Rabu, 12 Agustus 2026

DALAM NAMANYA

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40)


Menurut sebuah kisah, suatu hari Fransiskus dari Assisi (1182-1226) sedang menunggang kuda tatkala ia berjumpa dengan seorang penderita kusta yang sedang mengemis di tepi jalan yang akan dilewatinya. Ia kemudian turun dari kudanya, memberikan sejumlah uang dan mencium pipi orang tersebut. Ketika Franciskus melanjutkan perjalanan, ia menoleh ke belakang dan berpikir sesaat bahwa ia telah melihat Kristus sendiri berdiri di tempat pengemis itu.

Cerita ini merupakan ilustrasi yang sangat mengena mengenai kebenaran Alkitab: Kita melayani Tuhan bila kita melayani orang yang kekurangan. Yesus menyatakan hal ini dengan jelas tatkala Dia berkata bahwa setiap kebaikan yang dilakukan kepada mereka yang lapar, haus, tidak memiliki tempat tinggal, sakit, miskin, dan dipenjara, akan dinilai sebagai tindakan yang dilakukan langsung kepadaNya (Matius 25:40,45). Dia mengidentifikasikan diri dengan sangat dekat pada orang-orang yang terhimpit dalam hidup sehingga bila kita melayani mereka dalam namaNya, berarti kita telah melayani Dia.

Kita cenderung membatasi pelayanan kita kepada Kristus dengan berpikir bahwa hamba Tuhan dan utusan Injil adalah orang yang paling tepat untuk melakukan hal itu. Namun ketika kita mengulurkan pertolongan dalam nama Yesus Kristus melalui tindakan kita, Yesus sendiri hadir di sana sekalipun kita tidak dapat melihatNya. Dan suatu saat, ketika kita berdiri di hadapanNya kelak, Dia akan mengingat kembali perbuatan kasih kita yang dilakukan dalam namaNya dan Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu!"

Marilah kita terus melayani Dia dengan cara melayani orang lain yang membutuhkan -- DJD

KITA MELAYANI KRISTUS TATKALA KITA MELAYANI ORANG-ORANG YANG MEMBUTUHKAN

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 11 Agustus 2026

INTI AJARAN

Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)


Seorang ayah yang berpengalaman berkata, "Sebelum menikah, saya memiliki enam teori tentang membesarkan anak; kini saya mempunyai enam anak, tanpa teori!"

Bayangan tugas menjadi orangtua terkadang tampak berlebihan. Untuk mencari petunjuk, kita pergi ke toko buku yang penuh dengan buku-buku berseri tentang membesarkan anak yang ditulis oleh para konselor rohani maupun penasihat sekuler. Juga saat membuka Alkitab untuk mencari petunjuk tertentu, kita akan menemukan ayat-ayat yang menunjukkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Kita sering membaca Efesus 6:4 yang berbunyi, "Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."

Kita mungkin mengharapkan lebih banyak perintah dari apa yang ditunjukkan dalam ayat ini, tetapi sebenarnya Allah telah memasukkan lebih banyak perintah di dalamnya daripada yang kita sadari. Jika kita "meresapkan" ayat tersebut ke dalam pikiran dan memohon agar Allah menolong kita untuk memahami bagaimana melaksanakannya, kita akan melihatnya sebagai sebungkus larutan kental yang diencerkan hingga menjadi 2000 liter minuman.

Kapan terakhir kali kita merenungkan tindakan kita yang memancing amarah anak-anak? Bagaimana kata-kata dan nada suara kita membuat mereka kecewa? Hal kecil apa yang dapat kita lakukan hari ini untuk mendorong pertumbuhan rohani mereka?

Dalam Efesus 6:4 terkandung inti dari rencana Allah tentang bagaimana menjadi orangtua. Karena itu, tak ada salahnya bila kita mulai mempraktekkannya sejak sekarang --DCM


ORANGTUA YANG SALEH MENJADI PENUNJUK JALAN YANG TERBAIK BAGI ANAK UNTUK DATANG KEPADA ALLAH

* Take from Renungan Harian