Minggu, 27 September 2020

CARA UNTUK MENGASIHI

Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku! (Ayub 31:35)

Di dalam bukunya Listening To Others (Mendengarkan Orang Lain), Joyce Huggett menceritakan pengalamannya mendengarkan orang-orang yang menderita. Ia berkata bahwa mereka seringkali mengoceh tentang apa yang ia perbuat bagi mereka. "Dalam banyak kesempatan," tulisnya, "Saya tidak 'melakukan' apa-apa. Saya 'hanya mendengarkan.' Saya segera sampai pada kesimpulan bahwa 'hanya mendengarkan' merupakan cara yang efektif untuk menolong orang lain."

Pertolongan seperti inilah yang gagal diberikan oleh teman-teman Ayub yang terlalu banyak mengkhotbahinya. Ia mengeluh bahwa mereka adalah "penghibur sialan" (Ayub 16:2) dan demikian putus asa sehingga ia menuduh Allah tidak mendengarnya. Ia berteriak, "Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku!" (Ayub 31:35).

Apa hasil dari mendengarkan secara aktif? Mendengarkan adalah suatu cara untuk mengasihi orang lain. Mendengarkan berarti, "Aku ingin memahami dan mengenal engkau." Sikap itu menghibur orang yang hancur hatinya, membangun hubungan, dan mendorong orang agar beriman pada Allah. Mendengarkan juga berarti mempelajari fakta-fakta. Salomo, dalam Amsal 18:13, mengingatkan bahwa amatlah bodoh bagi kita untuk menjawab suatu masalah sebelum mendengarkan.

Lebih dari semua itu, mendengarkan orang lain merupakan cerminan dari perhatian kita kepada Allah dan firmanNya. Dia memiliki begitu banyak hal yang ingin Dia ajarkan dan beritahukan kepada kita. Saat kita mengambil waktu teduh hari ini dan memberiNya telinga yang mau mendengar, kita akan lebih dimampukan untuk mendengarkan orang-orang yang terluka di sekitar kita -- JEY


KITA DAPAT MENENANGKAN LEBIH BANYAK SAHABAT DENGAN TELINGA DARIPADA DENGAN MULUT 


* Take from Renungan Harian