Selasa, 25 Agustus 2026

TERHILANG DAN DISELAMATKAN

Pemungut cukai itu ... memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini (Lukas 18:13)


Penginjil D.L. Moody pernah mengunjungi sebuah penjara yang disebut "Pekuburan" untuk berkhotbah kepada para penghuninya. Setelah selesai berbicara, Moody berbincang-bincang dengan beberapa orang di dalam sel. Ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada tiap tahanan, "Mengapa Anda ditahan?" Berulang kali ia menerima jawaban: "Saya tidak seharusnya berada di sini." "Saya dijebak." "Saya difitnah." "Saya tidak diadili secara adil." Tak seorang tahanan pun mau mengakui bahwa dirinya bersalah.

Akhirnya Moody berjumpa seorang pria yang menutupi wajah dengan tangannya, sambil menangis tersedu-sedu. "Ada apa, sobat?" Moody bertanya. Tahanan itu menjawab, "Saya tak mampu menanggung dosa saya yang begitu besar." Mendengar hal itu, Moody merasa lega karena telah menemukan setidaknya satu orang yang mau mengakui kesalahannya dan membutuhkan pengampunan. Karena itulah Moody berseru, "Puji Tuhan!" Kemudian dengan sukacita Moody bercerita tentang keselamatan dalam Kristus. Dari situ orang itu dibebaskan dari belenggu dosa dan diselamatkan.

Gambaran tentang dua sikap yang berlawanan dalam perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai sangatlah akurat (Lukas 18:9-14). Selama orang berdosa menyatakan diri tidak bersalah dan menyangkali dosanya di hadapan Tuhan, ia tidak dapat menerima karunia pengampunan. Namun bila ia mengaku bersalah dan berseru, "Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini," maka ia akan diampuni. Untuk mendapatkan keselamatan, Anda harus mengakui bahwa Anda telah terhilang --RWD


AGAR DISELAMATKAN
ANDA HARUS MENGAKUI BAHWA ANDA TERHILANG

* Take from Renungan Harian

Senin, 24 Agustus 2026

TIGA HAL YANG TAK TERPISAHKAN

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku (Yohanes 14:21)


Selama beberapa tahun seorang pria hidup menyendiri dan penuh kegetiran. Ia juga tak pernah pergi ke gereja yang dulu pernah sangat ia cintai. Sekarang ia sakit dan hampir sepanjang waktu menangis. Sejumlah orang yang tetap berhubungan dengannya merasa sangat prihatin. Dulu pria tersebut adalah seorang Kristen yang penuh kasih, sampai akhirnya sebuah musibah terjadi.

Seorang anggota gereja yang kaya menipunya dalam suatu perjanjian bisnis dan kemudian memfitnahnya. Pada mulanya ia bereaksi dengan benar dan mencoba menyelesaikan masalahnya secara pribadi. Tatkala usaha ini gagal, ia mencoba menemui dua penatua gereja untuk menemaninya menghadapi orang itu, namun tak satu pun dari mereka mau terlibat dalam kasusnya. Karena frustrasi, ia pun meninggalkan gerejanya, lalu hidup menyendiri dan tidak bahagia.

Meski saya tidak membenarkan pengusaha yang jahat ataupun para penatua yang pengecut itu, saya yakin bahwa tidak adanya damai sejahtera dalam diri orang ini adalah akibat dari ketidaktaatannya sendiri. Walau telah dirugikan, seharusnya ia tetap menaati perintah "kasihilah musuhmu" dan "berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44).

Kasih, ketaatan, dan damai sejahtera adalah tiga hal yang tak terpisahkan. Jika kita benar-benar mengasihi Yesus seperti yang seharusnya, kita akan tetap menaati-Nya, apa pun yang terjadi. Setelah kita menaati-Nya, maka kita akan menikmati damai sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh Roh Allah (Yohanes 14:27; Galatia 5:22) --HVL


AGAR DAPAT BERJALAN DALAM DAMAI SEJAHTERA TETAPLAH MELANGKAH BERSAMA YESUS

* Take from Renungan Harian