Kamis, 30 Juli 2026

KETIKA MATAHARI TAK BERSINAR

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)


Acap kali kita menyepelekan berkat-berkat Allah hingga akhirnya berkat-berkat itu diambil dari kita. Lalu kita menyadari betapa berartinya anugerah Allah, bahkan untuk hal yang paling lazim sekalipun.

Ada sebuah legenda mengenai hari ketika matahari tidak bersinar. Pada pukul enam pagi, langit masih gelap. Pukul tujuh pagi masih tetap malam. Siang datang, tetapi suasana masih seperti tengah malam. Akhirnya, pada pukul empat sore, orang-orang berkumpul di beberapa gereja untuk memohon matahari kepada Allah.

Pagi berikutnya, sekumpulan orang berkumpul di luar rumah dan memandang ke langit sebelah timur. Ketika secercah cahaya matahari menyibak fajar, orang-orang tersebut bersorak dan memuji Allah karena matahari itu.

Pemazmur mengerti ia tidak mungkin mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Allah baginya. Ia sedih karena ia mungkin saja melupakan hal-hal tersebut. Lalu ia menggenggam jiwanya yang lembek, menggoncang-goncangkannya, dan memaksanya untuk memikirkan beberapa karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

Karena kebaikan Allah sepasti matahari, kita berada dalam bahaya jika melupakan apa yang dicurahkan-Nya bagi kita setiap hari. Jika kita menghitung berkat satu per satu, kita tak akan pernah dapat menyelesaikannya. Tetapi jika kita mendaftar 10 atau 20 pemberian yang diberikan Allah bagi kita setiap hari, akan terjadi sesuatu pada hati kita.

Marilah kita coba dan kita akan mengetahui sendiri hasilnya HWR


JIKA ANDA INGIN KAYA HITUNG SEMUA MILIK ANDA YANG TAK DAPAT DIBELI 

* Take from Renungan Harian

Rabu, 29 Juli 2026

DAHSYAT!

Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (Mazmur 47:3)


Kata berikut ini sering dipakai dan kita mendengarnya dalam konteks yang sangat tidak lazim. Kata tersebut adalah dahsyat.

Suatu kali cucu saya, Josh, yang berusia 9 tahun dan saya sedang bermain mobil balap yang dikendalikan dari jauh di ruang keluarga. Beberapa kali ia berkata, "Dahsyat!"

Pada kesempatan lain, ketika saya dan istri saya sedang meninggalkan restoran, sang manajer restoran yang sedang berdiri di pintu bertanya, "Apakah semuanya memuaskan Anda?" "Ya," jawab saya. "Dahsyat!" katanya.

Kedua peristiwa ini membuat saya berpikir: Meskipun bermain dengan cucu saya dan menikmati makanan di restoran adalah hal-hal yang menyenangkan, tetapi apakah pengalaman-pengalaman ini memang benar-benar dahsyat? Jadi, saya membuka kamus Mr. Webster edisi lengkap. Definisi utama mencatat arti dahsyat sebagai "rasa hormat yang sangat dalam", "mengerikan", "hebat". Saya jadi teringat ketika sedang berdiri di tepi Grand Canyon sebelah selatan. Ini sungguh-sungguh merupakan pengalaman yang dahsyat.

Kemudian, saya memikirkan kenyataan yang jauh lebih dahsyat, yaitu mengenal Sang Pencipta dan Penopang seluruh alam semesta ini. Jadi, memang tidak mengherankan apabila pemazmur menulis kalimat seperti ini, "Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat" (Mazmur 47:3).

Lain kali apabila kita mendengar kata dahsyat, kiranya kata itu mengingatkan kita kepada Allah kita yang hebat, yang benar-benar dahsyat! --DJD

TAK ADA YANG LEBIH DAHSYAT DARIPADA MENGENAL ALLAH

* Take from Renungan Harian