Rabu, 26 Mei 2021

LEMAH NAMUN PERKASA

"Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2Korintus 12:9)


Jika ada hal yang paling kita benci lebih daripada kesombongan seseorang, itu adalah kesadaran akan segala kelemahan kita. Kita demikian membencinya sehingga kita mencari segala cara untuk menutupinya.

Bahkan Rasul Paulus pun perlu diingatkan akan kelemahannya. Ia didesak oleh waktu dan kembali "diberi suatu duri di dalam daging" (2Korintus 12:7). Paulus tidak menyebutkan dengan jelas "duri" yang dideritanya, namun J. Oswald Sanders mengingatkan kita bahwa apa pun duri itu, "itu adalah sesuatu yang menyakitkan, memalukan dan membatasi gerak Paulus." Tiga kali Paulus berseru kepada Tuhan agar "duri" itu dilepaskan dari dirinya, tetapi permintaannya tidak dikabulkan, sekalipun ia memakai "duri" dalam dagingnya itu untuk memohon kasih karunia Allah. Namun Tuhan berjanji padanya, "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna" (2Korintus 12:9).

Dengan mantap Paulus mulai "menerima" segala kelemahannya dan bersandar sepenuhnya pada kasih karunia Tuhan dalam menghadapi pencobaan tersebut. Ini merupakan suatu tahap yang oleh Sanders disebut sebagai "proses pendidikan bertahap" dalam kehidupan sang rasul. Sanders menegaskan bahwa pada akhirnya Paulus tidak lagi melihat "duri" dalam dagingnya itu sebagai suatu "penghalang," melainkan sebagai "keuntungan." Dan yang Paulus maksudkan dengan keuntungan adalah bahwa jika ia lemah, maka ia akan kuat dalam Tuhan.

Selama kita menerima segala kelemahan kita, kita dapat menjadi orang-orang lemah yang perkasa di dalam Kristus -- JEY

UNTUK MENGENAL KUASA ALLAH KITA HARUS MENGENAL KELEMAHAN KITA


* Take from Renungan Harian