Minggu, 17 Mei 2026

PENDERITAAN YANG MENYEMPURNAKAN

Allah, sumber segala kasih karunia...akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (1Petrus 5:10)


Sebagai anak-anak Bapa surgawi, kita patut bersyukur karena Dia sangat mengasihi kita sehingga Dia mau mendidik kita. Bagaimanapun cara Allah mengarahkan dan menentukan jalan hidup kita, semata-mata "untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya" (Ibrani 12:10).

Dalam bukunya yang berjudul Flashes of Truth (Cahaya Kebenaran), James Duff mengungkapkan bahwa, "Warna yang dipoleskan pada benda-benda tembikar harus melalui proses pembakaran terlebih dahulu. Jika tidak, warna-warna itu akan mudah luntur. Sebelum dibakar warna keemasan yang terdapat pada benda-benda tembikar hanya berupa cairan hitam belaka. Dua atau tiga kali pembakaran yang pertama akan menghapus warna-warna tersebut sehingga pembakaran itu harus dilakukan berulangkali.

"Demikian pula hubungan Allah dengan kita. Allah belum selesai bekerja di dalam kita ketika Dia memasukkan kita ke dalam perapian penderitaan dan dukacita yang menyala-nyala.... Untuk apa? Agar melalui api itu, keindahan karakter--yang dikerjakan oleh sang Penjunan--dapat tinggal tetap di dalam diri kita."

Apakah Anda sedang berada dalam tungku penderitaan? Ingatlah, Bapa surgawi mengasihi Anda. Jika Dia tidak mengasihi Anda, Dia tidak akan mempedulikan Anda. Dalam hikmat-Nya yang besar Dia "meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu" (1Petrus 5:10). Maka, sekalipun Anda tidak mengerti jalan-jalan-Nya, percayalah kepada-Nya dan bersyukurlah atas penderitaan yang Dia izinkan terjadi untuk menyempurnakan kita [RWD]


KARAKTER KRISTIANI BAGAIKAN PERMATA INDAH YANG DIBENTUK OLEH TEKANAN DAN DIPOLES OLEH KESUKARAN

*Take from Renungan Harian 

Sabtu, 16 Mei 2026

KETIKA ANDA BERKHIANAT

Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1Petrus 4:19)


Salah satu ujian terkeras yang kita hadapi dalam melayani Allah adalah pengkhianatan. Saya menyaksikan hal ini terjadi pada salah seorang pendeta penuh kasih. Beliau memberi dorongan kepada seorang pemuda berbakat di gerejanya untuk belajar di sekolah teologi. Pendeta itu memberikan dukungan dana bagi sang pemuda. Sampai pemuda itu lulus, pendeta itu masih membimbing, dan mengizinkannya berkhotbah dalam kebaktian.

Lama kelamaan pemuda itu mulai menjatuhkan sang pendeta dengan sindiran dan kritikan. Akhirnya yang tinggal hanyalah keremukan hati. Selanjutnya, pemuda itu mengumumkan dirinya sebagai calon pendeta gereja itu.

Yesus tahu benar tentang pengkhianatan. Dia menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk tinggal bersama keduabelas muridNya, dan salah seorang di antara mereka adalah Yudas. Yesus telah mengajarnya, menunjukkan mukjizat di depan matanya, dan bahkan membasuh kakinya, namun Yudas menjual kesetiaannya demi 30 keping perak. Ketika Yesus mengungkapkan pengkhianatan yang bakal terjadi atas diriNya dalam Yohanes 13:18, Dia mengutip Daud yang juga mengetahui bahwa ada sahabat karibnya yang akan menyerangnya (Mazmur 41:10).

Setelah tahu bahwa Dia dikhianati, Yesus melanjutkan apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukanNya. Dia mengajar kita dengan teladan untuk melayani orang lain karena kita mengasihi dan mematuhi Allah, bukan karena kita ingin dihargai.

Apakah Anda dikhianati? Temukanlah kelegaan dalam pengenalan bahwa kepenuhan sejati akan datang saat kita melakukan kehendak Allah -- DCE

JIKA ANDA DIKHIANATI SERAHKANLAH SEMUANYA PADA ALLAH

* Take from Renungan Harian