Rabu, 13 Oktober 2021

JANJI DAN PERINTAHNYA

Ambillah anakmu yang tunggal itu, dan persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran (Kejadian 22:2)

Seorang pendeta yang juga penulis, Steve Lawson, mengatakan bahwa ia sering mendengar pernyataan yang menyesatkan dari orang-orang yang gaya hidupnya bertentangan dengan perintah-perintah Alkitab. Untuk membenarkan sikap hidup mereka itu, mereka berkata: "Hei! Allah menghendaki saya hidup bahagia dan hal ini membuat saya bahagia." Tampak jelas di sini bahwa orang-orang seperti itu hanya mau mempercayai janji-janji Allah untuk mendapatkan berkatNya saja, tetapi perintahNya untuk hidup suci mereka abaikan.

Renungkanlah reaksi Abraham dalam situasi yang sulit itu. Ia telah dijanjikan akan menjadi bapa segala bangsa. Alangkah besar sukacita yang ia rasakan. Namun kemudian Allah memerintah-kannya untuk mengurbankan anaknya. Jika dipikir berdasarkan akal manusia, perintah ini tampaknya bertentangan dengan janji yang telah diberikan Allah sendiri (Kejadian 15:5; 22:2).

Bagaimana janji Allah akan digenapi bila Abraham dengan taat melaksanakan perintah itu? Jika Abraham sama seperti orang-orang yang diceritakan oleh Steve Lawson di atas, ia pasti akan meminta Allah untuk melupakan perintah itu. Tetapi tidak, Abraham tidak melakukan hal itu. Ia tetap melaksanakan perintah Allah itu, dan lihatlah bagaimana Allah sendiri yang menyediakan kurban sebagai pengganti anaknya. Abraham taat dan janji Allah digenapi.

Kita harus ingat bahwa kewajiban kita adalah menaati perintah Allah. Dan kewajiban Allah adalah menepati janjiNya. Jika kita melakukan segala sesuatu dengan cara yang dikehendaki Allah, kedua prinsip ini tidak akan pernah bertentangan -- JDB

JALAN KETAATAN ADALAH JALAN BERKAT

* Take from Renungan Harian