Rabu, 08 Juli 2026

PRESTASI DAN DASAR MOTIVASI

Dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya (Kolose 3:24)



Allah ingin agar kita mengembangkan dengan baik talenta-talenta yang Dia berikan. Adalah kehendak-Nya bila seorang murid harus menulis makalah akhir tahun ajarannya atau bila seorang arsitek merancang sebuah bangunan pencakar langit yang menjulang. Namun seiring dengan bergulirnya sejarah, kita juga menyadari bahwa pada akhirnya karya terbesar manusia akan menjadi debu dan abu.

Bahkan prestasi-prestasi terbesar yang pernah kita capai akan menjadi seperti istana pasir yang dibuat anak-anak di tepi pantai, yang dengan cepat hanyut tersapu oleh air. J.M. Thornburn menulis, "Anda akan memperoleh kebahagiaan yang mendalam dan sejati dalam hidup ini bila Anda dapat memamerkan prestasi Anda kepada orang lain. Tetapi akan lebih memuaskan lagi bila Anda berhasil membuat orang lain mengagumi prestasi Anda."

Meski kedengarannya sinis, itulah pandangan yang nyata dari hidup kita, jika kita tidak mempunyai kepercayaan terhadap dunia yang akan datang. Namun pandangan hidup kita seketika akan berubah jika kita menempatkan Allah sebagai teladan dan memikirkan kekekalan yang terbentang tiada batas. Jika kita dimotivasi oleh kasih Allah, ketaatan pada Firman-Nya, dan hasrat yang membara untuk memuliakan Bapa surgawi (Kolose 3:22-23), maka segala pekerjaan kita akan memperoleh nilai yang kekal dan kita akan menerima upah dari Allah (1Korintus 3:14; 9:24-25).

Pekerjaan yang dilakukan untuk memuliakan Tuhan akan menyenangkan Dia dan membawa berkat bagi kita. Ingat, dasar motivasi kitalah yang menentukan segalanya --VCG


DASAR MOTIVASI YANG TERDALAM UNTUK MENAATI ALLAH ADALAH HASRAT UNTUK MENYENANGKAN HATI-NYA 

* Take from Renungan Harian

Selasa, 07 Juli 2026

KASIH YANG SEJATI

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu (Efesus 4:29)


Tak seorang pun suka dikritik. Apalagi jika kritikan itu berasal dari seseorang yang membicarakan kita secara diam-diam. Dalam Roma 1:29-30, Paulus menyebut pengkritik seperti itu sebagai "pengumpat" dan "pemfitnah." Sebutan itu diungkapkan sederet dengan orang yang congkak, pembunuh, orang yang pandai dalam kejahatan, pembenci Allah, dan sejenisnya.

Pengumpat yang dimaksud di sini adalah orang yang suka menyebarkan gosip secara diam-diam, sedangkan pemfitnah adalah orang yang membicarakan orang lain dengan penuh kedengkian. Tragisnya, sebagian orang Kristen jatuh dalam dosa tersebut. Mereka memang tidak menyakiti orang lain dengan kekerasan, melainkan dengan perkataan yang meremehkan apa yang dikerjakan atau diucapkan oleh orang lain.

Orang-orang yang melakukan perbuatan yang merusak tersebut tidak menyadari bahwa tingkah laku mereka itu tidak konsisten dan bahwa mereka belum menghayati nasihat Rasul Paulus: "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura" (Roma 12:9) yang bisa juga diterjemahkan menjadi "Jangan menunjukkan kasih yang palsu."

Mari kita bertobat dan menggantikan segala gosip yang buruk dengan apa yang disebut John Stott sebagai "gosip suci," yaitu secara antusias membicarakan karya Allah dalam mengubahkan kehidupan manusia. Sebagai contoh kita dapat berkata," Sudahkah Anda memperhatikan bahwa Joe telah berubah total sejak menyerahkan hidupnya kepada Kristus?" atau, "Saya benar-benar melihat Tuhan bekerja dalam diri Susan!"

Seberapa sejatikah kasih Anda? --JEY


PERKATAAN KITA MEMILIKI KUASA UNTUK MEMBANGUN
ATAU MENJATUHKAN

* Take from Renungan Harian