Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal (Yohanes 14:2) Kita dapat menjumpai para gelandangan di mana-mana. Kita dapat menemukan mereka sedang tidur meringkuk di taman kota, di emper-emper toko, atau di alam terbuka beratapkan langit dan berbantalkan bumi. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, miskin, papa, dan seringkali juga dalam keadaan sakit. Bagi saya, istilah gelandangan lebih tepat dikenakan pada manusia yang hidup tanpa Allah. Alkitab berkata, "Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri" (Yesaya 53:6). Menolak Allah, seperti yang dilakukan banyak orang masa kini, berarti menjadi gelandangan di dunia yang telah diciptakan Allah dengan keagungan. Melanggar perintah-perintahNya berarti berkelana tanpa tujuan. Menyangkali Dia berarti melenyapkan makna kehidupan. Dan mengabaikan kasihNya berarti menenggelamkan diri dalam keputusasaan yang mengerikan. Jawaban dari semua permasalahan manusia di dunia adalah percaya kepada Yesus Kristus. Bapa Gereja Agustinus (354-430) berkata, "Allah telah menciptakan kita bagiNya, dan hati manusia baru akan mengalami damai saat ia berada di dalam Tuhan." Percaya kepada Yesus berarti masuk ke dalam lingkungan kasih yang mesra sebagai keluarga Allah (Yohanes 1:12). Berharap kepada Allah berarti merindukan kampung halaman yang abadi (Yoh 14:1-3). MenerimaNya berarti menjadi bagian dalam kebenaran, kesucian dan damai sejahteraNya. Apakah Anda merasa sebagai gelandangan? Pulanglah kepada Allah -- DCE KITA SEMUA ADALAH GELANDANGAN SAMPAI KRISTUS MENDIAMI HATI KITA * Take from Renungan Harian |