Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram (Mazmur 16:9)
Dalam bukunya yang berjudul The Best Is Yet To Be (Yang Terbaik Akan Segera Datang), Henry Durbanville mengenang saat ia masih kanak-kanak. Jika bayang-bayang malam memanjang dan kegelapan turun, ibunya akan berseru padanya, "Henry, sudah waktunya tidur!" Namun, seperti anak-anak lainnya, ia tidak suka bila harus meninggalkan kawan-kawannya serta menyimpan mainan untuk pergi tidur, sekalipun dalam hatinya ia tahu bahwa tidur memang perlu.
Henry kemudian membuat persamaan rohani untuk orang-orang Kristen yang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat: "Kematian adalah seperti ibu yang penyayang namun tegas. Bila saat yang tepat tiba, ia akan berkata, 'Sudah waktunya tidur. 'Oh, kita mungkin akan sedikit protes, namun kita tahu dengan pasti bahwa sudah tiba saatnya untuk beristirahat, dan dalam hati sebenarnya kita merindukan saat seperti itu."
Pikiran akan kematian akan memenuhi hati setiap orang, sekalipun seorang Kristen, dengan berbagai emosi. Bila kita berpikir akan meninggalkan orang-orang yang kita kasihi, mungkin akan menyebabkan airmata kita mengalir. Putusnya ikatan antarmanusia yang amat dekat memang menyakitkan. Namun di sisi lain, ini merupakan suatu antisipasi untuk beristirahat dari kerja keras selama ini dan untuk berada di hadirat Tuhan.
Jika kita beriman kepada Kristus, kita dapat menaruh pengharapan akan datangnya kebahagiaan dan pelepasan yang akan menjadi milik kita saat kita mendengar seruan malam, "Marilah pulang. Sudah waktunya tidur!" -- RWD
* Take from Rennungan Harian