Sabtu, 04 April 2026

BUKU YANG TERLUPAKAN

Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku (Mazmur 119:93)


Suatu kali seorang anak kecil memerhatikan sebuah buku besar berwarna hitam. Buku itu berselimut debu dan ditaruh di sebuah rak yang tinggi. Kemudian dengan penuh rasa ingin tahu ia bertanya kepada ibunya tentang buku itu. Dengan malu sang ibu segera menjelaskan, "Itu Alkitab. Bukunya Allah." Anak itu berpikir sesaat, lalu berkata, "Kalau itu bukunya Allah, mengapa kita tidak mengembalikannya saja kepada Allah? Kan tidak ada lagi seorang pun di sini yang membacanya."

Dalam banyak keluarga, Alkitab nyaris tidak pernah dibaca atau bahkan dipedulikan keberadaannya. Orang membacanya hanya tatkala muncul masalah, penyakit, atau kematian di tengah keluarga. Bahkan pada saat seperti itu pun seseorang bisa jadi masih kebingungan ke mana harus mencari bantuan yang dibutuhkan.

Kapan terakhir kali Anda mengambil Alkitab dan mempelajarinya untuk mendapatkan sukacita, menerima teguran rohani, dan mengalami pertumbuhan rohani? Memang Alkitab adalah bukunya Allah, tetapi Dia tidak ingin buku itu dikembalikan kepada-Nya. Dia ingin agar Anda memiliki, merenungkan, memahami, memercayai, dan menaati pesan yang ada di dalamnya.

Itulah alasan utama mengapa buklet Renungan Harian ini diterbitkan. Setiap artikel renungan di dalamnya bertujuan untuk membantu Anda memahami firman Allah.

Sudahkah Anda membaca bacaan Kitab Suci hari ini? Jika belum, mengapa Anda tidak membacanya sekarang juga? Jangan biarkan Alkitab menjadi Buku yang terlupakan di dalam rumah Anda --RWD


SEMAKIN RAJIN ANDA MEMBACA ALKITAB
SEMAKIN BESAR RASA CINTA ANDA KEPADA "PENULIS"NYA

* Take from Renungan Harian

Jumat, 03 April 2026

"SAYA YANG SEHARUSNYA DISALIB!"

Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah (1Petrus 3:18)


Seorang utusan Injil sedang berbicara kepada sekelompok orang dari suku terasing yang belum pernah mendengar tentang kehidupan dan pelayanan Yesus. Sang kepala suku duduk di barisan depan dan mendengarkan perkataan utusan Injil itu dengan seksama.

Tatkala kisah Yesus mencapai klimaksnya dan kepala suku itu mendengar bagaimana Yesus disalibkan secara kejam, ia tak dapat menahan dirinya lagi. Ia melompat dan berteriak, "Hentikan! Turunkan Dia dari kayu salib itu! Saya yang seharusnya di salib. Bukan Dia!" Kepala suku itu telah menangkap pesan Injil, yang membuat ia menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa dan Kristus tak bercacat cela.

Ketika Anda merenungkan bagaimana Anak Allah harus menderita tatkala tergantung di atas kayu salib, dan darah mengalir dari luka-luka-Nya, dapatkah Anda dengan sungguh-sungguh berkata, "Sayalah yang seharusnya disalib!" Lalu, majulah selangkah lagi untuk mempercayai-Nya sebagai Juruselamat sehingga Anda dapat berkata sama seperti Paulus, "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:19-20). Yesus mengambil tempat kita dan mati bagi kita. Dengan menanggung dosa-dosa kita, Yesus telah membuka jalan bagi kita sehingga dapat bersekutu dengan Bapa. Jika Anda berusaha untuk menjadi serupa dengan Kristus dan percaya bahwa Dia telah mati bagi Anda, maka Allah akan menjadikan Anda benar-benar serupa dengan Kristus dan menyatakan kebenaran-Nya kepada Anda.

Dapatkah Anda berkata, "Saya yang seharusnya disalib!" --HGB


YESUS MENGGANTIKAN TEMPAT SAYA DI ATAS KAYU SALIB UNTUK MEMBERI SAYA TEMPAT DI SURGA

* Take from Renungan Harian