Senin, 24 Agustus 2026

TIGA HAL YANG TAK TERPISAHKAN

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku (Yohanes 14:21)


Selama beberapa tahun seorang pria hidup menyendiri dan penuh kegetiran. Ia juga tak pernah pergi ke gereja yang dulu pernah sangat ia cintai. Sekarang ia sakit dan hampir sepanjang waktu menangis. Sejumlah orang yang tetap berhubungan dengannya merasa sangat prihatin. Dulu pria tersebut adalah seorang Kristen yang penuh kasih, sampai akhirnya sebuah musibah terjadi.

Seorang anggota gereja yang kaya menipunya dalam suatu perjanjian bisnis dan kemudian memfitnahnya. Pada mulanya ia bereaksi dengan benar dan mencoba menyelesaikan masalahnya secara pribadi. Tatkala usaha ini gagal, ia mencoba menemui dua penatua gereja untuk menemaninya menghadapi orang itu, namun tak satu pun dari mereka mau terlibat dalam kasusnya. Karena frustrasi, ia pun meninggalkan gerejanya, lalu hidup menyendiri dan tidak bahagia.

Meski saya tidak membenarkan pengusaha yang jahat ataupun para penatua yang pengecut itu, saya yakin bahwa tidak adanya damai sejahtera dalam diri orang ini adalah akibat dari ketidaktaatannya sendiri. Walau telah dirugikan, seharusnya ia tetap menaati perintah "kasihilah musuhmu" dan "berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44).

Kasih, ketaatan, dan damai sejahtera adalah tiga hal yang tak terpisahkan. Jika kita benar-benar mengasihi Yesus seperti yang seharusnya, kita akan tetap menaati-Nya, apa pun yang terjadi. Setelah kita menaati-Nya, maka kita akan menikmati damai sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh Roh Allah (Yohanes 14:27; Galatia 5:22) --HVL


AGAR DAPAT BERJALAN DALAM DAMAI SEJAHTERA TETAPLAH MELANGKAH BERSAMA YESUS

* Take from Renungan Harian 

Minggu, 23 Agustus 2026

"DIMULAI DARI SAYA"

Oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan Allah ..., Aku pun telah mendengarnya (2Tawarikh 34:27)

Yosia diangkat menjadi raja saat berusia 8 tahun, mencari Allah pada usia 16 tahun, menjadi tokoh pembaruan pada usia 20 tahun, dan hamba Allah yang rendah hati pada usia 26 tahun. Pertumbuhan rohani dan kepemimpinannya begitu dramatis karena ia mendengarkan Firman Allah dengan sungguh-sungguh dan menaati apa yang ia dengar.

Saat Bait Allah di Yerusalem diperbaiki dan disucikan, Kitab Taurat yang telah lama dilupakan bangsa Israel, ditemukan dan dibacakan di hadapan Raja Yosia yang masih belia. Ketika mendengarnya, Yosia merendahkan dirinya, mengoyakkan jubahnya, dan menangis di hadirat Allah (2 Tawarikh 34:19,27). Yosia menyadari betapa besar dosa para pemimpin bangsa sebelum dirinya, dan ia memutuskan untuk memulai perubahan besar dan abadi dari dirinya. Tindakannya untuk memperbarui perjanjian dan komitmennya kepada Tuhan di depan publik-untuk mengikut Dia dan melakukan perintah-perintah-Nya-telah mengawali terjadinya kebangkitan yang melanda seluruh bangsa (ayat 31-33).

Apa yang sedang terjadi di negara Anda saat ini? Keserakahan? Kekerasan? Ketidakpedulian kepada Allah? Sudah berapa lama negara Anda tenggelam dalam kemerosotan moral dan rohani? Apakah Anda merasa terlalu muda, terlalu tua, atau terlalu lemah untuk melakukan sesuatu sehubungan dengan hal-hal itu?

Yosia-seorang yang tekun mencari Allah, tokoh pembaruan, hamba Allah, seorang raja berumur dua puluhan yang menangisi bangsanya-telah menunjukkan teladan bagi kita.

Tuhan, kerjakanlah kebangkitan, dimulai dari diri saya!--DCM


UNTUK MEMPERBARUI KASIH ANDA KEPADA KRISTUS
RENUNGKAN KEMBALI KASIH KRISTUS KEPADA ANDA

* Take from Renungan Harian