Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai TauratMu, tidak ada batu sandungan bagi mereka (Mazmur 119:165)
Mark Twain mengutip suatu perkataan yang menyatakan bahwa Anda dapat mengatakan apa yang Anda lakukan baik secara moral jika Anda "merasa damai sejahtera setelah itu." Tetapi bila tindakan itu meninggalkan "rasa tidak enak," maka apa yang Anda lakukan itu secara moral salah.
Pernyataan ini dapat dipahami melalui dua cara. Pertama, tindakan baik atau buruk dapat menimbulkan perasaan baik atau buruk. Hal ini benar. Kedua, perasaan akan menentukan apakah hal itu baik atau buruk. Seorang penulis sekuler menunjukkan kekeliruan dari penafsiran ini ketika ia berkata, dengan menyindir, bahwa ia menyukai pernyataan Mark Twain karena hal tersebut menyiratkan bahwa Anda harus mencoba sesuatu paling tidak sekali sebelum mengetahui apakah hal itu baik atau buruk.
Perasaan bukanlah indikator perilaku moral yang dapat diandalkan. Satu-satunya standar yang dapat dipercayai adalah firman Allah, yakni Alkitab. Memang untuk mematuhi perintah Tuhan, kadang-kadang kita harus melawan emosi kita. Mengampuni orang lain, misalnya, bukanlah kecenderungan alami kita. Meskipun demikian kita tahu bahwa Allah menginginkan kita melakukannya (Matius 6:14-15).
Jika kita bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan hukum-hukumNya, dan jika ketaatan menjadi pola hidup, kita akan merasakan restu dan kehadiran Allah. Hal ini mendatangkan perasaan damai yang didasarkan atas kebenaran. Pemazmur menggambarkan perasaan ini sebagai "ketenteraman besar" yang menjadi milik orang yang mencintai taurat Allah.
JIKA ANDA INGIN DIPENUHI OLEH DAMAI SEJAHTERA LAKUKANLAH APA YANG MENYENANGKAN ALLAH
* Take from Renungan Harian