Selasa, 09 Juni 2026

TEKANAN DAN PRIORITAS

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Matius 6:33)


Saat berkunjung ke kantor seorang teman, saya melihat bahwa keranjang dokumen Masuk-Keluar yang biasa dipakai, kini telah diganti dengan rak bertingkat lima yang diberi label: Kritis, Mendesak, Penting, Kurang Penting, Jangka Panjang. Rak-rak dokumen itu mengingatkan bahwa jika saya tidak memakai cara pandang Allah setiap hari, maka tekanan selalu akan menentukan prioritas saya.

Yohanes 11:1-7 mengingatkan bahwa prioritas Allah itu berbeda dengan prioritas kita. Perhatikanlah rantai peristiwa ini: Lazarus sakit. Maka kedua saudara perempuannya, Maria dan Marta, menyuruh orang untuk memberi tahu Yesus. Lalu kita melihat dua pernyataan yang tampaknya bertentangan: "Yesus memang mengasihi Marta dan saudaranya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada" (ayat 5,6).

Ada seorang lelaki yang sedang menjemput ajal, dan ada Tuhan yang menunda. Prioritas Yesus tidak ditentukan oleh tekanan, namun ditentukan oleh persekutuan yang sempurna dengan Bapa surgawi-Nya.

"Tapi saya bukan Yesus," demikian kita berkata dengan cepat. "Saya harus bergerak cepat dan tidak punya waktu." Tetapi Kristus memanggil kita untuk berkonsultasi dengan-Nya di dalam setiap hal yang mendesak dan darurat, untuk mendengarkan petunjuk-Nya yang bijaksana, serta untuk menyediakan waktu bagi hal-hal yang benar-benar penting.

Prioritas apakah yang perlu kita perhatikan pada hari ini? --DCM


FOKUS PADA KRISTUS MENEMPATKAN HAL-HAL LAIN DI DALAM SUDUT PANDANG YANG BENAR

* Take from Renungan Singaraja 

Senin, 08 Juni 2026

HANYA SESAAT

Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar (Amsal 22:1)


Kita membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah reputasi, dan hanya membutuhkan ketidakbijaksanaan sesaat saja untuk menghancurkannya.

Saya berpikir mengenai hal ini ketika teringat pada seorang teman kuliah yang tak pernah terlibat masalah atau menimbulkan kesulitan. Namun suatu hari, sedikit saja ia berbuat jahil, yakni melempar sebatang korek api ke dalam keranjang sampah hingga terjadi kebakaran yang menghanguskan sebagian asrama kami, reputasinya pun tercoreng parah. Sejak itu, apa pun yang dilakukannya, namanya selalu dikaitkan dengan tindakan sembrono tersebut.

Sering kita berpikir bahwa orang muda harus sangat berhati-hati dengan reputasi mereka, dan memang mereka perlu menjaga nama baik mereka. Namun orang dewasa juga dapat merusak nama baik mereka hanya dengan satu pilihan yang salah.

Renungkan tentang Daud, yang selama bertahun-tahun menanggung noda dosa karena perselingkuhannya dengan Batsyeba. Meski ia diampuni, namun reputasinya telah ternoda. Kita tidak mengetahui kejadian rinci yang melatarbelakangi penulisan Mazmur 38, tetapi pasal tersebut menggambarkan penderitaan Daud akibat dosanya. Untuk menghindari penderitaan semacam itu, Kitab Suci memberitahu agar kita menjaga hati (Amsal 4:23), agar hidup dengan bijaksana (Efesus 5:15), dan agar kita mengikuti teladan Yesus (1Petrus 2:21).

Hanya dibutuhkan waktu sesaat untuk menghancurkan nama baik dan kesaksian Anda bagi Allah. Jangan biarkan hal itu terjadi pada Anda --JDB

DENGAN MENJAGA KARAKTER KITA MAKA REPUTASI KITA AKAN TERJAGA DENGAN SENDIRINYA --Moody 

* Take from Renungan Harian