Senin, 25 Mei 2026

DI HADIRAT ALLAH

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7)





Sebagai anak petani di Dakota Utara, dulu saya sering terkagum-kagum ketika melihat ke langit di hari yang cerah atau ketika mendengarkan gemuruh guntur sebelum badai datang. Allah tampak begitu besar dan saya merasa begitu kecil. Saya sering mengalami perasaan seperti itu ketika mendekati altar gereja atau mendengar Ayah berdoa. Namun, sekarang saya mengakui bahwa kadangkala saya cenderung lebih santai ketika berpikir tentang Allah, berdoa, mempelajari Alkitab, atau turut serta dalam penyembahan.

Ketika kita berkumpul untuk menyembah, menyanyi, berdoa, dan mendengarkan khotbah, sering kali kita melakukannya dengan setengah hati dan kurang disertai takut akan Allah. Pengkhotbah 5 mengungkapkan masalah tersebut dan memperingatkan kita untuk tidak berjanji kepada Allah dengan sembarangan atau dengan kepura-puraan.

Kita cenderung hanya mendengarkan sebagian dari apa yang disampaikan Allah melalui firman-Nya. Mendengar yang sesungguhnya adalah mendengarkan dengan disertai ketaatan. Janji yang tidak ditepati di hadapan Allah adalah masalah yang sangat serius (Pengkhotbah 5:1,3-5). Sebagaimana banyak mimpi tidak terwujud menjadi kenyataan, demikian juga ada banyak perkataan sia-sia di hadirat Allah. Tetapi takutlah akan Allah (ayat 2,6).

Tanamkan selalu dalam pikiran Anda betapa agung dan mulianya Allah serta betapa kecil dan berdosanya kita. Bersyukurlah kepada-Nya karena anugerah dan kasih-Nya. Perenungan yang sungguh-sungguh tentang karakter Allah akan membantu kita untuk takut akan Allah (ayat 6) --HVL


TAKUT AKAN ALLAH ADALAH PERMULAAN DARI PENYEMBAHAN YANG SEJATI 

* Take from Renungan Harian

Minggu, 24 Mei 2026

ADAM, HAWA, DAN SAYA

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Roma 6:11)



Ketika Adam dan Hawa menghadapi godaan untuk pertama kalinya, banyak hal yang benar bagi mereka namun tidak benar bagi kita. Mereka tinggal dalam lingkungan yang sempurna dan masyarakat yang tidak rusak. Tidak ada pengaruh keluarga yang dapat disalahkan atas pilihan mereka untuk melakukan apa yang salah.

Adam dan Hawa berada sebagai ciptaan pertama yang menakjubkan. Tidak ada dosa warisan dan tidak ada kerusakan di sekeliling mereka yang dapat dipersalahkan atas kejatuhan mereka dalam dosa.

Banyak dosa yang tidak dilakukan oleh Adam dan Hawa. Mereka tidak melakukan perzinahan. Mereka tidak mencuri milik orang lain. Mereka tidak memberontak terhadap ayah dan ibunya. Mereka tidak melakukan kesaksian paslu untuk melawan sesamanya. Mereka tidak iri hati terhadap milik orang lain.

Namun hakekat dosa kembali pada kejatuhan dari ciptaan pertama ini, sama seperti yang kita alami saat ini, yakni tindakan meninggalkan Allah. Ada satu hal yang penting saat mereka menghadapi godaan: Adam dan Hawa tidaklah memperhatikan dengan serius apa yang Allah katakan.

Dalam menghadapi berbagai godaan yang kita temui setiap hari, kita harus memutuskan bahwa kita percaya kepada Tuhan dan melakukan apa yang Dia katakan. Kita juga harus menyadari bahwa dosa dapat menghancurkan hubungan kita denganNya. Kita juga membutuhkan pengampunanNya tatkala kita jatuh.

Tuhan tolonglah kami untuk menjauhi dosa dan dekat padaMu -- HWR


UNTUK MENGHADAPI GODAAN, BERDIRILAH BERSAMA KRISTUS

* Take from Renungan Harian