Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya (Matius 16:25)
Alkitab memberitahu kita bahwa ada hikmat yang bodoh dan kebodohan yang berhikmat (1Korintus 1:20-25). Ada keuntungan yang merupakan kerugian dan kerugian yang adalah keuntungan (Filipi 3:7-9). Dan ada peninggian yang merendahkan orang dan ada kerendahan hati yang mengakibatkan peninggian (Filipi 2:5-11).
Pernyataan-pernyataan seperti di atas tampaknya berlawanan, tetapi pernyataan-pernyataan tersebut sesungguhnya merupakan suatu paradoks. Paradoks adalah suatu pernyataan yang mengandung dua kebenaran, yang sepintas lalu tampak tidaklah bersesuaian.
Seorang psikiater yang tidak menyadari bahwa ia merujuk pada salah satu paradoks Allah, berkata, "Rahasia terbesar dari kesehatan mental datang kepada kita dengan kata-kata, 'Siapa yang menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya, dan siapa yang kehilangan nyawanya akan memperolehnya.'" Ia menambahkan, "Saya lupa siapa yang mengucapkan kalimat tersebut, tetapi hal ini merupakan suatu kebenaran yang agung."
Siapa yang mengucapkan kalimat tersebut? Tuhan kita Yesus Kristus! Dia memberi kita prinsip itu dalam Matius 16:25. Dan Rasul Paulus mengalaminya saat ia menghadapi rintangan yang tak terhitung jumlahnya demi kepentingan orang lain (2Korintus 4:8-12). Paulus pun tahu bahwa meskipun tubuh jasmaninya mati, rohnya akan diperbarui (2Korintus 4:16).
Kita tidak akan dapat mengalami kepenuhan yang melimpah sampai kita mengorbankan waktu, tenaga, dan sumber daya kita bagi kehendak Allah. "Serahkanlah nyawa Anda" bagi Kristus. Buktikanlah hasilnya! -- VCG
KRISTUS MENUNJUKKAN KASIHNYA DENGAN MATI BAGI KITA KITA HARUS MENUNJUKKAN KASIH KITA DENGAN HIDUP BAGI DIA
* Take from Renungan Harian