Selasa, 03 Maret 2026

PERSAMAAN MISTERIUS

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5:8)



Profesor John Nash dari Universitas Princeton adalah seorang yang jenius dalam bidang matematika. Ia menghabiskan sepanjang hidupnya menekuni dunia angka yang abstrak, persamaan-persamaan -- dan khayalan. Padahal Nash menderita schizophrenia, yaitu penyakit mental yang dapat menyebabkan kelakuan aneh dan mengganggu hubungan dengan sesama. Dengan pertolongan medis dan kasih sayang istrinya, ia belajar untuk hidup dengan penyakitnya dan akhirnya memenangkan Hadiah Nobel.

Dalam film tentang kehidupannya, Nash berkata, "Saya selalu percaya pada angka, persamaan, dan logika yang membawa pada jawaban .... Pencarian telah membawa saya melewati dunia fisik, metafisik, khayalan, dan kembali lagi. Dan saya telah membuat penemuan terpenting dalam hidup saya. Semua alasan yang logis hanya dapat terjawab dalam persamaan misterius tentang kasih."

Dalam Kolose 1, kita membaca "persamaan misterius tentang kasih" pada tingkat yang terdalam, yaitu kasih Allah bagi kita dalam Kristus. Yesus adalah gambaran Allah yang tak kelihatan, dan karena kasih, Dia telah menciptakan dan memelihara kita (ayat 16,17). Dia juga telah menyediakan kelepasan dari kuasa kegelapan (ayat 13) dan pengampunan bagi dosa-dosa kita (ayat 14). Tidaklah mengherankan jika Paulus berkata bahwa kasih seperti itu "melampaui segala pengetahuan" (Efesus 3:19). Kasih itu membawa kita melampaui akal menuju pengertian yang sesungguhnya tentang Allah (1Yohanes 4:16).

Kita harus hidup di dalamnya dan menunjukkan kasih itu, setiap saat --Dennis De Haan


KASIH ALLAH TIDAK DAPAT DIJELASKAN KASIH ALLAH HANYA DAPAT DIALAMI 

* Take from Renungan Harian

Senin, 02 Maret 2026

MENYANYIKAN KASIH-MU

Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya
(Mazmur 89:1)



Saya sedang berkendara menuju tempat kerja sambil mendengarkan stasiun radio kristiani lokal. Di tengah-tengah senda-gurau pagi terdengarlah lagu, “Aku Dapat Menyanyikan Kasih-Mu Selamanya”.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya. Segera setelah lagu pujian yang indah ini diputar, saya merasakan air mata saya bercucuran. Saya sedang berada dalam perjalanan menuju tempat kerja, dan saya tidak bisa melihat jalan gara-gara sebuah lagu. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Sesampainya di tempat kerja, saya duduk di dalam mobil, berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi. Akhirnya saya menemukan jawabnya. Lagu itu mengingatkan saya bahwa walaupun di bumi ini dimulai hari baru untuk melakukan kegiatan normal, putri saya Melissa kini mendapatkan kepenuhan dari harapan atas lagu itu di surga. Saya dapat membayangkan dengan jelas ia sedang menyanyikan cinta kasih Allah, mendahului kita semua dalam menyanyikan lagu abadi tersebut. Memahami sukacita Melissa sementara kami sendiri diingatkan akan kesedihan kami karena ia sudah tidak bersama kami lagi, merupakan momen yang manis bercampur pahit.

Hidup kita kebanyakan seperti itu. Sukacita dan penderitaan jalin- jemalin. Oleh sebab itu, kita perlu mengingat kemuliaan Allah. Kita perlu melihat sekilas masa depan kita yang penuh sukacita yang dijanjikan di hadapan Penyelamat kita. Dalam kesedihan hidup, kita perlu mencicipi sukacita, yakni sukacita yang datang saat kita menyanyikan cinta kasih Allah dan menikmati kehadiran-Nya selamanya —Dave Branon


MEREKA YANG MENGENAL KRISTUS SEKARANG AKAN MENYANYIKAN PUJIAN KEPADA-NYA SELAMANYA

* Take from Renungan Harian