Selasa, 18 Oktober 2022

HARTA YANG TAK TERNILAI

Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar (Amsal 22:1)



Para pengikut Kristus dipanggil untuk menunjukkan keutuhan hidupnya. Mereka harus hidup lurus dan jujur, mementingkan nama baik daripada kekayaan besar (Amsal 22:1) di dunia yang mengutamakan hal yang sebaliknya ini.

Dari hasil angket yang dibagikan kepada para eksekutif, sebagai contoh, Gallup mendapati bahwa 80% mengaku tetap mengemudi dalam keadaan mabuk, 35% membesar-besarkan masalah pemotongan pajak, 75% memakai peralatan kantor untuk kepentingan pribadi, dan 78% memakai telepon kantor untuk interlokal urusan pribadi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Office of Technology Assesment menunjukkan: sepertiga biaya rekening telepon yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat sebenarnya adalah untuk urusan pribadi.

Pencurian jam kerja dan bolos-membolos juga merupakan hal yang biasa di dunia kerja. Sebuah perusahaan melaporkan bahwa mereka kehilangan 9% jam kerja para karyawannya akibat kebiasaan membolos ini. Pelanggaran seperti ini di Amerika diperkirakan menghabiskan sembilan trilyun rupiah setiap tahunnya.

Allah menghendaki umatNya melakukan hal yang berbeda dari yang biasa dilakukan orang dunia. Kita harus melakukan apa yang adil dan mengatakan kebenaran dengan segenap hati (Mazmur 15:2).

Kejujuran menyenangkan hati Allah, dan bermanfaat bagi kita juga. Kita menerima berkat yang lebih berharga daripada kekayaan, yakni bebas dari rasa bersalah, leluasa menjadi saksi Kristus dan memiliki hubungan yang erat dengan Allah.

Nama baik sungguh merupakan harta yang tak ternilai harganya! -- DCE

KEUTUHAN HIDUP KITA DI DUNIA KERJA MENUNJUKKAN IDENTITAS KITA SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS

* Take from Renungan Harian