Kamis, 10 September 2026

MENYANYI BAGI TUHAN

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai
(Mazmur 30:6)



Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi.

Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepiantetapi Allah melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti. Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).

Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Allah akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Allah masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita. Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13).

Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi! DHR

PUJI-PUJIAN ADALAH SUARA JIWA YANG TERBEBASKAN

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 09 September 2026

MENGELOLA HATI

Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman (Matius 23:28)


Ketika masih menjadi ibu rumah tangga muda, saya sangat senang membersihkan rumah dari atas sampai bawah. Masalahnya adalah, kebersihan rumah itu ternyata tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya, saya mengerti bahwa jika saya menjaga agar rumah cukup rapi, maka rumah itu akan tampak bersih, walaupun sebenarnya tidak demikian adanya. Secara bertahap saya mengutamakan penampilan rumah yang rapi, tetapi saya tidak membersihkannya secara saksama. Kompromi ini tidak hanya menguntungkan, tetapi juga meyakinkan. Terkadang saya pun terkecoh. Namun pada hari yang cerah, rumah yang tampaknya bersih itu menjadi tampak apa adanya-berdebu dan kotor.

Pada zaman Yesus, para ahli Taurat dan orang Farisi berbuat munafik dengan menekankan agar tampil suci, namun mereka mengabaikan kesucian hati (Matius 23:25). Ketika cahaya Yesus menerangi mereka, Dia mengungkapkan kebenaran mengenai kehidupan religius jasmaniah mereka. Dia tidak menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan jasmaniah mereka salah, namun mereka sangat keliru karena menggunakan berbagai kegiatan tersebut untuk menutupi kejahatan. Bagi mereka, pembersihan bagian dalam sudah sangat terlambat.

Menjaga penampilan dalam pekerjaan rumah tangga tidaklah salah, tetapi berpura-pura bahwa kita memiliki hati yang bersih adalah keliru. Hanya orang-orang yang suci hatinya yang akan menyambut Yesus dengan percaya diri ketika Dia datang. Apakah hati Anda siap? Ataukah hati Anda perlu dibersihkan? Sekaranglah saatnya Anda memerhatikan hal itu! -JEY

DI PUSAT KESUCIAN TERDAPAT KESUCIAN HATI 

* Take from Renungan Harian