Selasa, 20 Oktober 2026

MENGUJI PARA PENGAJAR

Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya
(Ulangan 12:32)



Wahyu, bagi beberapa orang hanyalah berarti nama kitab terakhir di Alkitab. Bagi para pengkhotbah yang suka menonjolkan diri sendiri, wahyu adalah karunia yang diberikan Allah kepada mereka secara pribadi. Namun dalam banyak kasus, apa yang mereka anggap sebagai wahyu yang diberikan Allah kepada mereka ternyata bertentangan dengan ajaran-ajaran-Nya dalam Alkitab.

Pernahkah Anda mendapati seseorang yang mengaku mendapat "wahyu" atau "firman" khusus dari Allah? Jika ya, berhati-hatilah. Jika apa yang ia nyatakan ternyata tidak dapat dibuktikan oleh pengajaran Alkitab yang benar, maka kemungkinan terbaiknya itu hanyalah pendapat pribadi. Namun kemungkinan terburuknya, orang itu telah mengajarkan ajaran yang menyimpang, dan tentunya itu bukan pewahyuan yang bersumber dari Allah.

Kitab Suci memperingatkan kita untuk tidak menambah maupun mengurangi apa yang telah diwahyukan Allah kepada kita melalui firman-Nya. Ulangan 4:2 mengingatkan kita, "Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya." Peringatan yang sama terdapat dalam Ulangan 12:32, Amsal 30:5,6, dan Wahyu 22:18. Seseorang yang melakukannya menempatkan diri dalam bahaya karena berusaha menambah isi Kitab yang diilhami Allah.

Jika seseorang berusaha mengajarkan suatu doktrin yang bukan dari Alkitab, waspadalah, meskipun orang itu berbudi pekerti halus dan terkenal. Ujilah ajaran para guru yang Anda dengar itu dengan firman Allah. Jika mereka mengaku mendapat wahyu dari Allah, pastikan bahwa mereka tidak melanggar peringatan yang jelas dari Allah --Dave Branon

UJILAH SEMUA PENGAJARAN DENGAN KEBENARAN FIRMAN ALLAH

* Take from Renungan Harian 

Senin, 19 Oktober 2026

ULURAN TANGAN

Apabila engkau tidak lagi ... menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, ... [maka] kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari
(Yesaya 58:9,10)



Seorang lelaki tua berumur 89 tahun, yang suka menciptakan kata-kata baru untuk menggambarkan masalah-masalah umum, menyebut seseorang yang suka menyalahkan segala sesuatu dengan sebutan penentang (againstovist). "Apa pun yang Anda usulkan," katanya, "akan ia tentang, dan ia akan mencari kesalahan dalam setiap hal yang Anda lakukan."

Saya merenungkan kata-katanya dan sering kali merasa bersalah karena sering menjadi orang seperti yang ia gambarkan. Ketika saya ingin menjadi orang yang "realistis," ternyata saya lebih cenderung menjadi penentang (againstovist)." Padahal itu tidak berkenan bagi Allah.

Dalam Kitab Yesaya 58, Nabi Yesaya berkata bahwa gaya hidup berkorban yang Allah inginkan adalah: "melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya" (ayat 6), "tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah" (ayat 9).

Apabila saya membuat seseorang tertekan dengan kritikan dan kata-kata pedas yang menyakitkan hati, maka Allah akan berkata bahwa saya harus berubah. Dia tidak ingin saya mencari-cari kesalahan, tetapi Dia ingin saya memerdekakan dan membebaskan orang lain. Alih-alih menyalahkan orang lain, lebih baik saya mengulurkan tangan untuk menolong.

Saya tidak bisa menemukan satu kata baru untuk menggambarkan orang yang dapat melepaskan beban dan memberikan kebebasan, tetapi saya yakin teman saya tadi bisa. Dan saya berharap kata yang akan ditemukan itu menggambarkan diri saya -- David McCasland.


BERILAH SEMANGAT KEPADA ORANG LAIN-- JANGAN HANCURKAN HATI MEREKA

* Take from Renungan Harian