Jumat, 22 Mei 2026

YANG TIDAK KITA BUTUHKAN

Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Timotius 6:8)


Pada abad kelima, seorang bernama Arsenius memutuskan untuk hidup suci. Oleh karena itu ia meninggalkan kenyamanan hidup di lingkungan masyarakat Mesir dan menjalani kehidupan yang keras di padang pasir. Namun setiap kali ia mengunjungi kota besar Alexandria, ia menghabiskan waktu dengan berkeliling menyusuri pasar. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia menjelaskan bahwa hatinya bersuka cita melihat semua barang-barang yang tidak ia butuhkan.

Kita yang hidup dalam masyarakat yang dibanjiri barang-barang dan berbagai peralatan perlu merenungkan teladan dari penghuni padang pasir itu. Pada tahun 1976, sebuah supermarket di Amerika menjual 9.000 jenis barang; saat ini telah menjadi 30.000 jenis barang. Seberapa banyak dari barang-barang itu yang benar-benar diperlukan? Dan berapa banyak yang sebenarnya tidak terlalu bermanfaat?

Suatu hal yang sulit bagi kita untuk menyatakan dengan tulus bersama Rasul Paulus, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (1Timotius 6:8). Dalam perjuangan kita melawan budaya materialisme yang menggiurkan, marilah kita meneladani Arsenius. Pada saat kita berjalan menyusuri toko-toko dan pasar-pasar, kita juga dapat bersuka cita saat melihat semua barang-barang yang tidak kita butuhkan.

Itu barulah langkah pertama. Langkah berikutnya adalah menjadi lebih bijaksana dalam mengatur pengeluaran kita, lebih banyak memberi kepada orang lain, dan lebih banyak mempersembahkan apa yang telah Allah berikan kepada kita -- VCG

KEPUASAN BUKAN BERARTI MENDAPAT APA YANG KITA INGINKAN TETAPI PUAS DENGAN APA YANG KITA MILIKI

* Take from Renungan Harian