Jumat, 08 Mei 2026

BABI DAN DOMBA

Pandanglah burung-burung di langit.... Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26)


Ketika David Field, seorang penulis dan pendeta, tiba di gereja yang mengundangnya untuk menjadi pembicara tamu, ia diperkenalkan pada seorang anggota paduan suara. Ketika Field bertanya tentang pekerjaannya, wanita itu menjawab "Saya memelihara babi." "Berapa banyak babi yang kamu miliki?" tanya Field lagi. Tanpa ragu ia menjawab, "Sekarang ini seratus sembilan puluh dua ekor." Sambil tertawa Field menanggapi jawaban tersebut, "Sungguh? Kamu yakin itu?" Dengan jengkel wanita itu menjawab, "Tentu saja saya yakin. Saya kan memberi nama pada mereka semua!"

Bayangkan, ada seseorang yang mengenali nama 192 babi! Namun mengapa tidak--jika Anda melakukannya dengan senang hati seperti yang dilakukan wanita tersebut terhadap kawanan babinya?

Bagaimana dengan sang Pencipta, yang memiliki nama untuk setiap bintang yang tak terhitung di langit? (Yesaya 40:26). Sang Pencipta itu juga adalah Gembala kita yang Baik, yang mengasihi kita jauh melebihi kasih manusia. Dan Gembala Yang Baik itu memanggil domba-domba-Nya masing-masing menurut namanya (Yohanes 10:3).

Mungkin kita pernah tergoda untuk berpikir bahwa Allah Yang Mahakuasa, yang menopang galaksi demi galaksi itu mungkin tidak sanggup memperhatikan kita dan masalah yang kita hadapi. Namun Yesus berkata bahwa Bapa surgawi memelihara dan memperhatikan kebutuhan binatang-binatang terkecil sekalipun, dan bahwa kita jauh lebih tinggi nilainya dari binatang-binatang itu (Matius 6:26). Dia mengenal nama-nama kita dan memenuhi kebutuhan kita [VCG]


ALLAH BERKUASA UNTUK MEMPERHATIKAN KEBUTUHAN KITA YANG TERKECIL

* Take from Renungan Harian 

Kamis, 07 Mei 2026

SUMBER SUKACITA

Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersuka-cita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu (2Korintus 6:10)


Paul Gerhardt, seorang pendeta di Jerman pada abad 17, memiliki segudang alasan untuk tak bersukacita. Istri dan keempat anaknya meninggal dunia; Perang Tiga Puluh Tahun telah membinasakan warga dan menghancurkan Jerman; konflik gereja dan guncangan politik mengisi hidupnya dengan penderitaan. Namun, di tengah-tengah penderitaan pribadinya yang hebat, ia menulis lebih dari 130 himne yang kebanyakan diwarnai sukacita dan ketaatan kepada Yesus Kristus.

Berikut kutipan lirik salah satu himne karya Gerhardt, "Holy Spirit, Source of Gladness":


Biarkan kasih yang tidak mengenal batas
Mengalir bagai hujan yang deras,
Memberi kita harta tak ternilai harganya
Yang didamba manusia, dan yang Allah beri;
Dengarkan kesungguhan permohonan kami,
Tiap hati yang berat menjadi berseri;
Tinggal dalam persekutuan,
Roh yang penuh kedamaian.

Karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus (Roma 5:5), adakah situasi di mana kita tak dapat mengalami sukacita yang Dia berikan?

Selama melewati masa penderitaan besar, Rasul Paulus menggambarkan pengalamannya itu seperti "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu" (2Korintus 6:10).

Duka dan penderitaan adalah kenyataan hidup yang tak dapat dihindari. Namun, Roh Kudus adalah sumber sukacita kita, "memberi kita harta tak ternilai harganya yang didamba manusia, dan yang Allah beri" --DCM


KEBAHAGIAAN BERGANTUNG PADA PERISTIWA YANG KITA ALAMI TETAPI SUKACITA BERGANTUNG PADA YESUS

* Take from Renungan Harian