Jumat, 12 November 2021

KEBUTUHAN TERDALAM

Hatiku bersukaria karena Tuhan. mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu (1 Samuel 2:1)

Bertanyalah kepada seorang remaja berumur 15 tahun apakah ia menikmati "acara keluarga" bersama orangtuanya pada hari Jumat malam, daripada bepergian dengan teman-temannya. Tanyakan juga mengapa ia tidak senang bermain monopoli dengan adik perempuannya sementara teman-temannya menonton pertandingan di sekolah.

Perasaan remaja tersebut mungkin sama dengan perasaan Hana yang mandul ketika suaminya yang baik hati bertanya, "Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?" (1 Samuel 1:8). Kelihatannya sang suami tidak dapat memahami kebutuhan istrinya, ia tidak menyadari bahwa istrinya sedang bergumul tentang hal-hal yang lebih dari sekadar ketidakmampuannya untuk mempunyai anak. Pertanyaan itu dapat saja membuat Hana semakin sedih, tetapi saya rasa ada hal yang lebih penting.

Seperti remaja usia 15 tahun yang ingin diterima teman-temannya, kebutuhan Hana yang terdalam adalah mendapatkan kepercayaan dari Allah. Dalam budaya saat itu wanita yang tidak mempunyai anak merasa tidak diterima oleh Allah, karena sepertinya Allah tidak mengikutsertakan dia dalam penggenapan janji-Nya mengenai Mesias. Hana bahkan bersedia memberikan anaknya untuk melayani Allah, asal ia dapat mengetahui bahwa Allah tidak menolaknya. Akhirnya doa Hana terjawab, dan hatinya bersukacita (2:1-10).

Kita dapat belajar banyak dari wanita saleh ini. Hubungan antarsesama memang penting, tertapi kebutuhan kita yang terdalam adalah mengetahui bahwa kita diterima oleh Allah. Hanya Dia yang sanggup memenuhi kebutuhan kita yang terdalam -MRD II

SAAT KITA TAK PUNYA APA-APA LAGI SELAIN ALLAHKITA AKAN TAHU BAHWA ALLAH SAJA SUDAH CUKUP

* Take from Renungan Harian