUMAH KITA DAPATM MENCERMINKAN APA YANG ADA DI HATI KITA 

* Take from Renungan Harian

Kamis, 03 September 2026

PUASKAN DIRI ANDA

Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya (Yohanes 4:14)


Sebuah pepatah lama yang mengatakan, "Kelezatan sebuah puding terbukti saat kita memakannya," ternyata benar. Kita tak dapat membuktikan kualitas suatu barang sebelum mencobanya. Jika kita pernah mencicipi sesuatu yang enak, kemudian diberi sesuatu yang kurang enak, maka kita tidak akan merasa puas.

Itulah yang dirasakan oleh perempuan Samaria yang berbicara dengan Yesus (Yohanes 4). Saat Dia menawarkan "air kehidupan" (ayat 10), wanita itu mengira bahwa Yesus berbicara tentang air minum yang lebih baik. Selama ini ia menganggap bahwa air dari sumur Yakub adalah yang terbaik--sampai ia bertemu Pribadi yang menawarkan air rohani. Ia pun bersaksi dan membawa banyak orang untuk percaya kepada Kristus (ayat 39).

Mendiang Malcolm Muggeridge, seorang penyiar dan wartawan Inggris, juga pernah merasakan hal serupa. Sebelum berjumpa dengan Kristus, ia telah "minum" dari banyak mata air duniawi yang terbaik, yakni ketenaran, kesuksesan, kesenangan dan kepuasan. "Namun saya harap Anda tahu," ia bersaksi, "bahwa sekalipun Anda mengalikan kemenangan-kemenangan kecil itu dengan sejuta, kemudian menjumlahkannya, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa, jika dibandingkan dengan seteguk air kehidupan yang akan diberikan kepada mereka yang lapar secara rohani."

Apakah Anda sedang minum dari banyak mata air duniawi dan masih merasa dahaga? Berbaliklah kepada Kristus dan minumlah sepuasnya agar Anda terpuaskan selamanya dan tidak lagi menginginkan sesuatu yang lebih rendah nilainya -- JEY


HANYA YESUS, AIR KEHIDUPAN, YANG MAMPU MEMUASKAN JIWA YANG DAHAGA

* Take from Renungan Harian