Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan
(Lukas 10:33)
Dalam bukunya yang berjudul Kindness: Reaching Out to Others (Berbuat Baik: Menggapai Sesama), Phyllis J. Le Peau mengaitkan kisah ini: "Beberapa mahasiswa seminari diminta untuk berkotbah tentang kisah orang Samaria yang baik hati. Ketika sampai waktunya untuk berkotbah, para mahasiswa itu dengan sengaja datang terlambat ke seminari. Tatkala para mahasiswa itu terburu-buru menuju kampus, mereka berpapasan dengan seseorang yang berpura-pura meminta pertolongan. Ironisnya, tidak seorang pun dari mahasiswa yang berhenti untuk menolongnya." Le Peau memberi komentar, "Ya, mereka memang harus melakukan suatu kotbah yang penting."
Orang Kristen dapat menyajikan kotbah yang hebat kepada dunia tatkala mereka merefleksikan kebaikan Allah seperti yang ditunjukkan oleh orang Samaria yang baik hati kepada sesamanya. Tetapi seharusnya hal itu tidak hanya diucapkan.
Bagaimana dengan kita? Setiap kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, seharusnya menghidupkan kembali kisah tentang orang Samaria yang baik hati itu. Apakah kita mau meluangkan waktu dan bersedia ikut terlibat? Barangkali kita dapat membantu tetangga yang sedang membutuhkan materi, atau menyediakan telinga yang simpatik untuk mendengar seorang yang bermasalah. Mungkin kita dapat bersaksi kepada seseorang yang Tuhan antar ke dalam hidup kita hari ini. Atau, akankah kita berlaku seperti para pemimpin agama yang bergegas lewat dari seberang jalan dan tidak memberikan pertolongan?
Marilah kita memuliakan nama Tuhan dengan menjawab kebutuhan orang lain sebagaimana Dia pasti akan melakukannya -- DCE
PERBUATAN BAIK TIDAK AKAN PERNAH KETINGGALAN ZAMAN
* Take from Renungan Harian