Kamis, 06 Agustus 2026

KASIH YANG TAK BERUBAH

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang (Yakobus 1:17)

Pada suatu pesta pernikahan yang saya hadiri, kakek mempelai perempuan mengutip di luar kepala sebuah pilihan yang mengharukan dari Kitab Suci tentang hubungan suami dan istri. Kemudian, seorang teman dari pasangan itu membacakan "Soneta 116" karya William Shakespeare. Pendeta yang memimpin upacara memakai sebuah kalimat dari soneta itu untuk melukiskan jenis kasih yang harus menjadi ciri pernikahan kristiani: "Bukan kasih namanya jika ia berubah ketika mendapati perubahan." Sang penyair ingin mengatakan bahwa kasih yang sejati tidak berubah dalam keadaan apa pun.

Pendeta itu mencatat banyaknya perubahan yang akan dialami pasangan ini dalam kehidupan bersama mereka, termasuk kesehatan dan akibat-akibat penuaan yang tak terhindarkan. Kemudian, ia menantang mereka untuk mengembangkan cinta kasih alkitabiah sejati yang tidak akan goyah ataupun pudar meskipun mereka pasti akan menghadapi berbagai perubahan.

Ketika saya menyaksikan sukacita dan kegembiraan pasangan muda ini, saya teringat akan sebuah ayat yang dikatakan Yakobus, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran" (1:17). Allah tidak pernah berubah, demikian pula kasih-Nya kepada kita. Kita adalah penerima kasih sempurna dari Bapa surgawi kita, yang mengasihi kita "dengan kasih yang kekal" (Yeremia 31:3).

Kita dipanggil untuk menerima kasih-Nya yang tidak pernah pudar, agar kasih itu dapat membentuk hidup kita, sehingga kita dapat menunjukkannya juga kepada orang lain --DCM


KASIH ALLAH TETAP BERTAHAN SAAT SEGALA HAL TIDAK BERJALAN LANCAR

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 05 Agustus 2026

NYANYIAN SYUKUR

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur (Mazmur 33:1)


Keluarga kami senang mendengarkan puji-pujian Kristen dan menghadiri konser. Kami sering memutar kaset lagu rohani yang pada saat berkendaraan. Kami mendorong anak-anak kami untuk ikut serta dalam paduan suara sejak anak sulung kami berusia 3 tahun, dan kini ia mendapat beasiswa untuk kuliah di bidang musik.

Kecintaan terhadap musik ini bukan karena jasa saya, karena saya tidak tahu apa-apa tentang musik. Saya tidak mengikuti pelajaran musik atau menyanyi dalam paduan suara. Namun satu hal yang pasti, Anda tidak harus menguasai musik untuk memperoleh berkat darinya.

Perhatikan ucapan pemazmur, "Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur" (Mazmur 33:1). Ia tidak berkata, "Bersorak-sorailah, hai kamu yang memiliki talenta musik!" Ia juga tidak berkata, "Puji-pujian dari pemain piano berbakat itu indah!" Saya selalu bersyukur karena Allah juga menikmati nyanyian saya saat saya mengikuti lagu rohani yang dinyanyikan di kasetnya, sama seperti Dia mendengar pemusik yang handal. Tentu saja, mungkin banyak orang yang tidak sependapat dengan saya.

Kita dapat bersukacita bersama mereka yang membantu kita dalam penyembahan melalui kemampuan mereka yang dibagikan kepada kita. Memang Mazmur 33:1 mengatakan agar kita bermain musik dengan baik. Namun janganlah kiranya semangat kita kendor untuk memuji. Kita meningkatkan penyembahan dan sukacita di dalam Tuhan pada saat kita menggunakan musik untuk mengungkapkan pujian kita. Sebagai orang Kristen, kita selalu memiliki banyak hal untuk dinyanyikan -- JDB


HATI YANG TERTUJU KEPADA ALLAH AKAN MELANTUNKAN NADA-NADA PUJIAN

* Take from Renungan Harian