Kamis, 04 Juni 2026

"BELANJA" AGAMA

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25)



Andaikan saja saat ini Anda sedang "berbelanja" agama. Tidakkah Anda ingin dilayani oleh Sosok yang lebih tinggi, yang memiliki kekuatan dan dapat melakukan hal-hal yang menakjubkan? Tidakkah Anda menginginkan sebuah agama yang menyediakan keuntungan besar setelah kematian? Tidakkah Anda ingin pemimpin agama ini secara mutlak berharga untuk dipercaya dan dapat mengampuni dosa-dosa Anda? Saya menginginkannya.

Kemudian saya membaca tulisan tentang sebuah agama yang banyak "pembelinya" tanpa disertai satu pun dari kriteria tersebut. Agama ini mengajarkan bahwa "Allah adalah sesuatu yang indah dan lemah lembut" dan "Sang kekuatan yang lebih tinggi dari semua orang." Agama ini mengatakan, "Ketika Anda meninggal, kehidupan berhenti." Dan tokoh utamanya? Yesus! Namun Dia hanya digambarkan sebagai "penguasa terang."

Pikirkanlah tentang religi-religi yang ada di dunia. Berapa di antara mereka yang menawarkan Allah yang mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih? Berapa yang memberikan jaminan akan kerajaan surga? Berapa yang menyediakan seorang Juruselamat atas dosa dan kesalahan? Mereka memberi janji-janji yang besar, tetapi gagal memberi apa yang kita butuhkan.

Saat ini pikirkanlah pernyataan-pernyataan berikut ini: Mereka yang menaruh percaya pada Kristus melayani Allah yang Mahakuasa, Mahatahu dan Mahakasih. Mereka memiliki seorang Juruselamat yang menyediakan jaminan atas kerajaan sorga dan kemerdekaan atas dosa. Dari semua kepercayaan yang ada di dunia, inilah satu-satunya yang bukan buatan manusia. Mengapa memilih yang kurang baik kalau ada yang terbaik? -- JDB

AGAMA MUNGKIN MEMBERI INFORMASI DAN REFORMASI TETAPI HANYA KRISTUS YANG DAPAT MENTRANSFORMASI

* Take from Renungan Harian 

Rabu, 03 Juni 2026

UKURAN KASIH

Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya
(1 Yohanes 4:21)



Ketika mengunjungi rumah seorang kristiani, saya melihat kata-kata ini terpampang pada sebuah hiasan dinding: "Engkau mengasihi Yesus seperti kau mengasihi orang yang paling tidak kaukasihi." Saya tersentak membaca kata-kata itu. Namun kemudian saya menemukan kata-kata serupa dalam 1 Yohanes 4:20, "Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya."

Setelah itu saya sering mendapati diri saya mengkritik orang lain dengan mengabaikan kesalahan saya sendiri yang justru lebih mencolok. Jika saya mengasihi Yesus sebesar kasih saya terhadap orang yang saya kritik, berarti saya sedikit sekali mengasihi-Nya. Ini membuat saya sedih dan kecewa, karena sepertinya saya tidak mampu mengasihi Yesus dan sesama dengan semestinya.

Dalam 1 Yohanes 4:10, kita tahu bahwa kasih yang sejati tidak dapat diukur melalui kasih kita kepada Allah, tetapi melalui kasih-Nya kepada kita. Dia menunjukkan kedalaman kasih-Nya melalui kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Itulah teladan kita. "Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi" (ayat 11).

Kini setiap kali saya gagal mengasihi orang lain, saya memohon ampun kepada Allah. Saya minta agar Dia menolong saya menunjukkan kepada sesama, kasih yang Dia berikan kepada saya.

Adakah Anda rindu untuk lebih mengasihi Yesus? Mulailah dengan mengasihi orang-orang di sekitar Anda. Ingatlah, kasih kepada Yesus dan kasih kepada sesama selalu berjalan beriringan -JEY

KASIH ADALAH KEHENDAK ALLAH DALAM TINDAKAN

* Take from Renungan Harian