Minggu, 09 Agustus 2026

DIPULIHKAN UNTUK DIKASIHI

Kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal (Titus 3:7)


Isidore Zimmerman dipenjara selama 25 tahun atas tindak kejahatan yang tidak dilakukannya. Karena sebuah kesaksian palsu, ia dituduh membunuh seorang polisi New York. Pada akhirnya ia terbukti tidak bersalah, sehingga pada tahun 1962 ia dibebaskan. Namun apakah kemudian ia dapat hidup bahagia? Tidak.

Meskipun terbukti tidak bersalah, Zimmerman tak dapat menghindari fakta bahwa ia adalah mantan narapidana. Beberapa pekerjaan yang berhasil ia peroleh dengan cepat berakhir ketika majikannya tahu bahwa ia pernah dipenjara. Masa lalunya memang telah dibersihkan, tetapi masyarakat tidak dapat menerima dirinya sepenuhnya.

Batapa jauh perbedaan yang kita alami manakala kita mempercayai Yesus Kristus sebagai Juruselamat! Kita adalah orang-orang yang bersalah. Namun karena kesucian hidup Yesus Kristus dan karya penebusan-Nya, kita tidak hanya dibenarkan, tetapi juga dipulihkan sepenuhnya sehingga menjadi kesayangan Bapa surgawi. Dia memperlakukan kita seolah-olah kita tidak pernah melanggar hukum-Nya. Dia memperdamaikan diri-Nya dengan kita dan menjadikan kita anggota keluarga-Nya. Allah menerima kita secara total.

Sungguh menakjubkan bahwa melalui iman, dan juga kematian Yesus Kristus, para pendosa yang bersalah dapat dibenarkan oleh Allah. Yang lebih menakjubkan lagi adalah kenyataan bahwa Dia akan memulihkan kita dan menginginkan kita bekerja bagi-Nya.

Itulah makna keselamatan yang sesungguhnya -DJD


TATKALA ALLAH MENGAMPUNI DIA MEMBUANG DOSA DAN MEMULIHKAN JIWA 

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 08 Agustus 2026

AIR MATA DI SURGA

Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis
(Wahyu 21:4)



Pada tahun 1991, seorang gitaris terkenal asal Inggris, Eric Clapton, sangat berduka ketika putranya Conor yang berusia empat tahun tewas karena terjatuh dari jendela apartemennya. Sebagai sarana untuk menyalurkan dukacitanya, Clapton menulis syair lagu dengan nada kesedihan yang mendalam: "Tears in Heaven". Tampaknya setiap nada dalam lagu itu mengandung kepedihan dan kehilangan yang hanya dapat dimengerti oleh orangtua yang pernah kehilangan anak.

Namun yang mengejutkan, beberapa tahun kemudian dalam sebuah wawancara di televisi, Clapton mengatakan, "Dalam beberapa hal, lagu itu sebenarnya bukanlah lagu yang mengandung kesedihan, melainkan lagu yang penuh keyakinan. Ketika dikatakan bahwa tidak akan ada lagi air mata di surga, menurut saya itu adalah lagu optimisme, yaitu tentang pertemuan kembali."

Pemikiran tentang reuni surgawi sungguh menguatkan. Bagi setiap orang yang telah memercayai Kristus untuk mendapatkan keselamatan, ada pengharapan bahwa kelak kita akan dipersatukan kembali selamanya, di tempat "Ia akan menghapus segala air mata dari mata [kita], dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis (Wahyu 21:4). Dan yang terpenting, di situlah kita akan "melihat wajah-Nya" dan tinggal bersama Kristus untuk selamanya (22:4).

Kala kita mengalami kehilangan dan dukacita, ratap tangis dan perkabungan, alangkah menghibur bila kita mengetahui bahwa Kristus telah membeli sebuah rumah surgawi bagi kita yang di dalamnya tidak ada lagi ratap tangis! --WEC


KETIKA ALLAH MENGHAPUS AIR MATA KITA DUKACITA AKAN MENYUARAKAN LAGU KEKEKALAN

* Take from Renungan Harian