Minggu, 20 September 2026

PERINTAH 9: JANGAN BERBOHONG

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu (Keluaran 20:16)


Betapa mudahnya kita berdusta! Hanya dengan sedikit membesar-besarkan fakta di satu sisi, menghilangkan rincian di sisi lain, atau dengan sikap diam yang menyesatkan, kita dapat merusak suatu kebenaran. Namun sesungguhnya kebenaran tetap merupakan landasan dan struktur vital dari semua hubungan antarmanusia. Jika kerangka suatu kebenaran dihilangkan, maka masyarakat akan runtuh. Kemutlakan moral ini demikian nyata, sehingga penjahat sekalipun akan menghukum rekan-rekannya yang berdusta kepada mereka.

Perintah Allah yang kesembilan ini melarang kita melakukan tipu muslihat terhadap sesama dan mengarisbawahi kesakralan kebenaran dalam segala hal yang kita lakukan. Dua kata Ibrani yang digunakan untuk kata "dusta" dalam Keluaran 20:16 dan dalam Ulangan 5:20 berarti "tidak benar" dan "tidak jujur." Bersaksi dusta terhadap sesama, merupakan ekspresi ketidakjujuran dan ketidakbenaran.

Perintah ini juga mengupas dua motif dasar yang dibenci Allah -- kelicikan dan kesombongan. Ketika kita berdusta, biasanya hal ini dilakukan untuk mencampakkan orang lain pada sisi yang negatif atau menempatkan diri kita pada sisi yang positif. Tindakan pertama itu berasal dari kelicikan, sedangkan yang kedua berasal dari kesombongan.

Yesus berkata, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup" (Yohanes 14:6). Semakin dekat kita kepadaNya, semakin jujur kita terhadap diri kita sendiri dan sesama. Namun yang menjadi masalah saat ini adalah, "Apakah kita benar-benar adalah pengikut Kristus -- yang adalah kebenaran itu?" -- DJD

TAK ADA YANG DAPAT MELEMAHKAN KEBENARAN SELAIN DARIDAPA MENGULUR-ULUR KEBENARAN 

* Take from Renungan Harian

Sabtu, 19 September 2026

PERINTAH 8: JAGALAH TANGANMU

Jangan mencuri (Keluaran 20:15)



Tom dan Pauline Nichter adalah pasangan tunawisma dan tunakarya yang telah berbulan-bulan tinggal di dalam mobil mereka atau menumpang seadanya. Oleh karena itu. tatkala menemukan dompet berisi uang sebanyak Rp 200.000,00 lebih, mereka bagaikan mendapat durian runtuh. Tetapi mereka kemudian mengembalikan dompet dan uang tersebut kepada turis yang kehilangan. "Kami dapat saja memakai uang tersebut," ujar Pauline. "Tetapi kami tidak diajar demikian, dan kami tidak ingin mengajar anak kami dengan cara itu."

Jika setiap orang mempraktekkan kejujuran seperti Pauline, maka masyarakat akan mengalami revolusi. Mencuri barang dan waktu yang dilakukan oleh para karyawan akan berhenti. Mencuri barang di toko juga tidak lagi menjadi kebiasaan. Barang dan jasa tidak akan dipungut bayaran lebih, dan harga-harga akan turun. Dan kita semua akan mendapat lebih dari apa yang seharusnya menjadi hak kita.

Perintah kedelapan mengungkap kerinduan Allah akan suatu masyarakat yang demikian. Perintah ini berlandaskan pada prinsip bahwa segala sesuatu milik Allah, dan bahwa berbuat curang terhadap seseorang ataupun suatu lembaga berarti mencuri dari Tuhan. Juga termasuk melindungi hak setiap orang untuk menjadi pemilik harta dalam pengertian yang diizinkan Allah -- tidak memiliki yang berlimpah untuk kepentingan pribadi, tetapi mengelola secara bijaksana apa yang menjadi milikNya guna kebaikan orang lain.

Hubungan pribadi yang hidup dengan Kristus dapat mencegah kita menjadi pencuri. Dengan bertumbuhnya hubungan tersebut, Dia akan mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi pemberi, bukannya penerima -- DJD


ORANG KRISTEN BUKANLAH PEMILIK KEKAYAAN MEREKA HANYA MENDAPAT PINJAMAN DARI ALLAH

* Take from Renungan Harian