Rabu, 17 Juni 2026

“KAMU DENGAR SUARAKU?”

Janganlah kamu menghakimi, kamu pun tidak akan dihakimi
(Lukas 6:37)



Seorang suami yang sedang menghadapi masalah berkomunikasi dengan istrinya, menyimpulkan bahwa sang istri bukanlah pendengar yang baik. Oleh karenanya ia memutuskan untuk melakukan sebuah tes tanpa diketahui istrinya.

Suatu sore ia duduk jauh dari kamarnya. Sang istri membelakanginya sehingga tak dapat melihatnya. Dengan sangat pelan si suami berkata, “Kamu dengar suaraku?” Tak ada tanggapan.

Ia mendekat sedikit, lalu bertanya lagi, “Kamu dengar suaraku?” Lagi-lagi tak ada jawaban.

Tanpa bersuara ia maju lebih dekat lagi dan membisikkan kata-kata yang sama. Masih saja tak ada jawaban.

Akhirnya ia berdiri tepat dibelakang sang istri, sambil berkata, “Kamu bisa dengar suaraku?”

Betapa terkejut dan sedihnya ia manakala istrinya menanggapinya dengan marah, “Ya, untuk keempat kalinya!”

Ini merupakan peringatan yang baik bagi kita tentang menghakimi.

Sebagian besar dari kita suka mengkritik kesalahan orang lain untuk menutupi bahwa kita sendiri juga sering melakukan kesalahan yang sama. Kita cenderung pintar menemukan kesalahan orang, yang sebenarnya bukan kesalahannya, melainkan kesalahan kita.

Yesus mengenal sifat manusia dengan baik. Itu sebabnya Dia berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi” (Lukas 6:36,37)--RW


JIKA ANDA HENDAK MENGOREKSI KESALAHAN SEGERALAH BERCERMIN

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 16 Juni 2026

BAPAK KEKEKALAN

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3)


Kekekalan! Adakah konsep lain yang lebih menakjubkan dari hal ini? Pikiran kita seringkali sulit menangkap ide tentang keberadaan yang tak pernah berakhir.

Arthur Stace dari Sidney, Australia, terus dibayangi oleh pemikiran bahwa orang-orang yang tidak mengenal Kristus akan terhilang dalam kekekalan. Maka ia pun bangun pagi-pagi dan menuliskan kata kekekalan dengan kapur di trotoar seluruh kota. Akhirnya ia dikenal sebagai "Bapak Kekekalan." Banyak orang menanggapi pelayanannya yang rendah hati ini dengan menaruh iman mereka pada Yesus Kristus.

Saat Alkitab berbicara tentang kehidupan kekal, hal ini juga mengacu pada hubungan kita dengan Allah, tidak hanya tentang berlalunya waktu. Dalam Yohanes 17:3, Yesus menjelaskan bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah yang benar secara intim. Namun kekekalan juga berarti keberadaan yang tidak pernah berakhir. Pertanyaannya adalah: Di mana kita akan menjalani kekekalan itu?

Dari waktu ke waktu yang terus berjalan, kita semua bergerak menembus waktu menuju kekekalan. Adakah hal ini menumbuhkan dalam diri kita pengharapan yang penuh sukacita atau perasaan takut? Semua itu tergantung pada hubungan kita dengan Yesus Kristus.Dia telah memberikan satu-satunya jalan kepada Bapa (Yohanes 14:6; Kisah 4:12). Pengurbanan-Nya untuk menebus dosa memungkinkan kita untuk "bersama-sama dengan Tuhan" (1Tesalonika 4:17).

Apa yang telah Anda putuskan tentang Yesus? Jawaban Anda akan menentukan di mana Anda akan menjalani kekekalan [VCG]


ORANG YANG HANYA MEMIKIRKAN KEHIDUPAN DI DUNIA INI AKAN MENJALANI KEKEKALAN DALAM PENYESALAN

* Tae from Renungan Harian