Jumat, 26 Juni 2026

BELAJAR BEKERJA SAMA

Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi
(Lukas 22:42)



Cerita berikut dikisahkan oleh A.W. Tozer: "Seorang pria yang sederhana ditanyai bagaimana ia dapat hidup damai sekalipun dikelilingi oleh keadaan-keadaan yang merugikan. Jawabannya sangat sederhana: 'Saya telah belajar bekerja sama dengan hal-hal yang tak terelakkan!'"

Sangat sedikit dari kita yang mempraktekkan cara hidup yang bijaksana dan praktis ini. Tozer berkomentar bahwa banyak dari kita seringkali memberontak dan mengeluh tentang keadaan yang terjadi dalam hidup ini sekalipun kita mengaku "bahwa kita harus tunduk kepada kehendak Allah."

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menyaksikan reaksi Petrus ketika melihat pengkhianatan yang dilakukan terhadap Tuhan yang dicintainya. Dengan menuruti kata hatinya, ia menebas telinga dari hamba Imam Besar (Lukas 22:50; Yohanes 18:10-11). Namun Yesus marah melihat usaha Petrus dalam melindungi-Nya itu dan berkata, "Sudahlah itu" (Lukas 22:51). Lalu Dia mengembalikan telinga itu dengan sebuah jamahan yang menyembuhkan.

Dalam kehidupan kita, ada masalah-masalah yang tak kunjung berakhir. Namun masalah yang Allah izinkan datang kepada kita juga dipakai-Nya demi kebaikan kita. Pertanyaannya adalah, akankah kita mengizinkan apa yang Allah izinkan? Terlalu sering kita berdoa, "Tuhan, keluarkan saya dari kemelut ini." Namun Tuhan mungkin akan berkata, "Biarkan Aku masuk dalam kemelut itu. Izinkan Aku untuk mengubahmu, tanpa perlu mengubah masalah-masalah yang menimpamu." Itulah mukjizat yang paling luar biasa --JEY



KEDAMAIAN HANYA DAPAT DITEMUKAN KETIKA KITA BERSERAHKEPADA KEHENDAK ALLAH

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 25 Juni 2026

SAYALAH YANG TERBAIK!

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Amsal 16:18)


Suatu kali seorang pengacara menggugat sebuah perusahaan besar, dan menuntut pejabat-pejabat di perusahaan tersebut karena telah memutuskan kontrak kerja dengannya. Dalam ruang sidang, pengacara itu menuntut sejumlah besar uang sebagai ganti rugi. Jumlah uang yang dimintanya sangatlah banyak dan tidak lazim, sehingga sang hakim bertanya kepada si pengacara mengapa ia menuntut uang sedemikian banyak. Pengacara tersebut menjawab, "Saya melakukan ini untuk satu alasan." Lalu sambil menegakkan kepala ia berkata, "Tahukah Anda, saya adalah pengacara terbaik di dunia."

Setelah sidang berakhir, seorang temannya bertanya, "Mengapa kau tadi menyombongkan dirimu?"

Dengan cepat, si pengacara menjawab, "Tak ada hal lain yang dapat kulakukan. Apalagi aku berbicara di bawah sumpah; jadi aku harus mengatakan yang sebenarnya!"

Pendapat pengacara tersebut tentang dirinya mengingatkan saya pada perkataan Rasul Paulus dalam Roma 12:3. Ia menasihati orang-orang Kristen demikian: "Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing." Orang yang sangat bangga dengan dirinya sendiri sehingga merasa lebih baik dari orang lain sesungguhnya sedang menuju kejatuhan (Amsal 16:18).

Sebagai pengikut Kristus, mari kita pusatkan perhatian pada kebesaran-Nya dan bukan pada kebesaran diri kita --RWD


JIKA ANDA SELALU MENYANYIKAN PUJIAN BAGI DIRI SENDIRI
MAKA ANDA HANYA AKAN MENGELUARKAN SUARA-SUARA SUMBANG

* Take from Renungan Harian