Rabu, 25 Maret 2026

RASA CUKUP

Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Timotius 6:8)


Beberapa tahun yang lalu seorang perancang mobil menggunakan lagu lama Shaker yang berjudul "Simple Gifts" (Anugerah yang Sederhana) untuk mempromosikan sebuah mobil mewah. Bagi mereka yang tahu lirik lagu tersebut, sepertinya aneh ada orang yang memakai lagu yang berbicara tentang mencari kepuasaan lewat hidup sederhana, untuk menjual sebuah mobil mahal. Lirik lagu tersebut berbunyi "Adalah anugerah untuk menjadi sederhana, adalah anugerah untuk bebas, adalah anugerah untuk berada di tempat kita yang seharusnya.

Sering kali kita sulit untuk menerima ajaran Alkitab yang mengatakan bahwa rasa cukup tidak ada hubungannya dengan isi lemari pakaian kita, rekening bank kita, atau apakah kita makan malam dengan steik atau ikan. Kecukupan bukan berarti kekayaan materi. Rasul Paulus menyebutkan bahwa ibadah yang disertai rasa cukup adalah "keuntungan besar" (1 Timotius 6:6). Mungkin Timotius juga terkejut seperti kita saat membaca kata-kata, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (ayat 8).

Berapa banyak dari kita yang mau menghentikan kegiatan sejenak hari ini untuk bersyukur kepada Tuhan atas pakaian dan makanan yang sudah disediakan-Nya bagi kita? Perubahan besar apakah yang mungkin terjadi jika kita mau melakukan hal itu?

Lagu lama Shaker juga mengingatkan kita bahwa kecukupan adalah anugerah yang patut kita nikmati. Lanjutan lagu tersebut berbunyi demikian, "Dan ketika kita berada di tempat yang tepat, berarti kita telah berada di lembah kasih dan sukacita. Dalam begitu banyaknya anugerah Allah yang sederhana, kita dapat merasa cukup -DCM


RASA CUKUP BUKAN BERASAL DARI MELIMPAHNYA KEKAYAAN MELAINKAN DARI SEDIKITNYA KEINGINAN

* Take from Renungan Harian 

Selasa, 24 Maret 2026

LAKUKAN SESUATU!

Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang (Galatia 6:10)


Beberapa tahun yang lalu, majalah Time memuat sebuah artikel tentang seorang dokter yang selamat dari pengeboman di Hiroshima. Ketika ledakan pertama terjadi, kira-kira 1,5 kilometer dari tempat kejadian, Dr. Fumio Shigeto sedang menunggu angkutan umum. Ia selamat karena terlindung di pojok sebuah bangunan beton. Sekian detik setelah ledakan terjadi, terdengar olehnya jeritan para korban di sekitarnya.

Tanpa mengetahui apa yang telah terjadi, sejenak Dr. Shigeto berdiri terpaku dalam keadaan bingung sambil bertanya-tanya dalam hati bagaimana caranya ia dapat mengatasi sejumlah pasien yang begitu banyak itu seorang diri. Kemudian, masih dalam keadaan sangat terpukul, Dr. Shigeto membuka tas hitamnya, dan mulai merawat korban yang berada paling dekat dengannya.

Tatkala melihat kebutuhan dunia yang begitu menyedihkan saat ini, saya pun menjadi bingung. Tentu saja Allah tidak menuntut saya untuk membantu semua orang yang membutuhkan. Beban itu tentu saja terlalu besar. Galatia 6 berkata bahwa kita harus "berbuat baik kepada semua orang," tetapi itu tidak berarti kita harus menjangkau semua orang. Yang jelas, kita harus menolong setiap orang yang dapat kita tolong setiap saat kita mendapat kesempatan untuk melakukan hal itu.

Saat Anda diperhadapkan pada kebutuhan rohani yang begitu besar dari dunia yang tersesat ini, janganlah berputus asa. Allah hanya meminta Anda untuk melakukan apa yang dapat Anda lakukan --MRDII


LAKUKAN APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN DI MANA PUN ANDA BERADA DENGAN APA YANG ANDA MILIKI

* Take from Renungan Harian